Amor Prohibido (Cinta Terlarang)

Amor Prohibido (Cinta Terlarang)
Zelo sakit!


__ADS_3

Casey merasa tidak yakin, dia berpikir kekasihnya hanya mengada-ada saja. Akhirnya tanpa sepengetahuan Zelo, diam-diam dia pergi ke dokter spesialis. Casey ingin memastikan apakah dia masih virgin atau tidak.


Casey tiba di sebuah klinik, dia pergi mendaftar kemudian duduk menunggu giliran. Tidak lama kemudian petugas menyuruhnya masuk, Casey berdiri kemudian  menyapa dokter.


Gadis itu duduk dan menjelaskan kepada dokter apa yang ingin di periksa, lalu dokter berdiri dan menyuruh Casey masuk ke ruang pemeriksaan. Sementara di kantor, Zelo sedang berbincang-bincang dengan asistennya.


Pria itu melihat jam di tangan kemudian  mengambil ponsel dan menghubungi Casey. Zelo mengerutkan dahi saat panggilan tidak terhubung lalu  berdiri ingin pulang.


“Aku pergi sebentar, kalau ada yang mencariku katakan saja aku lagi di kampus,” ujar pria itu seraya meninggalkan kantor. Dia masuk ke mobil dan langsung meluncur ke apartemen.


Semenjak kejadian yang menimpa Casey, Zelo selalu mengawasi gadis itu. Saat tiba dia melihat kedua anak buahnya sedang berdiri di depan lobby, pria itu langsung menghampiri mereka.


“Casey di dalam?” tanya  Zelo seraya berjalan menaiki anak tangga.


“Iya, Tuan,” jawab salah satu anak buahnya kemudian Zelo membuka pintu dan memanggil Casey.


“Sayang,” panggil pria itu tapi tidak ada jawaban. Dia masuk ke kamar dan melihat gadis itu tidak di sana. “Casey.”  Kembali Zelo memanggilnya.


“Kemana dia?” Zelo keluar dan menemui anak buahnya. “Dia tidak di dalam, kalian tidak mengawasinya?” tanya Zelo dengan marah.


Pengawal tersebut terkejut dan menjadi bingung, mereka sama sekali tidak melihat Casey meninggalkan apartemen.


“Dia tidak kemana-mana, itu mobilnya masih terparkir.” Zelo melihat kendaraan kekasihnya di parkiran lalu dia menjadi cemas.


Kembali dia ke apartemen dan menghubungi telepon Casey tapi ponsel kekasihnya tidak aktif. “Kemana kamu?” Pria itu mondar mandir, dia terlihat sangat khawatir. Zelo mencoba menelpon Anna, ada napa panggil lalu terdengar suara wanita itu.


“Hallo, Zelo. Ada apa?” tanya Anna dari ujung telepon.


“Aku hanya ingin tahu apakah Casey bersamamu,” jawab pria itu serta menanyakan kekasihnya.


“Dia tidak bersamaku.” Zelo lebih menjadi khawatir, dia takut Casey di culik lagi oleh Jaime dan Zaneta.


“Baiklah, terima kasih.” Zelo menutup telepon kemudian duduk. “Kalau mereka kembali menculik Casey aku akan membunuhnya.” Pria itu terlihat sangat marah, dia mengusap rambutnya dengan kasar kemudian pergi berdiri di teras.


Sementara di klinik, Casey masih berbincang-bincang dengan dokter. Dia menanyakan hal-hal dewasa, dengan sabar dokter itu menjelaskan kepada gadis itu.


“Jadi aku masih virgin ya, Dok?” Dokter tersenyum dan menganggukan kepala, gadis itu terlihat sangat senang. Pikirannya menjadi tenang karena ternyata Jaime dan Orland tidak berhasil menyentuhnya.


Casey berpamitan kepada dokter dan meninggalkan klinik menggunakan taxi. Dia sangat gembira, Casey tidak tahu kekasihnya sangat mengkhawatirkan dirinya.


Saat tiba di apartemen dia langsung masuk menuju kamar, gadis itu tidak memperhatikan kalau Zelo sedang duduk di teras. Dia berpikir kalau kekasihnya masih berada di kantor, lalu terdengar suara pria itu.


“Dari mana saja kamu?” Casey terkejut dengan teriakan Zelo, lalu menatapnya dengan heran. “Aku bertanya padamu.” Kembali pria itu bertanya dengan berteriak kepada Casey sambil memegang dengan kuat kedua lengan kekasihnya.


“Zelo, sakit.” Gadis itu berusaha melepaskan tangan Zelo dari lengannya.


“Jawab aku.” Zelo kembali berteriak sehingga membuat gadis itu menjadi ketakutan.


“Aku hanya pergi ke dokter,” jawab Casey dengan suara pelan.


“Ke dokter? Kenapa tidak bilang padaku? Kenapa pergi sendiri? Kamu tidak tahu betapa khawatirnya aku di sini?” Beruntun pertanyaan yang Zelo ajukan kepada Casey sehingga membuat gadis itu menjadi bingung.


Dia berteriak dan mengguncang tubuh Casey sehingga membuat gadis itu takut dan menangis.


“Aku sangat khawatir,” ujar Zelo seraya memeluk erat Casey sambil menangis. “Aku begitu takut terjadi sesuatu padamu.” Casey memeluk Zelo dan membelai rambutnya.


“Maafkan aku,” bisik Casey di telinga Zelo seraya memeluk erat tubuh pria itu.


“Aku sangat takut kehilangan dirimu, aku takut kejadian itu terulang lagi,” tutur Zelo dengan suara yang pelan di telinga Casey.


Casey merasa bersalah kemudian dia melepaskan pelukan Zelo dan memegang kedua pipi pria itu lalu menatap matanya.

__ADS_1


“Aku sudah kembali, tidak terjadi sesuatu padaku.” Casey membelai pipi Zelo dan memeluknya kembali.


“Aku sangat mencintaimu,” ucapnya dengan terisak, begitu erat dia memeluk Casey lalu  gadis itu menyeka airmata Zelo dan mencium bibirnya.


“Maafkan aku,” ucapnya dengan memegang kembali kedua pipi pria itu.


“Jangan ulangi lagi,” pinta Zelo seraya menyeka airmatanya.


“Iya,” jawab Casey lalu dia mencium bibir Zelo.


Zelo membaringkan gadis itu di tempat tidur dan kembali mencium bibirnya. Mata pria itu begitu sayu menatap sang kekasih, dia membelai pipi lembut itu dan mengecupnya.


“Maaf aku sudah berlaku kasar padamu, tadi aku takut sekali.” Casey tersenyum dan membelai rambut Zelo.


“Aku yang minta maaf, seharusnya aku katakan padamu kalau mau ke dokter.” Zelo berusaha tersenyum kemudian turun dari tubuh Casey dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya.


 “Kenapa ke dokter? Apakah kamu sakit?” Casey bangun dan duduk di tempat tidur, dia tersenyum kepada pria itu dan menggelengkan kepala.


“Aku hanya ingin memastikan apakah aku masih ….” Casey terhenti kemudian dia menatap pria itu.


“Memastikan apa?” tanya Zelo dengan heran seraya ikut bangun dan duduk.


“Aku … um … Zelo.” Casey bingung apa yang harus dia jelaskan kepada kekasihnya.


“Aku apa, Sayang. Katakan padaku” tanya pria itu dengan penasaran, dia mendesak Casey untuk jujur padanya.


“Aku ke dokter spesialis … um ….” Zelo mengerti kemudian dia menatap mata Casey.


“Untuk apa kamu memeriksanya, aku sudah katakan padamu virgin tidak penting bagiku.” Casey menunduk seraya meremas jemarinya.


“Aku hanya ingin tahu saja,” ujar gadis itu tanpa memandang wajah Zelo.


“Apakah dokternya laki-laki?” tanya Zelo  seraya mengangkat wajah Casey dan menatap matanya.


“Kenapa tidak mencari dokter wanita.” Zelo terlihat sangat marah lalu Casey tersenyum dan memegang tangan kekasihnya.


“Aku hanya bercanda, mana mungkin aku pergi ke dokter laki-laki dan meminta dia memeriksaku.” Wajah Zelo langsung tenang kemudian dia meremas hidung Casey.


“Lalu apa kata dokter?” tanya Zelo dengan penasaran.  Kembali Casey tersenyum dan menatap mata pria itu.


“Aku masih virgin.” Zelo tertawa kemudian memeluk Casey dan membaringkannya.


Dia mencium kembali bibir Casey dan memasukan lidahnya ke dalam mulut gadis itu. Zelo menggigit dengan lembut bibir Casey sambil tangan satunya meremas dada yang tidak terlalu besar itu.


Casey membalas ciuman Zelo dan membiarkan tangan pria itu menggerayangi tubuhnya, lenguhan terdengar dikala jemari Zelo masuk ke dalam kaos dan meremas dengan lembut salah satu bukit miliknya.


 Zelo melepaskan kaos dan celana pendeknya kemudian kembali mencium bibir Casey. Tangannya mulai turun kebawah dan membuka kancing celana jeans Casey lalu menyelipkan jemari di antara paha gadis itu.


Agar leluasa jemari itu bermain Casey melepaskan celana jeansnya dan kembali mencium bibir pria itu. Semenjak merasakan kenikmatan itu, Casey ingin melakukannya.


Zelo melepaskan kemeja dan bra yang di kenakan Casey kemudian melemparnya ke lantai lalu kembali mereka berciuman.


Dia mencium leher gadis itu seraya meremas salah satu bukit lalu perlahan tangannya turun ke bawah dan membelai paha putih mulus itu.


Casey meremas rambut Zelo dan memejamkan mata, dia membuka pahanya dan membiarkan jemari itu bermain di sana. Rintihan kenikmatan keluar dari bibirnya saat pria itu membenamkan kepala di antara kedua pahanya.


Dia mengerutkan dahi menahan kenikmatan itu, pinggangnya terangkat saat merasakan lidah itu bermain dengan cepat. Napas terhenti begitu dia mengalami pelepasan.


Zelo naik ke atas tubuh Casey dan kembali mencium bibir gadis itu, dia memasukan lidahnya ke dalam mulut Casey serta membelai pipinya.


Napas  Casey masih tidak beraturan. Dia membalas ciuman Zelo seraya tangannya turun ke bawah dan memainkan benda yang sudah berdiri tegak.

__ADS_1


Zelo memejamkan mata dan merasakan tangan lembut itu bermain, dia mencium telinga Casey dan menghembuskan napas di kuping gadis itu.


Zelo tidak tahan lagi lalu dia membuka paha Casey dan menuntun miliknya untuk masuk ke ruang inti gadis itu.


Casey meringis kesakitan dan meremas punggung pria itu, dia memejamkan mata dan mengerutkan dahi menahan rasa sakit.


“Zelo, sakit sekali,” bisik Casey di telinga  pria itu.


Zelo berhenti kemudian memainkan jemarinya di inti Casey, kembali dia menempelkan miliknya di pintu kenikmatan. Zelo menekan pinggulnya dengan perlahan-lahan.


“Ah, sakit sekali.” Kembali Casey merintih dan menahan pinggul Zelo.


“Tahan saja, aku akan pelan-pelan,” ujar Zelo seraya kembali mendorong pinggulnya.


Zelo melihat ujungnya sudah mulai masuk, dia lebih menekan lagi dengan perlahan-lahan sambil menatap Casey.


“Pelan-pelan, Zelo. Ini sakit sekali.” Casey kembali meringis kesakitan.


Zelo menghentakan pinggangnya sehingga setengah miliknya berhasil menerobos dinding penghalang itu.


Casey terkejut dan berteriak kesakitan, dia mengerutkan dahi dan meremas lengan Zelo. Butiran air keluar dari sudut mata gadis itu.


Zelo membiarkan miliknya tertancap di inti Casey agar gadis itu terbiasa dengan benda pusakanya.


Dia menghapus air mata Casey dan mencium bibir gadis itu, perlahan dia menggerakan pinggulnya naik turun.


“Sakit, Zelo,” rintih Casey seraya meremas lengan pria itu.


“Iya, tahan saja,” ujar Zelo seraya memompa pinggulnya naik turun. Dia melakukannya dengan lembut.


Casey mulai merasakan kenikmatan, dia mendesaah di telinga Zelo sambil meremas rambut pria itu. Napasnya semakin cepat lalu dia melingkarkan kaki di pinggang Zelo.


Zelo terus berkerja di atas tubuh gadis itu, dia ingin memberikan kepuasan kepada kekasihnya. Mendengar rintihan kenikmatan dari bibir Casey, dia mulai memompa pinggulnya dengan cepat.


Lalu tubuh Casey tersentak bagaikan  terkena aliran listrik, mulut terbuka dan napas terhenti saat dia mengalami pelepasan. Gadis itu memeluk dengan erat Zelo dan mengerang di telinga pria itu.


 Zelo tidak berhenti, dia terus bekerja dengan cepat. Napasnya semakin memburu lalu pria itu memeluk tubuh Casey  dengan erat. Zelo mengalami pelepasan.


Berulang kali dia  menyentakan pinggangnya melepaskan sisa-sisa kenikmatan lalu terbaring di atas tubuh gadis itu.


  Napas mereka berdua masih tidak beraturan, Casey menatap langit-langit kamar. Dia tidak percaya dengan kenikmatan yang baru saja dirasakannya.


Gadis itu menarik napas panjang dan mendorong dengan pelan tubuh Zelo sehingga pria itu terbaring di sampingnya.


Zelo memeluk Casey dan mencium ubun kepala gadis itu lalu Casey meletakan kepala di dada Zelo seraya memejamkan mata.


“Maaf aku tidak bisa kendalikan diriku,” ucap Zelo seraya membelai rambut Casey. Gadis itu hanya tersenyum dan membelai dada bidang itu.


“Tidak apa-apa.” Dia mengangkat wajahnya dan menatap Zelo “Aku juga ingin melakukannya denganmu.” Pria itu  tertawa dan memeluknya dengan erat.


“Kamu suka?” tanya Zelo lalu Casey menganggukan kepala kemudian  mengecup bibir pria itu.


“Sudah berapa wanita yang kamu tiduri,” tanya Casey seraya menatap mata Zelo sehingga  pria itu tertawa dan duduk.


“Jangan berpikir karena wajahku tampan dan banyak wanita tergila-gila padaku lalu aku sembarangan tidur dengan mereka.” Zelo memegang pipi gadis itu dan menatap matanya.


“Aku bukan laki-laki seperti itu, kamu wanita pertama yang aku tiduri.” Casey mengangkat keningnya, dia tidak percaya dengan ucapan pria itu.


“Benarkah?” Zelo tertawa kemudian turun dari tempat tidur, dia menatap Casey dan menggelengkan kepala.


“Sudah ku duga pasti kamu tidak percaya,” ujar  pria itu seraya memakai kaos dan celana pendek lalu mengecup pipi Casey. “Aku lapar, kamu mau makan apa?”

__ADS_1


“Terserah kamu,” jawab Casey lalu dia bangun dan melihat di atas sprei ada darah. “Zelo, itu darah apa?” Pria itu melihat di sprei kemudian  tersenyum.


“Itu darah virginmu,” bisik Zelo lalu Casey melengkungkan bibirnya. Dia mengambil sprei yang baru dan menggantinya kemudian pergi ke kamar mandi.


__ADS_2