
89
Akhirnya tuan Smith kembali ke kediamannya, kali ini Asher tinggal di Mansion milik pria tua itu. Asher lebih memilih bersama dengannya karena tidak ingin terjadi sesuatu kepada tuan Smith.
Nampak di mansion sedang berkumpul Casey bersama Isaiah serta putra mereka Enzo, tidak ketinggalan tuan Frank. Ada juga tuan Hynes dan istrinya, begitu juga kedua orang tua angkat Asher yaitu tuan Moralez beserta nyonya Alvin.
Mereka semua sedang duduk di meja makan, tuan Smith mengundang semua keluarga yang berhubungan dengan Casey dan Asher untuk makan malam bersama.
Sementara makan tiba-tiba terdengar suara tembakan di luar, tuan Moralez dan Asher langsung berdiri dan meminta mereka untuk masuk ke kamar.
Asher dengan cepat menggendong Enzo dan mengajak Casey serta tuan Haynes serta istri ikut bersamanya, sementara tuan Smith dan tuan Frank mengikuti Asher begitu juga Nyonya Alvin.
Asher meminta tuan Smith untuk membuka jalan rahasia yang ada di Mansion. Pria tua itu memasukan kode lalu pintu terbuka, dia langsung menyuruh mereka semua masuk kemudian kembali ke depan dengan pistol di tangan.
Dia bertemu dengan Isaiah yang sedang kebingungan karena tidak memiliki senjata. Asher langsung mengambil pistol satunya yang dia selipkan di pinggang dan memberikan kepada Isaiah kemudian berlari keluar menemui tuan Moralez.
Di luar anak buah Lucas dan Jhon sedang terlibat baku tembak dengan musuh, Asher dan Isaiah berpencar untuk membantu mereka.
Sementara tuan Moralez bersama Lucas sedang berusaha menembak salah satu musuh ingin mencoba masuk ke dalam mansion.
Isaiah berlari ke arah Jhon dan bergabung dengan pria itu sedangkan Asher dia membantu anak buah lainnya.
Asher melihat situasi semakin kacau, dia berlari ke arah mobil dan mengambil sebuah tongkat yang di dalamnya berisikan pedang kemudian kembali dengan bersembunyi.
Dia menembak salah satu musuh yang berlari ke arahnya, kemudian menarik ke balik pohon. Dia melepaskan pakaian pria itu dan memakainya, Asher ingin menyamar sebagai teman mereka.
Sementara di ruang rahasia milik tuan Smith, pria tua itu menyalakan lampu di seluruh taman dan memperhatikan lewat cctv. Sedangkan lampu di dalam mansion dijadikan redup. Kemudian menelepon polisi. Dia sangat khawati terjadi sesuatu kepada Asher dan Isaiah. Begitu juga dengan tuan Frank, dia mondar-mandir sambil menghubungi salah satu temannya yang bekas tentara untuk membantu mereka.
Kembali ke luar Mansion, nampak Asher menciduk satu persatu musuh, dia membuat pingsan dan menyembuyikan dekat pohon.
Sedangkan Isaiah dan Jhon menembak musuh yang mencoba masuk lewat pintu belakang. Sementara di depan, tuan Moralez dan Lucas kehabisan peluru. Terpaksa mereka berdua harus mengendap-endap untuk menciduk musuh satu persatu.
Lalu terlihat kendaraan polisi masuk ke kediaman tuan Smith, Lucas langsung mengisyaratkan kepada anak buahnya untuk bersembunyi dan membiarkan polisi yang menanganinya.
Tapi polisi juga kewalahan dan akhirnya anak buah Lucas dan Jhon serta Asher juga Isaiah membantu polisi. Salah satu sherif menghubungi rekan-rekannya untuk membantu mereka.
Tidak menunggu lama, bantuan datang. Akhirnya para musuh diringkus tapi yang lain melarikan diri, polisi tidak tahu beberapa musuh disembunyikan oleh Asher untuk diinterogasi.
Dia ingin tahu siapa yang sudah menyerang mansion tuan Smith. Sementara Isaiah begitu polisi datang dia masuk ke mansion ingin melihat istri dan anak serta kedua orang tuanya.
Begitu melihat polisi datang, tuan Smith membuka pintu dan mengajak mereka keluar. Casey menggendong putranya kemudian berpapasan dengan Isaiah.
Melihat Casey, Isaiah langsung memeluk istri serta anaknya. Berulangkali dia mengecup pipi putranya dan Casey. Isaiah mengambil Enzo dari Casey lalu menggendongnya.
"Kamu tidak terluka'kan?" tanya Casey dengan khawatir sambil memperhatikan tubuh Isaiah. Tadi saat di ruang rahasia, Casey memperhatikan mereka saling baku tembak. Makanya wanita itu sangat cemas kepada Isaiah.
"Tidak, Sayang. Aku baik-baik saja," sahut Isaiah dengan mencium kedua pipi putranya.
Casey melihat Asher kemudian berlari memeluk pria itu dengan erat, sedari tadi dia khawatir kepada kedu pria yang sangat disayanginya.
__ADS_1
"Lenganmu terluka sini aku obati." Casey menarik Asher untuk duduk kemudian berlari ke dapur mengambil air dan kembali ke ruang tengah.
Dia meletakan di meja kemudian menemui tuan Smith yang sedang berada di depan bersama beberapa polisi dan tuan Moralez serta tuan Frank dan ayah mertuanya.
"Grandpa, dimana tempat peralatan serta obat-obatan." Tuan Smith menoleh kepada Casey kemudian mengajak cucunya untuk ikut bersamanya.
Dia masuk ke sebuah ruangan dan mengambil kain kanfas serta plester dan beberapa obat untuk luka kemudian memberikannya kepada Casey. Tuan Smith kembali ke depan bergabung dengan mereka.
Sementara Casey kembali ke ruabg tengah kemudian duduk di samping Asher dan mengobati luka pria itu. Tak terasa airmata menetes di pipinya.
Asher memperhatikan Casey kemudian menyeka airmata itu. Casey terhenti dan menatap Asher kemudian memeluknya dan menangis.
"Aku baik-baik saja," ujar Asher dengan membelai rambut Casey. "Ini hanya luka kecil." Casey menangis bukan karena luka yang ada di lengan Asher, tapi dia begitu takut kehilangan pria ini.
Lama tidak bertemu dan sekarang keluarga mereka terancam kembali, dia khawatir terjadi sesuatu yang buruk terhadap Asher dan tuan Smith.
"Iya, aku terlalu berlebihan." Casey melepaskan pelukannya kemudian mengobatinya kembali.
Asher terkekeh dan mengacak rambut Casey dengan tangan satunya. Asher tahu dia pasti khawatir terhadap dirinya sebagai kakak hanya saja sang adik belum ingin mengatakannya.
Sementara di ruangan lain, nyonya Hynes dan nyonya Alvin berbincang-bincang. Wajah ibu Isaiah sudah terlihat tenang, tidak seperti sebelumnya. Kalau nyonya Alvin dia sudah terbiasa menghadapi hal seperti tadi mengingat sang suami mantan seorang mafia.
Di belahan dunia lain nampak seorang pria terlihat marah, dia melemparkan gelas ke dinding hingga pecahannya berserakan di lantai.
Dia sangat marah karena semua misi yang dijalankan gagal, pria itu mendapatkan kabar kalau orang-orang sewaannya gagal membunuh Isaiah dan Asher.
Pria itu duduk kembali di kursi kerja kemudian menghubungi seseorang, dia ingin mengganti orang untuk menjalankan keinginannya.
Kabarnya pria ini terkesan sangat sadis dalam menjalankan misinya, banyak yang memakai tenaga pria ini untuk mencapai tujuan mereka.
Kini pria tersebut duduk di sebuah bar menunggu orang yang sudah menyewanya, mata elangnya menatap satu-persatu pengunjung yang sedang duduk dan menikmati minuman mereka.
"Santino." Suara seorang pria menyapanya, Santino menoleh kemudian berdiri dan berjabat tangan orang yang menyewanya.
"Tuan?" Pria itu tertawa kemudian mengajak Santino pergi ke ruang vip.
Mereka berdua masuk dan duduk, pria itu memesan minuman kepada pelayan kemudian berbincang dengan Santino.
"Aku ingin kamu berhasil menjalankan apa yang aku minta, jangan seperti yang sebelumnya. Sudah banyak pengeluaranku tapi tak satupun ada yang berhasil." Santino tertawa kemudian menatap pria itu.
"Jangan panggil aku 'The Killer' jika gagal. Anda sudah lihat sendiri'kan daftar nama-nama yang sudah aku selesaikan." Pria itu tersenyum dan menganggukan kepala.
"Iya, aku percaya padamu. Semoga berhasil, soal bayaran Anda tidak usah khawatir. Aku pasti akan membayar dua kali lipat."
"Tentu saja, malam ini juga aku akan berangkat ke Houston untuk menjalankan misimu." Pria itu terlihat sangat senang kemudian mengangkat gelas dan meminum minuman beralkohol itu.
Tidak banyak yang diperbincangkan, mereka berdua meninggalkan bar. Pria itu kembali ke kediamannya sedang Santino pergi ke hotel.
Di dalam kamar dia memperhatikan foto Casey, Isaiah dan Asher. Tapi dia lebih fokus kepada kakak Casey, Santino mengertukan dahi memperhatikan Asher.
__ADS_1
"Mirip dengan dia," gumam Santino dengan membelai wajah Asher di foto itu.
Pria itu berdiri di depan jendela sambil mata mandang keluar memperhatikan kerlap-kerlip cahaya lampu di luar sana.
Houston
Kini para musuh di bawah ke markas Lucas, mereka mengikatnya dengan tergantung dan dijadikan samsak kalau tidak menjawab pertanyaan Asher.
"Katakan siapa yang menyuruh kalian menyerang kediaman tuan Smith," tanya Asher dengan mengitari kedua pria yang sudah babak belur itu.
"Kami hanya mendapat perintah lewat telepon," jawab salah satu dari mereka. Kembali anak buah Lucas melepaskan pukulan di perut pria itu.
"Sebutkan namanya!" Perintah Asher.
"Tuan, dia tinggal di Italy. Kami diperintah lewat telepon." Kembali pria itu menjawab dengan menahan rasa sakit.
"Siapa namanya." Kembali Asher bertanya dia ingin tahu siapa yang menyuruh mereka, apakah seperti yang ada di pikirannya.
"Salvatore, Tuan." Akhirnya pria itu memberitahukan namanya karena sudah tidak tahan lagi dengan siksaan yang diberikan oleh anak buah Lucas.
Wajah Asher nampak berubah, dia berpikir mereka akan memberikan nama seperti harapannya ternyata tidak. Asher meninggalkan markas Lucas dan kembali ke Mansion tuan Smith.
Dia tiba dan mencari tuan Smith, Asher pergi ke ruang kerja kemudian membuka pintu. Melihat yang dia cari sedang memegang figura kecil sambil menyeka airmata.
"Grandpa?" Asher menghampiri pria tua itu dan memeluknya. "Ada apa?"
"Tidak, aku hanya rindu saja dengan ayahmu." Tuan Smith meletakan figura di atas meja kemudian tersenyum kepada Asher.
"Apakah kalian sudah mendapat informasi siapa yang melakukan penyerangan disini?" tanya tuan Smith.
"Iya, mereka hanya orang-orang bayaran. Tujuan mereka antara aku dan Isaiah." Tuan Smith mengernyitkan dahi menatap Asher.
"Kenapa mereka mengincar kamu dan Isaiah?"
"Casey, pria yang membayar mereka menginginkannya. Granpa tidak usah khawatir, aku pasti akan melindungi Casey dan Isaiah. Daddy juga sudah mengirim orang ke Italy untuk mencari pria itu." Tuan Smith menarik napas begitu dalam.
Baru saja mengetahui Casey cucunya kini wanita itu dalam bahaya, tuan Smith tidak ingin terjadi sesuatu keada Casey dan meminta Asher untuk menambah keamanan bagi Casey.
Sementara di kediaman tuan Hynes, Casey dan Isaiah sedang berbincang-bincang di dalam kamar.
"Entah apa tujuan mereka untuk membunuh aku dan Asher," ujar Isaiah sambil membelai rambut Casey. Dia terbayang kejadian di kediaman tuan Smith, bagaimana dia terlibat baku tembak dengan musuh.
Ini pengalaman pertama Isaiah dalam menggunakan senjata asli, dia memang dari dulu sudah belajar menembak tapi tidak pernah terlibat langsung seperti di kediaman tuan Smith.
"Sepertinya mereka mengincarku." Isaiah melepaskan pelukannya kemudian menatap sang istri.
"Kenapa mereka mengincarmu? Apakah kamu memiliki musuh di masa lalu?" tanya Isaiah dengan heran.
"Aku tidak tahu, bisa sajakan ada yang tidak suka padaku tapi karena kamu dan Asher melindungiku jadi mereka menyerang kalian berdua." Isaiah terdiam dan berpikir tentang apa yang dikatakan sang istri.
__ADS_1
"Bisa juga, kita harus lebih berhati-hati," sahut Isaiah kemudian menarik sang istri untuk tidur di dadanya.