
Venezuela
Nampak Jossie begitu sibuk dengan belanjaan, hari ini dia akan memasak di bantu oleh beberapa pelayan. Gadis itu tidak mengatakan kepada kedua orang tuanya kalau hari ini Wesley akan melamarnya.
Sambil bernyanyi dia membersihkan daging, wajahnya terlihat sangat bahagia. Bagaimana tidak, dia akan hidup bersama dengan pria yang Ia cintai.
Tanpa gadis itu sadar sang ayah sedang memperhatikannya, pria itu mengerutkan dahi melihat putrinya begitu riang tidak seperti biasanya.
"Apa yang membuatmu terlihat bahagia dipagi ini?" tanya tuan Moralez dengan memeluk putrinya dari belakang. Pria itu masih mengganggap kalau Jossi adalah putri kecilnya, dia tidak tahu sebentar lagi akan ada pria yang membawa Jossie jauh darinya.
"Um ...." Jossie memutar tubuhnya menghadap sang ayah kemudian tersenyum. "Tidak ada, apakah tidak boleh aku bernyanyi." Tuan Moralez terkekeh dan meremas hidung sang putri dengan gemas.
"Ada acara apa sampai sebanyak itu belanjaannya?" tanya tuan Moralez sambil memperhatikan bahan-bahan makanan yang ada di atas meja.
"Aku mengundang teman-temanku, jadi apa salahnya aku memasak." Jossie berbohong, dia ingin membuat kejutan kepada ayahnya.
"Oh, begitu." Jossie menganggukan kepala kemudian kembali memotong daging.
Nyonya Alvin datang dan memperhatikan Jossie dan beberapa pelayan sedang membersihkan bahan makanan.
"Ada acara apa, Sayang?" tanya nyonya Alvin seraya mengambil gelas dan memutar kran air sambil mata memperhatikan para pelayan yang terlihat sibuk bekerja.
"Hanya mengundang teman, Mom. Sudah lama aku tidak bertemu mereka." Kembali Jossie berbohong.
"Perlu bantuan?" tanya Nyonya Alvin dengan meletakan gelas di meja kemudian berdiri di samping Jossie.
"Boleh, bagaimana kalau mommy bersihkan sayuran-sayuran itu." Nyonya Alvin melihat bahan yang ditunjuk oleh Jossie.
Houston
Sementara di kediaman tuan Hynes nampak Wesley sedang berbincang-bincang di ruang santai setelah selesai sarapan bersama, karena hari sabtu mereka lebih memilih berkumpul di rumah.
"Aku sudah membelikan tiket untuk kalian semua, siang nanti kita akan pergi ke Venezuela." Semua mata menatap Wesley dengan mengerutkan dahi.
"Dalam rangka apa?" tanya Casey dengan memangku putranya.
"Kejutan, pokoknya tidak ada pertanyaan apa'pun." Mereka semua saling pandang dengan wajah kebingungan, kejutan apa yang akan diberikan pria itu kepada mereka.
"Aku juga sudah bicara dengan grandpa Frank untuk ikut bersama kita." Tuan Hynes menggelengkan kepala kemudian menatap Wesley.
"Untuk apa kamu membeli tiket, kita bisa pergi dengan menggunakan jet milik Frank," ujar tuan Hynes lalu terdengar tawa Isaiah.
"Kamu mengajak grandpa sudah pasti dia akan menggunakan jetnya. Kenapa kamu beli tiket lagi." Wesley menepuk jidat kemudian tertawa.
"Terlalu lama sendiri membuatmu pikun." Candaan Ellie membuat mereka semua tertawa.
Ellie tidak tahu kalau sebentar lagi sang kakak akan bertunangan. Wesley hanya tersenyum mendengar candaan adiknya.
"Apakah kamu juga mengajak tuan Smith?" tanya Isaiah.
__ADS_1
"Iya, aku sudah menghubungi beliau," sahut Wesley. Sementara Casey hanya diam saja dan berpikir mengapa kakak Isaiah mengajak mereka semua ke Venezuela.
"Baiklah, sekarang kita harus bersiap-siap," ujar Wesley kemudian berdiri diikuti oleh mereka.
Casey dan Isaiah langsung pergi ke kamar dan memasukan beberapa potong pakaian di koper kemudian wanita itu pergi ke kamar Enzo.
Dia memgambil pakaian putranya dan mengatur di dalam koper sambil berpikir kejutan apa yang akan diberikan kakak Isaiah.
Sedangkan Wesley dia membatalkan tiket yang sudah dibeli karena akan menggunakan jet pirbadi milik tuan Frank.
Venezuela
Begitu selesai memasak Jossie melihat jam sudah menunjukan pukul 15:45pm. Gadis itu segera meminta para pelayan untuk membuka ruangan tempat dia akan menjamu keluarga Wesley. Kemudian pergi mandi.
Kini gadis itu sedang duduk di depan cermin merias wajahnya, dia ingin tampil cantik di depan keluarga Wesley walau sebenarnya dia sudah sangat cantik hanya dipoles sedikit saja.
Selesai dia memakai gaun yang dibelinya bersama Wesley saat di Jerman, Jossi berdiri di depan cermin kemudian tersenyum.
Pintu terbuka, Jossie melihat Asher yang masuk. Dia tersenyum melihat pri itu dan memeluknya.
"Aku pikir kamu tidak akan pulang," ujar Jossie dengan melingkarkan tangannya di pinggang sang kakak.
"Kamu berbohong padaku, sebenarnya dalam rangka apa kamu memintaku pulang, hah?" Asher mencubit gemas pipi sang adik karena memohon padanya untuk pulang dengan alasan dia sedang ada masalah.
Karena begitu sayangnya Asher kepada Jossie dia langsung membeli tiket di airport, apalagi mendengar sang adik menangis di telepon ternyata itu hanya sebuah sandirawa.
"Bagaimana dengan penampilanku? Apakah gaun ini cocok dengan tubuhku?" Asher memperhatikan sang adik dari ujung kaki sampai kepala kemudian mengangkar kedua jempolnya.
"So perfect, kamu terlihat sangat cantik. Oh ya, memangnya ada acara apa?" tanya Asher dengan menyatukan kedua alisnya sehingga membentuk kerutan di dahinya.
"Tunggu saja, sebentar lagi mereka semua akan datang." Asher semakin penasaran, dia terus bertanya kepada Jossie sambil berdiri di belakang adiknya dan menatap gadis itu lewat cermin.
"Mereka siapa?" tanya Asher berharap sang adik menjawab pertanyaannya.
"Pokoknya tunggu saja." Jossie selesai memakai lipstik kemudian berdiri dan mengajak Asher ke ruang tengah, sebentar lagi keluarga Wesley akan tiba.
Nampak kedua orang tua Jossie serta Asher kebingungan, pasalnya siapa yang di tunggu gadis itu. Karena melihat Jossie mondar-mandir di depan mansion.
"Mom, mengapa begitu banyak makanan. Ada acara apa?" tanya Asher karena dia sangat penasaran dari tadi bertanya kepada Jossie tapi tidak di jawab oleh gadis itu.
"Mommy juga tidak tahu, dari tadi bertanya tapi jawabannya selalu rahasia, surprise." Nyonya Alvin menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah putrinya, apalagi gaun yang dikenakan Jossie membuat istri Moralez menjadi bingung.
Sementara di mobil, Casey memgerukan dahi saat kendaraan mereka memasuki kediaman tuan Moralez. Dia dan Isaiah saling bertatapan dengan wajah kebingungan.
"Kenapa kita datang ke kediaman tuan Moralez? Ada apa?" Isaiah hanya mengedikan bahu menjawab pertanyaan Casey karena dia juga bingung, ada apa Wesley membawa mereka ke mansion orang tua angkat Asher.
Melihat mobil yang di tumpangi keluarga Isaiah masuk gerbang, Jossie langsung masuk ke dalam mengajak kedua orang tuanya serta Asher untuk ikut menyambut keluarga kekasihnya.
Kedua orang tua itu nampak bingung tapi mengikuti langkah putri mereka dari belakang, begitu juga dengan Asher.
__ADS_1
Saat semua keluarga Isaiah turun, tuan Moralez dan istrinya menjadi lebih heran. Begitu juga keluarga Isaiah. Mereka saling tatap dengan wajah kebingungan.
Kecuali Asher, begitu melihat Wesley dia langsung curiga kalau sang adik sedang merencanakan pertemuan dengan keluarga tuan Hynes.
Dengan wajah yang masih kebingungan tuan Moralez dan istrinya menyambut mereka, ayah Jossie menyapa tuan Frank dan Smith kemudian berjalan bersama dengan kedua pria tua itu.
Jossie langsung mengajak mereka pergi ke ruangan yang sudah dia atur, sementara Asher menghampiri Wesley dan berbisik kepada pria itu.
"Apakah ini acara kejutan lamaran kamu kepada Jossie."Wesley tertawa dan menepuk punggung Asher, dia tahu pasti kakak Jossie bisa menebak karena pria itu yang mengenalkan Jossie kepadanya.
"Iya, ini semua ide adikmu." Asher ikut tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala kemudian mengajak Wesley untuk bergabung dengan mereka.
Kini mereka semua sudah berkumpul di ruangan yang biasa di gunakan untuk menjamu para tamu, Wesley mengajak Jossie untuk berdiri bersamanya saat akan memberikan pengumuman.
"Mohon perhatian semua," ujar Wesley dengan membunyikan gelas menggunakan garpu. Semua mata tertuju kepada pasangan kekasih itu, apalagi tuan Moralez.
"Tujuan aku dan Jossie mengumpulkan kalian disini untuk mengumumkan kalau hari ini aku akan melamar Jossie." Semua mata terbelalak mendengar ucapan Wesley.
Terlebih tuan Moralez, dia tidak percaya kalau putrinya berpacaran dengan Wesley, nampak pria itu terpekun menatap Jossie dan Isaiah.
Sementara Casey dan Isaiah saling tatap dengan mengedikan bahu, mereka berdua juga terkejut karena selama ini yang pasangan suami istri itu tahu Wesley dan Jossie tidak saling mengenal lalu sekarang akan bertunangan.
Sedangkan tuan Moralez dia masih tidak percaya kemudian berdiri dan meninggalkan ruangan itu lalu pergi ke kemar.
Nyonya Alvin merasa tidak enak kepada keluarga Isaiah kemudian menyusul sang suami, dia masuk ke kamar dan melihat sang suami sedang berdiri di teras kamar.
"Ada apa denganmu, mengapa kamu meninggalkan mereka? Apakah kamu tidak setuju hubungan putri kita dengan Wesley?" Beruntun pertanyaan sang istri membuat pria itu mengerutkan dahi.
"Bukan seperti itu, aku hanya terkejut saja tiba-tiba putri kecilku akan dilamar." Nampak wajah tuan Moralez menjadi sedih.
Nyonya Alvin tersenyum kemudian mengelus lengan sang suami, dia tahu tuan Moralez sangat menyayangi Jossie. Saat akan kuliah di Jerman sebenarnya dia tidak mengijinkannya tapi Jossie berkeras ingin melanjutkan di negara itu.
"Dia sudah dewasa, Sayang. Ayo kita kembali bergabung dengan mereka, nanti pikirnya kamu tidak merestui hubungan Jossie dan Wesley." Tuan Moralez menganggukan kepala kemudian mengikuti istrinya kembali ke ruang jamuan.
Tuan Moralez langsung merubah wajahnya yang tadi sedih kini tersenyum kepada keluarga Isaiah. Pria itu kembali duduk di dekat tuan Smith dan Frank.
"Maaf atas sikapku tadi, aku hanya terkejut saja. Jossie tidak mengatakan apa'pun kepadaku maupun istriku," tutur tuan Moralez kepada kedua orang tua Wesley.
"Kalau aku mengatakannya itu bukan kejutan lagi." Tuan Moralez hanya menggeleng-gelengkan kepala. Kalau saja putrinya mengatakan dari awal tuan Moralez akan merayakan pertungan putrinya dengan Wesley secara meriah.
"Ternyata kamu sudah dewasa, aku masih menganggapnya putri kecil?" tuan Frank tertawa dan menepuk punggung tuan Moralez.
"Begitulah rasanya kalau memiliki anak perempuan, seolah-olah mereka masih kecil saja," ujar tuan Frank. Dia juga mengingat putrinya yang telah tiada, saat masih hidup dia menganggap Rose selalu masih kecil.
"Anda benar." Jossie tertawa melihat ekspresi wajah tuan Moralez yang dibuat-buat menjadi sedih.
"Dad, jangan sedih. Apakah daddy tidak ingin menggendong cucu?" goda Jossie lalu mereka tertawa.
Sementara Casey dan Asher saling tatap mata dan tersenyum, Asher masih salah tingkah kepada adiknya.
__ADS_1