Amor Prohibido (Cinta Terlarang)

Amor Prohibido (Cinta Terlarang)
Kau membalasnya?


__ADS_3

Saat tiba dari kediaman tuan Moralez Isaiah dan Casey langsung membersihkan diri. Kini mereka berdua sedang berbaring di tempat tidur dengan Casey berbantalkan lengan Isaiah.


“Apa saja yang kau bicarakan dengan Zelo?” tanya Isaiah seraya mengelus tangan Casey yang berada di atas perutnya sambil menatap langit-langit kamar.


“Tidak banyak, aku hanya memberikan dia pengertian dan memintanya untuk melanjutkan hidupnya,” jawab Casey seraya menyanggah kepalanya dengan tangan.


“Tadi dia mencium bibirku.” Isaiah menoleh menatap Casey setelah mendengar pengakuan sang kekasih.


“Kau membalasnya?” Casey mengangguk kepala dengan pelan dan menatap mata Isaiah.


“Tapi aku tidak menikmatinya dan menganggap itu ciuman terakhir aku dan dia. Kamu jangan marah.” Isaiah tersenyum dan menggelengkan kepala.


“Aku tidak marah walaupun ada rasa cemburu, tapi sedikit.” Dengan cepat Isaiah merubah pernyataannya sehingga membuat Casey terkekeh.


“Ciuman itu tidak ada arti, hambar,” ungkap Casey dengan membelai pipi Isaiah.


“Boleh aku menghilangkan  sisa ciuman mantan kekasihmu? Walau’pun tidak ada rasa untukmu tapi aku tidak  ingin ada bekas bibirnya di bibirmu.” Bukan jawaban yang Isaiah dapat tapi ciuman dari sang kekasih mendarat di bibirnya.


Ciuman panas terjadi, Casey naik ke atas tubuh Isaiah dan melahap bibir sang kekasih. Saling melilitkan lidah, tak jijik dengan saling bergantinya saliva.


“Apakah dia mengisap lidahmu?” tanya Isaiah setelah menjedah ciuman mereka, Casey’pun menganggukan kepala.


Kembali Isaiah mencium bibir mungil itu sambil mengisap lidah Casey yang di masukkan di mulutnya, Ia tidak ingin ada sisa Zelo di dalam sana.


“Apakah, dia menjamah tubuhmu juga?” Kembali Isaiah bertanya dengan menatap mata sang kekasih.


“Tidak, kita hanya berciuman saja,” jawab Casey seraya turun dari tubuh Isaiah.


“Baiklah, kalau begitu kita tidur sekarang, besok kita harus bangun cepat karena jadwal pesawat yang kita ambil pagi hari,” tutur Isaiah seraya memutar tubuh sang kekasih memunggunginya.


Casey memegang tangan Isaiah yang melingkar di perutnya lalu memejamkan mata, merasa lelah Ia langsung  tertidur. Begitu juga dengan Isaiah.


Subuh Casey terbangun dia melihat jam sudah menunjukkan pukul 05:00pm, Casey langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak berselang lama dia keluar dengan hanya menggunakan bathrobe.


Casey duduk di sisi tempat tidur dan memperhatikan Isaiah yang hanya menggunakan celana boxer, Ia membelai dada bidang berotot lalu mengecupnya.

__ADS_1


“Eugh ….” Lenguhan keluar dari bibir Isaiah saat merasakan hangatnya sentuhan bibir Casey di dadanya.


“Bangun, Babe.” Casey membelai rahang Isaiah dengan lembut dan mengecup bibir sang kekasih.


“Iya.” Isaiah berusaha membuka matanya lalu sama-samar dia melihat sang kekasih sedang menatapnya dengan senyuman indah.


Isaiah bangun lalu menarik Casey ke dalam pelukannya, ingin melakukan tapi Ia menahannya takut tertinggal pesawat. Isaiah hanya mengecup bibir Casey dan membelai rambut wanita itu.


“Morning, Sweety,” ucap Isaiah dengan berulang kali mengecup bibir sang kekasih.


“Sudah cukup, ayo mandi. Aku akan menyiapkan sarapan untuk kita.” Casey berdiri lalu mengecup lembut bibir Isaiah.


Casey pergi ke pantry lalu menyiapkan sarapan untuk dia dan Isaiah, Ia hanya membuat sandwich dengan isi tuna juga omelet. Tak lupa Casey membuatkan Isaiah orange juice.


Melihat Isaiah sudah selesai mandi Casey kembali ke kamar dan menyediakan kemeja juga celana untuk Isaiah pakai lalu meletakan di tempat tidur.


Casey membuka lemari lalu mengambil pakaian miliknya dan memakainya, Casey sengaja mengenakan office dress karena dari airport dia langsung menuju ke kantor. Begitu juga dengan Isaiah, dia harus bertemu dengan relasi yang sudah melakukan temu janji dengannya.


Kini Casey dan Isaiah sedang duduk di ruang makan, wanita itu mengambilkan sandwich untuk Isaiah dan meletakkan di depan pria itu beserta orange juice.


“Sekitar jam sebelas,” jawab Isaiah sambil mata tetap berada di ipad memeriksa laporan yang dikirimkan asisten kepadanya.


“Berarti kita tidak makan siang bersama?” Walaupun Casey tidak suka makan siang tapi dia selalu menemani sang kekasih, Casey hanya memilih memesan espresso dan dessert.


“Kalau cepat selesai aku akan menjemputmu,” sahut Isaiah setelah selesai meneguk orange juice sampai habis kemudian mengambil serbet dan membersikan mulutnya.


Begitu juga dengan Casey, dia berdiri dan membawa piring serta gelas kotor ke tempat cuci piring dan membersihkan meja makan. Selesai, Casey menyusul Isaiah ke kamar.


“Kita berangkat sekarang?” tanya Casey seraya mengambil tas yang sering dia pakai ke kantor.


“Iya,” jawab Isaiah lalu memikul tas punggung dan menarik koper keluar dari kamar di ikuti oleh Casey.


Sementara di lobby sudah menunggu Edgar sang asisten Casey, dia yang akan mengantar pasangan kekasih itu ke aiport. Melihat Isaiah menarik koper, Edgar langsung berlari dan mengambil barang itu dan meletakkan di bagasi.


Casey dan Isaiah masuk ke mobil dan menunggu Edgar yang sedang mengatur barang mereka di bagasi, tidak berselang lama Edgar masuk dan langsung menjalankan mobil ke airport.

__ADS_1


“Edgar, tolong setiap hari kabari aku tentang perkembangan proyek yang dikerjakan oleh tuan Moralez,” titah Casey dengan menatap sang asisten dari spion.


“Tentu saja, Nona. Anda jangan khawatir,” ucap Edgar lalu melajukan mobilnya.


Selang dua puluh menit mereka tiba di airport, dengan cepat Edgar turun dan mengeluarkan barang dari bagasi, Casey dan Isaiah mengambil tas punggung juga koper lalu meletakkan di troli.


“Terima kasih, Edgar. Jangan lupa pesanku,” ujar Casey dengan menepuk lengan Edgar sambil terus mengingatkan apa yang diperintahkan dia kepada asistennya.


“Baik, Nona. Hati-hati,” pesan Edgar lalu dia bersalaman dengan Isaiah.


“Terima kasih.” Kembali Casey berucap begitu juga dengan Isaiah.


Casey dan Isaiah masuk untuk check in, tidak lama kemudian mereka pergi ke Imigrasi dan menerima stamp di paspor mereka lalu menuju ke ruang tunggu.


Tidak lama kemudian Isaiah dan Casey masuk ke pesawat, mereka duduk di bussines class. Isaiah meletakkan tas punggung di kabin lalu duduk di dekat Casey.


Sementara di tempat lain, Zelo juga sedang bersiap-siap ke aiport. Hari ini juga dia akan berangkat ke Amerika, walau sudah ditahan oleh tuan Moralez tapi pria itu tetap berkeras untuk pergi ke negeri paman Sam.


“Daddy jangan khawatir, aku sudah berjanji kepada Casey untuk tidak mengganggunya lagi,” ujar Zelo menenangkan tuan Moralez dan istrinya.


Ya, Zelo memang tidak akan mengganggu Casey lagi, tujuan dia pergi ke Amerika karena ingin menyelesaikan sesuatu yang suda lama dia rencanakan.


“Baiklah kalau begitu, jangan lupa kabari kami kalau sudah tiba di Amerika,” mohon nyonya Alvian seraya memegang kedua pipi Zelo.


“Tentu saja, Mom. Jangan sedih aku akan baik-baik saja disana.” Zelo memeluk nyonya Alvin dengan erat.


“Baiklah, aku harus segera ke aiport,” ujar Zelo dengan melerai pelukannya kemudian mengecup kedua pipi nyonya Alvin.


“Jangan lama-lama di Amerika, aku akan rindu padamu.” Suara Jossie membuat Zelo menengok ke belakang lalu tersenyum dan memeluk sang adik dengan erat.


“Tentu saja, begitu selesai aku segera kembali.” Zelo melepaskan pelukannya dan mengecup dahi Jossie.


Zelo juga memeluk tuan Moralez lalu menarik koper dan membawanya kedepan dan meminta sopir untuk memasukan ke dalam bagasi mobil. Zelo berpamitan kepada kedua orang tuanya


Sopir langsung mengantar Zelo ke aiport, dari dalam mobil Zelo melambaikan tangan kepada kedua orang tuanya serta adiknya.

__ADS_1


__ADS_2