Amor Prohibido (Cinta Terlarang)

Amor Prohibido (Cinta Terlarang)
Debaran-debaran aneh


__ADS_3

Semenjak kenal Isaiah, wajah Casey lebih ceriah. Perhatian-perhatian yang diberikan pria itu lambat laun membuat Casey melupakan mantan kekasihnya.


Bahkan setiap kali bertemu dengan pria itu ada debaran-debaran aneh yang dia rasakan, perasaannya kali ini tidak seperti pertama kali bertemu dengan Zelo.


Ini sungguh aneh bagi Casey, perasaannya kepada Zelo timbul karena mungkin pria itu selalu menolongnya. Tapi berbeda dengan Isaiah, ada getaran-getaran lain saat dia bersama dengan adik Wesley.


Casey benar-benar tidak habis pikir apa yang membuat dia menjadi seperti itu, bahkan pikirannya sudah terisi oleh Isaiah. Tapi tentu saja Casey tidak ingin menunjukannya kepada pria itu.


Di lain pihak, Isaiah juga merasakan hal yang sama. Hanya saja dia tidak ingin mengungkapkan secepatnya itu kepada Casey, Isaiah ingin memastikan apakah perasaan yang timbul ini benar-benar cinta atau bukan.


Untuk memastikan, Isaiah selalu bersama dengan Casey, saat makan siang maupun malam selalu dia lakukan bersama gadis itu. Bahkan ke kantor maupun pulang  Isaiah selalu menjemput Casey.


 Selama bersama Casey dia merasa nyaman, bahkan dirinya yang terbilang hatinya dingin dan beku bagaikan es batu dengan cepat mencair seperti di rendam di air panas saat berdekatan dengan Casey, sifat pendiamnya juga hilang.


Sungguh tidak berbeda jauh dengan Casey, hati dan pikiriannya hanya ada nama gadis itu. Tapi untuk sekarang, Isaiah hanya ingin menjalani bersama Casey sebagai teman saja kalau sudah mendapat kepastian dia akan menyatakan cinta kepada wanita itu.


Di tempat lain, mendengar pimpinan perusahan Nathan sudah di ganti, Dany merasa geram. Dia sangat kesal karena pimpinan itu adalah mata-mata yang selalu memberikan informasi penting kepadanya.


Bahkan proyek-proyek yang dari perusahan Nathan selalu dia dapat dari pimpinan tersebut tanpa sepengetahuan tuan Smith dan Frank karena perusahan Dany tidak menggunakan namanya.


Tapi semenjak di ganti dengan Casey, Dany tidak leluasa lagi. Orang-orang yang lama sudah di ganti oleh wanita itu atas permintaan tuan Smith dan Frank.


Dany berusaha untuk mendekati Casey lewat asistennya, dia tidak turun langsung takut ketahuan oleh tuan Smith dan Frank.


"Nona, ada yang ingin bertemu dengan Anda," tutur sekretaris saat meletakan sebuah laporan di atas meja.


“Siapa?” tanya Casey seraya melepaskan kaca mata minus dan meletakan di atas meja.


“Utusan dari  Art company.” Casey mengerutkan dahi, baru kali ini dia mendengar nama perusahan itu.


“Apakah penting?” Kembali Casey bertanya sambil menyandarkan tubuhnya di kursi kerja.


"Sepertinya, mereka dahulu bekerja sama dengan perusahaan ini sebelum pimpinan di ganti," tutur sekretaris itu lalu Casey mengangguk dengan pelan tanda mengerti.


"Bertemu di ruang meeting." Sekretaris langsung meninggalkan Casey dan menemui orang itu.


Sementara Casey, dia merapikan meja lalu mengambil ponsel dan meninggalkan ruang kerja menuju tempat meeting. Matanya melihat sana-sini mencari Adam sang asisten.


"Dimana Adam?" tanya Casey kepada sekretaris yang berjalan di belakangnya.


"Tadi Adam di panggil tuan Frank untuk menghadap ke kantor pusat," sahut sekretaris mengikuti langkah Casey dari belakang.


"Oh, begitu." Casey membuka pintu lalu melihat seorang pria muda sedang duduk di kursi.


"Maaf sudah membuatmu menunggu." Walau’pun dia seorang pimpinan tapi Casey selalu ramah kepada siapapun.


"Ah, tidak apa-apa, Nona," ucap pria itu sembari berdiri dan mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Casey. "Julio." Dia memperkenalkan diri kepada Casey serta mengembangkan senyum kepada wanita itu.


"Casey," balas wanita itu bersamaan menyambut tangan Julio untuk bersalaman. "Silahkan duduk." Casey menarik kursi dan duduk lalu mengisyaratkan sekretarisnya untuk meninggalkan mereka.


"Um, ada yang bisa ku bantu?" tanya Casey dengan tersenyum menatap pria tampan yang ada di depannya.


"Oh ... sebenarnya maksud kedatanganku ke sini sebagai utusan dari bos untuk menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya Anda sebagai pimpinan." Sambil mengatakan tujuannya, Julio menatap Casey dan mengagumi kecantikan wanita.

__ADS_1


"Sampaikan terima kasihku kepada pimpinanmu." Walau dia merasa risih atas tatapan pria itu tapi Casey masih menunjukan wajah ramahnya.


"Oh ya, pimpinanku berpesan semoga kerja samanya masih bisa terjaga,"  ucap pria itu seraya menyodorkan amplop berwarna coklat kepada Casey.


Bermaksud menyuap wanita itu agar proyek-proyek yang akan di laksanakan oleh perusahan yang Casey kelola bisa jatuh ke tangan mereka.


"Apa ini?" tanya Casey dengan mengerutkan keningnya.


"Um, ini adalah cek sebagai tanda terima kasih dari pimpinanku." Raut wajah Casey langsung berubah, dia menatap tajam pria yang ada di hadapannya.


"Pimpinan Anda mau menyuapku?" Pertanyaan Casey langsung membuat Julio gugup.


"Oh, bukan begitu, Nona. Ini hanya sebagai bentuk hadia apabila Anda ingin melanjutkan kerja sama dengan perusahan kami." Casey menggelengkan kepala dan tersenyum sinis kepada pria itu.


Casey langsung berpikir, kalau pimpinan sebelumnya pasti sudah banyak makan uang dari perusahan tempat Julio bekerja.


"Maaf, aku tidak bisa menerima ini. Aku akan tetap melanjutkan kerja sama dengan perusahan kalian asalkan, kualitas kerjanya bagus!"


"Tentu saja, Nona. Sekian tahun perusahan kami mengerjakan proyek dari perusahan ini tak ada satu 'pun yang mengeluh." Julio berusaha meyakinkan Casey karena berpikir wanita itu tidak seperti pimpinan sebelumnya yang mata duitan.


"Baiklah, kita lihat saja nanti," ujar Casey sambil berdiri. "Bawah kembali cek ini, karena aku tidak suka di suap. Aku harus kembali, ada yang harus ku selesaikan.


"Baiklah, Nona. Kalau begitu aku permisi." Casey hanya menganggukan kepala dan mengantar pria itu sampai di depan pintu lalu dia kembali ke ruang kerja.


Sebelum masuk Casey melihat Adam sedang berjalan ke arahnya, dia langsung memberi isyarat kepada asisten untuk masuk ke ruangannya.


Casey langsung duduk di kursi kerja dan menunggu Adam. Melihat pria itu sudah berada di ruangannya, Casey langsung tersenyum.


"Oh ya, Adam. Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu," ujar Casey seraya berdiri dan pergi duduk di sofa.


"Kau mengenal pemilik Art Company?" Sejenak Adam berpikir lalu dia menggelengkan kepala dengan pelan.


"Ada apa dengan perusahan itu?" tanya Adam dengan memicingkan matanya.


"Barusan dia mengutus asistennya bertemu denganku, dia menyodorkan cek padaku." Adam terkejut dan membulatkan matanya tak percaya.


"Untuk apa cek itu?" tanya Adam dengan heran.


"Menyuapku agar aku tetap bekerja sama dengan perusahan mereka." Mendengar itu, Adam memajukan badannya dan menumpukan kedua siku di lututnya


"Apakah kamu menerima cek itu?" Dengan cepat Casey menggelengkan kepala, dia bukanlah orang yang mudah di suap.


"Tentu saja tidak, aku menyuruh asisten itu untuk mengembalikan cek itu kepada pimpinannya." Adam terlihat legah mendengar jawab Casey.


"Bagus, nanti aku akan selidiki siapa sesungguhnya pemilik  perusahan itu," ujar Adam sambil berdiri.


"Aku harus kembali ke kantor pusat, aku ke sini hanya ingin mengambil dokumen yang tertinggal di meja." Casey menganggukan kepala lalu ikut berdiri dan mengantar Adam sampai depan pintu kemudian kembali duduk di belakang meja kerja.


Sementara Julio kembali ke perusahan dimana dia bekerja, pikiriannya tertuju kepada Casey yang telah menolak cek pemberian atasannya. Julio berpikir bahwa Casey mudah disuap tapi ternyata tidak.


Julio tiba di kantor, dia langsung menuju ke ruangan Dany untuk menyampaikan hasil pertemuannya dengan Casey. Ruangan Dany tersendiri karena tidak ingin ada yang tahu kalau dia pemilik perusahan itu.


Julio mengetuk pintu lalu terdengar suara dari dalam, pria itu masuk dan menyapa Dani yang sedang duduk di belakang meja kerja.

__ADS_1


“Selamat siang, Tuan.” Dany tidak membalas hanya menganggukan kepala dengan pelan dan menunggu apa yang ingin dikatakan oleh Julio.


“Aku sudah bertemu dengan pimpinan baru di perusahan kakak Anda,” info Julio seraya menarik kursi dan duduk di depan Dany.


“Bagus, lalu bagaimana hasilnya?” tanya Dany dengan menggerakan kursi ke kiri dan ke kanan.


“Ah … dugaan ku salah, aku pikir dia seorang wanita di atas empat puluh tahun. Ternyata ….” Julio terhenti dan mengembangkan senyum.


“Ternyata apa?” Dany tidak suka kalau mendapatkan informasi yang menggantung.


“Dia sangat muda, kira-kira umurnya sekitar 23-24 tahun.” Dany membelalakan mata mendengar informasi dari Julio.


“Benarkah?” tanya Dany dengan memajukan badannya dan meletakan kedua tangan di atas meja sambil memicingkan mata menatap Julio.


“Iya, benar dan dia sangat cantik.” Nampak wajah Dany tersenyum smirk, dia berpikir  kalau umur Casey masih terlalu muda dan bisa di atur olehnya.


“Bagus sekali, itu tandanya kita bisa dengan mudah mengaturnya.” Pikir Dany semudah itu dia tidak tahu kalau Casey bukan wanita sebodoh yang dia kira.


“Tidak juga, Tuan. Nampaknya susah untuk mendekati wanita itu, cek yang Anda berikan di tolak mentah-mentah olehnya.” Raut wajah Dany langsung berubah mendengar informasi dari Julio.


“Oh, jadi dia menolak cek yang aku berikan?” Julio menganggukan kepala dengan pelan menjawab pertanyaan Dany. “Sombong sekali, kita lihat saja nanti.” Dany terlihat sangat geram dia bersandar di kursi dan mengepalkan tangan.


“Sepertinya dia tidak mudah untuk disuap,” ujar Julio. Sudah melihat sendiri bagaimana sikap Casey, pria itu sangat yakin Casey bukan wanita sembarangan.


“Kita lihat saja, kalau proyek tidak jatuh ke tangan perusahanku maka dia akan merasakan akibatnya.” Dany mulai berpikir untuk menyingkirkan Casey kalau keinginannya tidak terpenuhi.


Valencia


Semenjak di tegur ayahnya, Zelo akhirnya kembali lagi mengelola perusahan yang di percayakan kepadanya. Kini dia mulai mengurangi menggunakan barang haram tersebut.


Zelo mulai menerima keadaannya di tinggal sang kekasih, tapi bukan berarti dia akan melupakan cinta pertamanya. Zelo percaya suatu hari nanti Ia pasti akan bertemu dengan pujaan hatinya.


Walau’pun sering bertemu dengan wanita cantik tapi Zelo tetap bersikap dingin, bagi dia hanya Casey yang ada di hatinya. Selesai dengan urusan kantor Zelo lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, biasanya dia pergi ke club malam untuk bertemu dengan teman-temannya tapi kali ini pria itu lebih memilih  berdiam di kediaman sambil menyelesaikan pekerjaannya.


Seperti saat ini, terlihat Zelo berada di ruang kerja sedang memeriksa laporan yang di berikan asisten kepadanya. Tiba-tiba ponsel berbunyi, Zelo melihat Felix yang menghubunginya.


“Hallo, Felix. Ada apa meneleponku?” tanya Zelo dengan melepaskan kaca mata minusnya sambil memijit keningnya.


“Um, aku hanya ingin menanyakan kabarmu saja. Sudah beberapa minggu kamu tidak terlihat di club,” sahut Felix di ujung telepon.


“Maaf, akhir-akhir ini aku sangat sibuk. Apalagi orang tua selalu mengawasiku,” tutur Zelo seraya bersandar di kursi


“Oh, begitu. Aku lebih senang kalu kamu benar-benar mengurus perusahan orang tuamu, dan berharap kau bisa meninggalkan obat-obat terlarang.” Walau’pun pernah di hajar oleh Zelo tapi Felix tidak ingin pria itu lebih jauh lagi menggunakan barang haram tersebut.


Felix tahu Zelo adalah orang yang baik, makanya Ia tidak ingin pria itu terjerumus bahkan ketagihan  menggunakan barang-barang tersebut. Dengan adanya kegiatan Felix berharap Zelo bisa berhenti.


“Iya, terima kasih. Baiklah aku harus melanjutkan kerjaku.” Zelo dan Felix tidak berbicang lama, dia menutup telepon lalu mata tertuju ke arah foto dia dan Casey.


Zelo memegang bingkai itu dan mengelus wajah Casey yang ada di dalam foto itu, dia sangat merindukan gadis itu dan berharap bisa bertemu lagi. Untuk saat ini Zelo tidak ingin memaksakan diri untuk mencari Casey karena sudah pasti wanita itu tidak akan memaafkan dirinya.


“Aku pasti akan menemukanmu dan yakin cintamu hanya untukku seperti aku yang sampai saat ini masih berharap bertemu denganmu.” Zelo meletakan kembali foto itu dan melanjutkan pekerjaannya.


Selamat membaca

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar ya


Terima kasih


__ADS_2