Amor Prohibido (Cinta Terlarang)

Amor Prohibido (Cinta Terlarang)
Kira-kira siapa penembaknya?


__ADS_3

“Apa?” suara seorang pria berteriak di telepon saat mendapat kabar kalau Casey tertembak. “Aku ingin kalian mencarinya, berani sekali mereka melakukan itu kepadanya.” Pria itu tak lain adalah orang yang sangat menginginkan Casey.


“Kami masih mencari pelakunya, ternyata yang menyuruh untuk membunuh Casey menyewa seorang sniper.” Kembali seseorang menginformasikan kepada pria itu.


“Aku tidak mau tahu, pokoknya kalian harus mencarinya. Apabila bertemu langsung bunuh saja.” Pria itu terlihat sangat marah mengetahui wanita yang dia inginkan kena tembak.


“Baik, Tuan. Kami akan melaksanakan perintah Anda.” Pria itu menutup telepon lalu berdiri di depan jendela dan menatap keluar.


‘Siapa yang ingin membunuh Casey?’ Pria itu bertanya-tanya dalam hati, ternyata bukan hanya Asher dan Isaiah yang harus dia singkirkan. Masih ada lagi yang mengincar nyawa wanita yang dia inginkan.


Houston


Akhirnya Casey dipindahkan ke ruang perawatan, nampak Isaiah masih duduk di sisi brankar menunggu istrinya yang masih belum sadar. Asher juga belum beranjak dari ruangan itu, dia akan pergi apabila sudah melihat sang mantan siuman.


 “Eugh ….” Lenguhan terdengar dari bibir Casey saat dia menggerakkan badannya dan merasakan sakit di dada.


Casey membuka mata dan melihat sekelilingnya, samar-samar dia melihat sang suami sedang duduk menatapnya. Kembali Casey memejamkan mata dan menahan rasa sakit.


“Dimana aku?” tanya Casey dengan membuka mata dan menatap Isaiah juga Asher serta kedua mertuanya.


“Kamu di rumah sakit,” jawab Isaiah dengan memegang tangan sang istri dan mengecupnya. Dia terlihat sangat senang akhirnya Casey sudah sadar.


“Aku haus.” Isaiah langsung berdiri dan mengambilkan minum untuk sang istri.


Casey mengernyitkan dahi melihat Isaiah sudah bisa berjalan, dia ingin bangun memeluk sang suami tapi lagi-lagi dia merasakan sakit di dadanya.


“Babe, kamu sudah bisa berjalan?” tanya Casey dengan senang sambil memegang dadanya.


Isaiah tersenyum dan berjalan menghampiri Casey sambil membawakan air minum untuk wanita itu. Sementara Asher dia terlihat bahagia dengan siumannya sang mantan.


“Iya, Sayang. Saat kamu tertembak, spontanitas aku berdiri. Aku juga sadar bisa berjalan setelah berada di rumah sakit.” Kedua orang tua Isaiah tertawa mendengar penuturan sang putra.


Dibalik tertembaknya Casey ada kebahagiaan tersendiri, bukan mereka mensyukuri wanita itu tertembak. Tapi dari semuanya itu, ada penghiburan dengan bisa berjalannya Isaiah.


Casey merasa bahagia, dia merentangkan kedua tangannya kepada Isaiah untuk memeluk pria itu. Karena dada Casey masih sakit, Isaiah yang mendekap istrinya.


“Aku akan mencari siapa yang telah menembakmu,” seloroh Asher karena sedari tadi Casey tidak memperhatikannya.


“Terima kasih, Asher. Kamu sudah banyak membantuku,” ucap Casey dengan tersenyum dan mengisyaratkan pria itu untuk mendekat lalu meminta dia untuk memeluknya.


“Jangan berterima kasih sebelum aku menemukan pelakunya,” ujar Asher seraya memeluk wanita itu dan mengecup ubun kepalanya.


Casey ingin tertawa tapi dia merasakan sakit di dadanya, dia hanya memegang tangan Asher dan tersenyum kepada pria itu.


“Sudah jangan terlalu lama memegang tangannya, aku jadi cemburu.” Mereka yang berada di dalam ruangan tertawa mendengar Isaiah bercanda terkecuali Casey, dia hanya memegang dadanya menahan tawa.


“Baiklah, aku harus pergi. Ada yang ingin ku selesaikan di kantor.” Isaiah berdiri dan mencium kening Casey lalu mengantar Asher sampai depan pintu.


Begitu juga dengan ayah Isaiah, dia mengikuti kedua pria itu. Tuan Hynes ingin berbincang dengan Asher, dia masih belum tenang kalau belum menemukan pelaku penembakan itu. Pikirnya keluarganya masih dalam bahaya.


“Kira-kira siapa yang telah menembak Casey?” tanya tuah Hynes saat mereka bertiga berdiri di depan ruang perawatan.


“Aku juga belum tahu, bisa jadi orang yang telah menabrak Isaiah atau ada lain lagi.” Tuan Hynes dan Isaiah berpikir kira-kira siapa mereka dan mengapa terus mengusik kehidupan putra dan menantunya.


“Aku tidak habis pikir, apa tujuan mereka.” Tuann Hynes menarik napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepala.


“Serahkan semua padaku,  aku pasti akan menemukan siapa dalangnya.” Asher mencurigai yang melakukannya adalah orang suruhan Dany tapi bisa juga orang yang telah menabrak Isaiah.

__ADS_1


Kali ini Asher harus bekerja keras untuk mencari siapa yang telah menembak Casey, tapi yang paling utama dia akan menyelidiki paman tirinya yaitu Dany.


Asher berpamitan kepada tuan Hynes dan Isaiah lalu pergi ke markas milik Lucas, sebelumnya dia sudah mengabarkan kepada mereka untuk berkumpul disana.


Saat tiba dia melihat Lucas dan Jhon sedang duduk sambil memperhatikan beberapa anak buah  latihan. Asher menghampiri kedua pria itu dan menyapa mereka.


“Bagaimana? Apakah sudah ada kabar?” tanya Asher seraya menarik kursi dan duduk di dekat Lucas.


“Tunggu sebentar lagi, mereka sedang menjemput Alden,” sahut Lucas lalu mengambil tablet miliknya dan membuka laporan dari anak buahnya.


“Ini laporan yang baru aku dapatkan dari anak buah kita.” Asher mengambil tablet yang di sodorkan oleh Lucas padanya dan melihat beberapa transaksi yang dilakukan oleh Dany.


“Siapa dia?” Kembali Asher bertanya saat melihat sejumlah uang yang dikirim oleh Dany kepada seseorang.


“Tunggu saja Alden, dia yang akan menjelaskan semuanya.” Asher hanya menganggukkan kepala lalu mengembalikan tablet kepada Lucas.


Tidak berselang lama terlihat beberapa anak buah Lucas masuk dengan membawa Alden, nampak pria itu ketakutan saat melihat Asher dan Lucas serta Jhon. Mereka mendorong Alden sehingga tersungkur di depan Asher.


“Masih berkerja dengan Dany?” tanya Asher seraya memberikan kursi kepada Alden.


“Tidak, Tuan. Terakhir kali Dany memintaku untuk membunuh Casey tapi aku menolaknya. Tuan Lucas dan Jhon sudah mengingatkan aku,” sahut Alden dengan ketakutan, kursi yang di berikan Asher tidak dia gunakan. Pria itu lebih memilih berlutut di depan mantan Casey.


“Duduk saja, tidak usah takut denganku,” perintah Asher sambil menunjuk kursi yang ada di dekat Alden.


“Kamu pernah mendengar nama ini?” Asher mengambil tablet milik Lucas dan menunjukkannya kepada Alden.


Alden membaca nama itu lalu dia menganggukkan kepala, Alden pernah menjadi rekan pria itu makanya dia mengenalnya.


“Ya, aku rasa dia yang melakukannya. Banyak pengusaha yang menggunakan jasanya.” Alden menjelaskan sambil mengeluarkan ponsel dari saku celana dan menunjukkan foto pria yang dimaksud oleh Asher.


“Dimana dia tinggal?” tanya Jhon sambil menarik kursi dan duduk di depan Alden.


“Jauh sekali, berikan alamatnya. Aku akan mengirim anak buahku ke sana untuk membunuhnya.” Jakun Alden terlihat bergerak menelan saliva dia terlihat begitu takut kepada Asher dan Lucas.


“Tapi aku tidak tahu alamatnya di sana.” Asher menarik napas begitu dalam lalu menggaruk-garuk dagunya yang tidak gatal.


“Baiklah, cari caranya agar dia bisa datang ke Houston. Itu tugasmu, Alden. Dalam waktu satu minggu dia sudah harus berada di kota ini.” Aldena membulatkan matanya menatap Asher.


“Eugh … satu minggu?” Asher menganggukkan kepala.


“Ehm … baiklah, akan aku usahakan.” Akhirnya Alden mengikuti permintaan Asher, walaupun merasa sulit untuk dilaksanakan tapi pria itu akan berusaha.


“Bagus.” Asher menepuk punggung Alden kemudian meminta anak buah Jhon untuk mengantarnya pulang. “Oh ya, Lucas. Aku minta anak buahmu untuk mengawasi Dany, ikuti dia kemana’pun pria itu pergi.” Lucas menganggukkan kepala lalu Asher meninggalkan markas dan kembali ke kantor.


Sementara di Venezuela, mendapat kabar kalau Casey tertembak, Tuan Moralez langsung menelepon Isaiah dan menanyakan kabar wanita itu. Dia juga meminta Lucas untuk menempatkan anak buahnya di rumah sakit.


Kembali ke Houston, nampak di rumah sakit telah datang tuan Smith dan tuan Frank, kedua pria tua itu tidak ketinggalan untuk menjenguk Casey. Bagi keduanya wanita itu sudah seperti cucu mereka.


Tuan Smith dan tuan Frank berbicang-bincang dengan tuan Hynes dan istrinya serta Isaiah, sementara Casey masih tidur karena minum obat. Mereka tidak habis pikir mengapa Casey yang diincar padahal wanita itu bukan pebisnis bahkan tidak memiliki perusahan di kota ini.


“Mungkin ada yang dendam padanya, tapi siapa?”  ujar tuan Smith sambil berpikir.


“Mungkin saja orang-orang yang dikeluarkan oleh Casey dari perusahan atau yang menutup proyek yang selama ini mereka incar,” sahut Isaiah, karena setahu pria itu, Dany dan mantan direktur sangat membenci Casey.


“Apakah mungkin Dany?” celetuk tuan Smith sambil menatap tuan Frank.


“Mungkin saja,” sambung tuan Frank dengan yakin. Sedangkan tuan Hynes dan istrinya hanya diam saja karena mereka berdua tidak mengerti dan tahu siapa Dany.

__ADS_1


“Auh ….”Rintihan Casey membuat lima orang itu langsung berpaling menatapnya, Isaiah berdiri dan duduk di sisi branka lalu membelai rambut sang istri.


“Kamu mau makan?” Casey menggelengkan kepala dan meminta Isaiah untuk mengatur brankar, dia ingin duduk.


Isaiah mengikuti permintaan Casey, lalu dia mengambil buah anggur dan mencucinya. Isaiah kembali duduk di sisi brankar dan menyuap buah itu ke mulut Casey.


Tuan Frank dan tuan Smith ikut berdiri di sisi brankar dan memperhatikan wanita itu, wajah Casey masih terlihat pucat. Saat tertembak dia kehilangan banyak darah sehingga harus mendapatkan transfusi darah.


“Kira-kira siapa yang tidak suka padamu?” tanya tuan Frank seraya duduk di kursi yang diberikan Isaiah kepadanya.


“Aku juga tidak tahu, tapi ada beberapa orang yang aku curigai.”


“Siapa yang kamu curigai?” sela tuan Smith. Dia ingin tahu apakah Casey mencurigai orang yang sama seperti yang ada di pikirannya.


“Kalau di kota ini, aku mencurigai Dany. Karena dia sangat marah proyek yang sudah lama dia incar aku berikan kepada tuan Moralez.” Tuan Smith tersenyum, ternyata dia dan Casey mencurigai orang yang sama.


“Aku juga berpikir seperti itu, dia adalah manusia busuk. Tidak punya hati.” Tuan Smith berucap dengan geram, dia sangat membenci Dany karena sudah membunuh putra dan menantunya. Karena dia juga Asher terpisah dengan Zelda.


“Kita serahkan saja kepada polisi, kalau memang benar-benar dia terlibat maka aku akan memenjarakannya.” Tuan Frank tertawa, dia ragu kalau polisi bisa menemukan pelakunya sementara kasus Isaiah saja tidak jelas. Sampai sekarang mereka tidak menemukan siapa yang menabrak Isaiah.


“Aku lebih menyerahkan semuanya kepada Asher dan anak buahnya, kalau polisi aku tidak percaya. Lihat saja kasusmu saja sampai saat ini tidak ada kejelasan,” seloroh tuan Smith. Dia sangat yakin cucunya itu bisa menemukan siapa yang menembak Casey. Bahkan yang menabrak Isaiah sudah Asher ketahui.


“Anda benar, Tuan. Mudah-mudahan Asher dan anak buahnya cepat menemukan pelakunya supaya Casey dan Isaiah bisa hidup tenang,” sambung  nyonya Hynes yang sedari tadi mendengar percakapan mereka.


“Iya, aku harap juga begitu.” Kali ini tuan Hynes ikut bicara. Harapannya sama dengan sang istri.


Pintu terbuka, semua mata langsung tertuju kepada pria yang baru saja masuk. Tuan Smith langsung menyambut sang cucu dengan memeluknya.


“Bagaimana, apakah sudah ada kabar?” tanya tuan Smith dengan melepaskan pelukannya.


“Untuk sementara ini, aku masih curiga dengan Dany. Anak buah Lucas memeriksa transaksi yang dilakukan oleh Dany dan ternyata dia mengirim uang kepada pembunuh bayaran.” Asher menjelaskan seraya menarik kursi lalu duduk di sisi brankar dan tersenyum kepada Casey.


“Sudah pasti dia pelakunya,” sela tuan Smith dengan geram.


“Grandpa, kita tunggu saja. Mereka sedang mencari penembak itu, kalau benar Dany yang melakukannya maka aku tidak akan menyerahkan dia kepada polisi.”


“Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Casey dengan khawatir, dia tidak ingin Asher membunuh Dany.


“Aku akan mengurung dia seumur hidupnya di tempat gelap. Itu sebagai balasan karena sudah membunuh kedua orang tuaku.” Tuan Smith terpaku mendengar ucapan Asher yang penuh amarah dan dendam.


“Kamu tahu darimana kalau Dany yang membunuh kedua orang tuamu?” tanya tuan Smith, karena setahunya dia tidak pernah mengatakan kepada kedua cucunya siapa yang telah membunuh kedua orang tuanya.


“Aku sendiri yang mendengar perbincangan granpa dan Celeste sebelum aku dan Zelda di kirim ke Madrid.” Semua yang ada di ruangan menatap Asher, terlebih tuan Hynes dan istrinya. Mereka berdua terkejut dengan apa yang dikatakan oleh cucu tuan Smith.


“Jadi kedua orang tuamu dibunuh oleh paman kamu sendiri?” tanya tuan Hynes dengan wajah heran.


“Ya, tapi Dany bukan anakku.” Kali ini tuan Smith yang menjawab, karena dia tidak ingin mereka mengira kalau Dany anak kandungnya. “Dia anak istriku kedua ku.”


“Sudahlah, tidak usah dibahas lagi. Yang terpenting sekarang kamu harus temukan pelakunya.” Asher menganggukkan kepala mendengar perintah tuan Frank.


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Asher kepada Casey yang sedari tadi hanya diam saja memperhatikan mereka bicara.


“Seperti yang kamu lihat, hanya saja dadaku masih sakit,” sahut Casey dengan memegang dadanya yang terkena tembak.


“Kamu belum makan, Sayang.” Isaiah mengambilkan makan untuk Casey kemudian dia duduk di tepi brankar dan menyuapi istrinya.


Tuan Smith dan tuan Frank tidak berlama-lama di rumah sakit, mereka berdua kembali ke kantor. Begitu juga dengan tuan Hynes dan istrinya, keduanya kembali ke Mansion karena ingin melihat sang cucu yang semakin lucu.

__ADS_1


Kini tinggal Isaiah dan Asher yang menemani Casey. Atas larangan sang istri, Isaiah tidak memberitahukan kepada kedua orang tua Casey tentang musibah yang dialami wanita itu.


Casey tidak ingin ibunya bolak-balik Houston dan negaranya, dia juga tidak ingin membuat orang tuanya khawatir.


__ADS_2