
Setelah melalui beberapa proses akhirnya Casey menjatuhkan pilihannya kepada perusahan tuan Moralez, wanita itu percayakan mega proyek itu di tangani oleh perusahan milik orang tua Zelo.
Kini sudah dua bulan proyek itu berjalan dan Casey masih tinggal di Venezuela untuk mengawasi jalannya pekerjaan yang dia serahkan kepada tuan Moralez.
Sementara Isaiah dia harus kembali ke Amerika karena harus mengurus salah satu perusahan yang mengajukan pembiayaan projek, karena pimipinan Divisi Financial dan yang mengambil keputusan adalah dirinya dengan berat hati dia meninggalkan Casey.
Dua minggu sudah dia berada di Amerika, Isaiah dan Casey hanya bisa saling tatap lewat video call, pria itu tidak takut meninggalkan Casey di Venezuela karena Ia percaya sang kekasih tidak akan mungkin mengkhianatinya.
Tapi Isaiah tidak tahu kalau saat ini nyawa Casey sedang ada dalam bahaya, tiga pria sekaligus sedang mengincar sang kekasih.
Di tempat lain, mendengar kalau Isaiah sedang berada di Amerika Zelo kembali mengawasi Casey, dia membayar beberapa orang untuk menculik wanita itu. Zelo juga tidak tahu kalau ada yang lain sedang mengincar mantan kekasihnya.
Sedangkan Dany dan direktur juga membayar orang untuk menculik Casey dan memerintahkan membunuhnya, mereka mencari kesempatan disaat wanita itu tidak bersama Edgar mereka akan menculiknya.
Saat ini Casey selalu bersama Edgar, kemana’pun wanita itu pergi sang asisten selalu bersamanya karena sudah diperintahkan oleh Isaiah.
“Edgar, aku akan pergi ke lokasi proyek tolong kamu disini saja, menjaga kalau ada yang mencariku bisa kamu tangani,” titah Casey seraya mengambil kunci mobil.
Casey langsung meninggalkan gedung perkantoran dan menuju ke lokasi proyek, dia meletakan salah satu ponsel di laci lalu menyetel musik.
Dia tidak menyadari beberapa mobil sedang mengikutinya. Casey terlalu asik mendengarkan musik sambil ikut bernyanyi. Ponsel berbunyi, Casey melihat panggilan dari Isaiah.
“Hallo, Babe. Aku sedang menuju ke lokasi proyek.” Inisiatif Casey untuk memberitahukan sang kekasih walau tidak di tanya.
“Pergi bersama siapa?” tanya Isaiah, dia tidak ingin Casey berpergian sendiri.
“Aku sendiri, lagi pula di proyek hanya sebentar saja. Aku tidak mengajak Edgar karena ada tugas penting yang dia harus kerjakan.” Casey menjelaskan panjang lebar kepada Isaiah agar pria itu tidak marah.
“Oh, begitu. Jangan lama-lama di proyek,” pesan Isaiah dari ujung telepon.
“Iya, Babe. Kalau begitu aku tutup teleponnya ya.”
“Baiklah, hati-hati. I love you,” ucap Isaiah di sertai ciuman jarak jauh.
“I love you too,” ucap Casey dengan membalas ciuman Isaiah lalu menutup telepon. Casey melemparkan ponsel ke kursi sebelah sambil tetap fokus menyetir.
Saat tiba di jalanan sepi tiba-tiba sebuah mobil menyalip kendaraan Casey sehingga wanita itu mengeremnya dengan mendadak, untung saja Casey menggunakan safety belt jadi badannya tidak terbentur di stir.
Nampak dua orang pria dengan penutup wajah serta pistol di tangan berlari ke arah Casey, saat tiba mereka menodongkan senjata kepada wanita itu dan memberi isyarat agar menurunkan kaca mobil.
Casey tidak mengira kalau kedua pria itu akan menculiknya, pikir kekasih Isaiah mereka hanya inginkan uang sehingga dia menurunkan kaca dan memberikan dompet yang berisikan credit card serta uang.
__ADS_1
“Kami tidak butuh itu, pindah ke tempat duduk yang lain,” perintah salah satu penculik itu dengan mengarahkan pistol ke arah Casey.
Dengan perlahan Casey berpindah kursi, dia melihat ponselnya lalu menyelipkan di sela jok dan duduk sambil menatap pria yang sedang masuk juga ke mobilnya.
Tiba-tiba terdengar bunyi tembakan, pria itu langsung menjalankan mobil milik Casey. Sementara van yang mereka tumpangi sebelumnya berusaha menghalau sebuah kendaraan yang melepaskan tembakan.
Casey menggunakan sabuk pengaman dan sedikit menundukkan badannya, takut terkena peluru karena dimasing-masing mobil sedang terjadi baku tembak. Penculik berhasil menghindar dan membawa Casey meninggalkan tempat itu.
“Siapa yang menyuruh kalian?” tanya Casey dengan wajah penuh ketakutan. Casey berusaha tenang menghadapi kedua penculik itu.
Tidak ada jawaban dari pria yang duduk di belakang stir mobil sedangkan yang satunya lagi berada tepat di belakang Casey dan menodongkan pistolnya.
Casey akhirnya tidak bertanya lagi, dia hanya memikirkan siapa yang menyuruh untuk menculik dirinya. Casey mulai menebak-nebak dalam pikirannya ada tiga orang yaitu, Dany, mantan direktur juga Zelo.
Casey berpikir Dany sakit hati karena memutuskan kerja sama dengan perusahan pria itu sedangkan mantan direktur kecewa di pecat olehnya. Kalau Zelo bisa juga karena sakit hati dan ingin menculiknya.
Tapi gadis itu merasa heran kenapa para penculik bisa terlibat saling baku tembak, apakah mereka saling berebutan untuk menculiknya. Wanita itu terlihat bingung dan terus berpikir.
Akhirnya Casey hanya bisa pasrah dibawah oleh kedua pria itu, dia hanya memperhatikan jalanan yang sepi dan entah kemana mereka akan membawahnya. Casey memejamkan mata dan berharap ponsel yang diselipkan di sela kursi tidak ditemukan oleh si penculik.
Ponsel itu Casey hubungkan dengan MacBook serta ipad milik Isaiah, berjaga-jaga kalau perangkat itu hilang bisa di temukan lagi karena menyimpan file-file yang penting.
Benar saja apa yang ada di pikiran Casey, penculik pasti akan mencari ponselnya. Beruntung salah satu benda pipi itu sudah dia selipkan di jok kursi tempat dia duduk.
“Di laci.” Sambil menunjuk tempat dia meletakkan ponsel dengan jari telunjuk Casey menjawab pertanyaan pria itu.
Salah satu penculik yang duduk di belakang Casey memajukan badannya dan meraih laci lalu membukanya. Pria itu mengambil ponsel tersebut dan melemparnya ke jalan, benda itu jatuh tepat di atas rumput.
Casey beryukur ponsel yang dia selipkan tidak ada nada dering juga getaran, Ia sangat yakin Isaiah pasti akan menemukannya kalau tidak ada kabar sama sekali.
Mereka tiba di sebuah Villa, salah satu penculik turun dan membukakan pintu untuk Casey sambil tetap menodongkan pistol kepada wanita itu. Kedua pria itu membawa Casey ke dalam, di sana juga ada beberapa pria berbadan besar.
Sembari berjalan masuk, Casey memperhatikan villa itu sambil berpikir siapa pemilik tempat itu. Pasti bukan orang biasa karena kediamannya sangat mewah, Casey mengikuti kedua penculik dan berhenti disebuah ruangan.
Salah satu penculik membuka ruangan itu dan meminta Casey untuk masuk lalu mengunci wanita itu dari luar. Merasa aman si penculik menghubungi orang yang menyuruh mereka.
“Target sudah berada di villa,” lapor penculik itu sambil berjalan menjauh dari ruangan tempat Casey di sekap.
“Bagus, beri dia makan,” perintah pria di ujung telepon. Entah siapa lelaki itu sehingga berani menculik Casey.
Amerika
__ADS_1
Hari semakin sore Isaiah belum mendapat kabar dari Casey biasanya kalau akan pulang sang kekasih selalu menghubunginya, Isaiah mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Casey. Tidak di jawab, pria itu tidak berhenti berulang kali dia menelepon tapi tetap sama.
“Biasanya dia selalu menjawab teleponku. Oh, mungkin sedang menyetir.” Isaiah mencoba berpikir positif.
Tapi dia tidak tahu kalau Casey sudah di culik, Isaiah meninggalkan kantor dan kembali ke apartemen, Ia berencana menelepon kembali sang kekasih setibanya di kediaman.
Tidak ada firasat apa’pun di pikiran Isaiah, dengan santai dia masuk ke aprtemen melepaskan kemeja dan melemparkan ke keranjang pakaian kotor lalu masuk kamar mandi.
Selesai mandi Isaiah kembali menghubungi Casey tapi beberapa panggilan yang dia lakukan tidak ada jawaban, pria itu melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 19:25pm berarti di Venezuela sudah 21:25pm. Akhirnya Isaiah memutuskan menelepon Edgar, panggilan terhubung.
“Edgar, apakah nona Casey masih di kantor?” tanya Isaiah seraya mondar-mandir di kamar.
“Tidak, Tuan. Nona Casey tidak kembali ke kantor sejak berangkat ke lokasi proyek.” Edgar menjadi bingung Isaiah menanyakan atasannya. “Apakah tuan sudah menghubungi Nona Casey?”
“Iya, tapi dari tadi sore tidak dijawab. Apakah kamu bisa pergi ke apartemennya, mungkin saja dia kelelahan dan tertidur.” Isaiah masih berpikiran positif dan meminta tolong kepada Edgar.
“Baik, Tuan. Aku segera pergi ke apartemen Nona,” sahut Edgar dari seberang telepon. Dia juga merasa khawatir karena sejak siang Casey tidak pernah menghubunginya.
“Terima kasih, Edgar,” ucap Isaiah lalu menutup telepon dan duduk di sofa.
Kalau Casey juga tidak berada di apartemen, Isaiah berencana untuk berangkat ke Venezuela malam ini juga. Dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada kekasihnya.
Ponsel Isaiah kembali berbunyi, dia melihat dari Edgar. Isaiah langsung meraih benda pipi itu dan menjawab telepon dari sang asisten.
“Bagaimana? Apakah Casey di apartemen?” tanya Isaiah, kali ini dia terlihat sangat cemas.
“Tuan, aku sudah mengetuk berulangkali tapi sepertinya Nona Casey tidak di apartemen, karena terlihat ruangannya gelap.” Mendapat informasi dari Edgar Isaiah langsung menutup telepon dan menghubungi tuan Moralez.
“Hallo, selamat malam, Tuan Moralez,” sapa Isaiah. Dia ingin bertanya apakah pria itu bertemu dengan kekasihnya di proyek.
“Oh, Isaiah. Selamat malam, ada hal penting menghubungiku malam begini?” tanya tuan Moralez dari seberang telepon.
“Maaf, mengganggumu malam-malam. Aku ingin bertanya Apakah tadi siang Anda ke proyek,” jawab Isaiah sekaligus mengajukan pertanyaan kepada tuan Moralez.
“Iya, tadi siang aku berada di lokasi proyek sekaligus menunggu Casey tapi sampai sore hari dia tidak datang jadi aku memutuskan untuk kembali ke kantor,” tutur tuan Moralez seraya berpikir apa yang terjadi kepada Casey sehingga Isaiah meneleponnya.
“Oh begitu.”Mendengar penjelasan tuan Moralez Isaiah langsung khawatir, dia menutup telepon lalu memasukan laptop ke dalam tas punggung.
Malam ini juga Isaiah akan berangkat ke Venezuela, dia yakin sudah terjadi sesuatu kepada Casey. Isaiah akan membeli tiket di airport.
Selamat membaca
__ADS_1