Amor Prohibido (Cinta Terlarang)

Amor Prohibido (Cinta Terlarang)
12 tahun kemudian


__ADS_3

12 Tahun Kemudian.


Seorang pria dengan wajah tampan dan bertubuh atletis sedang berjalan memasuki sebuah perusahaan besar, saat dia masuk semua berdiri dan memberi hormat padanya. Banyak wanita sangat mengaguminya tapi dia terlihat sangat dingin.


Pria itu memasuki sebuah ruangan di mana semua dewan direksi sedang berkumpul untuk mengadakan rapat, dia tersenyum kepada mereka kemudian dia menarik kursi dan duduk.


“Apakah pimpinan akan hadir?” tanya pria itu seraya menatap satu-persatu anggota dewan direksi.


“Dia sedang berada di ruangannya,” jawab salah satu anggota dewan direksi. Lalu pintu terbuka, semua berdiri dan memberikan salam kepada pria itu.


“Salam tuan, Alvin.” Pria itu tersenyum kemudian dia menarik kursi dan duduk di ikuti semua anggota dewan.


“Bagaimana perjalananmu, Zelo?” tanya tuan Alvin kepada pria yang duduk di dekatnya.


“Baik-baik saja, Dad.” Tuan Alvin tersenyum seraya menepuk pelan pipi pria itu.


“Senang mendengarnya,” ucap pria itu kemudian dia menatap satu-persatu anggota dewan.


“Baiklah, aku ingin kalian ketahui bahwa orang yang aku percayakan memegang perusahan yang di Spanyol sudah aku hentikan.” Zelo mengkerutkan dahi menatap ayahnya.


“Kenapa?” tanya Zelo dengan heran lalu pria itu menarik napas panjang.


“Dia tidak becus, juga menggunakan uang perusahan tanpa seijin dariku.” Zelo menganggukan kepala kemudian dia bertanya lagi.


“Lalu siapa yang memimpin perusahan disana?” Pria itu berdiri kemudian dia tersenyum kepada Zelo.


“Aku ingin kamu yang mengurus perusahan itu, kalau bisa besok kamu berangkat ke Spanyol.” Wajah Zelo berubah, dia sudah terbiasa hidup di Brazil dan kini dia harus tinggal di Spain.


“Dad, apakah tidak ada yang lain?” Pria itu menggelangkan kepala kemudian duduk kembali.


“Hanya kamu yang bisa, Nak.” Zelo menganggukan kepala, dia tidak bisa menolak keinginan sang ayah.


“Baiklah.” Tuan Alvin terlihat sangat senang kemudian dia berdiri dan memeluk putranya.


“Oh ya, aku juga ingin kamu kuliah di Spanyol.” Zelo tertawa kemudian dia menatap ayahnya.


“Ah … Dad, aku malas untuk kuliah. Anda liat sendiri tanpa kuliah aku bisa mengurus perusahanmu di Brazil.” Tuan Alvin tertawa, dia  mengakui kepintaran Zelo tapi pria itu ingin anaknya memiliki gelar sarjana.

__ADS_1


“Zelo, aku tahu kamu itu hebat. Daddy hanya ingin kamu memiliki gelar sarjana.” Anak itu mengerti dia menganggukan kepala, tuan Alvin sangat senang kemudian kembali dia memeluk dan mencium kedua pipi putranya.


“Untuk di Brazil aku akan minta Wilson yang mengurusnya.” Wilson berdiri dan menganggukan kepala. Tuan Alvin begitu senang, sedangan Zelo dia bangkit berdiri dan berbisik kepada ayahnya.


“Aku ingin melihat mommy.” Tuan Alvin berdiri dan memeluk putranya.


“Iya, dia sangat rindu padamu.” Zelo tersenyum kemudian dia melepaskan pelukan tuan Alvin dan meninggalkan ruang meeting. Zelo langsung pulang ke rumah, dia ingin memberikan kejutan kepada ibunya.


Zelo tiba di rumah, perlahan-lahan dia masuk dan mencari ibunya. Pria itu tersenyum melihat adiknya sedang bermain di halaman belakang, dia memperhatikan mereka lewat jendela.


Saat  Zelo ingin menyapa sang adik  sebuah tangan menepuk punggungnya, dia menoleh kemudian memeluk tubuh seorang wanita paruh baya, mereka berdua saling berpelukan dengan erat. Nampak kebahagiaan di wajah Zelo.


“Aku sangat rindu padamu,” ucap Zelo dengan memeluk wanita itu lagi.


“Mommy juga sangat rindu.” Mereka saling berpelukan kemudian terdengar suara memanggil Zelo.


“Zelo, kamu sudah pulang.” Gadis itu berlari dan memeluk kakaknya.


“Iya, Sayang.” Zelo memeluk adiknya dengan erat dan mencium kedua pipinya.


“Aku juga rindu padamu,” ujar Jossie dengan cemberut lalu Zelo tertawa dan memeluk kembali adiknya. Mereka saling melepas rindu di halaman belakang.


“Untuk apa kamu Spanyol?” tanya Nyonya Alvin dengan heran.


“Daddy ingin aku mengurus perusahannya di sana,” jawab Zelo dengan memeluk sang adik dan mencium keningnya.


“Tetapi kenapa harus besok?” Zelo tertawa dan berdiri kemudian duduk dekat dengan sang ibu.


“Mommy tahu perusahan di Spanyol itu sangat penting, makanya daddy memintaku besok sudah harus berangkat ke Spain.” Sang ibu hanya menganggukan kepala.


“Tapi kamu akan terus berkunjung ke sinikan?” tanya Josie lalu Zelo tersenyum dan membelai rambut adiknya.


“Tentu saja, Sayang.” Josie terlihat sangat senang kemudian dia memeluk Zelo dengan erat.


****


Sementara di belahan negara lain, seorang gadis cantik sedang bermain basket bersama adik laki-laki di halaman. Mereka berdua terlihat sangat akrab. Sementara pasangan suami istri memperhatikan mereka dari dalam.

__ADS_1


“Tidak terasa anak-anak kita sudah besar, apalagi Casey dia semakin dewasa dan sangat menyayangi Robby.” Istrinya tersenyum kemudian dia pergi menghampiri kedua anaknya.


“Casey, Robby. Ayo makan.” Kedua anak itu berhenti bermain dan berlari masuk, mereka langsung menuju ke ruang makan.


Casey dan Robby duduk begitu juga kedua orang tua itu, mereka duduk lalu sang istri mengambilkan makan untuk suaminya. Sambil makan mereka berbicang-bincang.


“Oh ya, Mam. Aku harus segera ke Spanyol,” ujar Casey  setelah  menelan makanannya.


“Untuk apa kamu ke Spanyol?” tanya Robby dengan heran sambil menatap ayah dan ibunya.


“Casey akan kuliah di Spanyol.” Wajah Robby langsung berubah, dia tidak ingin kakaknya pergi jauh.


“Memang di sini tidak ada universitas yang bagus.” Casey tersenyum melihat wajah  Robby, dia tahu adiknya tidak bisa berjauhan dengannya.


“Di sini banyak, tapi aku lebih suka kuliah di Spanyol. Nanti setiap libur aku akan pulang.” Sang adik menghentikan makannya kemudian pergi ke kamar, mereka saling tatap lalu Casey berdiri dan menyusul Robby.


Tanpa mengetuk pintu gadis itu masuk dan berbaring di samping Robby, dia memeluk adiknya dari belakang dan membelai rambutnya.


“Aku janji, setiap libur aku akan pulang.” Robby hanya diam, dia sudah terbiasa tidur bersama Casey sedari kecil.


“Kalau kamu pergi aku tidur bersama siapa?” Casey tersenyum dan kembali memeluk sang adik dengan erat.


“Untuk sementara saja, kalau aku kembali kita akan tidur bersama lagi.” Casey sangat menyayangi dan memanjakan adiknya, dia juga merasa berat meninggalkan keluarganya.


“Kamu harus berjanji padaku,” ujar Robby dengan memutar tubuhnya menghadap Casey lalu gadis itu tersenyum dan membelai pipi adiknya.


“Iya, aku janji. Setiap hari kita video call sebelum tidur.” Robby tersenyum kemudian dia memeluk kakaknya, Casey sangat senang lalu mereka berdua berpelukan.


Casey mencium kening sang adik kemudian berdiri dan kembali ke ruang makan, dia tersenyum kepada tuan Paulo lalu Dia melanjutkan makannya.


“Kamu terlalu memanjakan Robby makanya dia merasa sedih,” ujar ibunya lalu Casey tersenyum dan menyuap makanan ke dalam mulut.


“Aku sangat menyayanginya, dia satu-satunya adikku.” Suami istri itu tersenyum dan memegang tangan Casey.


“Kapan kamu akan berangkat ke Spanyol?” tanya ayah Casey seraya menuang minum di gelas.


“Mungkin senin besok,” jawab Casey seraya berdiri dan membawa piring ke dapur.

__ADS_1


“Oh ya, apartemen milik kita sudah selesai di sewa. Kamu bisa menempatinya.” Casey hanya menganggukan kepala lalu dia mencuci semua piring yang kotor.


Selesai mencuci piring Casey pergi ke kamar adiknya, gadis itu tersenyum melihat Robby sedang bermain game. Dia mengambil laptop dan menghidupkannya lalu duduk di dekat Robby.


__ADS_2