Amor Prohibido (Cinta Terlarang)

Amor Prohibido (Cinta Terlarang)
Masih mudah dan berbakat


__ADS_3

Setelah beberapa hari berada di Venezuela tepatnya di kota Caracas, Casey meminta bagian property untuk menunjukan letak lahan yang akan dibangun apartemen dan hotel juga pusat perbelanjaan serta tempat hiburan.


Casey terkejut saat memeriksa semua property milik Global group yang di tunjukan oleh Edgar sang asisten, ternyata bukan hanya 70 hektar. Lahan milik perusahan itu sekitar 125 hektar yang terbagi di dua tempat tapi tidak saling berjauhan.


Casey dan Isaiah mengunjugi lokasi itu berserta bagian property dan asisten. Lahan tersebut terletak sedikit jauh dari pantai, sekitar 7 km dan sekitarnya ada perbukitan.


Casey melayangkan pandangan ke pantai dan bukit, dia mulai berpikir lahan yang dia berdiri sekarang tidak bisa di bangun Apartemen dan Plaza karena tanahnya berbukit. Casey berpikir tempat itu cocok untuk Real Estate juga Mansion.


Tempat dia berdiri pemandangannya sangat bagus ada yang menghadap bukit dan pantai, ternyata bukan hanya Casey yang berpikiran seperti itu. Sang kekasih juga sama dengan pemikiran Casey.


“Ini cocok untuk Real estate dan Mansion,” ujar Isaiah sambil melayangkan mata ke perbukitan yang hijau.


“Iya kamu benar, itu yang aku pikirkan tadi.” Casey memalingkan wajah menatap Edgar. “Berapa luas lahan ini?”


“Lahan ini sekitar 30 hektar,” jawab Edgar sambil mata di tablet yang ada di tangannya.


“Kamu bisa membuat site plannya?” Kali ini Casey bertanya kepada Isaiah.


“Tentu saja,” sahut Isaiah dengan tersenyum. Pria itu adalah seorang arsitek, dia sangat paham dengan hal tersebut. “Sekembali kita ke Amerika aku akan langsung membuat site plannya.


Casey tersenyum lalu dia meminta untuk mengantar ke lahan yang satunya lagi. Mereka kembali ke mobil lalu pergi ke lahan yang lebih besar lagi.


Kali ini lahannya rata hanya sedikit berbukit dan tidak jauh dari kota Caracas, perjalanan yang di tempuh ke pusat kota sekitar dua jam. Casey turun dari mobil dan melihat sekeliling.


“Ini cocok untuk apartemen, hotel juga plaza. Di bagian sana juga bisa  untuk taman dan sebelah barat tempat hiburan,” tutur Casey seraya melingkarkan tangan satunya di pinggang Isaiah.


“Iya, yang berbukit juga bisa di bangun hunian.” Casey melayangkan pandangan ke arah yang di tunjuk oleh Isaiah.


“Kamu benar,” gumam Casey sambil melepaskan tangannya dari pinggang Isaiah dan berjalan mengitari lahan itu.


Isaiah mengikuti Casey dari belakang lalu melingkarkan tangannya di perut sang kekasih serta bebisik.


“Bagaimana kalau kita kembali ke kota dan minum kopi,” saran Isaiah lalu Casey menganggukkan kepala.


Mereka meninggalkan lokasi dan kembali ke kota, Casey meminta Edgar dan bagian property untuk kembali ke kantor sedangkan dia dan Isaiah pergi ke Cafe untuk minum kopi.


Sementara di salah satu perusahan yang berada di Caracas seorang asisten mengabarkan kepada atasannya kalau pimpinan pusat Global group sedang berada di kota itu.


“Sudah berapa lama dia berada di Caracas,” tanya pria itu dengan suara dingin.


“Empat hari tuan,” jawab sang asisten dengan gugup.


“Sudah empat hari dan kamu baru memberikan kabar padaku? Bagaimana kalau perusahan lain yang lebih dulu bertemu dengannya.” Pria itu terlihat marah kepada asistennya.

__ADS_1


“Maaf, Tuan. Aku baru mendapatkan informasi tadi pagi. Anda jangan khawatir, pimpinan ini tidak seperti yang lalu.” Pria itu memicingkan mata menatap sang asisten.


“Maksudmu?” tanya pria itu karena tidak mengerti apa yang di katakan sang asisten.


“Begini, Tuan. Pimpinan yang baru masih mudah dan dia sangat tegas, wanita itu akan menerima perusahan yang berkualitas untuk bekerja sama dengan perusahan mereka.” Pria itu mengerutkan dahi, dia masih belum mengerti dengan penjelasan sang asisten.


“Anda tahu sendiri, perusahan ini paling besar yang ada di kota Caracas, sudah pasti pimpinan baru akan bekerja sama dengan perusahan Anda,” tutur asisten menjelaskan lebih detail lagi kepada atasannya.


“Kalau begitu, atur pertemuanku dengannya dan jangan lupa company profile perusahan kita di buat sebagus-bagusnya.” Sang asisten membungkukkan badan lalu pamit kepada atasannya.


  Dilain tempat, Casey dan Isaiah selesai minum kopi. Mereka berdua kembali ke kantor, saat tiba Edgar langsung menghadang Casey.


“Nona, aku baru saja mendapatkan telepon dari asisten tuan Moralez. Atasannya ingin bertemu dengan Anda.” Casey terhenti lalu mengernyitkan dahi.


“Siapa tuan Moralez?” tanya Casey seraya berjalan kembali. Dia sama sekali tidak mengenal pria itu karena baru kali ini Casey menginjakkan kaki di Caracas.


“Beliau yang memiliki perusahan kontraktor terbesar di kota ini,” jawab Edgar dengan mengikuti Casey dari belakang.


“Meminta bertemu hari ini?” Kembali Casey bertanya sambil melihat jam di pergelangan tangannya. Sementara Isaiah hanya ikut berjalan di samping sang kekasih.


“Tidak, Nona. Mereka minta bertemu besok pagi.” Casey menganggukan kepala sambil masuk ke ruang kerja.


“Kamu atur saja,” ujar Casey seraya duduk dan menyalakan komputer.


Tanpa Direktur sadari Naime memperhatikan dirinya, gadis itu merasa curiga dengan pria itu. Ingin menyampaikan kepada Casey tapi dia ingin menyelidiki dengan teliti agar tidak salah paham.


****


Casey baru saja tiba di kantor bersama Isaiah saat akan menuju ke ruangan dia bertemu dengan Edgar dan Naima. Casey berhenti dan menatap Edgar.


“Jam berapa pertemuannya?” tanya Casey seraya melihat jam di pergelangannya sedangkan Isaiah langsung pergi ke ruangannya.


“Mereka sudah berada di ruang meeting.” Casey membelalakan mata.


“Sudah berapa lama mereka menunggu, kenapa kamu tidak mengatakan padaku jam pertemuannya.” Casey terlihat kesal dan menggelengkan kepala lalu pergi ke ruang meeting.


“Satu jam lebih.” Casey terhenti lalu dia melotot kepada Edgar.


“Kesalahan fatal,” ujar Casey lalu kembali berjalan ke ruang meeting.


Walaupun dia seorang pimpinan tapi Casey tidak suka kalau ada yang menunggunya, dengan setengah berlari Casey tiba di depan ruang meeting. Dia langsung masuk dan melihat dua orang pria.


“Maaf sudah membuat kalian menunggu,” ucap Casey kepada kedua pria itu, dia tidak tahu di antara kedua pria itu siapa tuan Moralez.

__ADS_1


Kedua pria itu berdiri dan tersenyum kepada Casey, mereka berdua terpana melihat pimpinan yang sangat terlihat muda dan cantik.


“Asistenku tidak mengatakan padaku jam pertemuannya,” tutur Casey seraya menyalami kedua pria itu.


“Tidak masalah, Nona. Oh ya ini atasanku tuan Moralez.” Sang asisten memperkenalkan pria itu kepada Casey.


“Oh, Casey. Senang bertemu dengan Anda,” ucap Casey lalu dia mempersilahkan tuan Moralez dan asistennya untuk duduk.


“Ada yang bisa aku bantu?” Tuan Moralez tidak menjawab, dia masih terpaku dengan ramahnya Casey kepada dia dan asistennya.


“Sebenarnya tidak ada, tujuan datang ke sini, tuan Moralez ingin mengenal Anda juga berharap bisa menjalin kerja sama dengan perusahan ini.” Bukan tuan Morales yang menjawab tapi sang asisten karena dia melihat atasannya lama untuk bicara.


“Oh begitu, ya aku harap juga seperti itu. Bukankah begitu tuan Morales.” Mendengar namanya di sebut, pria itu tersadar lalu cepat-cepat tersenyum kepada Casey.


“Ah … iya benar sekali,” jawab tuan Moralez terbata-bata. “Oh ya, berapa umurmu?”


“Dua puluh empat tahun,” jawab Casey dengan mengembangkan senyumnya lalu Isaiah masuk.


Sedangkan tuan Moralez terlihat sangat senang mendengar umur Casey, dia ingin mengenalkan wanita itu kepada putranya. Dia berharap memiliki menantu seperti Casey tapi sayang tuan Moralez tidak tahu kalau Casey sudah tunangan.


“Maaf tadi aku sedang menyelesaikan perkerjaanku, tuan Frank menyuruhku mengirim laporan bulan yang lalu,” ucap Isaiah seraya duduk di dekat Casey.


“Oh, Isaiah. Kenalkan, Ini tuan Moralez.” Isaiah tersenyum kepada tuan Moralez dan bersalaman dengan pria itu.


“Senang bertemu denganmu,” ucap Isaiah lalu dia kembali duduk di dekat Casey.


“Sama-sama,” balas tuan Moralez sambil memperhatikan kedekatan Casey dan Isaiah.


“Umurmu sangat muda tapi Anda sangat berbakat dan pintar.” Casey kembali tersenyum mendengar pujian tuan Moralez.


“Terima kasih, Tuan,” ucap Casey seraya melirik kepada Isaiah.


“Oh ya, ini Company profile perusahan kami. Semoga kita bisa bekerja sama.” Sambil berucap sang asisten menyodorkan sebuah map kepada Casey.


“Terima kasih, aku akan segera melihatnya,” ucap Casey seraya mengambil map itu dan memberikan kepada Edgar. “Nanti letakan di meja kerjaku,” titah Casey lalu melanjutkan perbincangan dengan tuan Moralez.


“Aku ingin mengundang kalian berdua di acara ulang tahunku besok, sangat berharap Nona Casey dan Isaiah bisa hadir.” Tuan Moralez sengaja mengundang Casey agar bisa bertemu dengan putranya.


“Tentu saja, Tuan. Aku dan Isaiah akan hadir di pesta ulang tahun Anda, tinggalkan saja alamatnya kepada asistenku,” ujar Casey dengan ramah kepada tuan Moralez.


“Ah, terima kasih. Kalau begitu kami permisi.” Tuan Moralez berdiri diikuti oleh Casey dan Isaiah.


Mereka saling berjabat tangan lalu meninggalkan ruang meeting, Casey dan Isaiah mengantar tuan Moralez sampai di pintu lobby. Mereka berbicang sedikit sambil menunggu sopir pribadi pria itu.

__ADS_1


“Baiklah, sampai jumpa besok,” ucap tuan Moralez lalu masuk ke dalam mobil serta  melambaikan tangan kepada Casey dan Isaiah.


__ADS_2