
Sebelum datang langsung ke Venezuela, Casey mengirim terlebih dahulu beberapa orang kepercayaannya untuk menyelidik anak perusahan Global group.
Casey mendapatkan kabar yang tidak bagus tentang Direktur serta Manager keuangan di perusahan tersebut sehingga setelah keesokan harinya dia langsung mengadakan meeting.
Saat tiba di kantor Casey mendengar perbincangan karyawan tatkala dia menuju ke ruang meeting. Mereka berpikir Casey tidak bisa berbahasa Spanyol sehingga begitu lancang membicarakan wanita itu.
Casey tidak perduli dengan omongan para karyawan yang meremehkan dirinya, setelah meeting dia akan memberikan kejutan kepada mereka yang berbicara buruk tentang dia. Tapi langkah Casey terhenti saat mendengar dua orang karyawan membelanya.
“Jangan bicara seperti itu, walaupun dia masih mudah tapi aku dengar pimpinan dari pusat itu sangat pintar dan tegas.”
“Benar sekali, aku juga dengar begitu dan dia sangat cantik.” Casey tersenyum smirk lalu menatap satu persatu karyawan yang membicarakannya.
“Maaf, Ada yang bisa di bantu?” tanya seorang wanita yang memuji Casey.
“Iya, aku tidak tahu dimana letak ruang meeting.” Wanita itu tersenyum kepada Casey lalu terlihat Isaiah masuk dan menghampiri Casey.
“Dimana ruang meeting?” tanya Isaiah kepada wanita yang berdiri di depan Casey.
“Mari aku antar kalian.” Wanita itu tidak tahu kalau Casey dan Isaiah dari kantor pusat. “Ini ruanganya Tuan, Nona.”
“Terima kasih,” ucap Casey dengan tersenyum. “Oh ya, siapa namamu?” tanya Casey sebelum masuk ke ruangan.
“Naima, Nona,” jawab wanita itu dengan membungkukkan badan tanda menghormati Casey dan Isaiah.
“Sekali lagi terima kasih,” ucap Casey lalu dia membuka pintu dan masuk di ikuti Isaiah.
Disana sudah hadir beberapa Komisaris, Direktur, Direktur keuangan dan manager keuangan. Mereka berdiri dan memberi hormat kepada Casey dan Isaiah.
“Silahkan duduk kembali,” titah Casey seraya menarik kursi lalu duduk.
Sementara Naima, dia terkejut melihat semua orang di dalam ruangan memberi hormat kepada Casey dan Isaiah, dia langsung meninggalkan ruang meeting dan mencari temannya.
“Edgar.” Naima memanggil temannya yang sedang berada di depan komputer.
“Ada apa?” tanya Edgar dengan menatap heran kepada Naima.
“Kamu tahu siapa wanita yang bertanya tadi padaku?” Edgar menggelengkan kepala, karena dia memang tidak mengenal Casey.
__ADS_1
Sementara karyawan yang di dekat Edgar juga Naime memasang telinga ingin tahu siapa wanita yang di maksud Naime.
“Dia pimpinan dari pusat, aku melihat semua yang di ruang meeting berdiri memberi hormat padanya.” Edgar langsung berhenti memainkan mouse lalu menatap karyawan yang tadi mengguncingkan Casey.
“Muda-mudahan apa yang kalian katakan tadi tidak dimengerti oleh beliau.” Edgar tersenyum smirk, dia yakin orang-orang yang membicarakan Casey pasti ketakutan.
“Aku rasa dia bisa berbahasa Spanyol, tadi sebelum aku meninggalkan ruang meeting dia menyapa mereka dengan bahasa kita.” Nampak wajah mereka terlihat cemas.
Edgar dan Naima saling pandang lalu mereka berdua tertawa melihat raut wajah rekan-rekannya.
Sementara di ruang meeting, terlihat mereka masih membahas keadaan keuangan serta pergantian posisi di perusahan tersebut. Casey bahkan bertanya kepada Direktur lahan-lahan milik Global group.
Casey juga memeriksa perusahan-perusahan yang bekerja sama dengan Global group dalam pengerjaan proyek.
Valencia
Semenjak mengetahui kalau Casey sudah memiliki kekasih dan bertunangan, Zelo memutuskan untuk kembali ke negaranya. Dia tidak ingin tinggal di Valencia karena terlalu banyak kenangan bersama wanita itu, empat tahun tidaklah mudah bagi Zelo untuk melupakannya.
Zelo ingin melanjutkan hidup dan berusaha untuk melupakan gadis itu, dia memilih kembali ke Venezuela untuk membantu bisnis ayahnya karena pria itu tau pasti bersama tuan Alvin dia akan lebih sibuk.
Zelo tiba di Venezuela pada pagi hari setelah menempuh penerbangan hampir sepuluh jam. Saat tiba di rumah hanya ada pelayan dan penjaga gerbang, Zelo langsung masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya di kasur karena lelah pria itu langsung tertidur.
“Ini ruangan untukmu, Nona,” ujar Direktur sambil membuka pintu lalu masuk.
Casey ikut masuk dan memperhatikan ruangan yang akan dia gunakan, walau tidak sebesar ruang kerja yang ada di Houston tapi tidak masalah untuk wanita itu. Direktur juga menunjukkan ruangan Isaiah yang hanya berbatas kaca dengan ruangan Casey.
Sang Direktur tidak berlama-lama di ruangan Casey, dia meninggalkan mereka berdua dan kembali ke tempatnya. Pria itu sudah berpikir Casey pasti akan mengawasinya, makanya dia sangat berhati-hati.
Casey dan Isaiah duduk lalu berbicang-bincang mengenai Naima dan Edgar, Casey meminta pendapat kepada sang kekasih untuk menjadikan Edgar sebagai asisten serta Naima sebagai sekretarisnya.
“Bagaimana, Babe? Aku hanya percaya kepada mereka berdua.”
“Kalau menurutmu mereka berdua bisa di percaya, silahkan saja,” saran Isaiah sambil memperhatikan kota Caracas dari lantai delapan.
Casey berdiri lalu menemui Naima,dia melihat wanita itu sedang duduk di depan komputer dan bekerja. Casey menghampiri Naime dan menepuk pelan punggung Naime.
Sontak Naime terkejut, dia membalikkan badannya lalu berdiri dan memberi hormat dengan membungkukkan badan. Para karyawan lain tidak berani menatap Casey.
__ADS_1
“Ke ruang kerjaku, panggil juga pria yang duduk di sudut sana.” Maksud Casey adalah Edgar, pria tampan berkulit coklat.
“Baik nona, Casey.” Naima langsung pergi memanggil Edgar sedangkan Casey kembali ke ruangannya dan duduk di dekat Isaiah.
Naima dan Edgar pergi ke ruangan Casey, para karyawan lain menatap wanita dan pria itu, ada perasaan takut karena mereka berpikir Edgar dan Naima akan mengadu kepada Casey.
Mereka berdua masuk lalu Casey menyuruh Edgar dan Naima duduk, sementara Isaiah berdiri dan pindah duduk di kursi kerja.
“Ada apa kami berdua di panggil?” tanya Naima dengan menggunakan bahasa Inggris karena berpikir Casey tidak bisa bahasa Spanyol.
“Ada yang ingin aku bicarakan kepada kalian berdua,” jawab Casey dengan menggunakan bahasa Spanyol sehingga kedua orang itu terkejut.
“Kalian berdua bisa dipercaya?” Pertanyaan Casey membuat Naime dan Edgar saling pandang.
“Maksud, Nona?” tanya Edgar dengan mengerutkan dahi sambil melirik kepada Naima.
“Siapa namamu?” tanya Casey kepada Edgar.
“Edgar,” jawab pria itu.
“Kau mau menjadi asistenku?” Edgar mengangkat kedua alisnya mendengar penawaran Casey.
“Anda serius?” Casey menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Edgar.
“Bagaimana?” Casey kembali bertanya dan menunggu jawaban pria itu.
“Mau, Nona.” Casey tersenyum senang Edgar bersedia menjadi asistennya kemudian dia menatap Naime.
“Aku ingin kamu menjadi sekretarisku.” Permintaan Casey membuat Naima membelalakan mata.
“Serius?” tanya Naime dengan wajah yang tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.
“Tentu saja, Naime.” Tanpa ragu lagi Naime langsung menganggukan kepala.
“Aku mau.” Casey tersenyum puas, dia ingin menjadikan Naime dan Edgar sebagai mata-mata di perusahan itu saat dia berada di Amerika tapi dengan alasan menjadikan mereka berdua sebagai asisten dan sekretaris.
“Bagus, aku akan memberikan tugas padamu tapi tidak sekarang,” tutur Casey kepada Edgar. “Sekarang kalian berdua bisa kembali ke tempat.” Edgar dan Naime langsung meninggalkan ruangan.
__ADS_1
Begitu Edgar dan Naime pergi Casey langsung duduk di paha Isaiah sambil melingkarkan kedua tangan di punggung pria itu.