Amor Prohibido (Cinta Terlarang)

Amor Prohibido (Cinta Terlarang)
Ada yang berbisik padaku


__ADS_3

“Casey.” Seorang wanita berlari-lari menghampiri Casey, Anna juga Diaz. Gadis itu berhenti dan menoleh ke arah suara itu.


“Ada apa, Zaneta?” tanya Casey seraya melirik Anna dan Diaz.


“Sebentar malam kamu ada acara?” Casey menatap kedua sahabatnya itu, dia ingin melihat reaksi mereka berdua. Lalu Anna sedikit menggelengkan kepala.


“Um, aku lagi ada tugas. Kenapa?” Zaneta menggandeng tangan Casey dan berjalan ke mobil.


“Aku ingin mengajakmu ke club, ada Dj yang sangat bagus.” Casey tertawa dan menggelengkan kepala.


“Maaf, Zaneta. Aku tidak pernah pergi ke tempat seperti itu, bagaimana kalau lain kali saja.” Wajah wanita itu berubah, rencananya untuk menjerumuskan Casey tidak berhasil.


“Baiklah, tidak apa-apa. Lain kali saja.” Casey tersenyum dan menganggukan kepala lalu Zaneta meninggalkan mereka.


“Untung saja kamu menolaknya,” ujar Anna dengan setengah berbisik saat Zaneta pergi.


“Aku tidak suka tempat seperti itu, lagi pula aku datang ke sini bukan untuk bersantai.” Anna dan Diaz begitu senang mendengarnya lalu  Casey masuk ke mobil diikuti kedua sahabatnya.


Zaneta langsung menemui Jaime dan Orlando, wajahnya terlihat sangat kesal karena tidak berhasil mengajak Casey untuk ikut bersama mereka. ‘Pasti Anna dan Diaz yang melarangnya, aku harus beri pelajaran kepada mereka berdua,’ guman Zaneta dengan geram seraya menghampiri Orlando dan sepupunya.


“Bagaimana? Apakah kamu berhasil mengajak Casey?” tanya Jaime lalu Zaneta menggelengkan kepala. Pria itu tampak kecewa, karena malam ini mereka gagal untuk mendapatakn Casey.


“Lalu bagaimana?” tanya Orlando seraya menatap Zaneta dan Jaime, dia tidak sabar lagi ingin menyentuh Casey.


“Sabar saja, aku pasti bisa membujuknya. Aku ingin menjauhkan dia dari Zelo. Gara-gara wanita itu pria itu menolak untuk menikah denganku.” Zaneta terlihat begitu kesal, dia segera ingin menjalankan rencana lain untuk menjebak Casey.


Keesokan pagi Casey bangun lalu terdengar apartemennya di ketuk, dengan malas dia pergi membuka pintu lalu melihat pria itu berdiri di depannya.


“Kamu sudah membaca berita pagi ini?” tanya Zelo seraya bersandar di dinding.


“Berita apa?” tanya Casey dengan malas seraya berjalan ke teras diikuti pria itu.


“Salah satu gadis di kampus kita melakukan bunuh diri.” Casey membelalakan mata, dia terkejut dengan informasi yang di berikan oleh pria itu.


“Siapa?” tanya Casey dengan penasaran lalu Zelo menunjukan berita yang ada di ponselnya kepada gadis itu.


Casey terkejut melihatnya, gadis yang ada di berita tersebut satu ruangan dengannya. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan dan menatap pria itu  dengan rasa tidak percaya.

__ADS_1


“Dia satu ruangan denganku, kenapa dia bunuh diri?” tanya Casey dengan penasaran.


“Beberapa pria memperkosanya.” Kembali gadis itu membelalakan mata, lalu dia duduk di ikuti oleh Zelo. “Aku curiga ini kelompoknya Jaime.” Dengan cepat Casey menatap Zelo.


“Casey, aku ingin kamu menjauh dari Zaneta. Jangan sampai dia menjebakmu.” Casey menganggukan kepala lalu ponselnya berbunyi, dia melihat panggilan dari Anna.


“Hallo, Anna. Apakah kamu sudah membaca berita?” tanya Casey seraya berdiri dan mondar-mandir di depan Zelo.


“Iya, Casey. Aku tidak menyangka dia bunuh diri, aku curiga kepada Jaime dan Orlando,” ujar Anna dari ujung telepon dengan suara yang sedih.


“Aku juga, Anna. Dia wanita yang baik.” Casey kembali duduk sedangkan Zelo dia hanya memperhatikan gadis itu.


“Baiklah, sampai bertemu di kampus,” sahut Anna kemudian Casey menutup telepon dan menatap Zelo.


“Aku tidak menyangka dia bunuh diri,” ujar gadis itu lalu Zelo berdiri.


“Kamu harus berhati-hati, baiklah aku harus siap-siap ke kampus.” Casey ikut berdiri dan mengantar Zelo sampai di depan pintu kemudian dia masuk kembali.


Tanpa sarapan gadis itu langsung bersiap-siap untuk ke kampus, sementara di depan cermin kembali terdengar apartemennya di ketuk. Casey pergi ke depan dan membuka pintu, dia melihat Zelo berdiri di hadapannya dengan sebuah bungkusan.


“Tahu dari aku belum sarapan,” tanya Casey dengan heran lalu pria itu tersenyum dan masuk tanpa di suruh oleh pemilik.


“Ada yang berbisik padaku, hey … Zelo, gadis yang tinggal bersebelahan denganmu belum sarapan,” canda Zelo dengan mengedipkan sebelah mata kepada gadis itu dan meletakan sarapan di meja.


Casey berusaha menahan senyumnya dan mengikuti pria itu dari belakang, dia sebenarnya sudah mulai mengagumi pria itu tapi hanya menyimpannya dalam hati.


“Siapa yang menyuruhmu masuk?” Zelo membalikan badan menghadap Casey kemudian tertawa.


“Oh iya aku lupa, sebentar.” Zelo pergi berdiri di depan pintu kemudian dia menatap Casey. “Boleh aku masuk?” Melihat sikap lucu pria itu, Casey menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan tawa. Dia menggerakan kepala sebagai isyarat agar Zelo bisa masuk.


Zelo langsung duduk diikuti Casey dan membuka sarapan kemudian menunjukan kepada gadis itu. Sedangkan  Casey, dia hanya terbengong melihat pria yang ada di hadapannya.


“Kamu mau pilih yang mana?” Zelo menyodorkan dua jenis sarapan kepada Casey.


“Yang ini saja.” Casey mengambil sarapan itu dan mencicipinya sedangkan Zelo, dia tersenyum melihat gadis itu menyukai makanan yang dia bawah.


“Apakah lesat.” Casey menganggukan kepala seraya memasukan makanan ke dalam mulut.

__ADS_1


“Sudah pasti lesat, gratis,” ujar Zelo lalu Casey menghentikan makannya kemudian dia menatap pria itu.


“Selesai makan aku akan membayarnya, berapa harga sarapan ini?” tanya Casey dengan kesal lalu pria itu tertawa.


“Aku hanya bercanda.” Gadis itu hanya diam dan melanjutkan makannya.


“Oh ya, bagaimana kalau kita pergi bersama ke kampus.” Kembali gadis itu menatap Zelo yang sedang meminum jus dan mengeryitkan dahi.


“Apakah aku harus bayar juga.” Jus yang ada di dalam mulut Zelo hampir keluar kemudian dia menatap gadis itu dan tertawa.


“Kamu tidak bisa di ajak bercanda,” ujar pria itu seraya berdiri. “Mau ke kampus bersamaku?” Casey tidak menjawab hanya menganggukan kepala kemudian dia berdiri dan mengambil tas.


“Sebentar aku akan mengambil tasku.” Zelo pergi ke apartemennya kemudian dia kembali dan mengajak gadis itu.


Tiba di kampus Zelo mengajak Casey ke cafe, mereka memesan kopi dan teh kemudian pergi duduk. Terdengar pembicaraan tentang gadis bunuh diri, lalu Anna dan Diaz serta Herlan teman Zelo datang bergabung dengan Casey dan Zelo.


“Aku tidak menyangka mereka melakukan hal seperti itu kepadanya, dia gadis yang baik,” ujar Casey dengan wajah sedih.


“Makanya, kamu jangan dekat dengan Zaneta, dia bukan wanita yang baik. Aku dengar dia yang menjebak gadis-gadis di kampus ini.” Casey hanya tersenyum simpul dan menganggukan kepala mendengar nasehat Anna.


“Iya, Casey. Jauhi Zaneta,” ujar Zelo tapi gadis itu hanya diam.


****


Melihat Zelo dan Casey semakin dekat membuat Zaneta ingin melaksanakan rencananya dengan cepat, dia tidak ingin gadis itu memiliki orang yang dicintainya. Dia segera merencanakannya bersama Orland dan Jaime, mereka ingin menculik Casey.


“Bagaimana cara menculiknya, aku lihat dia sering datang dan pulang bersama Zelo,” ujar Orland dengann suara berbisik.


“Aku akan mencari cara, pokoknya kita harus berhasil menyingkirkan dia.” Jaime hanya diam saat Zaneta berkata begitu, dia terlihat sedikit ragu karena Casey selalu ada dalam pengawasan Zelo.


“Kamu atur saja, kamu yang dekat dengan Casey.” Zaneta menatap Jaime kemudian dia tersenyum.


“Aku akan menyerahkan dia padamu, aku janji,” ujar Zaneta kepada Jaime lalu pria itu tersenyum.


“Buktikan,” tantang Jaime dengan sedikit mengejek kepada Zaneta. Dia sudah berpikir gadis itu tidak akan berhasil menculik Casey.


“Tunggu saja, aku akan buktikan padamu.” Zaneta nampak kesal kepada sepupunya lalu dia berdiri dan meninggalkan Orland juga Jaime.

__ADS_1


__ADS_2