
Seorang pria tampan sedang memasuki sebuah gedung perkantoran yang berada di kota Houston, langkah kakinya tertuju ke ruangan president direktur.
Tiba di depan ruangan pria itu menarik napas dengan dalam dan melepaskan dengan kasar, berpikir sejenak lalu mengetuk pintu. Terdengar suara dari dalam menyuruhnya masuk.
Pria itu membuka pintu lalu masuk dan melihat seorang lelaki tua sedang duduk di balik meja kerja sedang memeriksa lembaran-lembaran yang ada di tangannya.
Lelaki tua itu mengangkat kepala dan menatap pria yang berdiri di depannya, sejenak dia mengerutkan dahi lalu meletakkan kembali lembaran di atas. Tatapan tidak suka terpancar dari matanya.
“Ada apa gerangan kamu kesini? Mau mengganggu Casey lagi?” tanya pria tua itu yang tak lain tuan Smith atasan Casey dan lawan bicaranya adalah Zelo.
“Maaf, Tuan. Aku sudah berjanji kepada Casey untuk tidak mengganggunya lagi,” tutur Zelo dengan berusaha tersenyum kepada tuan Smith.
“Bagus kalau begitu,” ujar tuan Smith seraya berdiri dan menyuruh Zelo duduk. “Jadi apa tujuanmu datang kesini?” tanya tuan Smith seraya duduk di depan Zelo.
“Apakah Anda masih ingat dengan benda ini?” Zelo tidak menjawab pertanyaan tuan Smith tapi mengeluarkan sebuah kalung dari saku celananya.
Mata tuan Smith tertuju ke sebuah kalung yang ada di tangan Zelo, dia berdiri dan mengambil benda itu dan memperhatikannya. Tuan Smith menatap Zelo dengan mengerutkan dahi.
“Kenapa kalung ini ada padamu?” tanya Smith dengan heran.
Seingat pria itu, kalung yang berada di tangannya dia berikan kepada cucunya saat berada di pesawat. Malam itu tuan Smith mengajak Asher cucunya untuk duduk di sampingnya lalu memberikan benda itu.
Tuan Smith sangat ingat saat dia memberikan kalung ke tangan Asher dia berbisik, ‘Jangan sampai hilang, suatu waktu kalau kita berpisah dan bertemu lagi, kalung ini pertanda kau adalah cucuku.’
Pria tua itu menatap nanar mata Zelo, dia menunggu jawaban dari pria yang ada di hadapanya. Dia tidak ingin mengira-ngira kalau Zelo adalah Asher.
“Anda masih ingat pesan saat kita di pesawat menuju ke Madrid?” Kembali Zelo tidak menjawab tapi mengajukan pertanyaan kepada tuan Smith.
“Apakah kau Asher?” tanya tuan Smith dengan mata mulai berkaca-kaca.
Zelo tidak menjawab pertanyaan tuan Smith tapi hanya menganggukan kepala dengan pelan, dia menatap mata tuan Smith yang sudah berair lalu berdiri dan memeluk dengan erat tubuh pria tua itu.
__ADS_1
“Aku Asher.” Tak tahan menahan haru, airmata tumpah di pipi Zelo yang sebenarnya adalah Asher.
Tuan Smith tidak dapat menahan tangisnya, dia membalas pelukkan Asher dengan erat. Rasa sesak di dada karena rasa haru sekian lama tidak bertemu dengan cucu membuat tuan Smith tidak bisa menahan kebahagiaannya sehingga dadanya terasa nyeri.
Merasakan ada yang lain terhadap tuan Smith Asher melepaskan pelukkannya dan melihat pria tua itu memegang dada kirinya, sontak Asher menjadi khawatir.
“Grandpa, apakah kau baik-baik saja?” Tuan Smith tidak menjawab pertanyaan Asher, dia hanya memberi isyarat kepada cucunya untuk mengambil air putih dan pil yang berada di atas meja.
Dengan cepat Asher mendudukan tuan Smith dan mengambil air putih juga pil yang masih berada di dalam botol. Asher memberikan kepada tuan Smith lalu melepaskan dasi agar pria tua itu bisa leluasa menghirup oksigen.
Tuan Smith langsung meminum pil lalu mengatur pernapasannya, dia memejamkan mata dan menarik napas lalu melepaskan lewat mulut, berulang kali dia melakukan itu untuk menetralkan debaran jantung karena terkejut melihat cucunya masih hidup.
“Bagaimana, Grandpa? Apakah kita ke rumah sakit saja?”Asher begitu khwatir melihat tuan Smith, agar lebih leluasa lagi tuan Smith menarik napas, Asher membuka kancing kemeja pria itu.
“Tidak perlu, aku hanya terkejut saja. Tidak percaya ternyata kamu cucuku,” tuan Smith kembali memeluk Asher dengan erat.
Kebahagiaan terpancar di wajahnya, cucu yang hilang selama belasan tahun akhirnya berdiri di hadapannya. Tuan Smith melepaskan pelukkannya lalu mengecup dahi dan kedua pipi Asher.
“Saat terjadi penembakan, Zelda sudah berada di dalam kereta sedangkan aku dan Celeste masih berada di depan pintu. Tiba-tiba terjadi penembakan, belum sempat masuk, pintu kereta tertutup,” ungkap Asher seraya duduk di dekat tuan Smith dan kembali menceritakan kejadian yang terjadi di Barcelona.
“Celeste tertembak, begitu juga denganku tapi seorang pria menolongku. Dia adalah ayahku sekarang, tuan Moralez dan istrinya mengangkat aku sebagai anak mereka.” Asher menarik napas dengan dalam.
“Aku tidak tahu dimana Zelda sekarang, entah apa yang terjadi padanya. Semoga saja dia bertemu dengan orang baik,” gumam Zelo dengan memegang tangan tuan Smith.
“Mengapa grandpa tidak mencari kami?” tanya Zelo dengan mengerutkan dahi menatap tuan Smith dan menunggu penjelasan dari pria tua itu.
“Aku mencari kalian, bahkan sampai membayar semua stasiun tv yang ada di Barcelona tapi kami tidak mendapatkan kabar sama sekali dari kamu dan Zelda.” Tuan Smith memegang pipi Asher dan kembali menjelaskan.
“Aku berhenti mencari kalian karena Dany ingin membunuh kamu dan Zelda, pikirku lebih baik kalian berdua bersama orang lain dan itu lebih aman.” Zelo menganggukan kepala tanda mengerti dengan penjelasan tuan Smith.
“Mengapa baru mencariku?” Kini tuan Smith yang mengajukan pertanyaan kepada cucunya.
__ADS_1
“Aku sebenarnya ingin mencari grandpa tapi aku mengurungkan niatku karena ingin mencari Zelda terlebih dahulu,” tutur Asher dengan wajah sedih mengingat sang adik entah dimana berada.
“Kita akan mencarinya bersama, jangan sampai Dany tahu kalau kau Asher. Aku tidak ingin dia membunuhmu,” mohon tuan Smith tapi dengan tegas Asher menolaknya.
“Tidak, Grandpa. Justru aku datang kesini untuk membalaskan dendam atas kematian kedua orang tuaku. Grandpa jangan khawatir, aku akan membuat dia bertekuk lutut di kakimu.” Inilah tujuan Zelo datang ke Amerika.
Selain mengungkapkan siapa dia, Zelo juga ingin membalas dendam atas perbuatan Dany kepada Alice dan Nathan. Zelo tidak ingin memenjarakan Dany tapi akan melenyapkan nyawa pria itu.
Kehilangan kedua orang yang disayanginya membuat Asher ingin membunuh Dany, pikirnya karena pria itu dia berpisah dengan adik kesayangannya.
“Asher, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu. Kamu tidak tahu siapa Dany.” Asher menggelengkan kepala.
Selama ini dia berlatih bela diri dan menembak hanya satu tujuan yaitu membalaskan dendam kedua orang tuanya. Inilah tekad Asher, dia tidak akan melepaskan begitu saja pria itu.
“Tidak, Granpa. Saat aku meninggalkan Amerika, aku berjanji kepada diriku untuk membalaskan apa yang dia perbuat kepada mommy dan Daddy.” Tak terasa airmata Asher menetes di pipi.
Mengingat kenangan-kenangan indah bersama kedua orang tuanya dan sang adik, lalu tiba-tiba semuanya di ambil oleh Dany, sungguh putra Nathan dan Alice ini tidak sabar lagi ingin membunuh pria itu. Asher menangis sesugukan dan memeluk tuan Smith.
“Karena dia, aku kehilangan kedua orang tuaku dan adikku. Bertahun-tahun aku tersiksa memikirkan dimana Zelda berada.” Tuan Smith menyeka airmata Asher dan menenangkan cucunya itu.
“Tapi kamu harus berhati-hati, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu. Sekian tahun aku menunggu kau dan adikmu.” Tuan Smith kembali menarik Asher dan memeluknya.
Dia melepaskan rindu yang belasan tahun terpendam, tuan Smith tidak puas memeluk dan mencium kedua pipi Asher dan membelai rambut cucunya.
“Jangan pergi lagi, tinggalah bersamaku,” pinta tuan Smith dengan wajah memohon kepada Asher.
“Iya, aku akan bersamamu dan menjagamu.” Terpampang wajah penuh kebahagiaan di wajah tuan Smith.
“Terima kasih, setelah ini kita akan fokus mencari adikmu.” Asher tersenyum dan menganggukkan kepala.
Tuan Smith dan Asher kembali berbincang-bincang, pria itu menanyakan selama ini sang cucu tinggal dimana serta bisnis apa yang di jalani oleh putra dari Nathan dan Alice itu.
__ADS_1