
Sesuai apa yang Casey katakan bahwa dia ingin menceritakan semua masa lalunya kepada Isaiah, kini mereka berdua sedang duduk bersama di balkon aprtemen tempat Casey tinggal.
Awalnya Casey ragu untuk membicarakan semuannya kepada Isaiah, Ia takut pria itu menjauh darinya. Tapi dorongan dalam diri begitu kuat untuk terbuka kepada Isaiah.
“Kamu ingin mendengar kisahku?” tanya Casey seraya meletakan kopi di atas meja.
“Apakah itu sangat penting untuk aku ketahui?” Bukannya menjawab pertanyaan Casey, Isaiah malah bertanya balik kepada wanita itu.
“Yup, buatku sangat penting agar kedepannya tidak ada masalah,” jawab Casey sambil menarik kursi dan duduk di hadapan pria itu.
“Baiklah kalau begitu, aku akan mendengarkan.” Sambil meminum kopi Isaiah menatap mata Casey dengan tatapan teduh.
Casey mulai menceritakan kisah hidupnya kepada Isaiah, dari masa kecil sampai dia pindah ke Valencia dan bertemu dengan Zelo.
Tak ada satu hal’pun yang disembunyikan wanita itu dari Isaiah, bahkan apa yang dilakukan sang ayah saat dia berada di Valencia tidak tertinggal.
Walau’pun sakit mengingat semua masa lalunya tapi Casey tetap melanjutkan kisah hidupnya, dia tidak ingin setelah menjalin hubungan dengan Isaiah lalu terjadi kesalah pahaman.
Isaiah begitu seksama mendengar kisah masa lalu Casey, sesekali dahinya mengerut dan raut wajah berubah. Apalagi mendengar apa yang diperbuat ayah Casey membuat pria itu menggeleng-gelengkan kepala.
Bahkan dia terlihat marah saat Casey menceritakan dimana Zelo tidak dapat menyelamatkan dia karena lebih memilih sahabat dari pada kekasihnya. Wajah Isaiah menjadi datar kemudian memegang tangan Casey.
“Apakah dia ayah kandungmu?” Karena menurut Isaiah kalau seandainya ayah kandung tidak mungkin akan berbuat hal itu kepada putrinya sendiri.
Casey tidak menjawab tapi dia menceritkan suatu rahasia yang dia simpan sejak dulu dan tidak pernah dia ceritakan kepada Zelo. Entah mengapa kepada Isaiah Casey berani menceritakannya.
“Aku tidak pernah menceritakan hal ini kepada siapapun, hanya padamu. Tolong jangan sampai ada yang tahu, ini demi keselamatanku,” mohon Casey dengan membalas menggenggam tangan Isaiah.
“Kamu jangan khawatir, aku akan menyimpan semuanya dan selama kamu bersamaku tidak ada satu orang ‘pun yang akan menyentuhmu.” Isaiah menarik Casey ke dalam pelukannya.
“Terima kasih,” ucap Casey dengan suara pelan dan melingkarkan tangan di pinggang pria itu.
“Jadi kamu terima tawaranku?” tanya pria itu dengan setengah berbisik dan membelai rambut Casey.
“Iya,” jawab Casey di sertai anggukan kepala.
Isaiah terlihat sangat senang, dia memeluk tubuh Casey dengan erat dan tak henti-hentinya mengecup ubun kepala wanita itu.
“Terima kasih, aku sangat bahagia.” Mengusap wajah Cantik Casey, Isaiah nampak tersenyum dengan jawaban wanita itu.
“Mungkin aku tidak sehebat mantan kekasihmu, tapi akan ku tunjukan apa artinya cinta bagiku.” Isaiah memegang pipi Casey lalu dengan sekejap dia mencium bibir gadis itu.
Casey melingkarkan kedua tangan di punggung Isaiah dan membiarkan lidah Isaiah menari-nari di dalam mulutnya. Bahkan Casey membalas permainan pria itu.
Seketika ciuman berhenti ketika Isaiah mendengar suara aneh yang datang dari perut Casey, dia menatap mata gadis itu dan tertawa.
“Apakah kamu lapar?” tanya Isaiah dengan memainkan ibu jarinya di pipi Casey yang lembut itu.
“Sepertinya iya,” jawab Casey dengan malu-malu dan segera berdiri dari pangkuan Isaiah.
“Baiklah, kita cari makan.” Tidak ingin kekasihnya kelaparan, Isaiah menarik tangan Casey dan meninggalkan apartemen.
Mereka hanya mencari restoran di dekat apartemen, Isaiah dan Casey memesan makanan. Sambil menunggu pesanan Isaiah memegang tangan Casey dan mengusapnya dengan lembut.
Dia sangat bahagia akhirnya Casey menjadi kekasihnya, tak henti-hentinya dia menatap wajah cantik Casey sehingga membuat gadis itu salah tingkah.
“Jangan menatapku terus seperti itu,” ujar Casey dengan mentutp mata Isaiah dengan telapak tangannya.
Isaiah terkekeh dan memegang tangan Casey serta mengecupnya dengan lembut lalu menempelkan di pipinya.
“Kau benar-benar membuatku jatuh cinta, apa yang sudah kau lakukan padaku?” canda Isaiah dengan membelai pipi lembut Casey.
“Tidak ada, aku heran saja kenapa kamu bisa jatuh cinta padaku. Padahal di luar sana banyak wanita cantik.” Sambil berkata begitu Casey mengusap pipi dan dagu Isaiah yang di tumbuhi bulu-bulu yang sangat pendek dan tajam.
“Spiky, aku suka” ujar Casey dengan tersenyum sambil terus memegang dagu dan meraba bulu pendek dan tajam itu.
Isaiah tersenyum lalu dia menggesekan tangan Casey di dagunya sehingga membuat gadis itu tertawa karena geli. Pesanan mereka datang, Isaiah kembali mengatur posisi duduknya.
__ADS_1
Makanan di hidangkan di atas meja, Isaiah dan Casey masing-masing mengambil garpu dan pisau kemudian menikmati hidangan yang ada di depan mereka.
“Oh ya, apakah adikmu memberi kabar tentang pemotretan besok?” tanya Casey setelah menelan makanan yang ada di dalam mulutnya.
“Um, iya aku hampir lupa untung kamu mengingatkannya. Besok sore, nanti aku akan menjemputmu.” Selesai menjawab pertanyaan Casey Isaiah memasukkan potongan kecil steak ke dalam mulut.
Sambil mengunyah makanan Isaiah menatap Casey, ada sesuatu yang dia pikirkan. Walau’pun baru saja dia dan Casey menjadi pasangan kekasih tapi bagi Isaiah satu tahun bersama Casey sudah cukup untuk mengenal gadis itu.
“Sweety, walaupun kita baru menjadi pasangan kekasih tapi aku ingin segera mengikatmu.” Ucapan Isaiah membuat Casey terhenti memotong daging steak lalu menatap Isaiah.
“Maksudmu?” tanya Casey dengan mengernyitkan dahinya.
“Aku ingin melamarmu.” Kedua alis Casey langsung terangkat mendengar ungkapan Isaiah, dia menatap dalam mata sang kekasih ingin melihat apakah yang dia ucapkan serius atau tidak.
“Kapan?” tanya Casey dengan mata berbinar.
“Aku serius, Sweety.” Wajah Isaiah berubah, dia berpikir Casey hanya bercanda bertanya kepadanya.
“Babe, aku juga serius. Kapan kamu akan melamarku?” Isaiah langsung memegang tangan Casey dia terlihat sangat bahagia melihat keseriusan di wajah gadis itu.
“Secepatnya, Sweety. Tapi, apakah tidak masalah bagimu? Kita baru saja menjadi pasangan kekasih.” Kedua sudut bibir terangkat mengembangkan senyuman yang indah kepada Isaiah.
“Ya, kita baru saja menjadi pasangan kekasih. Tapi ….” Ucapan Casey terhenti sehingga membuat wajah Isaiah sempat menjadi tegang.
“Um, bagiku satu tahun mengenalmu itu sudah cukup. Aku sangat yakin kamu adalah pria baik.” Kini raut wajah Isaiah nampak senang, dia meraih tangan Casey dan mengecupnya berkali-kali.
“Aku sangat senang dan berjanji untuk selalu membuatmu bahagia.” Isaiah melepaskan genggamannya lalu melanjutkan makan.
Casey tersenyum dan membelai pipi Isaiah lalu dia melanjutkan makannya juga. Casey dan Isaiah tidak berlama-lam di restoran, selesai makan mereka berdua meninggalkan tempat itu dan kembali ke apartemen.
****
Mendapat kabar dari Ellie kalau pengambilan gambar siang hari, Isaiah langsung menelepon Casey agar bersiap-siap. Sementara dirinya pergi ke toko perhiasan untuk membeli cincin, Isaiah berencana di sela-sela pemotretan dia ingin melamar gadis itu.
Setelah dari toko perhiasan Isaiah langsung menjemput Casey di apartemen, nampak gadis itu sudah berdiri di depan lobby. Isaiah berhenti di depan Casey lalu membukakan pintu untuk gadis itu.
“Dimana lokasi pemotretan?” tanya Casey dengan menyusupkan jemarinya di rambut tebal milik Isaiah.
“Kinder Lake,” jawab Isaiah seraya menyetir meninggalkan apartemen dan menuju ke taman Discovery Green.
“Kenapa siang?” Kembali Casey bertanya sambil tangannya mengusap lengan Isaiah, dia senang sekali melakukan itu kepada Isaiah.
“Siang hari lebih bagus karena sepi, kalau sore terlalu ramai.” Isaiah tersenyum kepada Casey lalu menggenggam tangan gadis itu.
“Oh, begitu,” gumam Casey di ikuti anggukan kepala Isaiah walau tidak di lihat gadis itu karena matanya menatap lurus ke depan.
Tidak lama kemudian Isaiah dan Casey tibah di Discovery Green, Isaiah memarkirkan mobil lalu pria itu melihat sang adik bersama fotografer sedang berdiri di dekat taman.
Isaiah dan Casey turun dari mobil, sambil berpegangan tangan mereka berdua menghampiri Ellie yang sedang sibuk menurunkan gaun pengantin dari kendaraannya.
“Sudah lama menunggu?” tanya Isaiah seraya berdiri di dekat mobil Ellie.
“Ah, akhirnya kalian datang. Ayo kita pergi ke ruang ganti.” Ellie sudah menyewa sebuah ruangan untuk mengganti pakaian juga merias wajah Casey.
Casey dan Isaiah mengikuti Ellie beserta penata rias menuju ke ruangan yang sudah tersediah. Ellie menyuruh Isaiah untuk menunggu di luar sementara Casey mengganti pakaian dan di make up oleh penata rias.
“Jangan terlalu tebal,” ujar Casey karena wajahnya tidak pernah tersentuh oleh make up.
“Tenang saja, lagipula wajamu sudah cantik jadi aku tidak repot untuk meriasnya.” Casey tersenyum kepada Ellie lewat pantulan cermian yang ada di depannya.
Selesai di make up, Ellie memakaikan gaun pengantin hasil rancangannya kepada Casey. Gadis itu tersenyum saat melihat gaun itu pas di badan Casey.
“Casey, kau cantik sekali dengan gaun pengantin ini,” puji Ellie dengan memutar tubuh Casey.
“Kalau aku menikah, aku ingin gaun pengantin dirancang olehmu.” Ellie terkekeh sambil mengatur rambut Casey.
Sementara di ruangan sebelah Isaiah sudah selesai memakai tuxedo berwarna silver grey. Isaiah terlihat sangat tampan dengan setelan pakaian itu, dia keluar ingin menemui Ellie.
__ADS_1
Saat di depan pintu, Isaiah terpegun sampai mulutnya terbuka melihat betapa cantiknya Casey dengan gaun pengantin itu. Dia menggelengkan kepala dan menghampiri sang kekasih.
“Sweety, kamu cantik sekali.” Walaupun make up Casey sederhana tapi sungguh dia terlihat sangat cantik di mata Isaiah.
Casey menatap Isaiah dari ujung kaki sampai kepala kemudia tersenyum dan menghampiri pria itu, setelah dekat dia berbisik kepada sang kekasih.
“Kamu sangat tampan, aku semakin cinta padamu.” Ucapan Casey membuat hati Isaiah berbunga-bunga, bisa di katakan saat ini jantungnya berdebar dengan cepat.
“Aku ingin saat kita menikah kau menggunakan gaun pengantin ini,” bisik Isaiah sambil tangan melingkar di pinggang Casey.
“Tentu saja.” Casey mengedipkan sebelah mata kepada Isaiah lalu berjalan mengikuti Ellie menuju ke Kinder Lake di ikuti oleh Isaiah.
Ellie sangat senang melihat kemesraan Casey dan Isaiah, apalagi sang kakak terlihat sangat bahagia di samping Casey. Selama ini dia berpikir kalau Isaiah adalah seorang gay tapi kebersamaan dengan Casey wanita itu sangat terharu.
Begitu tiba di Kinder Lake, fotografer bersama asistennya langsung mengatur peralatan untuk pengambilan gambar. Sementara Ellie mengatur gaun pengantin yang di kenakan Casey.
“Sebaiknya kita mulai sekarang, mumpung belum ramai,” ujar sang fotografer sambil mengatur kameranya.
“Baiklah,” sahut Ellie lalu dia mengatur gaya Casey dan Isaiah.
“Kalian berdua benar-benar pasangan yang cocok,” puji sang fotografer sambil membungkukkan badan mengambil gambar Casey dan Isaiah.
Kembali penata gaya mengatur Casey dan Isaiah dengan latar pepohonan yang rindang sementara sang asisten fotografer mengambil daun-daun yang kering lalu melemparnya ke udara disertai fotografer mengambil gambar.
Berulang kali sang fotografer mengambil gambar Casey dan Isaiah, sementara tidak jauh dari mereka seorang pria juga sedang memotret Casey dan Isaiah bahkan merekam kedua pasang kekasih itu dengan kamera ponsel.
Saat selesai pengambilan gambar, Isaiah tiba-tiba berlutut di depan Casey dan mengeluarkan benda kecil dari saku dalam tuxedo. Dia tersenyum kepada sang kekasih dan membuka kota itu.
“Marry me, please.” Melihat Isaiah berlutut di hadapannya, Casey menjadi terharu. Dia berpikir ucapan Isaiah di restoran tidak akan di lakukan saat ini.
“Isaiah ….” Casey tidak bisa berkata apa-apa, tiba-tiba air bening jatuh di pipinya.
Sementara Ellie dan rekan-rekannya terperangah melihat Isaiah melamar Casey, mereka begitu terharu melihat sepasang kekasih itu.
“Casey, aku akan sengat bahagia kalau kamu menerima lamaran kakaku,” celetuk Ellie dengan menyeka airmata yang mengalir di pipi karena terharu melihat keseriusan sang kakak kepada wanita itu.
“Tentu saja.” Tanpa berlama-lama Casey menerima lamaran sang pujaan hati.
Isaiah terlihat sangat bahagia, dia langsung mengeluarkan cincin yang bermatakan berlian berwarna biru cerah lalu berdiri dan memasangkan di jari manis sang kekasih.
“Terima kasih, Sweety. Aku sangat bahagia.” Karena terlalu bahagia, Isaiah langsung mencium bibir Casey.
Gadis itu memejamkan mata dan mengalungkan kedua tangannya di leher Isaiah lalu membalas ciuman pria itu. Sementara tangan Isaiah memegang kedua sisi pinggang Casey, merengkuh tubuh sang kekasih agar kian merapat dengannya.
Casey menyudahi ciuman Isaiah lalu menatap mata sang kekasih, dan membelai pipi pria itu. Bersama Isaiah dia merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.
“Aku sangat mencintaimu,” ucap Casey dengan memeluk Isaiah.
“So do I.” Isaiah membalas pelukan Casey dan mengecup ubun kepala gadis itu.
Melihat Casey dan Isaiah, Ellie berjalan menghampiri mereka. Dia mencium kedua pipi Isaiah serta memeluk sang kakak dengan erat.
“Aku turut bahagia,” ucap Ellie dengan meneteskan airmata haru.
“Terima kasih.” Isaiah balas memeluk sang adik dengan erat lalu Ellie melepaskan pelukannya dan memegang tangan Casey.
“Aku sangat bahagia kamu menerima kakaku.” Begitu terharunya Ellie sehingga dia memeluk Casey dan menangis.
“Aku sangat mencintai Isaiah, dia mau menerimaku apa adanya,” ujar Casey seraya melepaskan pelukan Ellie dan menyeka airmata gadis itu.
Merasa terharu, Ellie mengajak mereka untuk merayakan pertunangan Isaiah dengan Casey di sebuah restoran terkenal. Tak lupa Ellie menelepon kedua orang tuanya untuk memberikan kejutan kepada Casey dan Isaiah.
Selamat membaca
Jangan lupa like dan komentar ya
Terima kasih.
__ADS_1