
Kini Nathan dan Alice sedang bersiap-siap untuk melakukan perjalanan ke gunung Pilatus, sulit bagi keduanya untuk memilih gunung mana yang harus mereke kunjungi karena hampir semua gunung menawarkan pemandangan yang indah.
Awalnya Nathan dan Alice ingin mengunjungi gunung Titlis tapi sayang tempat itu sedang ditutup sebagai persiapan winter atau musim dingin.
Akhinrya Colter menyarankan pasangan suami istri itu untuk mengunjungi gunung Pilatus yang tak kalah indahnya menawarkan pemandangan berupa 73 puncak Alpen.
Pagi-pagi sekali Nathan dan Alice serta Colter sudah pergi ke stasiun kereta Zurich HB untuk menuju ke kota Lucerne yang memakan waktu satu jam.
Colter memang menyarankan kepada Nathan dan Alice untuk menggunakan transportasi kereta karena sepanjang perjalanan akan di suguhkan pemandangan yang sangat indah dan sungguh sangat di sayangkan bila dilewatkan.
Kereta akan melewati pedesaan-pedesaan khas Swiss dengan padang hijau yang membentang dan gunung-gunung yang puncaknya tertutup es walau’pun belum masuk musim dingin. Juga hutan pinus, serta sungai-sungai yang airnya mengalir dengan jernih.
Akhirnya mereka bertiga tiba di kota Lurcene yang merupakan kota danau sekaligus gerbang gunung-gunung yang sangat indah dirangkaian Alpen. Sepanjang perjalanan, Nathan dan Alice sangat terkagum-kagum dengan pemandangan yang mereka nikmati dari dalam kereta.
Gungun Pilatus mudah dijangkau dari kota Lucerne. Dari stasiun Lucerne Nathan dan Alice harus kembali menggunakan trem hingga ke Kriens sebuah desa pinggiran Lucerne tepat di kaki gunung Pilatus di ketinggina 480 Mbpl.
Dari halte pemberhentian trem, Nathan dan Alice serta Colter hanya perlu berjalan kaki selama lima belas menit menuju gondola yang sudah di pesan oleh Colter hanya khusus mereka bertiga serta seorang guide.
Sepanjang perjalanan ke gunung Pilatus tak henti-hentinya Alice memotret pemandangan indah yang mereka lewati. Akhirnya mereka tiba, angin dingin yang menepuk-nepuk wajah semakin menambah semangat Nathan dan Alice untuk mengekplore tempat tersebut.
Alice dan Nathan berada di Swiss selama tiga minggu, mereka sudah berkunjung ke seluruh tempat-tempat wisata yang ada di negara tersebut.
Kini mereka berdua kembali ke Houston, Alice dan Nathan tiba di airport pada malam hari. Walau’pun lelah tapi wajah pria dan wanita itu terlihat sangat bahagia. Sepasang suami istri itu langsung menuju ke Mansion untuk istirahat.
Dua tahun kemudian
Pernikahan Alice dan Nathan berjalan dengan lancar, mereka adalah pasangan yang berbahagia walau’pun belum di karuniai anak tapi tidak mengurangi rasa saling mencintai.
Kini Alice sedang berada di kantor, dia bekerja di perusahaan Rosse sebagai asisten pribadi. Sebenarnya Nathan menginginkan sang istri untuk bekerja bersamanya tapi wanita itu menolak karena tidak ingin di anggap remeh oleh ibu mertuanya.
“Apakah ibu mertuamu sudah menerima kamu sebagai menantu mereka?” tanya Rosa seraya duduk berhadapan dengan Alice. Saat dia sedang berada di ruang kerja Alice. Rosse tahu bagaimana perjuangan sahabatnya itu dengan Nathan.
“Kalau ayah Nathan sikapnya sangat baik padaku. Tapi ibunya, kalau bertemu wajahnya seperti ingin memakanku,” ujar Alice dengan cemberut lalu Rosse tertawa.
Dia merasa lucu melihat expresi wajah temannya saat mengatakan tentang ibu mertuanya.
“Yang terpenting ayah Nathan menerimamu,” hibur Rosa tapi Alice hanya tersenyum simpul dan mengingat wajah ibu mertua setiap kali bertemu dengannya.
“Iya kamu benar, dan beruntungnya kami tidak tinggal serumah dengannya.” Rosse tertawa kemudian berdiri, dia mengajak Alice untuk ikut bersamanya.
“Dari pada kamu memikirkan mertuamu, lebih baik ikut bersamaku.” Alice ikut berdiri dan menatap Rosse.
“Kemana?” tanya Alice dengan mengerutkan dahinya.
“Ikut saja, nanti juga kamu akan tahu.” Alice tidak banyak tanya lagi, dia mengambil tas dan ponsel lalu ikut bersama Rosse.
****
__ADS_1
Sepasang suami istri sangat bahagia, mereka ingin membagikan kebahagiaan dengan kedua orang tuanya. Alice dan Nathan ingin memberikan kejutan kepada mereka. Selama dua tahun pernikahan ayah Nathan menginginkan seorang cucu. Untuk menyenangkan hati tuan Smith pasangan suami istri ini melakukan berbagai cara untuk mendapatkan anak.
Alice begitu senang, karena selama ini ibu mertua tidak suka kepadanya, dia sudah menjodohkan putranya dengan gadis lain tapi pria itu lebih memilih dirinya. Dengan kehamilannya Alice berharap ibu Nathan bisa menerimanya sebagai menantu.
Sepanjang jalan menuju ke rumah mertua wanita itu terlihat tegang, dia sudah membayangkan wajah ibu suaminta. Nathan memperhatikan Alice kemudian menggenggam tangan sang istri.
“Santai saja, mereka pasti akan bahagia mendengar kabar ini.” Alice hanya menganggukan kepala kemudian memalingkan wajah menatap keluar jendela.
Dia maklum siapa dirinya, hanya seorang gadis miskin yang di nikahi oleh pria kaya. Wajar saja ibu dari suaminya tidak pernah merestui hubungan mereka, wanita itu berharap dengan kehamilannya bisa merubah pandangan kedua mertua terhadap dirinya.
Mereka tiba di rumah yang besar dan mewah, jantung Alice berdebar dengan cepat. Dia masih membayangkan wajah sang ibu mertua, lalu suaminya turun dan membukakan pintu mobil.
Wanita itu turun kemudian memegang lengan Nathan, tangan Alice mulai berkeringat dingin saat mereka berdua berdiri di depan pintu. Dia menarik napas panjang dan mencoba untuk tersenyum.
Pintu terbuka dia melihat pelayan berdiri di depan mereka dengan wajah tersenyum, Nathan mengajaknya masuk menemui kedua orang tuanya. Alice berjalan di belakang suaminya, saat tiba di ruang santai dia melihat wajah ibu mertua yang tidak ramah. Tapi dia berusaha tenang dan tersenyum kepada wanita itu.
"Selamat siang, Nyonya." Alice menyapa mertuanya tapi tidak ada balasan hanya anggukan kepala. Wajah begitu dingin menatap Alice dari ujung kaki sampai kepala, dia sengaja melakukan itu agar istri Nathan tidak betah di rumah itu.
"Hi, Mom. Apa kabar?" tanya pria itu seraya mencium kedua pipi ibunya lalu dia menyuruh sang istri untuk duduk.
Alice duduk, dia tidak berani menatap wajah sang ibu mertua. Tatapan tertuju kepada suaminya, dia ingin segera angkat kaki dari rumah itu. Kalau tidak ingat ayah mertuanya, Alice tidak akan menginjakan kaki di kediaman orang tua suaminya.
"Mommy baik-baik saja,” jawab wanita itu seraya menatap istri putranyanya dengan tatapan sinis. Dia sama sekali tidak menginginkan perempuan itu datang kerumahnya.
"Oh ya, Mom. Daddy mana?" tanya Nathan seraya duduk di dekat Alice dan memegang tangannya.
"Daddy di ruang kerja." Baru saja akan berdiri ayah Nathan datang dan menyapa putranya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya tuan Smith seraya memeluk dan mencium kedua pipi sang menantu.
"Baik, Tuan," jawab Alice lalu pria itu kembali tersenyum kemudian duduk di samping istrinya.
"Oh ya, Nathan kapan kalian akan memberikan cucu padaku,” tanya tuan Smith. Dia tidak sabar lagi ingin memiliki cucu dari putranya. Nathan tertawa kemudian menggenggam tangan sang istri.
"Itulah maksud kedatangan aku dan Alice ke sini." Wajah tuan Smith terlihat sangat senang, dia sudah berpikir pasti menantunya sedang hamil.
"Apakah Alice hamil?" tanya tuan Smith dengan menatap sang menantu.
"Iya, Dad. Dia sedang mengandung." Pria itu sontak berdiri dan memeluk Alice, dia terlihat sangat bahagia. Nathan tertawa melihat ayahnya sedangkan ibu Nathan hanya terlihat biasa saja mendengar kabar itu. Dia bahkan tidak suka dengan kehamilan istri putranya.
"Aku sangat bahagia, akhirnya aku akan menggendong cucu." Kembali tuan Smith memeluk dan mencium kedua pipi menantunya.
Lalu datang adik dari Nathan, dia terlihat tidak senang mendengar kakaknya akan memiliki anak. Dia berpikir pasti sang ayah akan lebih memperhatikan anak Nathan dari pada putrinya. Pria itu tahu tuan Smith lebih menyayangi Nathan dari pada dirinya.
Dia berpura-pura senang mendengar sang kakak akan memiliki anak, dia memeluk Nathan dan mengucapkan selamat.
“Akhirnya kamu akan memiliki anak,” ujar Dany seraya melepaskan pelukannya dan menepuk lengan sang kakak.
__ADS_1
“Terima kasih, oh ya di mana putrimu?” tanya Nathan sambil matanya mencari anak Dany.
"Aku datang sendiri, istri dan anakku lagi di rumah orang tuanya,” jawab Dany seraya duduk diikuti Nathan lalu mereka berbincang-bincang.
Sedangkan Alice hanya diam saja memperhatikan mereka, melihat wajah ibu mertua yang tidak ramah membuat dirinya ingin segera pulang. Alice memberikan isyarat kepada Nathan lalu pria itu menganggukan kepala. Nathan sangat tahu dan mengerti dengan perasaan istrinya.
“Baiklah sudah malam, aku dan Alice harus kembali." Nathan berdiri di ikuti istrinya kemudian memeluk dan mencium ayah dan ibunya.
"Jangan lupa memberikan kabar kepada kami,” pinta tuan Smith lalu Nathan menganggukan kepala kemudian istrinya memeluk tuan Smith dan mencium kedua pipi pria itu.
Dia ingin memeluk ibu mertua tapi wanita itu menghindar, melihat sikap ibunya Nathan langsung memegang tangan Alice. Dia tidak ingin istrinya tersinggung dengan sikap nyonya Smith.
Nathan dan Alice meninggalkan kediaman orang tua mereka, di dalam mobil wanita itu memilih diam. ‘Untung saja aku tidak tinggal serumah dengan ibunya, aku bisa gila kalau bersama dengannya,’ gumam Alice dalam hati.
"Tolong jangan di perhatikan sikap mommy tadi, lambat laun dia pasti akan menerimamu,” ujar pria itu tapi Alice hanya diam lalu Nathan menggenggam tangannya.
Mereka tiba, Alice langsung masuk menuju kamar. Dia melepaskan pakaian dan mengambil handuk lalu masuk kamar mandi. Nathan mengikuti istrinya, dia tahu wanita itu sedang kesal.
Nathan ikut masuk ke kamar mandi dan memeluk Alice dari belakang, dia ingin menenangkan hati istrinya.
“Jangan marah begitu." Alice hanya diam dan menyalakan shower. "Sayang, tolong bersabar lagi pula kita tidak tinggal serumah dengan orang tuaku." Nathan berusaha memberi pengertian kepada Alice. Dia memohon agar Alice bersabar dengan sikap ibunya seperti itu.
"Kenapa kamu tidak mengikuti permintaan ibumu agar menikah dengan perempuan itu?" tanya Alice seraya menyabuni badannya. Nathan tertawa dan melingkarkan tangan di pinggang istrinya.
"Karena aku hanya mencintaimu," jawab Nathan dengan berbisik di telinga istrinya. Alice tidak berkata apa-apa, dia terus membersihkan tubuhnya. Nathan begitu sabar menghadapi sikap Alice, dia membantu menyabuni badan sang istri.
Alice memutar tubuhnya menghadap Nathan kemudian memegang kedua pipi pria itu, dia menatap mata Nathan kemudian tersenyum dan mengecup bibir suaminya.
"Maaf atas sikapku yang terlalu berlebihan, tidak semestinya aku kesal padamu." Nathan tersenyum kemudian dia memeluk tubuh Alice.
"Tidak masalah, Sayang. Jangan dipikirkan." Nathan mencium bibir istrinya kemudian mereka berdua meninggalkan kamar mandi.
Sambil mengeringkan rambut, Alice duduk di depan cermin dan memperhatikan wajahnya lalu dia tersenyum sendiri. Dia mengingat masa-masa perjuangan mereka untuk menikah.
‘Nathan begitu baik, dia tidak memandang aku sebagai gadis miskin, dia lebih memilihku dari pada perempuan yang di jodohkan ibunya. Nathan begitu mencintaiku, aku tidak akan pernah meninggalkannya,’ gumam Alice lalu tangan melingkar di lehernya.
"Kamu sudah selesai mengeringkan rambutmu?" Sambil tersenyum Alice menatap suaminya lewat cermin.
"Sudah, kenapa?" tanya Alice lalu Nathan membelai rambut istrinya dan berbisik.
"Aku lagi ingin." Alice tertawa kemudian dia berdiri dan melingkarkan tangan di punggung Nathan. Dia menatap suaminya dan menggelengkan kepala.
"Beb, aku sudah mandi. Bagaimana kalau besok pagi saja," bujuk Alice dengan membelai pipi suaminya.
"Ah ... Sayang, apakah kamu tidak melihat kalau dia sudah sangat keras." Alice mengkerutkan dahi dan melihat ke bawah kemudian dia tertawa melihat tonjolan di balik underwear boxer.
"Baiklah." Alice melepaskan handuk yang melingkar di tubuhnya kemudian menarik tangan Nathan pergi ke kamar. Alice langsung menghempaskan tubuhnya di ranjang lalu Nathan menindihnya dan mencium bibir istrinya. Mereka berdua sama-sama memberikan kepuasan dan kenikmatan.
__ADS_1
Jangan lupa Like dan Komentar ya
Terima kasih