
Memikirkan apa yang diminta oleh tuan Smith, akhirnya Alice mengikuti program kehamilan. Alice meminta Nathan cukup dua saja anak mereka, sang suami mengikuti permintaan Alice.
Selama dua bulan Alice mengikuti program kehamilan dan akhirnya dia berhasil, mereka mengabarkan kepada sang ayah kabar sukacita itu. Sementara ibu mertua sedang terbaring sakit.
Sedangkan tuan Smith malah tubuhnya semakin bugar walau’pun sibuk dia tidak lupa untuk selalu berolahraga. Dany menjadi bingung melihat sang ayah baik-baik saja, padahal sudah memasuki tiga bulan racun yang dia taburi di air putih milik tuan Smith.
Setelah mengetahui sang mertua sedang terbarung sakit, Alice dan Nathan berkunjung ke rumah orang tuanya, mereka ingin menengok sang ibu. Di sana sudah hadir Dany juga istri dan anaknya, mereka sedang duduk di ruang keluarga.
Alice menyapa adik ipar beserta istrinya kemudian dia ikut sang suami masuk ke kamar. Alice melihat ibu mertua sedang terbaring di tempat tidur dengan tubuh yang lemas, dia duduk kemudian memegang tangan nyonya Smith tapi wanita itu menepisnya.
"Cepat sembuh, Nyonya." Alice bangkit dan berdiri di samping suaminya sedang ayah mertua dia sedang duduk di sisi tempat tidur.
"Kenapa tidak ke dokter?" tanya Nathan dengan memegang tangan sang ibu.
"Dia tidak mau," jawab tuan Smith kemudian mengajak Alice dan Nathan ke ruang keluarga. Mereka duduk lalu Dany dan istrinya ikut bergabung, ada yang ingin disampaikan pria itu kepada Nathan tapi berhubung ada Dany dan Lea tuan Smith menundanya.
"Sudah berapa lama mommy sakit?" tanya Nathan seraya menatap wajah ayahnya.
"Bulan yang lalu dia muntah-munta tapi saat dibawah ke rumah sakit, dokter mengatakan hanya masalah lambung,” terang tuan Smith. “Minggu yang lalu dia juga merasa pusing tapi tidak ingin ke dokter, dan tadi pagi dia mengeluh sakit lagi, aku mengajaknya untuk periksa tapi dia tidak mau," jawab sang ayah kemudian dia menatap Alice.
"Bagaimana kandunganmu?" Alice tersenyum dan memegang tangan suaminya.
"Baik-baik saja, Tuan." Tuan Smith terlihat sangat senang sedangkan adik Nathan dan istrinya terlihat tidak suka kepada Alice karena sang ayah lebih memperhatikan Nathan dan menatunya.
"Dad, aku harus kembali ke rumah." Nathan menatap adiknya dengan mengernyitkan dahi.
"Kenapa cepat-cepat pulang?" tanya Nathan dengan heran lalu Dany berdiri.
"Aku ada pekerjaan, lagi pula putriku bersama pengasuh." Lea juga berdiri dan berpamitan.
"Iya, anak kami tidak biasa di tinggal sendiri bersama pengasuh." Nathan menganggukan kepala kemudian dia berdiri dan memeluk adiknya.
"Baiklah, kalau begitu hati-hati." Dany tersenyum kemudian dia melepaskan pelukan sang kaka dan memeluk ayahnya.
Dany dan Lea meninggalkan kediaman orang tuanya sedangkan Nathan dan Alice masih berbincang-bincang di ruang keluarga. Begitu pasangan suami itu pergi, tuan Smith langsung mengutarakan apa yang ingi dia katakan kepada putranya.
"Nathan, kamu tahu aku sudah tua. Perusahan harus kamu yang urus." Nathan menatap sang ayah kemudian dia tersenyum.
"Daddy tahu aku memiliki perusahan sendiri, minta Dany saja untuk membantumu mengurus perusahan itu." Sang ayah menggeleng-gelengkan kepala, dia tidak ingin mempercayakan perusahan miliknya kepada pria itu. Karena dia tahu Dany tidak bisa apa-apa sedangkan istrinya hanya suka menghambur-hamburkan uang.
__ADS_1
"Dia belum mampu, bukan aku tidak percaya kepadanya tapi dia belum bisa." Dari dalam kamar, istrinya mendengar percakapan mereka. Raut wajahnya beruba tidak suka mendengar sang suami berkata begitu.
‘Aku harus melakukan sesuatu agar perusahan itu tidak jatuh ke tangan Nathan, semua warisan ini harus dimiliki oleh anakku Dany. Aku harus mencari cara untuk menguasai semua harta kekayaannya.’
Nyonya Smith mulai mencari cara untuk menyingkirkan suaminya, dia tidak ingin semua harta tuan Smith jatuh ke tangan Nathan. Jalan satu-satunya nyonya Smith harus melenyapkan pria itu. Ia berpikir siapa yang harus dia sewa untuk membunuh ayah dari Nathan.
Sementara di ruang keluarga Nathan dan Alice masih berbincang-bincang dengan tuan Smith, Alice melihat jam di tangan lalu memberi isyarat kepada suaminya. Nathan menganggukkan kepala kemudian dia berdiri.
"Baiklah, Dad. Kami harus kembali." Tuan Smith berdiri kemudian mencium kedua pipi Alice dan memeluk putranya.
"Baiklah, hati-hati." Nathan tersenyum kemudian dia memeluk sang ayah.
Nathan masuk ke kamar bersama Alice dan berpamitan kepada ibunya. Suami istri itu langsung meninggalkan kediaman orang tua dan kembali ke rumah.
****
Keadaan nyonya Smith semakin lemah, ingin dibawah ke rumah sakit tapi dia selalu menolaknya. Sementara Dany dia curiga kalau ibunyalah yang minum racun itu bukan ayahnya.
Ada perasaan menyesal sudah menuruti saran istrinya untuk meracuni tuan Smith, Dany mondar-mandir di depan kamar orang tuanya. Dia tidak tega melihat keadaan ibunya yang mulai sekarat.
Sementara disebuah ruangan, Alice sedang melakukan meeting bersama dewan direksi dan pemilik perusahan lalu ponsel wanita itu bergetar. Dia melihat panggilan dari suaminya, Alice tidak menjawab karena pemilik perusahan yaitu tuan Smith sedang berbicara.
Semua yang hadir melihat Alice dengan heran begitu juga dengan tuan Frank, dia mengkerutkan dahi menatap wanita itu dan bertanya.
"Ada apa, Alice?" Alice terlihat gugup dan khawatir.
"Tuan, aku harus pulang sekarang. Ibu mertuaku meninggal." Tuan Fank terkejut, dia berdiri dan menatap Alice.
"Baiklah, kamu pulang saja sekarang. Sampaikan turut duka citaku kepada keluargamu terlebih ayah mertuamu." Alice menganggukan kepala kemudian membungkuk dan meninggalkan ruang meeting.
Alice pergi ke parkiran lalu masuk ke mobil. Dia langsung meluncur keruma orang tua suaminya, wanita itu mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Nathan tapi tidak ada jawaban dari pria itu.
Alice melajukan mobilnya, akhirnya dia tiba. Wanita itu langsung turun dan berlari masuk ke dalam rumah, dia melihat sang suami sedang berdiri di depan kamar. Alice menghampiri Nathan dan memeluknya.
"Maaf tadi aku sedang meeting bersama dewan direksi dan tuan Smith," bisik Alice di kuping suaminya kemudian dia melihat ibu mertuanya sudah terbaring kaku.
"Tidak apa-apa, Sayang. Yang penting kamu sudah ada di sini." Alice dan Nathan masuk ke kamar kemudian wanita itu duduk di sisi tempat tidur dan memperhatikan ibu mertuanya.
"Nyonya sakit apa?" tanya Alice kepada ayah mertua seraya memegang tangan ibu mertua.
__ADS_1
"Dia tiba-tiba terkena serangan jantung." Dany yang sedari tadi berdiri di dekat tempat tidur terkejut mendengar perkataan sang ayah.
‘Dugaanku benar yang meminum racun itu mommy bukan daddy.’ Dia memperhatikan sang ayah terlihat baik-baik saja. ‘Pasti mommy yang meminumnya, ah ****.’ Pria itu mengumpat dalam hati, mengapa bukan dia saja yang mati. Dany meninggalkan kamar kemudian dia duduk di depan.
Wajahnya terlihat sangat sedih dengan kepergian sang ibu, selama ini yang selalu membela dia adalah ibunya. Kini dia telah tiada, Dany berpikir pasti Nathan dan Alice yang akan menguasai harta kekayaan orang tua mereka.
Kalau daddy memberikan kekayaan dan perusahan kepada Nathan, aku akan membunuhnya. Gumamnya dalam hati, wajahnya berubah menjadi beringas. Lalu sebuah tangan menepuk punggungnya.
Dany terkejut lalu cepat-cepat dia merubah raut wajahnya dengan sedih, dia menatap Nathan yang berada di samping lalu berdiri dan memeluk kakaknya.
"Mengapa begitu cepat ibu pergi." Dia menangis lalu Nathan membalas pelukan sang adik.
"Kita harus kuat, Dan." Nathan melepaskan pelukannya kemudian menepuk pelan pipi sang adik lalu dia kembali ke dalam. Sedangkan Dany dia duduk kembali dan memikirkan rencana yang jahat buat sang kakak dan ayahnya.
Dany berdiri kemudian masuk menuju ke dapur, dia melihat pelayan rumah sedang membersihkan peralatan dapur. Pria itu menghampirinya.
"Gelas yang sering mommy gunakan mana?" tanya Dany, pria itu ingin tahu apakah dia salah memasukan racun. Pelayan mengambil gelas dan menunjukan kepada Dani.
"Ini yang sering di pakai nyonya." Dany terkejut, apa yang dipikirkan ternyata benar. Dia salah memasukan racun ke dalam gelas.
‘Shit .…’ pria itu meninggalkan dapur dan duduk kembali di depan. Mengapa aku tidak bertanya terlebih dahulu kepada pelayan, dasar bodoh. Umpatnya dalam hati, saat dia mengangkat kepala dia melihat istri dan anaknya sedang berjalan ke arahnya.
Dani berdiri kemudian menyeret sang istri ke samping rumah, wajahnya terlihat sangat kesal. Sedangkan wanita itu kebingungan melihat sikap suaminya.
"Aku begitu bodoh mengikuti saranmu untuk membunuh daddy." Sang istri menatap heran suaminya.
"Kenapa?" Dany menarik lengan sang istri dengan kasar.
"Yang minum racun itu bukan daddy tapi mommy, dan lihat sekarang. Akibat perbuatanmu akhirnya mommy meninggal." Sang istri menarik lengan Dany dengan kasar kemudian menatapnya.
"Kamu yang bodoh, semestinya kamu cari tahu terlebih dahulu gelas ibumu bukan langsung main taruh." Sang istri terlihat begitu kesal, dia meninggalkan suaminya dan masuk menuju ke ruang tamu.
Para pelayat berdatangan dan memberikan ucapan belasungkawa kepada keluarga itu. Nathan selalu mendampingi sang ayah begitu juga Alice.
selamat membaca
Jangan lupa like dan komentar ya
Terima kasih
__ADS_1