
Hari yang berat untuk mengambil suatu keputusan, akan tinggal atau pergi. Kenyataan begitu pahit antara percaya dan tidak tapi itulah yang terjadi. Saat melihat orang yang kita cintai sedang bercinta dengan orang lain, itu sangguh luar biasa sakitnya.
Pertama kali menyukai pria tapi ini kali pertama rasanya sakit di khianati. Memaafkan itu tidak mungkin, dengan apa yang jelas-jelas dilihat itu sudah cukup. Kembali ke negaranya merupakan suatu keputusan berat yang di ambilnya.
Tarikan napas yang begitu dalam saat pesawat itu take off, mata menatap keluar jendela melihat rumah-rumah penduduk juga gedung-gedung bertingkat yang semakin lama mengecil.
Tak terasa airmata mengalir di pipi, mata kembali terpejam mengingat apa yang terjadi padanya, sungguh ini sangat menyakitkan bagi Casey.
Sementara di kampus seorang pria sedang berdiri di depan ruangan, dia sedang menunggu kekasihnya datang. Satu persatu dia menatap mahasiswa yang masuk tapi yang ditunggu tak kunjung datang, dia melihat seorang wanita dan menghampirinya.
“Apakah Casey tidak masuk?” tanya pria itu sambil melongo ke dalam ruangan melihat apakah gadis yang di maksud berada di dalam atau tidak.
“Sepertinya dia belum datang.” Wajah pria itu berubah menjadi murung kemudian dia berpamitan kepada Anna dan pergi keruangannya.
Pupus sudah harapannya, akhirnya dia memutuskan untuk ke apartemen. Pria itu bolos di jam kuliah dan pergi ke tempat tinggal gadis itu, saat tiba dia melihat mobil milik Casey tidak ada.
Dia masuk ke apartemen dan mengetuk pintu tapi sama sekali tidak ada jawaban, pria itu tidak tahu kalau kekasihya sudah meninggalkan Valencia. Dengan langkah gontai dia meninggalkan tempat itu dan kembali ke rumah yang baru di belinya.
Zelo duduk termenung di dekat kolam renang dan berpikir kemana Casey pergi, dia tidak tahu harus mencari kemana gadis itu. Zelo mengeluarkan ponsel mencoba menghubungi Casey tapi lagi-lagi tidak aktif.
“Dia benar-benar meninggalkanku, aku memang bodoh. Kemana ku harus mencarinya?” dia tertunduk dan mengacak rambutnya kemudian berdiri dan pergi ke kamar.
“Mudah-mudahan besok dia masuk kuliah,” ujar pria itu seraya menghempaskan tubuh di tempat tidur.
Beberapa jam kemudian pesawat mendarat, akhirnya gadis itu tiba di negaranya. Dari airport mereka langsung menuju ke rumah, sepanjang jalan dia hanya diam. Tak di sangka satu tahun hubungannya dengan pria itu akhirnya kandas.
Tiba di rumah gadis itu langsung pergi ke kamar, sang adik tidak ingin mengganggu kakaknya. Dia tahu Casey ingin menyendiri, memang butuh waktu untuk melupakan orang yang mulai dia cintai.
Casey menghempaskan tubuh di ranjang, kembali airmata menetes. Tidak mudah baginya untuk melupakan pria itu, dia adalah pria yang pertama menciumnya bahkan laki-laki pertama yang menyentuh tubuhnya. Casey bahkan merelakan virginnya di ambil oleh Zelo.
Melihat keadaan putri mereka dan tidak ingin anak perempuannya menderita, kedua orang tua gadis itu berencana memindahkan kuliahnya. Nyonya Paulo tidak mengijinkan lagi anak itu kembali ke Valencia.
“Aku menyesal menginjinkan dia kuliah di Valencia,” ujar wanita itu kepada suaminya. Dia sangat sedih melihat keadaan putrinya seperti itu.
“Sudalah, dengan pengalaman ini dia pasti akan lebih berhati-hati lagi dengan laki-laki.” Sang istri hanya menggelengkan kepala kemudian berdiri pergi melihat putrinya.
Nyonya Paulo masuk dan melihat Casey masih berbaring, dia duduk di sisi tempat tidur lalu mencium dan membelai rambut putrinya. Gadis itu berusaha tersenyum melihat ibunya kemudian dia bangun.
“Sayang, kamu belum makan. Nanti sakit.” ujar sang ibu seraya memegang tangan putrinya lalu Casey memeluk wanita itu dan turun dari tempat tidur.
__ADS_1
“Iya, aku akan makan.” Ibunya sangat senang melihat Casey mau makan, mereka saling berpegangan tangan pergi ke luar dan menuju ruang makan. Ayah gadis itu tersenyum melihat istrinya berhasil membujuk putrinya.
“Papa sampai lapar menunggumu,” canda pria itu lalu Casey tertawa dan memeluknya.
“Maaf sudah membuat papa menunggu.” Mereka tertawa lalu duduk di meja makan.
Ayah dan ibu gadis itu mulai senang melihat putri mereka sudah bisa makan dan bercanda, apalagi Robby. Sambil makan mereka berbincang-bincang.
“Sayang, bagaimana kalau kamu pindah kuliah di sini saja,” pinta wanita itu kepada Casey seraya menyuap makanan ke dalam mulut.
“Benar, Mam. Lebih bagus Casey kuliah di sini.” timpal sang adik. “Ayolah kakaku yang paling cantik,” sambungnya seraya merayu Casey lalu gadis itu tertawa dan mengacak rambut Robby.
“Mam, aku tidak ingin mengulang. Jangan khawatir aku akan baik-baik saja.” Suami istri saling pandang lalu wanita itu memegang tangan putrinya.
“Pikirkan baik-baik, Sayang.” Casey tersenyum kepada ibunya, dia tidak ingin kuliahnya terputus dan mengulang tahun berikut.
“Percaya padaku.” Gadis itu meyakinkan ibunya dengan wajah memohon.
“Baiklah, terserah kamu saja,” ujar wanita itu dengan menarik napas panjang. Dia tidak bisa menahan keinginan putrinya, Casey tersenyum kemudian berdiri dan mencium pipi ibunya.
“Terima kasih, Mam.” Sang ibu menganggukan kepala dan membelai rambut putrinya.
Seminggu sudah Zelo mencari Casey tapi tidak menemukannya, pria itu menjadi putus asah. Dia bahkan sudah jarang pergi kuliah hanya karena berpisah dengan gadis itu.
Sedangkan Casey, dia memutuskan untuk kembali ke Valencia. Gadis itu bahkan sudah siap bertemu dengan pria itu, hari ini juga dia berangkat ke kota Valencia. Kedua orang tua dan adiknya mengantar Casey ke airport.
Penerbangan satu jam lebih, gadis itu tiba di aiport Valencia. Dari bandara dia langsung pergi ke apartemen, saat tiba kembali teringat kemesraannya dengan pria itu. Casey masuk dan meletakan koper di kamar kemudian duduk di teras.
“Dia pasti ingin bicara denganku, aku akan memaafkannya tapi bukan berarti harus kembali padanya. Itu tidak akan pernah terjadi, lebih baik aku fokus kuliah saja.” Casey berdiri dan melepaskan pakaian dan pergi ke kamar mandi.
Casey membuka kulkas tapi tidak ada susu, dia mengambil kunci mobil dan pergi ke supermarket. Gadis itu ingin membeli segala keperluan hari-harinya, saat keluar dari apartemen, dia sempat melihat mobil Zelo ada di parkiran.
Gadis itu langsung meninggalkan apartemen dan pergi ke supermarket. Dia tidak perduli pria itu mengikutinya. Matanya melihat ke spion, Casey ingin tahu apakah mobil Zelo ada di belakangnya.
Dia tersenyum sendiri, ternyata mobil itu mengikutinya. Tiba di supermarket gadis itu pura-pura tidak melihat Zelo, dia masuk dan mengambil keranjang, kemudian mengambil segala yang diperlukannya. Casey pergi ke kasir lalu membayar semua belanjaannya.
Casey kembali ke apartemen, dia juga melihat mobil Zelo ikut parkir. Gadis itu ingin tahu apakah Zelo akan turun menemuinya, Casey masuk lalu meletakan belanjaan di atas meja.
Terdengar pintu di ketuk, Casey mengintip dari lubang kecil dan melihat Zelo sedang berdiri dengan menundukan kepala. Dia masih berpikir apakah memberi kesempatan pria itu bicara atau tidak.
__ADS_1
Akhirnya Casey membuka pintu, dengan tatapan dingin dia menatap pria itu. Terlihat ketegaran hatinya saat melihat seorang pengkhianat berdiri di hadapannya. Zelo termangu, tak tahu harus bicara apa. Dia tidak beranir melihat wajah Casey.
“Boleh aku masuk,” tanya pria itu lalu Casey menganggukan kepala.
Zelo langsung masuk dan duduk di sofa, sedangkan Casey dia tetap berdiri menunggu apa yang akan di katakan Zelo kepadanya. Pria itu menjadi canggung melihat Casey.
“Tolong duduklah,” pinta Zelo tapi Casey hanya tersenyum sinis, dia tetap berdiri dan menunggu penjelasan pria itu.
“Katakan saja, apa tujuanmu ke sini.” Zelo berdiri dan menatap Casey, saat dia ingin mendekatinya gadis itu melangkah mundur. “Langsung saja.”
“Aku tidak perlu menjelaskan kepadamu, semuanya sudah jelas dalam video itu ku mengaku salah dan sangat menyesal.” Casey hanya diam mendengar perkataan pria itu.
“Tujuanku ke sini untuk minta maaf padamu dan beriku kesempatan. Aku berjanji tidak akan pernah mengulanginya,” mohon pria itu tapi Casey kembali tersenyum dengan sinis.
“Aku sudah maafkan kamu, tapi bukan berarti hubungan kita akan kembali. Sekarang ku lebih memilih fokus untuk kuliah aku tidak ingin mengecewakan orang tuaku.” Pria itu menatap Casey dengan wajah yang sedih, dia tidak ingin hubungan mereka berdua berakhir.
“Anggap saja ini pelajaran buatku untuk lebih berhati-hati,” ujar Casey lalu Zelo bersujud dan memohon kepada gadis itu untuk tidak meninggalkannya.
“Ku mohon jangan tinggalkan aku. Memang aku sudah salah, berikanku kesempatan sekali lagi.” Dia menangis dan memohon kepada Casey tapi gadis itu tetap dengan pendiriannya.
“Tinggalkanku sendiri, aku tidak bisa bersamamu lagi.” Pria itu memeluk kaki Casey dan menangis, dia tidak ingin berpisah dengan gadis itu.
“Aku sangat mencintaimu dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.” Casey berusaha melepaskan kakinya dari pria itu, dia terlihat marah.
“Jangan memaksaku, aku sama sekali tidak mencitaimu lagi. Tolong pergi dari sini.” Pria itu berdiri, dengan mata sayu dia menatap gadis itu.
“Baiklah, boleh aku memelukmu untuk yang terakhir kali,” pinta Zelo lalu Casey menganggukan kepala. Zelo langsung memeluknya dengan erat.
“Aku lebih memilih mati dari pada berpisah darimu,” bisik Zelo tapi Casey hanya diam dan melepaskan pelukan pria itu.
“Terserah kamu, aku tidak perduli.” Dengan sedih Zelo menatap Casey, dia tidak percaya gadis itu tidak perduli sama sekali.
“Kamu tidak akan pernah melihatku lagi.” Zelo langsung meninggalkan Casey dan kembali ke rumahnya.
Perginya pria itu, Casey langsung masuk kamar dan menangis. Dia tidak bisa melupakan Zelo, tapi mengingat perbuatan lelaki itu dia harus mengambil keputusan walaupun berat baginya.
“Aku pasti bisa menjalaninya.” Dia memejamkan mata lalu terbayang saat pria itu memohon dan memeluk kakinya.
Jangan lupa like dan komentar ya
__ADS_1
Terima kasih