Amor Prohibido (Cinta Terlarang)

Amor Prohibido (Cinta Terlarang)
Tidak percaya


__ADS_3

Setelah empat hari di ruma sakit, akhirnya Casey diijinkan dokter untuk pulang. Kini sepasang suami istri itu sedang berkumpul di kediaman tuan Hynes.


Casey sangat rindu kepada putranya, dia mengajak Enzo bermain di lantai. Melihat istri dan putranya Isaiah ikut duduk dan bermain dengan mereka.


Enzo kegirangan karena empat hari tidak melihat mommynya, dia bermanja-manja kepada Casey. Putra Casey dan Isaiah sudah bisa merayap, usianya sudah memasuki empat bulan.


Sementara di suatu tempat nampak Alden sedang berbincang-bincang dengan orang yang telah menembak Casey. Dia berpura-pura mengajak kerjama sama kepada pria itu, dan menyarankan untuk datang ke Houston.


Karena membutuhkan biaya putrinya yang sedang mengalami penyakit, pria itu menyutujui ajakan dari Alden. Dia mengikuti orang suruhan Lucas pergi ke kota Houston. Pikirnya bayaran yang ditawarkan Alden sangat tinggi.


Saat tiba di Houston Alden dengan mudahnya membawa pria itu ke markas Lucas, orang yang menembak Casey sama sekali tidak curiga kepada Alden. Saat tiba, dia dibawah menghadap Lucas.


Sebelum tiba di markas Alden sudah mengirimkan pesan kepada Asher dan Lucas kalau dia berhasil membawa pria yang menembak Casey. Kini Asher dan Lucas sudah lebih dulu berada di villa setelah mendapat kabar dari Alden.


Begitu masuk Asher melihat pria itu dengan tatapan marah, tanpa banyak bertanya dia langsung melayangkan pukulannya di wajah orang yang menembak Casey.


Pria itu terkejut dan bangkit berdiri, dia menatap heran kepada Asher juga Alden. Kini dia paham sekarang ternyata dirinya terkena  jebakan, dia begitu marah kepada Alden.


“Kamu menjebakku?” Pria itu begitu geram kepada Alden, dia menyesal mengapa langsung percaya kepada pria itu.


“Berani sekali kamu menembak Casey, sekarang aku akan melenyapkanmu.” Asher mengambil pistol dan mengarahkan ke kepala pria itu.


“Aku hanya diperintahkan oleh seseorang.” Pria itu berlutut dan memeluk Asher, dia tidak ingin mati mengingat putrinya yang sedang sakit. “Aku membutuhkan biaya pengobatan putriku yang masih berumur 2 tahun.


“Siapa namamu dan yang menyuruhmu untuk menembak Casey.” Untuk keselmatan dirinya serta sang putri akhirnya pria itu mengaku.


“Tuan Dany yang memintaku untuk melenyapkan Casey, aku menerimanya karena membutuhkan biaya pengobatan putriku,” turu pria itu dengan wajah ketakutan.


“Namamu?” Kembali Asher bertanya karena pria itu belum menjawab pertanyaan Asher.


“Osvaldo, Tuan.” Asher menarik kursi dan menyuruh pria itu duduk.


“Sebenarnya aku ingin melenyapkanmu tapi mengingat putri Anda yang lagi sakit aku memaafkanmu tapi ….” Pria itu langsung menatap Asher karena penasaran apa yang ingin di katakan oleh mantan Casey.


“Aku ingin kamu melenyapkan Dany.” Osvaldo tertegun, dia menjadi bingung dengan permintaan Asher.


Asher sengaja meminta pria itu untuk melenyapkan Dany karena tidak ingin mengotori tangannya, dia ingin membalas dendam atas kematian kedua orang tuanya kepada pria itu.


“Bagaimana? Aku janji kalau kamu berhasil, biaya pengobatan putrimu akanku tanggung.” Osvaldo kembali berpikir tentang penawaran Asher, mengingat sang putri akhirnya pria itu menyetujuinya.


“Baiklah, Tuan. Akan aku lakukan seperti permintaanmu.” Asher tersenyum dan menepuk punggung pria itu.


“Bagus, tapi kalau kamu mengkhianatiku maka akanku habisi semua keluargamu.” Osvaldo menjadi takut, dia cepat-cepat menggelengkan kepala.


“Tidak, Tuan. Percaya padaku, aku tidak akan mengkhianatimu.”  Asher tersenyum smirk, kini keinginannya terkabul untuk membunuh orang yang sudah mengambil nyawa kedua orang tuanya.


“Lakukan secepatnya.” Kembali Asher memberi perintah kepada Osvaldo.


“Baik, Tuan.” Osvaldo berdiri kemudian menatap Alden dan mengajak pria itu untuk pergi bersamanya.


Osvaldo dan Alden meninggalkan villa, di dalam mobil mereka berdua saling diam. Osvaldo merasa kesal kepada Alden karena sudah menjebaknya.


“Maaf, hanya dengan cara itu aku bisa membawamu kepada mereka. Aku juga di ancam.” Akhirnya Alden lebih dulu buka suara, dia merasa tidak enak hati kepada Osvaldo.


“Aku masih kesal padamu.” Sambil berucap Osvaldo menatap keluar jendela.


“Walaupun aku tidak membawamu, mereka tetap akan menemukanmu, kamu tidak tahu siapa Lucas dan Jhon.” Osvaldos tetap diam, dia masih malas meladeni Alden.


Akhirnya Alden tiba di kediamannya, dia mengajak Osvaldo masuk lalu menyuruh pria itu duduk sementara dia pergi ke dapur mengambil gelas dan air mineral untuk Osvaldo kemudian kembali ke ruang tengah.


“Kamu tidak akan rugi melakukan perintah Asher, dia pria yang baik,” tutur Alden seraya meletakan gelas yang berisikan air meniral di meja dan menyuruhnya minum.


“Kenapa Dany sangat ingin membunuh Casey dan apa hubungan wanita itu dengan Asher?” tanya Osvaldo seraya mengmbil gelas dari meja.


“Panjang ceritanya, tapi yang pasti aku mendengar dari Jhon kalau Dany penyebab kematian kedua orang tua Asher sedangkan Casey hanya sebuah dendam dari Dany karena proyek saja.” Osvaldo menganggukan kepala tanda mengerti.

__ADS_1


“Kapan orang tua Asher meninggal.” Kembali Osvaldo bertanya karena penasaran saja.


“Saat Asher dan adiknya masih kecil, mereka berumur kalau tidak salah 10 dan 7 tahun.” Osvaldo membulatkan mata sempurna menatap Alden.


“Jadi mereka kehilangan kedua orang tuanya saat masih kecil?” Alden menganggukan kepala menjawab pertanyaa Osvaldo. “Kalau aku tahu dia seorang pembunuh, tidak akanku ikuti perintahnya.” Nampak penyesalan di wajah Osvaldo. “Aku akan menjalankan apa yang diminta oleh Asher.” Kini Osvaldo bertekad untuk membantu melenyapkan Dany.


Sementara di markas Lucas nampak Asher dan Lucas tersenyum mendengar perbincangan Alden dan Osvaldo, Jhon memang sengaja memasang alat penyadap di tubuh Alden agar mereka bisa memantau apa yang akan dilakukan oleh Osvaldo.


“Aku tidak perlu mengotori tanganku dengan membunuh pria iblis itu,” ujar Asher dengan menarik sudut bibirnya sehingga terbentuk senyum sinis. Pria yang dimaksud Asher adalah paman tirinya yaitu Dany.


“Ya benar, hanya sekarang kamu harus fokus kepada orang yang menginginkan kematian Isaiah. Sepertinya dia bukan orang sembarangan, kita harus hati-hati.” Asher menganggukan kepala mendengar masukan dari Lucas, apa yang dikatakan pria itu sangat benar.


Kini dia akan fokus mencari tahu siapa pria di balik layar itu, karena Asher berpikir untuk apa seorang mafia Italy ingin membunuh Isaiah. Pasti ada yang membayarnya.


“Benar sekali, tunggu waktu saja. Aku masih ingin menyelesaikan pekerjaan proyek di Venezuela,” sahut Asher. “Jangan pernah berhenti, tetap cari informasi tentang pria itu.” Asher berdiri kemudian melangkahkan kaki meninggalkan villa.


Asher sebenarnya sudah tahu siapa dalang dari pria yang menabrak Isaiah, dia hanya ingin memastikan saja benarkah apa yang dia curigai itu dengan mengumpulkan informasi dari anak buahnya serta orang kepercayaan tuan Moralez.


Begitu apa yang dia curigai benar maka dia akan segera menyerang pria itu bahkan membongkar kedok mengapa dia selalu mengejar Casey kepada istrinya. Sebelum membunuhnya Asher ingin menyiksa lelaki yang berhati iblis itu.


Sementara di kediaman Alden, nampak Osvaldo sedang menyiapkan senjatanya. Pria itu segera ingin menjalankan apa yang diperintahkan oleh Asher. Osvaldo tidak suka menunda-nunda pekerjaan, kalau bisa hari ini diselesaikan dia akan melakukannya.


“Mau kemana?” tanya Alden saat Osvaldo mengatur tas di punggungnya.


“Menjalankan perintah Asher, aku tidak suka menundah-nundah.” Alden melengkungkan bibirnya kemudian memberikan kunci mobil kepada Osvaldo.


“Pakai mobilku.” Osvaldo menangkap kunci mobil yang dilemparkan Alden kemudian meninggalkan kediaman sahabatnya itu.


Osvaldo ingin pergi ke kantor Dany, dia ingin mengawas pria itu. Osvaldo ingin menyelesaikan pekerjaannya hari ini.


Di tempat lain, nampak tuan Smith sedang menuju ke kediaman putranya yang sekarang ditempati oleh Asher cucunya. Pria itu tiba lalu menyapa pelayan yang sudah lama mengurus rumah itu.


“Apakah Asher di rumah?” tanya tuan Smith seraya melangkahkan kaki menuju ke ruang tengan.


“Apakah dia sering menginap disini?” Kembali pria tua itu bertanya.


“Hanya seminggu dua kali.” Tuan Smith menganggukan  kemudian dia meninggalkan kediaman putranya dan pergi ke kantor Asher.


Tidak menunggu lama pria tua itu tiba lalu menuju ke ruang kerja sang cucu. Tanpa mengetuk pintu tuan Smith masuk dan melihat Asher tidak ada disana.


Dia menghembuskan napas dengan kasar kemudian duduk di kursi kerja sambil memperhatikan foto putra dan menantunya yang ada di meja.


Tidak tahu apa yang harus dilakukan di kantor Asher, tuan Smith memeriksa lemari yang terdapat file juga foto-foto putra dan menantunya. Dia mengambil salah satu figura kecil yang berada di belakang file. ‘Kenapa ini berada di belakang sekali.’


Sambil membersihkan figura itu dia merasakan sesuatu di belakang benda itu, tuan Smith mengambilnya dan mengerutkan dahi ternyata sebuah kalung yang pernah dia berikan kepada Asher dan Casey saat di pesawat.


‘Kenapa kalung milik Asher di tempelkan di belakang figura ini?’ gumam tuan Smith sambil melepaskan benda yang menempel di balik figura tersebut.


Tuan Smith membuka buah kalung yang berbentuk kotak itu lalu melihat  dua buah foto  bersebelahan. Yang satunya saat masih kecil lalu sebelahnya sudah dewasa pria tua berpikir itu adalah kalung milik Asher tapi ternyata bukan.


Kalung itu milik Zelda, lebih terkejut lagi melihat foto wanita dewasa itu. Tuan Smith memegang dada kirinya lalu duduk di kursi, tiba-tiba pria itu pingsan bertepatan sekertaris Asher masuk.


Wanita itu terkejut melihat tuan Smith, dia segera berlari keluar meminta bantuan. Sopir pribadi tuan Smit langsung masuk dan mengangkat pria tua itu dan melarikannya ke rumah sakit.


Begitu tiba para petugas langsug membawa tuan Smith ke ruang PICU, dokter spesialis ahli jantung langsung menangani pria tua itu. Jantung tuan Smit berhenti sehingga membuat beberapa dokter harus melakukan pertolongan kepada tuan Smith.


“Siapkan Defibrillator,” teriak salah satu dokter yang sedang memompa dada tuan Smith. Beberapa perawat langsung menyiapkan alat yang diminta oleh dokter.


Salah tahu perawat mengoles memberikan gel elektrolik dengan energy berkisar 50-400joules di permukaan elektroda.


“360 joules.” Dokter meletakan  Defibrillator di dada tuan Smith sehingga membuat tubuh pria itu tersentak. Belum ada garis grafik di monitor, mereka melakukan kembali.


Kini jantung tuan Smith kembali berdetak, para petugas dan dokter memasang elektroda di dada tuan Smith untuk mengontrol perkembangan jantung pria itu.


Sementara di luar sopir menghubungi Asher dan memberitahukan kepada pria itu kalau tuan Smith terkena serangan jantung.

__ADS_1


Mendapat kabar dari sang sopir Asher langsung menuju ke rumah sakit, begitu tiba dia langsung berlari masuk dan melihat sopir sedang berdiri depan ruang PICU.


“Bagaimana dengan grandpa?” tanya Asher dengan wajah khawatir.


“Mereka sudah menanganinya, mudah-mudah beliau baik-baik saja.” Asher mondar-mandir di depan ruangan menunggu dokter keluar.


Di tempat lain, Dany juga mendapat kabar kalau tuan Smith dalam keadaan kritis di rumah sakit. Dia segera ingin menjenguk pria tua itu. Tapi tanpa Dany sadari kalau nyawanya sedang diincar oleh Osvaldo.


Nampak dari seberang gedug perkantoran, Osvaldo sedang menunggu Dany keluar. Dia mengatur jarak tembak dan memakaikan peredam di senjata snipernya.


Mata menempel di teropong mengawasi kantor Dany, pria itu tersenyum saat melihatDany berdiri di depan kantor sedang menunggu sopir pribadinya. Tanpa menunggu lama, Osvaldo langsung melepaskan satu peluru dengan menuju tempat titik mati.


Dany langsung tersungkur, tidak menunggu lama dia mati seketika karen peluru bersarang tepat di jantungnya. Security dan para pegawai terkejut melihat Dany bersimbah darah, salah satu dari mereka langsung menelepon ambulance dan polisi.


Sementara Osvaldo langsung meninggalkan hotel yang kebetulan berhadapan dengan  perkantoran Dany. CCTV sudah di hack oleh Osvaldo sehingga dengan enteng dia meninggalkan gedung itu.


Osvaldo langsung mengabarkan kepada Alden kalau dia sudah berhasil membunuh Dany, kini dia menunggu bayaran dari Asher dan ingin kembali Jaksonvile.


Kembali ke rumah sakit, Asher masih berdiri di depan ruang PICU. Pria itu terlihat sangat gelisah, dia mengeluarkan ponsel lalu mengirim pesan kepada Casey memberitahukan kepada sang mantan kalau tuan Smith sedang kritis.


Selesai mengirim pesan dia melihat dokter keluar dari ruang PICU, Asher langsung menghampiri petugas medis itu dan bertanya.


“Bagaimana keadaannya?”


“Untuk sementara ini dia harus dirawat dengan insentif. Detak jantungnya belum normal, beliau juga belum sadar.” Selesai memberikan penjelasan, dokter meninggalkan Asher.


Asher bersandar di dinding dan memejamkan mata, dia tidak tahu mengapa tuan Smith terkena serangan jantung, tiba-tiba bahunya di sentuh. Asher membuka mata kemudian tersenyum melihat Casey sudah berdiri di sampingnya.


Tadi saat mendapat kabar dari Asher, wanita itu langsung meminta Isaiah untuk mengantarnya ke rumah sakit. Kini dia sedang berdiri di dekat Asher.


Mereka berdua saling berpelukan, kali ini Casey memeluk Asher begitu erat seolah-olah tidak ingin melepaskan pria itu. Ada airmata mengalir di pipinya.


“Kenapa dia bisa terkena serangan jantung?” tanya Casey dengan meleraikan perlukan dia dan Asher.


“Aku juga tidak tahu, sopir mengatakan kalau sekertarisku menemukan grandpa sudah tergeletak di lantai,” jawab Asher dengan wajah sedih.


Sementara Isaiah dia menghampiri Casey dan memeluknya, dia tahu sang istri juga sedih mendengar tuan Smith sakit.


“Bagaimana Enzo?” tanya Asher dengan tersenyum kepada Casey, dia sangat rindu dengan putra mantanta dengan Isaiah.


“Pengasuh yang menjaganya, ada kedua orang tua Isaiah juga.” Asher mengangguk kepala pelan lalu dia mengajak Isaiah dan Casey duduk.


Casey menyandarkan kepalanya di lengan Asher sambil menunggu perkembangan  tuan Smith yang masih belum sadarkan diri.


Sementara Isaiah tetap berdiri dan memperhatikan sang Istri yang bersandar di lengan Asher. Tidak ada rasa cemburu sedikit’pun dalam diri pria itu, Isaiah sangat mempercayai Casey.


Casey, Isaiah dan Asher sedang berbincang-bincang, ponsel ketiganya tiba-tiba berbunyi secara bersamaan. Mereka bertiga saling tatap mata lalu masing-masing mengeluarkan gawai, ternyata sebuah pesan.


Tapi mata ketiganya langsung membulat setelah membaca pesan itu, mereka bertiga saling tatap mata dengan wajah yang heran.


“Apakah kalian berdua mendapatkan kabar sama denganku?” tanya Asher kepada Casey dan Isaiah.


“Tentang kematian Dany?” Casey yang menjawab pertanyaan Asher lalu pria itu menganggukan kepala.


“Sungguh mengenaskan, dia ditembak seseorang,” sambung Isaiah dengan kembali membaca pesan yang dia terima dari asistennya.


“Siapa yang melakukannya?” tanya Casey kepada Asher, pria itu mengedikan bahunya menjawab pertanyaan Casey.


Asher tahu pasti Osvaldo yang melakukannya, benar saja tidak lama kemudian pesan kembali masuk ke ponselnya, kali ini dari Luca. Pria itu mengatakan kalau Osvaldo berhasil menjalankan misinya. Asher tersenyum smirk.


“Itu balasan atas apa yang dia lakukan kepada kedua orang tuaku,” tanpa sadar Asher berucap sehingga membuat Casey menatapnya penuh selidik.


“Maksudmu?” Asher cepat tersadar dan tersenyum kepada Casey.


“Apa yang dia lakukan kepada kedua orang tuaku, orang lain yang membalasnya.” Tentu saja Asher tidak ingin mengatakan kepada Casey kalau dialah yang menyuruh Osvaldo untuk membunuh Dany.

__ADS_1


__ADS_2