
“Apakah kau sudah menjalankan perintahku?” tanya seorang pria kepada anak buahnya lewat telepon.
“Sudah, Tuan. Sekarang dia terbaring di rumah sakit dan koma, aku menjalankan sesuai perintah Anda.” Pria itu tersenyum lalu memutuskan telepon dan berdiri di depan jendela.
“Inilah akibatnya kalau kau tidak menuruti keinginanku, Casey.” Pria itu tersenyum smirk lalu melihat jam di pergelangan tangan.
Dia meninggalkan kantor lalu pergi ke sebuah club, saat tiba para wanita menyambutnya bagaikan seorang raja. Pria itu terlihat sangat senang.
“Apakah kita akan menghabiskan malam ini bersama?” tanya seorang wanita seraya membelai pipi pria itu.
“Tentu saja, kau tahu apa yang ku inginkan, bukan?” Wanita itu terkekeh lalu mengajak sang pria untuk di sofa.
“Aku akan melayanimu sampai kau puas,” rayu wanita itu lalu mengisyaratkan seorang pelayan untuk membawakan mereka minuman.
Sementara di rumah sakit, Casey masih setia menemani Isaiah yang sampai saat ini belum sadar. Kini Isaiah di rawat di rumah sakit milik ayahnya, saat melewati masa kritis kedua orang tua sang suami meminta putra mereka untuk di pindahkan.
Isaiah berada di VVIP dengan dua ruangan, satu untuk penjaga dan satunya lagi untuk pasien. Saat ini Isaiah sudah bisa di kunjungi lebih dari satu orang. Ellie dan Wesley selalu bergantian menemani Casey di rumah sakit menjaga Isaiah.
“Istirahatlah, wajahmu terlihat pucat,” ujar Wesley seraya berjalan dan berdiri di dekat brankar dan menatap wajah adik iparnya.
“Sebentar lagi,” sahut Casey dengan membelai tangan sang suami yang masih koma.
Wesley menarik kursi lalu duduk di dekat Casey dan menatap Isaiah, wajahnya nampak sangat sedih melihat kondisi sang adik yang belum juga sadarkan diri.
“Entah apa tujuan mereka menabrak Isaiah,” gumam Wesley dengan kesal.
“Mungkin mereka ingin memisahkan aku dan Isaiah, tapi siapa? Apakah Zelo?” Casey mencoba menebak tapi dia masih ragu juga karena tidak ada bukti.
“Bisa saja, dia tidak hadir di pernikahan kamu dan Isaiah.” Satu-satunya yang Wesley curigai adalah Zelo karena hanya dia satu-satunya pria yang tidak ingin Isaiah dan Casey bersatu.
“Aku akan menyelidikinya, mengharapkan polisi terlalu lama.” Kembali Wesley berucap seraya membelai rambut Isaiah.
“Kamu harus berhati-hati, bisa saja ada orang lain yang menginginkan kematian Isaiah.” Casey mengingatkan Wesley saat Ia teringat mantan direktur yang dia pecat yang tak lain adalah anak buah Dany.
Apalagi Casey sempat mendengar cerita dari tuan Smith tentang apa yang Dany lakukan terhadap putra dan menantunya, kini Casey merasa kalau Dany adalah orang yang berbahaya tapi Ia belum ingin katakan kepada Wesley tentang kecurigaannya kepada pria itu.
“Tentu saja, aku akan meminta asistenku untuk mengawasi Zelo. Apalagi Zelo pasti tahu Isaiah tidak mati, aku takut dia tetap akan mengincar adikku.” Mata Wesley menjadi gelap, kalau benar Zelo yang melakukannya dia akan membalas melebihi apa yang adiknya alami.
“Sudah larut malam, sebaiknya kamu istirahat. Biar aku yang menjaga Isaiah,” saran Wesley dengan menepuk pelan punggung Casey.
“Baiklah.” Casey bangkit berdiri lalu pergi ke ruangan khusus penjaga dan berbaring.
Di tempat lain, Asher sedang mengenderai kendaraan roda empatnya menuju ke sebuah club. Ia memarkirkan mobil dan menghubungi seseorang. Dia mengajak pria di ujung telepon itu untuk bertemu dengannya.
__ADS_1
Asher turun dari mobil lalu masuk ke dalam club, beberapa wanita cantik menyambutnya tapi Asher mengibaskan tangannya agar para pekerja malam itu menjauh darinya.
Ia datang ke club bukan untuk bersenang-senang, tapi Asher ingin bertemu dengan seseorang untuk menyelidiki kecelakaan Isaiah. Dia tidak ingin Casey menuduhnya sebagai biang dari kecelakaan itu.
Sambil menunggu pria itu Asher duduk di bartender lalu memesan minuman, matanya tetap mengawasi setiap pengunjung yang masuk. Saat minuman disugukan di depannya, Asher menghirup lalu meneguknya sedikit demi sedikit.
“Sudah lama menungguku?” sapa seorang pria dengan menepuk pelan punggung Asher.
“Hey, Jhon. Kebetulan aku juga baru tiba, oh ya kau mau minuma apa?” tanya Asher seraya memberikan isyarat kepada bartender untuk mendekat.
“Sama saja sepertimu,” sahut Jhon seraya menarik kursi dan duduk, lalu Asher memesankan minuman sama seperti miliknya kepada bartender.
“Aku akan memesan VIP, kalau bicara di tempat ini terlalu ramai dan bising.” Asher berucap dengan suara sedikit keras kepada Jhon sambil memanggil pelayan dan meminta untuk menyiapkan ruangan VIP untuk dia dan Jhon.
Sepuluh menit menunggu kini Asher dan Jhon dengan memegang gelas mereka berdua naik ke lantai dua menuju ke ruang VIP. Asher duduk di sofa dan meminta pelayan itu untuk meninggalkan dia dan Jhon.
“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Jhon seraya meletakkan gelas di meja dan duduk di sofa.
“Aku ingin kau dan anak buahmu mengawasi Dany, periksa semua transaksi yang di lakukan bajingan itu.” Nampak wajah Asher begitu gelap, sampai saat ini dugaannya kuat kepada Dany.
“Baik, aku akan melakukan segala apa yang kau perintahkan. Tapi apakah hanya dia yang kau curigai?” tanya Jhon dengan menyipitkan matanya.
“Untuk saat ini hanya Dany yang aku curiga, karena dia sendiri yang menyarankanku untuk membunuh Isaiah,” tutur Asher seraya menuang lagi minuman di gelasnya.
“Terima kasih, jangan khawatir soal bayarannya.” Jhon terkekeh mendengar perkataan Asher dan menggelengkan kepala.
“Jangan pikirkan bayarannya, tunggu saja hasil kerjaku.” Jhon dan Asher bersulang dan melanjutkan obrolan mereka.
****
Sudah tiga minggu Isaiah masih terbaring di rumah sakit dengan keadaan koma, keluarga Isaiah dan Casey bergantian merawat pria itu. Seperti pagi ini, Casey bangun cepat dan memeriksa kondisi sang suami.
Tapi tiba-tiba dia merasakan pusing, Casey dengan cepat berbaring di sofa dan memejamkan mata bertepatan dengan tuan dan nyonya Hynes masuk. Mereka berdua terkejut melihat wajah pucat Casey.
“Casey, apakah kau baik-baik saja?” tanya nyonya Hynes seraya berjalan menghampiri Casey.
“Iya, aku hanya merasa sedikit pusing saja.” Casey membuka matanya dan berusaha tersenyum kepada kedua mertuanya.
“Kamu terlihat pucat, periksa ke dokter,” saran ayah Isaiah seraya meraba dahi sang menantu.
“Aku tidak apa-apa, Tuan.” Nyonya Hynes menggelengkan kepala lalu mengambil air putih dan memberikannya kepada Casey.
“Sebaiknya periksa ke dokter,” anjur nyonya Hynes sambil duduk di single sofa menghadap Casey.
__ADS_1
“Iya, sebentar aku akan ke dokter.” Casey tidak ingin berbantah dengan kedua mertuanya, dia bangun dan duduk di sofa.
“Aku akan menemanimu.” Nyonya Hynes tidak ingin membiarkan Casey pergi ke dokter sendiri, dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada sang menantu, mengingat selama ini wanita itu kurang beristirahat menjaga putra mereka.
“Baiklah,” sahut Casey seraya bangkit berdiri di ikuti nyonya Hynes.
Wanita itu curiga melihat wajah pucat dari menantunya, mengingat dia seorang dokter pasti dia tahu apa yang terjadi dengan Casey. Nyonya Hynes mengajak sang menantu menemui dokter kandungan.
Saat tiba di depan ruang dokter kandungan, wajah Casey mengerut dan menatap nyonya Hynes. Dia bingung mengapa ibu mertua membawanya menemui dokter kandungan.
“Hanya periksa saja.” Nyonya Hynes tahu dengan kebingungan Casey.
Akhirnya Casey masuk masuk diikuti nyonya Hynes, karena rumah sakit milik suaminya dan dokter kandungan sangat kenal dengannya, nyonya Hynes tidak mendaftarkan Casey terlebih dulu.
Melihat nyonya Hynes dokter kandungan tersenyum dan langsung berdiri meyambut kedua wanita itu. Dengan ramah Ia menyuruh Casey dan nyonya Hynes untuk duduk.
“Aku ingin memeriksakan kandungan menantuku, mungkin saja dia sedang hamil,” ujar nyonya Hynes dengan bercanda seraya duduk dan melirik Casey.
Wajah Casey menegang, dia ingat sebelum dia dan Isaiah menikah mereka berdua selalu melakukan hubungan tanpa pengaman. Juga sudah memasuki dua bulan dia tidak datang bulan. Tanpa sadar Casey tersenyum dan memegang perutnya, dia akan merasa bahagia mengandung anak dari orang yang dicintainya.
“Oh, kalau begitu silahkan berbaring, aku akan memeriksanya.” Casey mengikuti perintah dokter, berdiri dan berbaring di brankar.
Perawat mengoleskan gel di perut Casey lalu dokter mengambil transducer dan menggerakkan di atas perut Casey sambil mata memandang ke layar monitor. Dokter sedikit menekan alat tersebut di perut bagian bawah untuk memastikan apa yang dia lihat.
“Oh, ternyata Anda sedang mengandung,” beri tahu dokter sambil mata tetap berada di layar monitor dan memeriksa masa kehamilan yang di alami oleh Casey.
Wajah nyonya Hynes terlihat berbinar mendengar sang menantu sedang mengandung, dia bangkit dan berdiri di samping brankar sambil ikut melihat janin yang sedang tumbuh di rahim Casey.
Entah bahagia atau sedih melihat Casey mengandung janin dari putranya yang masih dalam keadaan koma. Tanpa terasa air sebening kristal menetes dari matanya.
Begitu juga dengan Casey, disaat perasaan sedang sedih Ia menerima kabar yang tentu saja membuatnya sangat bahagia. Dia berharap dengan kabar kehamilannya ini akan membuat sang suami terbangun dari koma.
Casey ingin Isaiah mengikuti perkembangan sang janin yang sedang tumbuh di rahimnya. Merasa terharu, Casey terisak dan cepat-cepat menghapus airmatanya.
“Bagaimana dengan usia kandunganku?” tanya Casey sambil mata tak lepas memandang layar monitor.
“Um, sudah sepuluh minggu.” Casey tersenyum dan memejamkan mata, dia sudah menduga usia kandungannya karena selama ini dia dan Isaiah bermain tidak menggunakan pengaman.
“Ini merupakan kabar yang sangat bagus,” ujar nyonya Hynes dengan menggenggam tangan Casey, wajahnya terlihat sangat bahagia kini dia akan memiliki cucu.
Selesai kandungannya diperiksa, perawat membersihkan sisa gel yang ada di perut Casey lalu membantu wanita itu untuk turun dari branka.
Casey dan nyonya Hynes kembali duduk dan berbincang-bincang dengan dokter.
__ADS_1