
Akhirnya Zelo tiba di Valencia, dari aiport dia menggunakan taxi. Sepanjang jalan dia memikirkan sang kekasih, sudah berulangkali mencoba menelepon tapi ponsel gadis itu tidak aktif. ‘Kalau orang tuanya di rumah sakit berarti Casey kembali ke negaranya tapi mengapa dari kemarin ponselnya tidak aktif? Ada apa dengan dia?’ Zelo bergumam pada dirinya sendiri
Pria itu tiba di rumah kemudian melihat beberapa penjaga sedang berdiri di depan. Dia turun dari taxi dan langsung bertanya kepada salah satu dari mereka.
“Jam berapa dia pergi?” tanya Zelo kepada salah satu pengawal dengan wajah khawatir.
“Sekitar jam sembilan pagi.” Zelo mengerutkan dahi kemudian masuk kedalam menuju kamar. Dia membuka lemari dan melihat semua pakaian Casey tidak ada.
Pria itu duduk di tempat tidur kemudian matanya tertuju pada selembar kertas di atas meja, dia berdiri dan melihat tulisan tangan sang kekasih. Sambil mengerutkan dahi dia membaca pesan itu.
{Tolong hidupkan komputer dan masuk file dengan nama Casey, saat kamu melihatnya jangan pernah mencari aku lagi karena tidak ada yang perlu di jelaskan. Terim kasih … bye}
Zelo dengan cepat menghidupkan komputer, jantung berdetak cepat. Dia penasaran apa yang sudah membuat gadis itu pergi. Begitu perangkat menyala dia langsung masuk ke file yang di katakan oleh Casey, mata terbelalak saat melihat foto dirinya dengan wanita itu sedang berciuman.
Bahkan pria itu terkejut melihat beberapa video adegan dia bersama wanita itu, dengan lemas dia duduk di sofa. Langsung terbayang wajah kebencian Casey kepada dirinya, ‘siapa yang mengirim video ini kepadanya? Shiit ….! Zelo mengumpat pada dirinya, dia mengusap wajahnya dengan kasar.
Dia berdiri dan mondar-mandir di kamar,
tak tahu alasan apa yang akan dia kemukakan kepada gadis itu, nyata-nyatanya sudah jelas dalam video itu adalah dirinya. Zelo sangat menyesal mengapa dia harus mabuk malam itu dan tidak berhati-hati.
Untuk bertemu dengan Casey pun dia tidak berani, perasaan bersalah menghinggapinya. Pria itu tidak tahu lagi harus berbuat apa, meminta maaf sudah pasti tapi apakah wanita yang dia cintai akan memaafkannya.
Dia meremas rambut kemudian duduk dan menutup wajah dengan kedua tangan. ‘Aku memang bodoh sudah mengkhianatimu, seandainya ada maaf darimu tak akan ku ulangi lagi. Aku sangat mencintamu dan tidak ingin kehilangan dirimu,’ gumam Zelo seraya menarik napas dengan dalam dan menghembuskannya.
Zelo berharap besok dia bisa bertemu dengan gadis itu di kampus, ‘aku akan berlutut untuk mendapatkan maaf darimu,’ gumamnya seraya berjalan dan berdiri di depan jendela.
‘Kalau dia tidak memaafkan dan kembali padaku, lebih baik aku mati,’ batinnya lalu tak terasa airmata menetes di pipinya.
Zelo mengingat masa-masa indah bersama gadis itu. ‘Dia cinta pertamaku, aku tidak pernah merasakan perasaanku seperti ini.’ Kembali dia duduk dan menangis.
“Aku sangat mencintaimu, Casey.” Dia berdiri dan melayangkan tinju di tembok. “Memang bodoh,” umpat pria itu.
__ADS_1
Sementara di Villa, nampak gadis itu masih mengurung diri di kamar. Seharian dia belum makan, sarapan dan makan siang yang di sediakan Maria sama sekali tidak di sentuhnya. Masih terbayang dalam pikiriannya adegan-adegan yang ada di video itu.
Casey tidak menyangka Zelo sampai hati menyakiti dirinya, selama ini dia selalu berpikir bahwa kekasihnya adalah pria baik karena selalu melindunginya. Tapi ternyata Ia adalah seorang pembohong dan pengkhianat.
Airmata terus berlinang mata semakin sembab, melihat Casey seperti itu Maria menjadi khawir. Dia langsung memberitahukan orang tua gadis itu, Maria tidak ingin terjadi sesuatu kepada Casey.
Setelah mendapat kabar dari Maria, kedua orang tua Casey ingin tahu apa yang terjadi dengan putrinya, selama ini anak mereka tidak pernah seperti ini. Orang tua Casey serta adiknya langsung berangkat ke Valencia.
Mereka tiba pada malam hari, dari aiport keluarga gadis itu langsung menuju ke villa. Saat tiba sang ibu langsung menemui putrinya di kamar, dia melihat Casey sedang berbaring dengan badan di tekuk.
“Sayang, kamu kenapa?” Mendengar suara sang ibu, Casey membuka mata lalu memeluk nyonya Paulo. Tangisnya langsung pecah di pelukan wanita itu.
Ibu Casey menjadi bingung, dia tidak tahu apa yang sudah terjadi dengan putrinya. Wanita itu tidak pernah melihat anaknya seperti ini.
“Kenapa, Sayang. Katakan kepada mama.” Gadis itu tidak bisa bicara yang ada hanyalah tangisan. “Ada apa denganmu?” Ibu Casey semakin bingung
“Mam, aku sakit.” Suara gadis itu begitu parau. “Aku ingin pulang,” ujar Casey seraya menangis.
Ayah Casey masuk kemudian tersenyum kepada putrinya, dia duduk di sisi tempat tidur dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Pria itu dengan lembut membelai rambut Casey.
“Sudah lama papa tidak memelukmu,” canda pria itu lalu Casey tertawa dan memeluk erat tuan Paulo.
“Pap, aku ingin pulang.” Sang ayah tersenyum dan menghapus airmata putrinya.
“Iya, besok kita pulang.” Casey memeluk kembali papanya dengan erat lalu Robby masuk kemudian ikut duduk di sisi tempat tidur.
“Kamu tidak memelukku?” Casey melihat adiknya, dia melepaskan pelukan sang ayah kemudian memeluk adiknya dengan erat.
“Aku sangat rindu padamu.” Mereka berdua saling berpelukan dengan erat, Robby berhasil menghibur sang kakak.
“Oh ya, aku ingin tidur bersamamu.” Casey tersenyum dan menganggukan kepala.
__ADS_1
“Iya, sudah lama kita tidak tidur bersama.” Ayah dan ibu Casey sangat senang melihat mereka berdua. Kedua orang tua itu meninggalkan Casey dan Robby lalu duduk di teras menghadap pemandangan kota Valencia.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan putri kita,” ujar wanita itu kepada suaminya seraya mengambil teh yang dibawakan Maria.
“Kamu tidak bertanya kepadanya?” tanya tuan Paulo kepada istrinya lalu wanita itu menarik napas panjang.
“Sudah, tapi dia hanya menangis,” jawab wanita itu dengan wajah sedih.
“Mungkin dia disakiti oleh pacarnya?” ujar pria itu seraya meminum teh yang ada di tangannya.
“Selama ini kamu tahu dia tidak pernah berpacaran. Kalau itu benar, lebih baik dia tinggal saja bersama kita jangan di sini lagi.” Tuan Paulo menganggukan kepala dia setuju dengan usul sang istri.
Sementara Casey dan adiknya bercanda di kamar, gadis itu sangat terhibur dengan kehadiran sang adik. Mereka rebahan saling berpelukan.
“Boleh aku bertanya padamu.” Dengan mengerutkan dahi Casey menatap adiknya lalu dia menganggukan kepala.
“Tentu saja.” Casey memang selalu terbuka kepada adiknya, Robby tersenyum kemudian dia bangun dan duduk di tempat tidur.
“Kamu ada masalah?” tanya Robby dengan memegang tangan kakaknya kemudian gadis itu bangun dan ikut duduk.
“Aku dikhianati pacarku?” Robby membelalakan mata, selama ini dia tahu Casey tidak pernah berpacaran. Robby tersenyum dan mencolek pinggang kakaknya.
“Jadi kamu sudah berpacaran sekarang?” tanya Robby lalu wajah gadis itu tertunduk. “Kamu sangat mencintainya?” Casey menganggukan kepala, kembali airmatanya menetes
Robby menyeka airmata sang kakak kemudian memeluknya, dia tahu baru kali ini Casey jatuh cinta. Lalu kedua orang tuanya masuk, mereka tersenyum dan menyuruh kedua anak itu tidur.
“Tidur saja, sudah larut malam. Besok siang kita pulang.” Casey menganggukan kepala kemudian dia mencium kedua pipi orang tuanya dan kembali berbaring, begitu juga dengan Robby.
Jangan lupa like dan komentar ya.
Terima kasih.
__ADS_1