Amor Prohibido (Cinta Terlarang)

Amor Prohibido (Cinta Terlarang)
Ke Italy


__ADS_3

90


Jerman


Wesley dan Jossie semakin dekat bahkan mereka berdua sudah menjadi pasangan kekasih, sejak awal pertemuan dia serta Jossie sudah menampakan kalau Wesley jatuh cinta kepada adik Asher.


Begitu juga dengan Jossie pertemuan di villa dengan Wesley dia langsung menyukai pria itu, saat berada di Jerman mereka berdua selalu jalan bersama.


Seperti saat ini pasangan kekasih itu sedang bermesraan di teras apartemen milik Wesley.


"Kamu percaya pasangan yang baru saja bersama bisa langsung menikah dan bahagia?" Jossie menatap Wesley kemudian berdiri dan duduk di pangkuan pria itu.


"Kalau saling mencintai, sudah pasti bahagia. Kenapa kamu menanyakan itu, apakah ingin menikahiku secepatnya?" tanya Jossie dengan bercanda sambil mengedipkan sebelah matanya kemudian Wesley tertawa.


"Apakah dua bulan tinggal bersama tidak cukup untuk saling mengenal pribadi kita?" Jossie berpikir sejenak.


Sebenarnya dia juga sudah merasa nyaman bersama Wesley, selama berpacaran pria itu yang paling mengerti dirinya. Apalagi sikap lembut Wesley, penyayangnya membuat adik Asher jatuh cinta padanya.


"Bagiku sudah cukup, tapi kamu tahu sendiri aku masih ingin menyelesaikan gelar masterku." Wesley menganggukan kepala tanda mengerti.


"Bisa juga kita menikah lalu kamu tetap kuliah, masalah anak nanti kalau sudah selesai kuliah bisa program kehamilan." Kembali Jossie berpikir, sepertinya ide Wesley bagus juga.


Pria itu ingin segera mengikat Jossie, mengingat di kampus itu banyak pria tampan dan kaya apalagi umur Wesley saat ini tidak muda lagi.


Kini pria itu berusia 33 tahun sedangkan Jossie 24 tahun, Wesley tidak ingin gadis itu berpindah ke lain hati makanya dia segera ingin menikahi adik Asher itu.


"Baiklah kalau begitu. Oh ya, mengapa kamu ingin segera menikahiku? Apakah kamu takut aku tertarik dengan pria lain?" Wesley terkekeh, tebakan sang kekasih sangat benar. Pria itu menganggukan kepala serta melingkarkan kedua tangan di pinggang Jossie.


"Yup, betul sekali. Wajahmu yang cantik bisa membuat siapa saja jatuh cinta padamu." Jossi tertawa mendengar penuturan dari Wesley, kemudian mengacak rambut pria itu.


"Aku mencintaimu, mana mungkin tertarik dengan pria lain. Tapi agar pikiranmu tenang, aku akan mengikuti kemauanmu. Kapan kita akan menikah?"


"Kamu serius, Dear?" tanya Wesley dengan wajah tidak percaya, awalnya dia hanya ingin melihat apakah Jossie akan keberatan tapi ternyata pikirannya salah.


"Tentu saja, Sayang. Kapan kamu akan melamarku?" Kembali Jossie bertanya karena belum mendapatkan jawaban dari pria itu.


"Aku tidak ingin bertunangan, tapi langsung menikahimu."


"Ok, kapan?" tanya Jossie lagi.


"Secepatnya, kapan kamu libur kuliah?" tanya Wesley dengan membelai bibir Jossie yang seksi.


"Bulan depan aku libur satu minggu." Wesley langsung tersenyun.


"Berarti mulai dari sekarang aku akan menyiapkan pernikahan kita, aku akan menghubungi adikku untuk mengurus semuanya." Jossie sangat senang melihat Wesley yang begitu antusias.


"Iya, jumat depan kita ke Venezuela untuk meminta restu kepada kedua orang tuaku."


"Baik, Dear. Sebelum ke Venezuela aku akan menghubungi kedua orang tuaku. Ya, sedikit memberi kejutan kepada mereka." Jossie tertawa, dia membayangkan wajah Asher saat mengetahui kalau dia dan Wesley akan menikah.

__ADS_1


"Sayang, aku ingin melihat ekspresi wajah Asher, selama ini dia tidak tahu hubungan kita berdua," ujar Jossie kemudian Wesley tertawa.


"Dia pasti akan terkejut, apalagi Casey dan Isaiah." Mereka berdua tertawa bersamaan. Kali ini pasangan kekasih itu akan memberikan kejutan kepada masing-masing keluarga.


Tanpa Wesley dan Jossie tahu kalau adik dan kedua orang tuanya terkena shock terapi saat berada di kediaman tuan Smith. Sengaja Isaiah tidak mengabarkan kepada Wesley kejadian di kediaman tuan Smith.


Houston


Nampak Asher sedang bersiap-siap, dia ingin pergi ke Italy tanpa sepengetahuan tuan Smith dan Casey. Asher tahu mereka pasti tidak akan mengijinkannya untuk pergi menemui pria yang ingin membunuhnya.


Asher berangkat ke Negara tersebut bersama Jhon dan Alden, sebenarnya dia ingin mengajak Osvaldo tapi Asher belum terlalu percaya dengan pria itu.


Kini mereka bertiga sudah berada di dalam pesawat komersial, Asher duduk di dekat jendela sambil mata menatap keluar.


'Mudah-mudahan aku bertemu dengan pria itu, aku ingin tahu pasti apakah orang yang menginginkan kematianku dan Isaiah seperti yang ada di pikiranku' Asher menarik napas dan menghembuskannya dengan kasar.


Selama belum menemukan orang yang menginginkan kematiannya Asher tidak tenang, apalagi ini semua menyangkut Casey. Dia tidak akan membiarkan siapa'pun menyentuh adiknya sekali'pun nyawa taruhannya.


Asher tidak ingin kehilangan adiknya lagi, cukup sudah belasan tahun mereka terpisah. Dia memejamkan mata lalu pesawat take off.


Sementara Lucas menghubungi temannya di Italy untuk menyediakan senjata buat Asher, Jhon dan Alden. Dia juga meminta rekannya untuk memberikan anak buahnya membantu Asher.


Italy


Akhirnya Asher serta Jhon dan Alden tiba di Leonardo da Vinci airport, mereka bertiga langsung nenuju ke pintu keluar. Disana sudah menunggu seorang pria yang ditugaskan untuk menjemput Asher.


"Selamat datang, Tuan. Saya Elmo, ditugaskan oleh tuan Ludovic untuk menjemput Anda." Asher tersenyum dan menyalami pria itu.


Kelompok Ludovic adalah penjual senjata ilegal, mereka sering mengirimnya keluar negeri. Organisasi milik Ludovic sangat terorganisir dan bekerja sama dengan pejabat tinggi di Negara itu.


Asher dan kedua anak buahnya serta Elmo tiba di markas, mereka langsung di sambut oleh Ludovic. Dia memeluk Asher dan mengajaknya masuk.


"Ternyata putra Moralez sangat pemberani," ujar Ludovic dengan menepuk punggung Asher dan menyuruh pria itu duduk saat merek masuk ke ruang kerja.


"Bagaimana kabar ayahmu?" tanya Ludovic seraya duduk di kursi kebesarannya kemudian mengambil cerutu. Sebelum dinyalakan dia mencium batang berwarna coklat tua itu dan menghirup aroma khas kopi.


"Ayahku baik-baik saja," jawab Asher dengan tersenyum sambil mata memandang lukisan yang tergantung di dinding.


"Senang mendengarnya, oh ya aku sudah mendapat informasi dimana Salvador tinggal, sebenarnya aku ingin langsung menculiknya tapi kupikir lebih baik tunggu kamu saja," tutur Ludovic setelah menyemburkan asap cerutu dari mulutnya.


"Akan lebih seru kalau putra Moralez yang menghadapinya." Asher terkekeh dan mengambil rokok yang di tawarkan oleh Ludovic.


"Aku tidak sabar lagi ingin melihat seberapa hebat Salvator sehingga berani mengusik kami," sahut Asher. Dia nampak geram dan ingin menghabisi pria itu.


"Kalau kamu ingin saat ini juga kita ke tempatnya." Ludovic mengambil sebuah lembar foto dari laci dan meletakan di meja. " Ini pria yang kamu Cari."


Asher melihat pria yang ada di foto itu kemudian tersenyum dan menatap Ludovic.


"Sepertinya dia hebat, badannya sangat besar dan berisi." Ludovic tertawa kemudian berdiri dan duduk di ujung meja serta menepuk punggung Asher.

__ADS_1


"Apakah kamu takut menghadapinya?" Asher terkekeh menggelengkan kepala.


"Ayahku tidak pernah mengajarkan untuk takut kepada siapa'pun. Aku dilatih keras oleh beliau, jadi aku sudah siap menghadapinya." Kembali Ludovic menepuk punggung Asher, dia sangat bangga dengan tekad pria itu.


"Bagus, itu baru namanya Moralez. Ayahmu itu dahulu terkenal, dia seorang mafia yang pemberani. Akhirnya sifatnya turun padamu." Ludovic berdiri dan bertepuk tangan.


Dia mengajak Asher masuk ke ruang rahasia, disana banyak senjata api dengan jenis-jenis yang berbeda. Asher terpekun melihatnya, dia menggeleng-gelengkan kepala memperhatikan ruangan itu.


"Pilih saja mana yang ingin kamu gunakan," ujar Ludovic seraya meminta anak buahnya meletakan senjata laras pendek maupun panjang serta senjata sniper.


Asher memegang salah satu senjata berbentuk pistol dan menimang-nimang beratnya kemudian mencoba untuk mengarakan ke tembok.


"Itu desert Eagle," ujar Ludovic saat Asher memegang pistol itu. " Pistol ini buatan Israel, aku tidak menjualnya. Ini hanya untuk koleksiku saja." Asher menganggukan kepala kemudian mencoba pistol yang lainnya.


"Ini Glock Meyer 22 kan?" tanya Asher dengan menujukan pistol yang ada di tangannya.


"Benar sekali, ini khusus di gunakan oleh kepolisian dan angkatan bersenjata. Aku tidak terlalu suka menggunakan pistol ini, lebih bagus Ragging Bull 454."


"Buatan Brazil'kan?" sela Asher dengan memegang senjata yang baru disebutkan oleh Ludovic.


"Tepat sekali," sahut pria itu dan memberikan peluru kepada Asher. " Itu cocok untukmu, kecepatan tembaknya 580 meter perdetik dan energi yang di lontarkan oleh pistol ini tidak main-main, 2700 joule. Hebat bukan."


"Wouw." Asher terkagum mendengar penjelasan dari Ludovic. "Baiklah aku pakai ini saja." Asher memasukan peluru di pistol itu kemudian menyelipkannya di pinggang.


Tak lupa dia juga mengambil pistol lainnya dan kembali menyelipkan di pinggang, Asher juga memilihkan senjata untuk Jhon dan Alden.


Setelah selesai, Asher dan Ludovic meninggalkan ruangan rahasia dan menemui Jhon dan Alden. Asher memberikan senjata sniper berjenis Barret M95 kepada Alden serta Jhon diberikan dua buah pistol.


Mereka segera masuk ke mobil dan menuju ke tempat Salvator, anak buah Ludovic semobil dengan Alden dan Jhon sementara Asher bersama Ludovic serta Elmo.


Houston


Casey mengunjungi tuan Smith bersama Isaiah dan Enzo, saat tiba pria tua itu terlihat sangat senang dengan kedatangan cucunya. Dia memeluk Casey kemudian menggendong Enzo.


"Grandpa, dimana Asher?" tanya Casey saat melihat hanya tuan Smith di mansion.


"Mungkin masih di kantor," jawab tuan Smith sambil bermain bersama Enzo. Tidak disangka dia masih bisa melihak putra dari cucunya, seandainya Nathan dan Alice masih hidup mereka pasti sangat bahagia.


Wajah tuan Smith berubah menjadi sedih mengingat putra dan menantunya. Casey memperhatikan tuan Smith dengan mengerutkan dahi.


"Ada apa, Grandpa?" Tuan Smith menggelengkan kepala kemudian tersenyum.


"Aku hanya teringat ayah dan ibumu, kalau mereka berdua masih hidup pasti akan bahagia melihat putramu." Casey berdiri kemudian duduk di samping tuang Smith dan memeluk pria tua itu.


"Jangan diingat lagi, mommy dan daddy sudah tenang disana," hibur Casey kemudian tertawa melihat Enzo yang sedang tersenyum melihat tuan Smith.


"Mengapa kamu tersenyum, hah? Apakah wajah grandpa lucu?" tanya Casey dengan mengusap kepala putranya, Enzo hanya tertawa dan memainkan kedua tangannya.


"Cucu kecilku ini semakin lucu saja." Tuan Smith begitu gemas melihat Enzo sehingga berulang kali mencium pipi putra Casey dan membuat Enzo mendorong wajah tuan Smith sambil menatap dengan mengerutkan dahi.

__ADS_1


Tuan Smith tertawa melihat raut wajah Enzo.


__ADS_2