Amor Prohibido (Cinta Terlarang)

Amor Prohibido (Cinta Terlarang)
Bulan madu


__ADS_3

Akhirnya acara pernikahan selesai, Alice dan Nathan mini bersiap-siap berangkat ke Swiss. Tuan Frank memberikan hadia bulan madu kepada mereka berdua ke negara itu. Dia juga mengijinkan untuk memakai jet pribadinya.


Tuan Frank memilih negara Swiss untuk bulan madu Alice dan Nathan, dia ingat impian wanita itu ingin berlibur ke negara tersebut karena disana banyak sekali tempat-tempat wisata yang sangat indah.


Di ruang tengah tuan Smith masih berbincan-bincang dengan tuan Frank, sedangkan Rosse dia hanya duduk diam menunggu Alice di ruang santai sambil memeriksa laporan di tabletnya.


Sementara nyonya Smith tidak ingin berlama-lama di kediaman Nathan, dia mengajak Lea untuk ikut pulang bersamanya. Sedangkan Dany dia tetap tinggal di kediaman Nathan  untuk mencari kesempatan berbincang dengan tuan Frank agar bisa mendapatkan investasi dari perusahan milik ayah Rosse itu.


Nampak Alice dan Nathan keluar dari lift yang ada di Mansion milik suami Alice sambil menarik koper yang berisikan pakaian dan perlengkapan mereka.


Nathan langsung menghampiri tuan Smith dan Frank juga adiknya, sedangkan Alice pergi menemui Rosse yang lagi duduk di ruang santai. Dia tersenyum kepada sahabatnya dan menyapanya.


“Mengapa duduk sendiri di sini?” Rosse mengangkat kepala lalu menatap Alice dengan tersenyum, dia menepuk permukaan sofa mengisyaratkan agar sahabatnya itu duduk di sampingnya.


“Kamu ingin aku bergabung dengan para pria itu,”  tunjuk Rosse dengan mengisyaratkan matanya kepada ketiga pria yang berbincang di ruang tengah. Alice terkekeh dan duduk di samping sahabatnya itu.


“Aku dan Nathan akan segera berangkat.” Rosse menganggukkan kepala dan memegang tangan Alice.


“Nikmati dengan  sebaik-baiknya bulan madumu, dan aku harap segera mendapatkan hasil. Aku ingin menggendong ponakanku.” Alice terkikik dan menepuk pelan lengan Rosse yang juga tertawa.


“Mudah-mudahan selesai bulan madu aku langsung hamil,” canda Alice lalu dia mengajak Rosse untuk pergi ke ruang tengah menemui Nathan dan tuan Smith serta tuan Frank.


Alice dan Rosse bergabung dengan keempat pria itu, dan berbincang dengan mereka. Nathan melihat jam yang melingkar di tangannya sudah menunjukkan pukul sebelas malam, sudah waktunya mereka pergi ke aiport.


“Sepertinya, aku dan Alice harus berangkat sekarang,” ujar Nathan di sela-sela perbincangan mereka.


“Oh ya, pilot belum lama menghubungiku. Pesawatnya sudah siap.” Karena terlalu senang berbincang dengan mereka, Tuan Frank lupa mengatakan kalau transportasi yang akan di gunakan Nathan dan Alice sudah siap dari tadi.

__ADS_1


“Kalau begitu cepat berangkat,” sela tuan Smith dengan menepuk punggung putranya.


“Baiklah, kami pergi sekarang.” Nathan menarik koper dia dan Alice lalu pergi ke depan di ikuti Rosse dan Alice serta ke tiga pria itu.


Alice memeluk Rosse dan mencium kedua pipi sahabatnya itu, dia juga melakukan itu kepada tuan Frank dan tuan Smith. Begitu juga dengan Nathan lalu pria itu memasukkan koper mereka ke dalam bagasi.


“Semoga selesai bulan madu kamu langsung hamil,” canda tuan Smith kepada Alice. Dia memang sangat berharap memiliki cucu dari putranya.


“Doa’kan saja,” sahut Nathan seraya masuk ke dalam mobil. Sedangkan Alice hanya tersenyum kemudian melambaikan tangan kepada mereka.


Mobil yang mengantar Nathan dan Alice meninggalkan Mansion langsung menuju ke aiport.  Tidak butuh lama, akhirnya Nathan dan Alice tiba di landasan.


Pilot dan CO pilot serta dua pramugari menyambut Alice serta Nathan di depan tangga. Pasangan suami istri itu menyapa mereka lalu naik ke pesawat.


Pramugari menunjukkan kursi Nathan dan Alice lalu menawarkan red wine kepada pasangan suami istri itu kemudian kembali ke tempat mereka.


Begitu pesawat mengudara, Nathan mengajak Alice untuk beristirahat di kamar. Walau’pun tempat tiudr tidak besar tapi cukup untuk mereka berdua.


Alice berdiri dan mengikuti Nathan dari belakang, melihat sang suami berbaring. Dia ikut merebahkan diri di samping pria itu dan memeluknya.


Sebenarnya tuan Smith  memiliki jet pribadi juga tapi Nathan ingin menghargai hadia dari tuan Frank, dia tidak ingin menyinggung ayah dari Rosse karena sudah sangat baik kepada Alice.


Pesawat yang di tumpangi Nathan dan Alice tiba di Zurich airport pada sore hari, pasangan suami istri itu turun dari pesawat dan keluar dari pintu VIP yang ada di bandara itu.


Disana sudah menunggu seorang asisten pria bernama Colter ditugaskan oleh tuan Frank untuk menjemput Alice dan Nathan. Kini pria itu sedang berdiri dan memperhatikan pasangan suami istri itu.  Colter bisa mengenal Nathan dan Alice lewat foto yang dikirimkan tuan Frank kepadanya.


“Selamat datang di Zurich, aku Colter asisten tuan Frank di Swiss. Tuan Frank menugaskan aku untuk mendampingin Anda berdua selama berada di negara ini.” sambut Colter seraya  berjabat tangan dengan Nathan dan Alice dan memperkenalkan dirinya kepada suami istri itu.

__ADS_1


“Terima kasih, aku Nathan dan ini Alice istriku.” Nathan mengenalkan dirinya juga Alice kepada Colter.


“Aku bersyukur datang ke sini bertepatan dengan musin gugur,” ujar Alice dengan bercanda.


“Apakah Anda berdua akan langsung ke hotel?” tanya Colter sambil berjalan di samping Nathan.


“Iya, istriku ingin istirahat terlebih dahulu sebelum makan malam.” Colter manganggukkan kepala lalu membuka pintu mobil yang sudah terpakir di depan pintu kedatangan.


Alice dan Nathan masuk ke mobil lalu sopir perusahan milik tuan Frank mengantar mereka ke hotel. Tidak butuh lama, akhirnya pasangan suami istri itu dan Colter tiba di hotel yang sudah di booking terlebih dahulu oleh asisten itu.


Colter langsung pergi ke reseptionis untuk chek in sedangkan Nathan dan Alice duduk di sofa yang ada di lobby hotel itu. Nampak wajah Alice kelelahan, hampir 12 jam berada di pesawat membuat wajah wanita itu terlihat kusut. Alice segera ingin merebahkan tubuhnya di kasur.


“Tuan ini kartu akses kamar Anda.” Colter menyerahkan sebuah benda berbentuk kartu kepada Nathan. Dia melihat pasangan suami istri itu sudah kelelahan.


“Terima kasih, Colter. Boleh aku meminta nomormu, supaya aku bisa menghubungi kamu jika sudah selesai istirahat.” Colter mengeluarkan dompet dan mengambil sebuah kartu nama dan memberikannya kepada Nathan.


“Tuan, bisa menghubungi aku di nomor ini.” Colter menunjukkan nomor yang tertera di kartu nama itu kepada Nathan.


“Baiklah, terima kasih,” ucap Nathan lalu dia mengajak Alice untuk pergi ke kamar.


Begitu masuk ke kamar, tanpa mandi Alice langsung menghempaskan tubuhnya di kasur. Nathan terkekeh melihat sang istri, dia melepaskan kaos dan duduk di sisi tempat tidur.


“Ayo mandi,” ajak Nathan dengan menarik tangan Alice agar bangun.


“Sebentar lagi, aku ingin meluruskan badanku. Kamu mandi saja terlebih dahulu.” Nathan tidak memaksa Alice, dia berdiri dan pergi ke kamar mandi. Sementara Alice dia memejamkan mata dan langsung tertidur.


Saat Nathan keluar dari kamar dia tersenyum melihat sang istri yang sudah tertidur pulas, Nathan menggeleng-gelengkan kepala lalu membuka koper dan mengambil pakaiannya. Selesai dia berdiri di depan jendela dan menatap keluar. Nathan tidak ingin membangunkan Alice dia tahu wanita itu sangat lelah.

__ADS_1


__ADS_2