Amor Prohibido (Cinta Terlarang)

Amor Prohibido (Cinta Terlarang)
Jangan mengganggunya


__ADS_3

Kawanan penjahat itu kini semua sudah berada di markas milik Lucas yang berada di pinggir kota Houston. Asher menarik kursi dan menonton para algojo yang menyiksa mereka untuk meminta siapa yang menyuruh mereka.


“Walau’pun kami mati tidak akan aku beritahu siapa yang menyuruh kami.” Mata Asher menjadi gelap, dia terlihat sangat emosi lalu melayangkan pukulan ke wajah pria itu.


“Kita lihat saja berapa lama kamu akan bertahan.” Asher duduk kembali lalu salah satu anak buah memberikan ponsel penjahat itu.


Asher langsung memeriksa ponsel itu lalu melihat panggilan terakhir di benda pipi itu kemudian dia tersenyum smirk. Asher tahu kode nomor negara tersebut, dia langsung curiga siapa yang menyuruh mereka.


“Jangan lepaskan mereka, aku sudah tahu siapa dia.” Asher berdiri lalu meninggalkan markas itu menuju ke kantor.


Tiba di kantor, Asher menghubungi nomor itu lewat ponsel sang penjahat. Terdengar suara seorang pria di ujung telepon, Asher langsung tertawa.


“Bagaimana pekerjaan kalian, apakah berhasil melenyapkan mayat hidup itu?” Asher terkekeh mendengar pertanyaan pria itu.


“Sayangnya, semua anak buahmu tidak berhasil dan sekarang menjadi tawananku.” Pria di ujung telepon terkejut mendengarnya.


“Siapa ini?” Wajah Asher berubah menyeramkan mengingat apa yang terjadi terhadap sang mantan waktu itu.


“Jangan pernah menganggu kehidupan Casey atau aku sendiri yang akan berkunjung ke negaramu untuk menghabisi pria bejat sepertimu.” Terdengar telepon di tutup sepihak oleh pria itu.


Asher berdiri di depan jendela, ada rasa marah dalam dirinya. Ia berencana untuk mencari pria itu yang sudah dia ketahui identitasnya. ‘Tunggu waktunya dan kau akan merasakan bagaimana amarahku,’ gumam Asher dengan geram.


Dia meninggalkan kantor dan langsung menuju ke rumah sakit, dia ingin melihat keadaan Casey dan Isaiah setelah paska kejadian tadi siang. Asher tiba lalu pergi ke ruangan tempat Isaiah di rawat.


Dia masuk dan melihat disana ada tuan Hynes serta istrinya juga Ellie dan Wesley, dia tersenyum kepada mereka lalu menatap Casey yang selalu duduk di dekat branka.


Casey melihat Isaiah, spontan dia berdiri dan memeluk pria itu dengan erat. Sedari tadi Ia merasa cemas kepada Asher, Casey takut terjadi sesuatu kepada sang mantan.


“Apakah kau terluka?” tanya Casey dengan melepaskan pelukkannya dan memeriksa tubuh Asher.

__ADS_1


“Tidak, aku baik-baik saja. Kamu jangan khawatir.” Asher terlihat sangat senang melihat sang mantan begitu memperhatikan dirinya


“Terima kasih sudah membantu kami, entah apa jadinya kalau kau tidak datang,” ujar tuan Hynes seraya menepuk lengan Asher.


Ellie awalnya tidak suka melihat Casey memeluk Asher, pikirnya terlalu berlebihan melihat sikap Casey kepada sang mantan. Tapi mengingat Asher sudah menyelamatkan kakaknya, rasa tidak suka kepada Asher hilang.


“Bagaimana keadaan anak dan istri Bernard?” tanya nyonya Hynes dengan wajah khawatir.


“Mereka baik-baik saja, begitu juga dengan dokter Bernard.” Tuan Hynes terlihat senang karena salah satu dokter yang bekerja di rumah sakit akhirnya selamat bersama keluarganya.


“Oh ya, aku juga sudah memberikan pengawalan kepada semua dokter dan perawat yang di tugaskan untuk merawat Isaiah, rumah mereka aku tempatkan pengawal selama Isaiah dalam keadaan koma.” Wesley mendengar itu langsung terharu.


Tidak disangka begitu besar perhatian Asher kepada adiknya sampai menempatkan anak buahnya untuk menjaga semua dokter dan perawat yang berhubungan dengan Isaiah.


Begitu juga dengan tuan dan nyonya Hynes, mereka berdua tidak menyangka Asher melakukan hal besar untuk putranya dan Casey.


“Sekali lagi terima kasih,” ucap nyonya Hynes seraya memeluk Asher dan menangis.


“Jangan menangis, nanti bayi yang di perutmu jadi sedih.” Casey tersenyum mendengar candaan Asher lalu berdiri dan kembali memeluk pria itu dengan hangat.


“Aku tidak tahu bagaiman cara membalas semua kebaikanmu kepada kami,” ujar Wesley lalu memeluk Asher setelah Casey melepaskan pelukkannya.


“Cukup perhatikan Casey,” sahut Asher dengan tersenyum sambil mata melirik kepada Casey. Sementara Ellie tidak bisa berkata apa-apa selain mengagumi dalam hati pria yang sudah menyelamatkan kakaknya.


Asher duduk di sofa lalu berbincang-bincang dengan mereka, sementara mata Ellie tidak lepas menatap Asher. Dia sangat mengagumi ketampanan pria itu. Tanpa dia sadari sedari tadi Casey memperhatikannya.


****


Mengetahui anak buahnya menjadi tawanan Asher, pria itu mengamuk di kantornya. Semua barang dilempar dan dibanting. Dia tidak menyangka pergerakan anak buahnya bisa di ketahui oleh Asher.

__ADS_1


Kini dia membayar seorang pemimpin mafia untuk melenyapkan Isaiah juga Asher, dia ingin menyingkirkan semua orang yang menjadi penghalang dirinya untuk memiliki Casey. Pria itu mengajak sang mafia untuk bertemu di suatu tempat.


Pria itu pergi ke pinggiran kota untuk menemui sang mafia, dengan perasaan marah dia melajukan mobil. Begitu tiba dia langsung masuk kesebuah bangunan kosong.


“Maaf mengajakmu bertemu di tempat seperti ini,” ujar pria itu kepada sang mafia dengan mata memperhatikan beberapa pria yang berdiri di depan gedung.


“Tidak masalah, ayo duduk.” Mafia itu memberikan kursi kepada pria itu lalu mereka duduk dan mulai membicarakan rencanannya.


“Bisa aku lihat foto yang menjadi target?” Pria itu mengeluarkan ponsel lalu menunjukkan kedua target kepada mafia itu.


“Baiklah, nanti malam aku berangkat ke Houston. Di sana juga ada beberapa anak buahku.” Pria itu terlihat senang karena mafia itu tidak menunda-nunda lagi rencananya.


“Terima kasih kalau begitu, untuk bayarannya aku akan menyuruh asistenku mengirim ke rekeningmu.” Mafia itu hanya menganggukkan kepala kemudian mereka berdua berjabat tangan dan meninggalkan bangunan itu.


Pria itu tersenyum puas, pikirnya sebentar lagi dia akan memiliki Casey. Dia sudah membayangkan bagaimana kehidupannya bersama wanita yang menjadi obsesinya.


Sementara di kediaman orang tua Casey, terlihat mama Casey sedang duduk di ruang keluarga. Wajahnya terlihat sangat senang setelah mendapatkan kabar kalau Casey sedang hamil.


“Sepertinya istriku sedang bahagia.” Tuan Paulo tersenyum melihat istrinya lalu duduk di sampingnya.


“Iya, Casey baru saja memberitahuku kalau dia sedang hamil.” Tuan Paulo terkejut, dia menatap istrinya dengan tidak percaya.


“Benarkah?” Sang istri menganggukkan kepala dengan wajah yang penuh bahagia. “Akhirnya aku akan memeliki cucu.” Tuan Paulo memeluk istrinya dengan erat.


“Iya, minggu depan aku rencana untuk pergi ke Amerika. Aku sangat rindu dengan putriku.” Dengan berucap sang istri menyandarkan kepalanya di dada pria itu.


“Aku juga rindu padanya, tapi aku tidak bisa ikut bersamamu. Pekerjaan di perusahan sangat banyak.” Sang istri menganggukkan kepala, dia mengerti perusahan miliknya yang di kelola oleh Paulo tidak bisa ditinggal.


“Tidak apa-apa, aku bisa pergi sendiri atau bersama Robby. Dia juga pasti sangat rindu kepada Casey.” Tuan Paulo meleraikan pelukannya kemudian menatap mata sang istri.

__ADS_1


“Aku akan menyusul begitu pekerjaanku selesai.” Sang istri tersenyum kemudian mengecup bibir tuan Paulo dengan lembut.


“Baiklah, aku ingin masak makan malam untuk kita.” Mama Casey berdiri lalu meninggalkan sang suami dan pergi kedapur.


__ADS_2