Amor Prohibido (Cinta Terlarang)

Amor Prohibido (Cinta Terlarang)
Namanya Asher


__ADS_3

Walau’pun dalam keadaan hamil, Alice tetap pergi ke kantor. Sebagai asisten wanita itu tidak ingin meninggalkan perkerjaan yang di percayakan tuan Frank dan Rosse kepadanya.


Apalagi saat ini Rosse dalam keadaan sakit, dia terkena kanker payudara. Pengobatan untuk Rosse sudah terlambat, karena kanker sudah menyebar bahkan merusak jaringan sel yang ada di dalam tubuh wanita itu. Penyakit yang di derita Rosse sudah stadium akhir.


Beruntung Alice mempunyai suami yang sangat pengertian, Nathan selalu menemaninya untuk menemui Rosse karena pria itu tahu bagaimana dekatnya sang istri dan sahabatnya.


Seperti saat ini, sepasang suami istri itu sedang berada di rumah sakit dan berbincang dengan Rosse. Alice dan Nathan selalu menghibur wanita itu, walau’pun dia tahu umurnya tidak lama lagi.


Sementara ayah Rosse, dia sangat merasa sangat beruntung karena ada Alice. Setidaknya wanita itu bisa mengurangi kesedihan putrinya, apalagi hanya dia anak satu-satunya. Disaat sendiri tuan Frank terkadang menangis, entah apa jadinya kalau Rosse meninggalkannya.


Tuan Frank hanya duduk dan memperhatikan Rosse dan Alice berbincang. Walau dalam keadaan sedih tapi di depan sang putri pria itu selalu tersenyum.


Sedangkan kekasih Rosse sedang berada di Italy, dia tidak tahu kalau Rosse sedang dalam keadaan sakit. Putri tuan Frank sengaja menyembunyikan penyakitnya kepada pria itu.


****


Terdengar tangisan bayi di ruangan bersalin, Alice baru saja melahirkan anak laki-laki. Nathan terus mendampingi istrinya selama proses melahirkan. Sementara tuan Smith sangat bahagia karena pada akhirnya sang menantu melahirkan baginya cucu laki-laki.


Sedangkan  istrinya  terlihat biasa saja, wajahnya tetap datar. Wanita itu bahkan menunjukan rasa tidak suka atas kelahiran putra Nathan. Dia justru menjadi was-was sang suami akan lebih menyayangi putra Nathan dari pada putri Dany.


Mereka masih menunggu putra mereka yang sedang menemani istrinya di ruang bersalin. Tidak lama kemudian Nathan keluar dan menghampiri kedua orang tuanya, tuan Smith langsung memeluk Nathan dengan erat. Dia terlihat sangat bahagia, berulang kali dia mengecup pipi pria itu.


"Ayah ingin melihat anakku?" tanya Nathan dengan melepas pelukan tuan Smith.


"Tentu saja Anakku," jawab tuan Smith dengan wajah berbinar lalu Nathan mengajak ayah dan ibunya pergi ke ruang bayi.


Mereka berdiri di depan jendela lalu Nathan menunjukan bayi itu kepada ayahnya. Wajah tuan Smith sangat bahagia, dia terlihat tidak sabar lagi ingin menggendong bayi itu.


"Aku tidak sabar lagi ingin menggendongnya," ujar pria itu lalu Nathan tertawa dia menatap sang ibu yang sedari tadi hanya diam saja. Nathan memperhatikan wajah nyonya Smith yang terlihat tidak suka dengan kelahiran putranya.


"Apakah mommy tidak bahagia memiliki cucu dariku?" Wanita itu merubah raut wajahnya berpura-pura senang, dia tidak ingin menunjukan kepada Nathan rasa tidak sukanya.


"Tentu saja aku bahagia." Dia berpura-pura memeluk Nathan dan mencium pipi putranya. "Putramu terlihat sangat tampan." Wanita memuji, tetapi dalam hatinya dia tidak suka.


"Terima kasih, Mom." Nathan kembali melihat bayi itu lalu dia tersenyum, dia sangat senang melihat ayahnya bahagia dengan kelahiran putranya.


Akhirnya Alice di pindahkan di pavilium, Nathan dan ayahnya tampak senang melihat bayi yang di gendong suster. Sedangkan ibu mertua, dia hanya duduk dan memperhatikan suami dan anaknya berebutan ingin menggendong bayi itu.


"Nathan siapa nama cucuku ini," tanya pria itu seraya duduk dan meletakan bayi di pahanya lalu Nathan menghampiri tuan Smith dan membelai pipi putranya


"Asher, Dad." Alice hanya tersenyum mendengar sang suami memberi nama kepada putranya.


"Asher, kamu sangat tampan seperti ayahmu." Nathan tertawa mendengar pujian sang ayah.


"Mommy tidak ingin menggendongnya?" tanya Nathan lalu wanita itu pura-pura tersenyum kemudian berdiri menghampiri suaminya dan membelai pipi Asher.

__ADS_1


"Tentu saja aku ingin menggendongnya, tapi ayahmu belum puas dengan cucunya." Nathan dan tuan Smith tertawa sedangkan Alice dia hanya tersenyum melihat mereka bertiga.


Lalu masuk adik Nathan bersama anak dan istrinya, wajah pria itu sempat berubah melihat tuan Smith begitu bahagia menggendong cucunya. Dia cepat merubah raut wajah dan menyapa Nathan.


"Akhirnya anakmu lahir, selamat ya." Dia mengucapkan ucapan bahagia sambil memeluk Nathan dan meletakan bingkisan di atas meja.


"Terima kasih, Dany." Nathan melihat keponakannya kemudian dia memeluk dan mencium pipi anak itu.


"Apakah kamu sudah sekolah?" tanya Nathan dengan mencubit pipi putri Dany.


"Iya, Paman." Nathan tersenyum kemudian mendudukan ponakannya lalu dia berbincang dengan Dany adiknya.


"Oh ya, bagaimana bisnismu?" tanya Nathan seraya duduk di sisi tempat tidur dan memegang tangan  Alice.


"Semakin bagus," jawab Dani dengan berusaha tersenyum. Dia sangat iri melihat sang ayah bermain bersama putra Nathan.


‘Dia bahkan tidak melihat kalau putriku ada, menyapanya saja tidak.’ Dany terlihat sangat kesal, ingin cepat-cepat dia meninggalkan paviliun itu.


Tanpa Dani sadari kalau Alice memperhatikan raut wajahnya, wanita itu tahu kalau adik ipar tidak begitu suka dengan suaminya. Di depan mereka saja dia berpura-pura senang, Alice juga memperhatikan istri Dany yang sedari tadi hanya diam melihat ayah mertua bermain dengan putranya.


"Aku senang mendengarnya," ujar Nathan kemudian dia berdiri dan mengambil putranya dari tuan Smith.


Mereka berbincang-bincang sedangkan istri Dany dan Alice hanya diam memperhatikan ketiga orang itu, sang ibu mertua lebih memilih bermain bersama cucu perempuannya. Alice memperhatikan wanita itu begitu sayang kepada putri Dany dan Lea.


Pria itu langsung menghampiri Alice dan memeluknya, dia juga menyapa tuan Smith beserta nyonya Smith juga Dany serta Lea. Melihat Asher dalam gendongan Nathan, tuan Frank langsung meminta untuk menggendongnya.


Dengan senang hati Nathan memberikan Asher kepada tuan Frank, nampak wajah pria itu bahagia melihat putra dari Alice. Dia membelai pipi halus Asher dengan ibu jarinya.


****


Akhirnya Alice kembali ke rumah, dia mencium Asher dan meletakannya di box bayi. Wanita itu tersenyum dan membelai pipi putranya lalu Nathan masuk dan memeluk Alice dari belakang.


"Kamu lihat daddy begitu bahagia dengan kelahiran Asher." Alice hanya tersenyum dan memegang tangan suaminya yang melingkar di perut.


"Iya, aku melihatnya tapi ibumu aku perhatikan kepura-puraan di wajahnya," ujar Alice dengan wajah sedih lalu Nathan membelai rambut istrinya, sebenarnya dia juga tahu kalau ibunya hanya berpura-pura bahagia di depan mereka tapi dia memilih diam.


"Biarkan saja, Sayang. Yang penting aku dan daddy sangat bahagia." Dia mengecup ubun kepala istrinya kemudian pergi ke kamarnya dan berbaring.


Alice mengikuti Nathan ke kamar, dia duduk di sisi tempat tidur dan memegang tangan suaminya. Nathan bangun dan duduk di tempat tidur kemudian dia membelai dengan lembut pipi Alice.


"Beb, aku ingin mencari pengasuh untuk putra kita." Dengan mengkerutkan dahi Nathan menatap istrinya.


"Kenapa kamu ingin mencari pengasuh?" tanya Nathan dengan heran.


"Kamu tahu sendiri aku bekerja dan cutiku hanya tiga bulan saja." Raut wajah Nathan berubah, dia tidak ingin  istrinya bekerja lagi.

__ADS_1


"Sayang, bagaimana kalau kamu berhenti bekerja dan mengurus anak kita. Biar aku saja yang bekerja lagi pula ekonomi kita lebih dari cukup." Mendengar permintaan sang suami Alice berdiri kemudian  duduk di sofa.


"Bekerja saja ibumu memandang aku sebelah mata apa lagi kalau aku tidak bekerja, dia akan lebih merendahkanku." Nathan turun dari tempat tidur dan duduk di samping istrinya.


"Sayang, aku sudah katakan berulang kali padamu. Jangan hiraukan dia. Fokus saja kepada anak kita, mommy dan daddy tidak tinggal di sini untuk apa kamu pikirkan." Alice menatap dengan heran suaminya.


"Kamu begitu mudah mengatakannya tapi coba kalau dirimu ada di posisiku. Pokoknya aku tidak akan berhenti bekerja, lagi pula aku baru naik jabatan.” Nathan tidak bisa berbantah dengan Alice, keinginan sang istri sudah bulat.


"Baiklah, terserah kamu saja." Dia berdiri kemudian berbaring kembali di ranjang. Alice ikut berdiri dan duduk di sisi tempat tidur lalu dia memegang tangan suaminya.


"Apakah kamu marah?" Nathan tersenyum dan menggelengkan kepala kemudian  menarik tangan sang istri untuk berbaring di sampingnya.


"Aku tidak bisa marah kepada wanita yang aku cintai," canda Nathan dan mengecup kuncup kepala Alice kemudian dia menindih tubuh wanita itu.


Alice sangat senang mendengarnya kemudian dia mencium bibir Nathan, mereka saling berciuman dengan lama lalu tangan pria itu mulai menggerayangi tubuh  istrinya.


 Alice mendorong tubuh Nathan dan bangun kemudian membuka laptop, dia ingin mencari pengasuh di internet untuk putranya.


Baru saja laptop menyala, ponsel Alice berbunyi. Dia melihat panggilan dari tuan Frank, Alice mengerutkan dahi dan menjawab telepon dari pria itu.


“Hallo, Tuan. Apakah semua baik-baik saja?” Memang setelah melahirkan Asher Alice belum menemui Rosse, dia berencana besok dia akan ke rumah sakit untuk menengok sahabat yang sudah di anggap saudaranya.


“A--Alice ….” Suara tuan Frank terbata-bata, Alice langsung curiga pasti sudah terjadi sesuatu kepada Rosse.


“Tuan, apa yang terjadi?” Jantung Alice berdebar dengan cepat.


“Rosse ….” Tuan Frank tidak melanjutkan bicara hanya terdengar menangis.


“Apakah Rosse baik-baik saja?” Kembali Alice bertanya. Sementara Nathan melihat wajah khawatir Alice dia langsung bangun dan menghampiri istrinya.


“Rosse sudah pergi.” Ponsel Alice langsung jatuh di lantai, dia shock mendengar sahabatnya meninggal.


Nathan langsung memeluk Alice dan membiarkan wanita itu menangis di pelukkannya. Dia merasakan kesedihan sang istri kehilangan sahabat terbaiknya.


“Kamu ingin ke rumah sakit?” tanya Nathan dengan membelai rambut sang istri.


“Iya, tapi bagaimana dengan Asher?” tanya Alice dengan melepaskan pelukan Nathan dan menatap wajah pria itu.


“Pompa asinya, nanti aku akan meminta sopir untuk mengantarmu ke rumah sakit.” Alice mengikuti saran Nathan, dia memompa asinya dan memasukkan ke dalam botol susu.


Sementara Nathan menghubungi sopir untuk mengantar Alice ke rumah sakit.


Jangan lupa Like dan komentarnya ya


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2