
Munich German
Pembicaraan Wesley dan Jossie akhirnya berlanjut di Munich German, ketertarikan pria itu kepada adik angkat Asher sangat lekat sehingga dia mengajaknya bertemu saat tiba di kota ini.
Jossie tidak menolak ajakan Wesley karena sesungguhnya dia juga tertarik kepada pria ini, pertama kali melihat Wesley di villa langsung ada perasaan suka. Gadis itu sedang bersiap-siap untuk bertemu dengan Wesley, pakaian dan make up tidak berlebihan karena pada dasarnya Jossie tidak suka berdandan.
Berdiri di depan cermin dan melihat apakah pakaiannya sudah rapi, gadis itu tersenyum lalu menyambar tasnya. Melihat jam yang ada di pergelangan tangannya, Jossie langsung meninggalkan aparteman.
Tidak menunggu lama, gadis itu tiba di sebuah restoran ternama di kota Munich. Sebelumnya Wesley sudah memesan meja untuk mereka berdua, mata Jossie melihat sana-sini mencari Wesley. Ia tersenyum melihat seorang pria yang sudah berdiri di samping meja menatap dirinya.
“Sudah menunggu lama?” tanya Jossie sambil berjalan menghampiri Wesley yang mengenakan setelan celana dan kemeja berwarna hitam slim.
“Kebetulan aku juga baru tiba.” Wesley mencium kedua pipi Jossi lalu menarik kursi dan mempersilahkan sang gadis untuk duduk.
“Terima kasih,” ucap Jossie seraya duduk dan tersenyum kepada Wesley.
“No problem.” Wesley juga menarik kursi dan duduk di depan Jossie lalu memberikan isyarat kepada pelayan untuk datang ke meja mereka.
Pelayan datang memberikan buku menu kepada Wesley dan Jossie lalu berdiri di dekat meja menunggu mereka memesan makanan.
“Aku pesan dessert saja, um … minumnya white wine.” Jossie mengembalikan buku menu kepada pelayan dan menunggu Wesley memesan makanan.
“Aku steak dan minumnya sama seperti dia.” Wesley juga mengembalikan buku menu kepada pelayan kemudian menatap Jossie dengan mengembangkan senyumnya.
“Sudah sering datang ke Muncih?” tanya Wesley memulai percakapan.
“Um, ini kedua kalinya. Karena aku ingin melanjutkan kuliah di sini.” Wesley menganggukkan kepala mendengar penuturan Jossie tanpa melepas tatapannya kepada gadis itu.
“Kalau kamu sudah pasti sering datang ke sini, jadi tidak perlu aku tanya lagi.” Wesley tertawa mendengar ucapan Jossie, kembali dia menganggukkan kepala.
“Iya, aku tinggal di sini mengurus usaha ayahku. Ke Houston kalau penting saja,” jawab Wesley dengan menatap mata Jossie, sungguh dia sangat tertarik dengan gadis yang ada di depannya ini.
“Oh, begitu ya.” Jossie sedikit gugup dengan tatapan Wesley, dia mencoba mengalihkan pandangannya keluar untuk menghindar mata pria itu.
“Boleh aku tahu umurmu sekarang?” Jossie mengangkat kedua alisnya mendengar pertanyaan Wesley.
“Um, dua pulu empat.” Wesley kembali tersenyum mendengar umur Jossie.
“Aku dan kamu berbeda sembilan tahun.” Jossie membulatkan matanya dia mengerutkan dahi dan menghitung umur pria yang ada di depannya.
“Berarti umur kamu sekarang 33 tahun.” Wesley langsung membenarkan tebakan Jossie dan tertawa.
“Tepat sekali, tidak masalah, bukan?” Jossie tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala.
“Kamu tidak terlihat 33 tahun,” ucap Jossie dengan bercanda untuk menghilangkan rasa gugupnya karena dia tahu maksud dari perkataan Wesley.
“Benarkah?” tanya Wesley dengan memicingkan matanya.
“Iya, kamu terlihat seperti 28 tahun.” Mendengar itu Wesley langsung tertawa lalu memberikan isyarat kepada Jossie kalau pesanan mereka sudah datang. “Kita lanjutkan sambil makan.”
Pelayan meletakkan pesanan Wesley dan Jossie di meja kemudian meninggalkan mereka berdua.
Houston
Dany tidak sabar menunggu kematian Casey, dia memaksa Alden untuk menjalankan rencananya. Dia meminta pria itu agar tidak gagal untuk membunuh Casey, tapi Alden menolak permintaan Dany. Dia takut dengan ancaman Lucas dan Jhon, Alden lebih memilih mengundurkan diri.
Dany sangat marah kemudian dia mencari pembunuh bayaran lain, kini pria itu sedang berbincang di sebuah club tepatnya di dalam vip. Dany memberikan foto Casey dan Asher kepada pembunuh bayaran dan memerintahkan untuk segera melakukan rencananya.
Karena bayaran sangat tinggi pembunuh bayaran itu menyanggupi permintaan Dany, dan segera menjalankan rencana yang sudah disusun oleh pria itu.
Kini pembunuh bayaran itu sedang mengawasi Mansion orang tua Isaiah dari jauh, dia tahu kediaman tuan Hynes pasti banyak penjaga. Begitu sabar dia mengamati para penjaga yang berjaga di depan pintu gerbang dengan menggunakan teropong.
Dia tidak bisa mengamati dari dekat karena tidak ingin dicurigai oleh mereka. Lewat teropong pembunuh bayaran itu melihat Isaiah dan Casey sedang masuk ke dalam mobil, akhirnya usaha menunggu pasangan suami istri itu tercapai. Dia akan mengikuti kendaraan yang di tumpangi Isaiah dan Casey.
__ADS_1
Saat mobil Casey dan Isaiah keluar dari Mansion, pembunuh bayaran itu melihat dua kendaraan roda empat yang terparkir di depan kediaman tuan Hynes mengikuti mobil yang di tumpangi oleh pasangan suami istri itu.
‘Itu pasti para pengawal yang di bayar oleh Casey,’ gumam pria itu pada dirinya sendiri lalu menghidupkan mobil dan mengikuti kendaraan Casey dan Isaiah.
Pembunuh bayaran itu mengambil jarak begitu jauh agar mereka tidak curiga kalau sedang diikuti olehnya. Dia melihat mobil Casey masuk ke parkiran supermarket, pembunuh bayaran berhenti sejenak lalu memarikan kendaraannya di seberang tempat perbelanjaan itu.
Pembunuh bayaran itu langsung masuk ke dalam gedung dan naik sampai ke lantai atas, dia mengatur senapan snipernya dan meneropong ke arah supermaket.
Sementara di parkiran, Casey dan Isaiah tidak tahu kalau sudah ada yang mengincar mereka tepatnya Casey. Dengan perlahan wanita itu mendorong kursi roda sang suami masuk ke dalam supermarket.
Sebenarnya Casey ingin datang sendiri tapi Isaiah bersih keras ingin menemani sang istri berbelanja, sudah lama dia tidak datang bersama wanita ini ke supermarket, dia terlihat sangat bosan berada di dalam rumah tanpa melakukan apapun.
Di dalam supermarket Casey mendorong troli sedangkan Isaiah menggerakkan kursi roda dengan tuas yang ada di sebelah kanan tangannya. Mereka berdua pergi ke tempat buah lalu pria itu meminta Casey untuk mengambil buah kiwi kesukaannya.
Casey menuruti permintaan Isaiah, dia juga mengambil buah apel, jeruk dan anggur. Casey berbelanja segala keperluan rumah tangga dan pribadinya serta Isaiah.
Begitu selesai mengambil segala keperluan mereka, Casey dan Isaiah pergi ke kasir untuk membayar belanjaannya. Dia dan Isaiah harus mengantri sebanyak empat orang di depan.
Sambil menunggu Casey dan Isaiah berbincang dan bersenda gurau, sesekali Casey mengecup kening sang suami dengan lembut. Isaiah sangat senang diperlakukan seperti itu oleh Casey.
“Wajah tampanmu tertutup dengan jenggotmu,” ujar Casey seraya berlutut di samping kursi roda Isaiah dan membelai jenggot suaminya.
“Nanti di rumah aku akan mencukurnya,” sahut Isaiah dengan memegang tangan Casey dan menggesekkan jenggotnya.
Para pengunjung yang sedang mengantri melihat pasangan suami istri itu tersenyum dan menganggumi mereka, terlebih kepada Casey.
Tiba giliran mereka Casey mengeluarkan semua belanjaannya dan meletakan di meja kasir, dia memperhatikan satu-persatu barang di scan oleh pegawai kasir. Selesai Casey membayar semuanya lalu mengajak Isaiah pergi.
Casey mendorong troly belanjaan sampai ke parkiran, dia memasukan barang yang dia beli ke bagasi di bantu oleh seorang pengawal. Saat Casey ingin mengembalikan troli tiba-tiba terdengar letusan senjata.
Isaiah yang masih berada di luar mobil langsung melihat ke arah Casey, dia terkejut melihat sang istri tergeletak di tanah. Spontan Isaiah berdiri dan berlari melihat keadaan Casey.
“Casey.” Isaiah memeluk istrinya yang sudah tidak sadarkan diri, dia melihat darah mengalir dari tubuh Casey.
“Ayo cepat ke rumah sakit,” perintah Isaiah kepada sopirnya dengan wajah khawatir. Isaiah masih tidak menyadari kalau dia sudah bisa berjalan. Sedangkan sopir masih heran menatap majikannya.
“Apa yang kau tunggu.” Isaiah membentak sopir karena masih tertegun menatap dirinya.
“Ah … iya, Tuan.” Sopir langsung menjalankan mobil menuju ke rumah sakit.
Sementara para pengawal masih mencari penembak jitu itu.
Di dalam mobil Isaiah memeluk Casey dan menangis, dia tidak ingin kehilangan wanita itu. Tiba di rumah sakit, dia langsung membuka pintu lalu menggendong Casey. Para petugas melihat Isaiah kemudian membantu pria itu.
Casey langsung di bawah keruang gawat darurat, sementara Isaiah menunggu di depan pintu. Dia mondar-mandir dan belum menyadari kalau dirinya sudah bisa berjalan sampai sopir datang menghampirinya.
“Tuan, Anda sudah bisa berjalan.” Isaiah berhenti dan memperhatikan kakinya kemudian menatap sopir dengan mengerutkan dahi.
“Bagaimana bisa?” Hanya kedua kata itu yang keluar dari mulut Isaiah, dia juga merasa heran kenapa dia sudah bisa berjalan.
“Saat nyonya terkena tembak Anda segera berdiri dan berlari menghampirinya, Tuan,” tutur sang sopir dengan wajah berbinar karena senang melihat tuannya sudah bisa berjalan.
Isaiah hanya diam kemudian duduk menunggu Casey yang masih di dalam ruangan, dia terlihat tidak tenang. Isaiah belum mengabarkan kepada keluarganya kalau Casey tertembak.
Sementara di kantor, terlihat Asher tidak tenang. Dia merasakan akan ada sesuatu terjadi, pria itu tidak tahu kalau Casey tertembak dan sedang berada di rumah sakit.
Anak buah yang mengawal Casey dan Isaiah belum mengabarkan apa yang terjadi kepada Casey. Asher menghentikan pekerjaannya kemudian meninggalkan kantor, dia ingin pergi ke Mansion orang tua Isaiah. Asher mengajak salah satu anak buahnya untuk ikut bersamanya.
Mereka meninggalkan parkiran menuju ke kediaman tuan Hyne, dia ingin melihat dan bermain dengan putra Casey dan Isaiah. Tidak menunggu lama, akhirnya dia tiba. Penjaga gerbang membukakan pintu untuk mobil yang ditumpangi Asher.
Asher turun dan menyapa tuan Hynes yang sedang bermain bersama dengan cucunya di taman. Dia tersenyum melihat putra Casey yang semakin lucu itu.
“Apakah Isaiah dan Casey di dalam?” tanya Asher seraya membelai pipi putra Casey.
__ADS_1
“Oh, dia dan Casey sedang pergi ke supermarket. Sebentar lagi mereka pulang,” sahut tuan Hynes dengan tersenyum dan melanjutkan bermain dengan cucunya.
Tidak berselang lama, nyonya Hynes keluar. Dia tersenyum melihat Asher lalu menyapanya. “Bagaimana kabarmu?” tanya nyonya Hynes seraya duduk di seberang Asher.
“Baik-baik saja, Nyonya.” Asher menjawab dengan tersenyum dan mengalihkan pandangannya kepada Enzo putra Casey dan Isaiah.
Tiba-tiba ponsel Asher berbunyi, dia mengeluarkan benda pipi berukura 6.7inch itu dan melihat ternyata anak buah yang selalu mengawal Casey dan Asher menghubunginya.
“Ya, ada apa?” tanya Asher dengan berdiri dan menjauh sedikit dari nonya Hynes. “Apa?” tuan dan nyonya Hynes terkejut begitu juga dengan Enzo, dia bahkan menangis mendengar teriakan Asher.
“Baik aku segera ke rumah sakit.” Asher menutup telepon dan menatap pasangan suami istri itu.
Sedangkan tuan dan nyonya Hynes menatap Asher dengan cemas, mereka tidak ingin lagi kabar buruk. Cukup sudah dengan apa yang terjadi kepada Isaiah, ada perasaan cemas saat melihat wajah Asher seperti itu.
“Tuan ….” Asher terhenti dan ragu-ragu ingin menyampaikan kabar yang baru saja dia dengar.
“Ada apa, Asher?” tanya nyonya Hynes seraya berdiri dan menghampiri pria itu.
“Um, Casey sedang berada di rumah sakit.” Tuan Hynes dan istrinya saling bertatap mata mendengar informasi dari Asher.
“Apa yang terjadi padanya?” Kembali tuan Hynes bertanya, dia khawatir karena Casey pergi bersama Isaiah sedangkan putranya itu tidak bisa berjalan.
“Dia tertembak di depan supermarket.”
“Apa?” Pekik tuan Hynes dan istrinya bersamaan, tuan Hynes langsung memanggil pengasuh dan memintanya untuk membawa Enzo ke dalam lalu mengajak istrinya untuk pergi ke rumah sakit.
Asher juga langsung masuk ke mobil dan meminta sopirnya untuk mengantar dia ke rumah sakit. Begitu juga pasangan suami istri itu, di dalam mobil nyonya Hynes memikirkan Isaiah. Dia takut terjadi sesuatu kepada putranya itu.
Tiba di rumah sakit, pasangan suami istri itu langsung berlari mencari Isaiah. Tuan Hynes dan nyonya terkejut melihat putra mereka sedang berdiri di depan pintu gawat darurat.
“Isaiah?” Nyonya Hynes langsung berlari memeluk putranya, dia sangat senang melihat Isaiah sudah bisa berjalan. “Sayang, kamu sudah bisa berjalan?” Nyonya Hynes menangis di pelukan Isaiah.
Begitu juga dengan tuan Hynes, dia terlihat bahagia tapi di sisi lain pria itu sedih mendengar menantunya tertembak. Dia menghampiri Isaiah dan memeluk putranya itu.
“Bagaimana keadaan Casey?” tanya tuan Hynes seraya melepaskan pelukkannya.
“Dia masih di dalam, dokter sedang mengeluarkan peluru dari tubuhnya.” Nyonya Hynes kembali memeluk Isaiah, dia terlihat sangat prihatin dengan apa yang dialami oleh Casey.
“Bagaimana dia bisa tertembak?” tanya tuan Hynes sambil mengajak sang istri juga putranya untuk duduk.
Isaiah menceritakan kejadiannya kepada kedua orang tuanya, dia juga tidak tahu siapa yang telah menembak Casey. Pria itu merasa bersalah tidak bisa melindungi istrinya.
“Jangan menyalahkan dirimu,” ujar Asher saat berada di dekat Isaiah. Dia sempat mendengar perbincangan pria itu dan kedua orang tuanya.
“Aku memang tidak berguna.” Isaiah tertunduk dan mengepalkan kedua tangannya.
“Tidak boleh berkata begitu, ini bukan salahmu.” Asher menepuk pelan punggung Isaiah dan menghibur pria itu. “Aku akan mencari siapa yang telah menembak Casey.” Isaiah mengangkat kepalanya dan menatap Asher, dia merasa tidak enak hati kepada Asher karena sudah terlalu banyak membantu dia dan Casey.
“Terima kasih, kamu selalu membantu kami. Entah bagaimana aku membalas semua kebaikanmu.” Asher tersenyum dan menatap Isaiah dan kedua orang tuanya.
“Jangan berterima kasih, Casey sudah ku anggap adikku, sebagai kakak aku harus melindunginya.” Mendengar ucapan Asher, tuan Hynes berdiri dan memeluk pria itu.
“Kamu pria yang sangat baik.” Awalnya tuan Hynes dan istrinya tidak begitu suka kepada Asher tapi seiring dengan apa yang pria itu lakukan kepada Isaiah dan Casey pasangan suami istri itu merasa berhutang budi kepada Asher dan keluarganya.
Sementara berbincang, pintu terbuka lalu seorang dokter datang menghampiri mereka, Isaiah dan Asher langsung berdiri dan bertanya keadaan Casey.
“Bagaimana keadaan istriku?” Dokter tersenyum dan meminta mereka tenang.
“Istri Anda sudah melewati masa kritis, kami mengeluarkan satu peluru yang bersarang di dada kirinya. Beruntung benda itu tidak mengenai jantung istri Anda.” Isaiah merasa lega, dari tadi pria itu khawatir dengan keadaan istrinya.
“Sebentar lagi nyonya akan dipindahkan di ruang perawatan.” Nyonya Hynes dan suaminya saling berpelukan merasa senang karena Casey baik-baik saja.
Begitu juga dengan Asher, dia menjadi tenang mendengarnya.
__ADS_1