
94
Paris
Asher dan Chloe masih bersama, kini mereka berdua sedang berada di restoran terkenal yang ada di kota paris.
Chloe terlihat tidak tenang matanya selalu melihat keluar seolah-olah sedang mencari sesuatu. Asher memperhatikannya.
"Ada apa?" taya Asher dengan menggenggam tangan Chloe sambil mata mengikuti arah pandangan gadis itu.
"Tidak apa-apa, aku hanya takut kalau ayah dan kakaku mengirim orang untuk mencariku." Asher berdiri dan berpindah duduk di samping Chloe.
"Bagaimana kalau kamu ikut bersamaku ke Houston," ajak Asher dengan membelai tangan Chloe.
"Aku tidak bisa, orang tua dan kakaku bisa membunuhku. Mereka ingin sekali aku menikah dengan pria tua itu untuk menyelamatkan bisnis ayahku." Asher tersenyum, dia berusaha untuk membawa Chloe bersamanya.
"Mereka tidak akan menemukanmu di Houston. Kamu aman disana, percaya kepadaku." Asher terus membujuk Chloe, dia tidak ingin meninggalkan gadis itu di Paris. Asher sudah berniat untuk menikahi Chloe walaupun belum dicintainya.
Asher berpikir suatu saat nanti dia akan mencintai gadis ini. Putra Moralez bertekad tidak akan melepaskan Chloe kepada lelaki tua itu.
"Bagaimana dengan bisnis ayahku."
"Jangan memikirkan bisnis ayahmu, mereka hanya mementingkan diri sendiri tanpa perduli perasaanmu." Asher kembali menggenggam tangan Chloe. "Bagaimana kalau pria tua itu hanya menyia-nyiakan dirimu?" Chloe tertunduk dan berpikir apakah dia akan mengikuti penawaran Asher.
"Bagaimana kalau mereka menemukanku di Houston." Asher kembali tersenyum dan membelai pipi Chloe serta menatap mata gadis itu.
"Sekali'pun mereka menemukanmu di Houston, ayah dan kakakmu tidak akan bisa berbuat apa-apa. Aku janji akan melindungimu." Kembali Asher meyakinkan Chloe untuk ikut bersamanya.
"Baiklah, tapi ijinkan aku pergi ke Lyon untuk terakhir kali. Ada yang inginku ambil di rumah ayahku." Asher menganggukan kepala setuju dengan permintaan gadis itu.
Asher tidak akan membiarkan Chloe pergi sendiri ke Lyon, dia akan ikut bersama gadis itu.
"Ok, aku akan menemanimu." Dengan cepat Chloe menggelengkan kepala, dia tidak ingin Asher ikut bersamanya. Chloe takut kakaknya akan melukai pria itu.
"Jangan, kamu tunggu saja disini. Aku pasti kembali." Asher tidak setuju, dia tahu Chloe pasti akan ditahan oleh ayah dan kakaknya.
"Tidak, aku harus pergi bersamamu. Aku khawatir mereka akan menahanmu." Chloe memasang wajah permohonan kepada Asher.
"Aku mohon padamu, tetaplah disini. Aku janji pasti kembali, kamu jangan khawatir." Asher menarik napas panjang dan menghembuskan dengan kasar sambil mata menatap keluar.
Chloe memegang wajah Asher dan menariknya agar menatap dirinya, dia ingin meyakinkan pria itu.
"Percaya padaku, aku pasti akan kembali." Asher hanya menganggukan kepala, dia tidak bisa memaksakan kehendaknya kepada Chloe.
Chloe terlihat sangat senang kemudian mencium bibir Asher, pria itu terpekun sejenak karena Chloe lebih dulu melakukannya.
__ADS_1
Sementara berciuman pesanan mereka datang, Asher menghentikan ciumannya kemudian berdiri dan berpindah tempat duduk berhadapan dengan Chloe.
Sedangkan di kediaman Alderic terlihat pria itu begitu gelisa, dari semalam dia tidak mendapatkan kabar dari Asher. Sedangkan semua anak buahnya serta Jhon dan Alden berada di tempat tinggalnya.
Beberapa kali dia menghubungi Asher tapi tidak ada jawaban dari pria itu, akhirnya Alderic memutuskan untuk pergi ke hotel tempat Asher dan Chloe menginap.
Saat berada di lobby, dia bertanya kepada front office tentang Asher tapi mereka mengatakan kalau pria itu sudah check out. Alderic semakin pusing dibuatnya, pasalnya Asher masih baru berada di kota paris. Dia takut terjadi sesuatu kepada putra Moralez itu, mengingat gadis yang bersama Asher baru dikenal semalam.
Beda hal di kediaman tuan Paulo, nampak pria itu baru saja pulang ke rumah. Awalnya dia ingin tinggal di apartemen untuk menghilangkan memar yang ada di wajahnya. Tapi sang istri tidak berhenti menghubunginya.
"Apa yang terjadi dengan wajahmu?" tanya nyonya Paulo saat melihat memar di wajah suaminya.
"Tidak apa-apa, Sayang. Semalam saat aku akan meninggalkan kantor tiba-tiba ada yang menyerangku, mereka hanya sekelompok pencuri saja." Tuan Paulo berbohong kepada istrinya, tidak mungkin akan mengatakan kalau Asherlah yang menghajarnya. Bisa-bisa semua rahasia terbongkar.
"Apakah kamu sudah melapor ke polisi?" Kembali Nyonya Paulo bertanya seraya mengajak suaminya duduk.
"Tidak perlu, ini hanya masalah sepeleh. Lagipula mereka tidak berhasil mencuri dariku," sahut tuan Paulo dengan menenangkan istrinya.
"Baiklah, aku akan menyediakan makan siang untukmu. Aku dan Robby tadi sudah lebih dulu makan. " Tuan Paulo hanya menganggukan kepala kemudian berdiri dan pergi ke ruang kerja.
"Lihat saja Asher, aku akan membalas perbuatanmu. Aku akan membuatmu menderita dengan membunuh Casey dan putranya." Nampak amarah di wajah pria itu, kali ini dia tidak berniat untuk hidup bersama Casey tapi akan membunuhnya.
Tuan Paulo begitu dendam kepada Asher karena sudah memukulnya, terlebih ternyata dia adalah kakak Casey. Begitu tenang pria itu akan menjalankan rencananya.
Houston
Bersama beberapa bodyguard, Isaiah dan Casey serta putra mereka berangkat ke kediaman tuan Smith. Casey tahu pria tua itu kesepian karena Asher masih berada di Paris.
"Hi, Grandpa," sapa Casey saat tiba di kediaman tuan Smith dan menemui pria itu di ruang kerja.
Tuan Smith terkejut dan senang melihat Casey dengan putranya, dia berdiri kemudian memeluk serta mencium kedua pipi Casey juga cucu kecilnya.
Tuan Smith juga menyapa Isaiah lalu mengajak mereka pergi ke ruang keluarga. Pria itu tertawa melihat putra Casey yang semakin lucu.
"Apakah Asher memberi kabar padamu?" tanya tuan Smith seraya duduk dan mengambil Enzo dari Casey dan memangkunya.
Dia tersenyum kemudian menggelitik pinggang Enzo sehingga putra Casey itu menggeliat geli dan tertawa.
"Iya, kemarin aku dan dia saling berkirim pesan. Sepertinya dia betah di Paris karena bertemu wanita disana." Tuan Smith mengangkat kepalanya menatap Casey dengan membulatkan matanya.
Dia sangat senang kalau Asher memiliki wanita lagi, tuan Smith berpikir pasti Asher masih mencintai Casey karena belum mengetahui kalau wanita itu adalah adiknya.
Makanya begitu mendengar kalau Asher dekat dengan wanita raut wajah pria itu langsung berubah.
"Benarkah?" Casey menganggukan kepala sambil memegang tangan Enzo yang meminta untuk di gendong olehnya.
__ADS_1
"Aku senang mendengarnya, itu berarti dia sudah mulai melupakanmu." Casey dan Isaiah langsung tertawa mendengar penuturan tuan Smith. Isaiah juga sangat senang jika pada akhirnya Asher memiliki kekasih.
Paris
Asher masih bersama dengan Chloe di restoran, saat gadis itu pergi ke toilet dengan cepat dia menghubungi Alderic dan meminta tolong kepada pria itu untuk menyelidiki orang tua Chloe.
Asher mengirimkan nama lengkap Chloe kepada Alderic dan meminta kepada pria itu untuk memberikan anak buahnya untuk mengikuti Chloe ke Lyon.
Tidak berselang lama Chloe kembali dari toilet, dia duduk dan tersenyum kepada Asher. Chloe segera ingin pergi ke Lyon kota kelahirannya.
"Asher, aku harus pergi sekarang agar bisa cepat kembali kesini." Asher menganggukan kepala kemudian berdiri dan memeluk Chloe serta mengecup ubun kepala gadis itu.
"Baiklah, aku akan mengantarmu." Asher dan Chloe meninggalkan restoran kemudian pria itu mengantar Chloe dengan menggunakan taxi pergi ke stasiun kereta.
Tanpa sepengetahuan Chloe anak buah Alderic mengikutinya, saat Chloe berada di toilet, Asher mengirimkan alamat restoran kepasa Alderic.
Begitu tiba di stasiun, Asher melihat anak buah Alderic juga sudah berada disana. Dia memberikan isyarat kepada salah satu pria untuk berada dekat dengan Chloe.
Anak buah Asher mengikuti Chloe dari belakang untuk membeli tiket kereta, selesai mereka duduk di dekat gadis itu dan mengawasinya.
Asher tidak ingin terjadi hal buruk kepada Chloe, dia menunggu gadis itu sampai kereta yang akan di tumpangi Chloe datang.
Begitu kereta tiba, Asher berdiri kemudian memeluk dan mengecup bibir Chloe.
"Begitu selesai langsung kembali." Chloe menganggukan kepala kemudian memeluk Asher kembali.
Chloe melambaikan tangan dan masuk ke dalam kereta, begitu juga dengan anak buah Alderic, mereka tetap berada di dekat Chloe. Asher merasa tenang karena ada yang memantau gadis itu.
Asher meninggalkan stasiun kereta dan kembali ke kediaman Alderic, saat tiba pria itu menyambut Asher dan tertawa serta menepuk punggung putra tuan Moralez.
"Apakah kamu sudah jatuh cinta padanya?" Asher tertawa mendengar pertanyaan Alderulic. Dia duduk dan menatap pria itu.
"Belum, hanya menyukainya. Dia gadis baik-baik, aku ingin mencoba membangun hubungan yang serius dengannya," ujar Asher sambil mengambil gelas dan menuang minuman.
"Apakah dia juga menyukaimu?" Kembali Alderic bertanya seraya menerima gelas yang berisikan minuman dari tangan Asher.
"Sepertinya." Asher tersenyum dan mengingat betapa panasnya tadi pagi mereka bercinta.
"Kalau begitu bawah saja dia ke Houston." Asher menganggukan kepala dan meminum minuman yang ada di tangannya.
"Rencananya seperti itu, aku akan membawa dia bersamaku. Sepertinya dia cocok untuk dijadikan istriku." Alderic tertawa dan menepuk kembali punggung Asher.
"Berapa umurnya?" Asher melengkungkan bibir serta mengedikan bahunya, dia tidak sempat bertanya kepada Chloe mengenai umur gadis itu.
"Aku lupa bertanya," sahut Asher kemudian berdiri ingin pergi mandi.
__ADS_1
Alderic terkekeh kemudian meminta pelayan untuk mengatur kamar buat Asher.