Amor Prohibido (Cinta Terlarang)

Amor Prohibido (Cinta Terlarang)
Dia pikir aku wanita murahan


__ADS_3

Casey mendapat pesan dari Wesley kalau hari ini dia ditunggu di kantor, ternyata saat mereka berpisah di airport pria itu langsung menghubungi sepupu dari kakeknya. Casey langsung bersiap-siap.


Dia memasukan ijasah ke dalam amplop besar, Casey berdiri di depan cermin dan merapikan pakaiannya. Merasa sudah rapi Casey langsung meninggalkan hotel, dia menuju ke alamat yang di berikan Wesley kepadanya.


Tidak berselang lama Casey tiba di perusahaan itu, dia turun dari taxi dan memperhatikan gedung yang terlihat tinggi dan megah. Casey sudah berpikir ini pasti bukan perusahan biasa.


Melihat dari gedung yang begitu megah ini pasti perusahaan bonafit, Casey melangkahkan kaki masuk ke tempat itu. Dia terlihat gugup, matanya melihat sana-sini. Casey nampak bingung dia tidak tahu harus naik ke lantai berapa.


Gedung yang bernama Miller Plaza tower memiliki 52 lantai, seorang security memperhatikan Casey yang nampak kebingungan. Pria itu berjalan menghampiri Casey dan bertanya.


“Ada yang perlu saya bantu, Nona?” Casey langsung menoleh ke arah suara itu dan berusaha tersenyum.


“Iya, maaf. Aku  di minta untuk datang ke perusahaan Miller Corp oleh tuan Wesley,” jawab Casey dengan wajah ke bingungan sambil memperhatikan lobby yang begitu ramai orang masuk keluar.


“Oh … kalau Anda ingin ke perusahan Miller group silahkan gunakan lift nomor 15-20, itu khusus  ke perusahaan Miller Corp,” tutur security seraya mengajak Casey untuk ikut bersamanya.


Untuk pergi ke perusahan Miller Corp memang harus menggunakan lift sendiri, karena gedung itu di sewakan juga ke perusaha-perusahan lain sebagaia kantor. Casey masuk ke dalam lift lalu security itu menempel kartu akses dan menekan tombol angka 21. Casey menatap pria itu dan tersenyum, dia bersyukur ada yang membantunya.


“Terima kasih,” ucap Casey lalu pria itu menganggukan kepala dan langsung kembali ke depan lobby.


 Lift tertutup dan naik, saat tiba di lantai 21 Casey langsung pergi ke receptionis dan memberitahukan kepada wanita itu kalau dia ingin melamar pekerjaan.


“Oh … untuk bertemu dengan manager HRD Anda harus ke lantai 28, dan cari saja Oliver,” tutur sang receptionis sehingga membuat Casey menjadi bingung.


Casey merasa bodoh kenapa tidak bertanya kepada Wesley dia harus ke lantai berapa dan siapa yang harus dia temui.


“Terima kasih,” ucap Casey lalu dia pergi masuk kembali ke dalam lift dan menekan tombol angka 28.


Begitu tiba Casey langsung bertanya kepada seorang pria yang kebetulan sedang berdiri di dekat lift.


“Maaf, dimana ruangan tuan Oliver?” tanya Casey seraya memperhatikan ruangan yang begitu besar dan luas.


“Kamu ke arah sana, ruang Oliver ada di pojok kanan,” sahut pria itu seraya menunjuk kemana arah Casey harus pergi.


“Terima kasih,” ucap Casey lalu dia meninggalkan pria itu dan pergi keruangan yang di tunjuk itu. Casey mengetuk pintu lalu terdengar suara dari dalam suara seorang pria menyuruhnya masuk.


Pintu terbuka Casey melihat seorang pria sedang duduk di belakang meja, Casey sudah pastikan kalau dia adalah oliver karena melihat nama yang tertera di meja kerja pria itu. Dengan gugup Casey melangkah masuk dan menyapanya.


“Selamat pagi, Tuan,” ucap Casey dengan berdiri di depan pria itu.


“Oh … selamat pagi,” balas Oliver seraya berdiri menyambut Casey. “Silahkan duduk.” Casey duduk di sofa dan memperhatikan ruangan itu.


“Ada yang bisa aku bantu?” tanya pria itu seraya ikut duduk di sofa berhadapan dengan Casey.


“Um … aku ingin melamar pekerjaan,” jawab Casey sedikit gugup karena mata pria itu tidak lepas menatapnya.


“Oh iya, kebetulan kami sedang mencari tenaga accounting,” ujar pria itu dengan tersenyum sambil memperhatikan tubuh Casey.


“Itu bidangku, Tuan,” ungkap Casey dengan mengalihkan pandangannya. Casey tidak suka dengan tatapan pria itu.


“Anda sarjana?” Kembali pria itu bertanya.


“Iya, Tuan.” Pria itu tersenyum dan mengangguk-anggukan kepala.


Oliver melihat Casey sangat membutuhkan pekerjaan, dia memperhatikan wajah Casey lalu tersenyum sinis. Oliver berdiri dan duduk dekat dengan Casey sehingga membuat gadis itu merasa tidak nyaman.


“Kamu tahu, banyak yang datang melamar di tempat ini. Tapi belum aku terima.” Casey tidak mengerti maksud dari pria itu.


“Maksud, Tuan?” tanya Casey dengan mengerutkan dahi seraya menggeser duduknya menjauh dari pria itu.


“Begini, aku tahu kamu sangat menginginkan bekerja di tempat ini. Aku akan menerimamu asalkan malam ini kamu temani aku di hotel,” bisik pria itu di telinga Casey sambil menghembuskan napasnya di leher gadis itu.


Wajah Casey berubah merah, dia terlihat marah. Casey berdiri dan menatap tajam pria itu, walau’pun dia membutuhkan pekerjaan tapi kalau harus menemani orang itu Casey memilih mundur.


“Maaf, aku tidak berminat.” Casey langsung meninggalkan pria itu lalu masuk ke lift.

__ADS_1


‘Dia pikir aku wanita murahan, lebih baik aku tidak bekerja dari pada harus menemaninya di hotel.” Di dalam lift Casey menggerutu, wajahnya terlihat sangat kesal.


Tanpa dia sadari seorang pria tua mendengar semua apa yang dia katakan.  Lelaki itu tersenyum, dan menggeleng-gelengkan kepala. Saat akan meninggalkan gedung itu seorang security memanggil Casey. Langkah kaki gadis itu terhenti dan menoleh ke belakang.


“Nona, President Direktur meminta Anda untuk ke ruangannya,” tutur security seraya mengajak Casey untuk kembali ke dalam.


Dengan terheran-heran Casey kembali ke dalam gedung, dia dan security pergi ke ruangan Presiden direktur. Pria itu mengetuk pintu, lalu terdengar dari dalam menyuruh mereka masuk.


“Tuan, ini yang Anda maksud?” tanya security sambil menunjuk ke arah Casey.


“Ya, dia,” sahut President Direktur dengan menganggukan kepala. “Silahkan duduk, Nona,” ujar pria tua itu dengan tersenyum kepada Casey.


Casey duduk, dia terlihat masih bingung. Kenapa pimpinan memanggilnya. Bukankah pria ini yang ada di lift tadi? Gumam Casey dalam hati sambil memperhatikan pria tua itu duduk di hadapannya.


“Siapa namamu?” tanya pria itu dengan mengembangkan senyum kepada Casey.


“Casey, Tuan.” Pria itu mengangguk-anggukan kepala dan memperhatikan wajah gadis itu.


“Apaka kamu datang untuk melamar pekerjaan?” Kembali pria itu bertanya, dia penasaran dengan gerutu Casey di lift tadi.


“Iya, Tuan. Tapi aku tidak berminat lagi, sahut Casey dengan wajah sedih.


“Kenapa?” tanya pria itu, walaupun dia sudah mendengar di lift tapi dia ingin tahu langsung dari Casey.


“Oh ya, aku Frank pemilik perusahan ini.” Casey mengangkat kedua alisnya menatap tuan Frank.


“Tuan pemilik perusahan ini?” tanya Casey dengan wajah heran lalu pria itu menganggukan kepala.


“Kamu belum jawab pertanyaanku,” ujar tuan Frank dengan kembali tersenyum.


“Aku sangat ingin kerja di tempat ini tapi ….” Casey terhenti dan menatap tuan Frank.


“Tapi kenapa?” tanya tuan Frank dengan mengerutkan dahi.


“Aku tidak ingin mendapatkan pekerjaan dengan cara yang tidak baik,” sahut Casey seraya menundukan kepala.


“Aku bisa bekerja di tempat ini asalkan menemani pria itu di hotel malam ini.” Tuan Frank terkekeh mendengar penjelasan Casey.


“Siapa pria itu?” tanya tuan Frank dengan kesal.


“Manager HRD,” jawab Casey dengan suara pelan.


“Oh, dia. Baiklah, besok kamu mulai bekerja menjadi asistenku.” Casey melototkan mata, dia tidak percaya kalau tuan Frank menjadikannya sebagai asisten.


“Benarkah, Tuan?” tanya Casey dengan wajah yang terlihat sangat senang. Bagaimana mana bisa tuan Frank langsung menjadikan dia asisten pribadi.


“Iya, besok kamu harus menempati ruangan yang ada di sebelah itu,” tutur tuan Frank seraya tersenyum dan menunjukan ruangan yang akan di gunakan Casey hanya berbatas kaca dengan ruangannya.


Saat pertama kali melihat Casey di lift tuan Frank langsung simpati kepadanya sehingga dia meminta security untuk mengejar Casey. Ada yang membuat dia tertarik kepada gadis itu.


“Terima kasih, Tuan. Anda baik sekali,” ucap Casey dengan menyalami tuan Frank.


“Sama-sama, jangan lupa besok harus datang cepat,” pesan tuan Frank seraya menepuk pelan lengan Casey.


“Baik, Tuan. Kalau begitu aku permisi,” pamit Casey seraya berdiri, kembali dia menyalami tuan Frank dan meninggalkan gedung itu.


Perginya Casey, tuan Frank langsung memanggil kepala bagian HRD, dia meminta untuk memecat pria itu. Tuan Frank tidak ingin nama perusahaannya di rusak oleh orang-orang seperti itu.


Casey tiba di hotel, wajahnya terlihat sangat ceria. Gadis itu sangat senang karena hari ini dia mendapatkan pekerjaan. Casey masuk ke kamar dan mengeluarkan laptop, dia ingin mencari apartemen yang disewakan.


Dia menemukan satu apartemen dekat dengan kantornya, Casey tertarik dengan tempat itu karena dia bisa berjalan kaki ke tempat kerja. Casey langsung menghubungi nomor yang tertera di sana.


Casey ingin melihat ruang apartemen itu, dia meminta kepada marketing untuk bertemu di gedung tersebut. Casey mematikan laptop dan meninggalkan hotel.


Dia pergi ke gedung itu, Casey tiba dan menelepon sang marketing. Casey memberitahukan kalau dia sudah menunggu di lobby.

__ADS_1


Tidak berselang lama, marketing datang dan mengantar Casey ke ruang apartemen yang berada di lantai 18. Casey masuk dan memperhatikan tempat itu.


Dia berdiri di depan jendela kaca dan memperhatikan gedung-gedung bertingkat yang menjulang tinggi di kota Houston. Casey juga bisa melihat perusahan yang akan menjadi tempatnya bekerja.


Merasa cocok, Casey langsung membayar sewa apartemen tersebut, hari ini dia ingin langsung pindah di tempat itu. Casey tidak perlu mengatur ruangan lagi karena sudah terlihat rapi dan bersih.


Selesai melakukan transaksi Casey kembali ke hotel dan mengambil koper kemudian pergi ke apartemen. Tidak lama di gedung itu Casey pergi ke pusat perbelanjaan, dia ingin membeli pakaian untuk kerja.


Valencia


Sudah beberapa hari Zelo tidak mendapatkan informasi tentang Casey, pria itu nampak stress. Tidak tahu lagi kemana dia akan mencari Casey, gadis itu hilang bagaikan di telan bumi.


Ingin bertanya kepada Diaz dan Anna sudah pasti mereka tidak akan mengatakan dimana Casey berada, Zelo menjadi putus asah. Dengan kepergian Casey pria itu banyak berdiam diri, dan terus menyalahkan dirinya.


Zelo sudah tidak memperdulikan perusahaan yang dipercayakan tuan Alvin kepadanya, pria itu tidak bersemangat lagi dan terus mengurung diri dalam kamar. Makanan yang dibawakan pelayan sama sekali tidak disentuh.


Pesan Casey yang ditunjukan Diaz kepadanya masih terbayang diingatannya, ini membuat Zelo sangat tersika dan bersalah. Tapi hal lebih menyakitkan saat membaca dimana Casey memuji permainan ayahnya.


Tatapan Zelo menjadi tajam, dia meninggalkan kamar dan mengambil kunci mobil. Zelo langsung menuju ke suatu tempat, dia ingin melupakan Casey.


Tidak berselang lama Zelo tiba, dia turun dari mobil dan menghampiri seorang pria yang sedang berdiri di depan rumah sambil merokok.


“Apakah Felix di dalam?” tanya Zelo sambil memperhatikan tempat itu.


Pria itu terkejut melihat Zelo, pikirnya Zelo akan kembali menghajar mereka seperti waktu itu. Dia terlihat gugup dan melangkah mundur menjauh dari Zelo.


“Aku bertanya kepadamu, kenapa diam saja?” bentak Zelo dengan menatap tajam pria itu.


“Iya, Felix ada di dalam,” sahut pria itu dengan gugup lalu Zelo langsung masuk menemui Felix.


Melihat Zelo, Felix langsung berdiri. Ada ketakutan di wajahnya saat pria itu menampakan diri di hadapannya. Dia berdiri dan sedikit menjauh dari Zelo, Felix takut kalau Zelo memukul dirinya.


“Ada apa kamu datang kesini?” tanya Felix dengan heran sambil memperhatikan apakah Zelo datang sendiri.


“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” sahut Zelo seraya duduk dan tersenyum kepada Felix.


Raut wajah Felix berubah tenang melihat Zelo datang dengan bersahabat, dia kembali duduk dan menyuruh anak buahnya untuk membuatkan mereka kopi.


“Apa yang ingin kamu bicarakan?” Kembali Felix bertanya dengan menatap wajah Zelo. Dia melihat ada yang lain dengan pria itu.


“Begini, Felix.” Zelo berhenti lalu berdiri dan duduk di dekat kakak Jaime. “Apakah kamu tahu pengedar heroin di kota ini?” tanya Zelo dengan berbisik di telinga Felix.


Felix menatap Zelo dengan heran, ada apa dengan pria ini. Mengapa dia menanyakan benda tersebut? Apakah dia informan polisi? Tapi itu tidak mungkin.


“Mengapa kamu bertanya hal itu?” Lagi-lagi Felix bertanya, dia tahu siapa saja pengedar yang ada di kota Valencia tapi pria itu sangat berhati-hati.


“Aku membutuhkannya,” jawab Zelo dengan bersandar di sandaran sofa dan menatap Felix.


“Benarkah? Tapi untuk apa?” Felix terlihat bingung, mengapa Zelo mencari barang seperti itu. Apakah dia sedang ada masalah, ah sungguh membuat Felix bertanya-tanya dalam hati.


“Untuk aku, tolong carikan aku barang itu,” pinta Zelo dengan memohon kepada Felix. Zelo ingin melupakan Casey dengan menggunakan bubuk tersebut.


Mungkin dengan cara ini dia bisa lupa orang yang sangat dicintainya. Zelo terus membujuk Felix agar menyediakan barang tersebut untuknya.


Akhirnya Felix mau membantu Zelo, dia menelepon salah satu pengedar dan memintanya untuk datang ke tempat mereka dengan membawa barang yang diinginkan oleh Zelo.


Zelo terlihat senang, dia menepuk punggung Felix dan mengambil rokok yang di meja lalu menyalakannya. Zelo menghirup asap itu dengan dalam kemudian menghembuskan ke atas.


Sementara Felix dia masih bingung, apa yang terjadi kepada Zelo sungguh membuat dia sangat penasaran, setahu pria itu Zelo tidak pernah menggunakan barang itu.


Apakah  hubunganya dengan Casey sedang bermasalah? Felix memperhatikan Zelo dan menggeleng-gelengkan kepala.


Selamat membaca


Jangan lupa like dan komentar ya

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2