
95
Sementara Chloe pergi ke Lyon, Asher memutuskan kembali ke Houston hampir seminggu dia meninggalkan kota itu. Sudah pasti pekerjaannya menumpuk.
Kini pria itu sedang berada di balik meja kerja memeriksa beberapa laporan yang diberikan oleh asistennya.
Sambil bekerja Asher memikirkan Chloe, dia mengingat saat berdua dengan gadis itu. Bagaimana panasnya mereka bercinta, Asher tersenyum sendiri dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
Asher rindu suara manja gadis itu, walaupun dia berada di Houston pria itu selalu mendapatkan kabar dari Chloe baik dari anak buah Alderic maupun dari Chloe sendiri.
Selama ini tidak ada gangguan darimanapun, baik dari tuan Paulo atau dari keluarga Chloe. Tapi bukan berarti mereka tidak lengah, justru Lucas dan Jhon lebih meningkatkan kewaspadaan. Mereka tetap memberikan pengawalan yang ketat kepada keluarga Isaiah juga tuan Frank dan Smith.
Asher tidak konsentrasi bekerja, entah kenapa pikirannya selalu tertuju kepada gadis itu dan ada rasa rindu ingin bertemu dengannya. Apakah dia sudah jatuh cinta? Asher menggelengkan kepala kemudian bekerja kembali.
Lyon
Chloe sedang duduk termenung di kamar, apa yang dia lakukan bersama Asher tidak bisa dilupakan bahkan gadis itu sangat rindu kepada Asher.
Chloe merebahkan tubuhnya dan mengingat hari dimana dia dan Asher melakukan penyatuan, ini merupakan pengalam pertama baginya yang tidak akan mungkin dilupakan.
Bahkan Chloe ingin mengulanginya bersama Asher, pria itu sudah membuat Chloe ketagihan bahkan bisa dikata kalau Asher sudah berhasil membuat Chloe jatuh cinta padanya.
Gadis itu segera ingin berangkat ke Paris, dia dan Asher sudah berjanji untuk bertemu kembali di kota itu. Kink Chloe sedang bersiap-siap, dia hanya memasukan beberapa potong pakaian ke dalam tas punggung.
Chloe tidak ingin ayah dan kakaknya curiga kalau dia akan melarikan diri. Sementara anak buah Alderic dengan setia tetap mengawasi Chloe dari jarak jauh.
Saat gadis itu akan pergi, kakak Chloe menghalanginya. Dia menatap sang adik dengan tajam
"Mau kemana?" Chloe memutar bola matanya dengan malas, dia sangat tidak suka kepada kakak tirinya itu.
"Aku ingin pergi ke apartemen, bosan di rumah terus." Chloe memberi alasan agar kakaknya tidak curiga kalau dia ingin lari. Mata sang kakak memicing menatap Chloe.
"Baru beberapa hari di rumah sudah mau pergi?" Pria itu menghampiri Chloe dan memegang tangan gadia itu dengan kasar.
"Ingat, jangan macam-macam. Minggu depan kamu akan menikah dengan tuan Aubert." Chloe menatap malas kepada pria itu, dia harus meyakinkan sang kakak kalau dia benar-benar akan pergi ke apartemen.
"Memangnya aku akan kemana lagi? Hanya kalian keluargaku satu-satunya disini." Chloe melepaskan tanganya dari sang kakak kemudian mengatur tas di punggungnya.
"Kamu tahu'kan apartemennya, jadi tidak mungkin aku melarikan diri. Katakan kepada ayahmu, jangan khawatir. Aku akan menyelamatkan bisnisnya karena semua itu adalah milik ibuku, kalian hanya datang menumpang hidup kepada kami."Chloe langsung meninggalkan kakak tirinya tapi dengan cepat pria itu menahannya.
"Kamu tidak akan kemana-mana, sekarang kembali ke kamarmu!" Chloe melepaskan tangannya dari sang kakak lalu membuka pintu.
Pria itu mengejar Chloe dan berusaha menarik gadis itu untuk kembali ke dalam, tapi Chloe mendorong kakak tirinya dan lari.
Kakak tiri Chloe mengejarnya, dia tidak akan melepaskan gadis itu. Sementara para anak buah Alderic melihat interaksi dari kakak beradik itu, mereka saling memberikan isyarat.
Para anak buah Alderic menghalangi kakak Chloe saat ingin mengejar gadis itu, sementara yang lain mengikuti Chloe.
Kakak Chloe terjatuh saat salah satu anak buah Alderic menabraknya seolah-olah dia tidak melihat kalau ada kakak Chloe.
Akhirnya pria itu kehilangan jejak Chloe, dia kembali masuk ke rumah dan menghubungi ayahnya.
__ADS_1
Sementara Chloe terkejut ketika di tarik oleh salah satu anak buah Alderic dan memasukannya ke mobil. Dia berpikir mereka adalah suruhan ayah tirinya.
Wajah Chloe menjadi pucat, pikirnya gagal sudah akan bertemu dengan Asher. Wajah Chloe langsung menjadi murung dan sedih. Dia hanya pasrah dibawah oleh kedua pria itu.
Sedangkan anak buah Alderic sengaja tidak mengatakan kepada Chloe siapa mereka, kedua pria itu ingin mengerjai gadis itu.
Taxi tiba di stasiun kereta lalu salah satu pria itu berbisik kepada Chloe dengan mengancam gadis itu.
"Kalau kamu berteriak maka Asher akan kami bunuh." Chloe membulatkan matanya menatap pria yang berbisik padanya.
"Jangan apa-apakan dia, aku mohon." Pria itu tersenyum sudah berhasil mengerjai Chloe kemudian dia berbisik kembali.
"Makanya, ikuti perintah kami." Chloe menganggukan kepala kemudian salah satu pria pergi membeli tiket.
"Kalian akan membawaku kemana?" tanya Chloe dengan suara pelan, dia tidak ingin ada yang mendengarnya takut kalau mereka membunuh Asher.
"Nanti kamu akan tahu sendiri kalau sudah tiba." Chloe menganggukan kepala dan memilih diam. Dia terlihat begitu pasrah di bawah oleh mereka berdua, yang terpenting baginya Asher selamat.
Dia tidak ingin membahayakan hidup Asher, Chloe pasrah sudah jika akan dikawinkan dengan pria tua itu.
Kereta tiba, kedua pria itu mengajak Chloe untuk masuk. Gadis itu duduk diantara anak buah Alderic. Chloe melihat rute kereta mengarah ke Paris.
"Apakah kita akan ke Paris?" tanya Chloe dengan setengah berbisik kepada salah satu anak buah Alderic lalu pria itu menganggukan kepala.
Sementara di kediaman orang tua Chloe, ayah tiri gadis itu tiba di rumah saat mendapatkan kabar dari putranya kalau Chloe melarikan diri.
"Kenapa kamu tidak menahannya?" tanya pria itu kepada putranya dengan emosi, habis sudah pikirnya. Tuan Aubert pasti akan memutuskan dana di perusahannya.
"Dasar bodoh, cari dia sekarang. Jangan pernah kembali sebelum menemukannya." Ayah tiri Chloe pergi ke ruang kerja dan menghempaskan pantatnya di atas sofa serta membuka ikatan dasi.
"Anak tidak berguna," umpat pria itu, dia begitu geram kepada Chloe. "Lihat saja, aku akan memberikan pelajaran padamu Chloe." Pria itu berdiri dan pergi ke kamarnya.
Houston
Di penthouse, Asher mendapatkan kabar dari anak buah Alderic kalau Chloe sudah bersama mereka. Pria itu tersenyum apalagi mereka memberitahukan kalau Chloe sedang di kerjai.
Asher menghubungi Alderic dan meminta pria itu tidak menunjukan batang hidungnya kepada Chloe, karena gadis itu mengenal Alderic.
Dia juga ingin mengerjai Chloe dan meminta para anak buah Alderic untuk menyekapnya seolah-olah ingin diberikan kepada pria yang ingin menikahinya.
Terdengar kamarnya di ketuk, Asher bangun dan pergi membuka pinti. Dia terkejut melihat Casey kemudian memeluknya.
"Sudah datang tapi tidak mengabariku," ujar Casey sambil melangkah masuk ke kamar dan duduk di sofa. Asher terkekeh kemudian duduk di dekat wanita itu.
"Oh ya, mana gadis itu?" tanya Casey sambil mata melihat sana sini mencari kalau Asher membawa Chloe bersamanya.
"Dia tidak disini," sahut Asher dengan berdiri sambil mengacak rambut Casey dan menghempaskan tubuhnya di ranjang.
"Kenapa tidak ikut bersamamu, padahal aku ingin melihatnya." Asher tertawa melihat wajah cemberut Casey lalu tangan menepuk kasur sampinya mengisyaratkan kepada wanita itu untuk berbaring di dekatnya.
"Bagaimana kabar Enzo? Seminggu aku tidak melihatnya," tanya Asher dengan memijit lembut telinga Casey saat wanita itu berbaring di sampingnya. Ini selalu dia lakukan saat mereka masih kecil.
__ADS_1
"Kamu mengingatkan aku kepada kakaku, dia selalu memijit telingaku sampai aku tertidur." Asher tertawa dan menarik kepalanya mundur untuk menatap Casey.
"Benarkah?" Casey menganggukan kepala kemudian meletakan kepalanya di dada Asher, dia rindu sekali kepada pria ini tapi rindu sebagai kakak. Makanya dia berani memeluk Asher.
"Iya," sahut Casey dengan memejamkan mata. Asher membelai rambut Casey dan menghirup aroka sampo di rambut wanita itu.
Berusaha menahan hasratnya, bagaimanapun wanita yang ada dipelukannya saat ini masih dicintainya. Casey adalah cinta pertamanya, walaupun dia adalah adiknya tapi Asher belum bisa menghilangkan rasa cintanya.
Asher merasakan di bawah sana sudah mengeras kemudian dia melepaskan pelukan Casey dan mencium leher wanita itu, Asher tidak bisa menahan hasratnya lagi.
Casey terkejut dan mendorong tubuh Asher sehingga pria itu terhenti. Casey langsung duduk dan menatap heran kepada Asher.
"Apa yang kamu lakukan Asher?" Pria itu menjadi salah tingkah dan langsung memegang tangan Casey.
"Maafkan aku, tadi aku ...." Asher terdiam dan mengusap wajahnya dengan kasar. 'Dasar bodoh, dia itu adikmu' umpat Asher dalam hati.
"Jangan pernah ulangi lagi."Asher menatap Casey dan menganggukan kepala.
"Tidak akan pernah terjadi lagi." Asher memeluk Casey dan berulang kali meminta maaf kepada wanita itu.
"Baiklah, aku harus pergi sekarang." Casey melepaskan pelukan Asher kemudian mengecup pipi pria itu dan meninggalkan sendiri.
Perginya Casey Asher langsung menghempaskan tubuhnya di ranjang. 'Apakah aku tinggal di Paris saja bersama Chloe? Kalau disini aku tidak bisa melupakannya walaupun dia adikku tapi aku sangat mencintainya.' Asher mengambil bantal dan menutup wajahnya.
'Mengapa begitu sulit aku melupakannya?' Dia memejamkan mata dan mengingat masa-masa indah bersama Casey.
'Ah, ini tidak bisa terjadi. Aku harus pergi agar bisa melupakannya. Kalau berada disini, sudah pasti setiap hari bertemu dengannya.'
Asher akhirnya mengambil keputusan untuk perti ke Paris, dia ingin mengajak Chloe untuk tinggal bersamanya. Asher akan berusah untuk mencintai gadis itu.
German
Wesley dan Jossie akan berangkat ke Houston mereka berdua berencana untuk memberikan kejutan kepada orang tua mereka.
Jossi tidak mengatakan kepada ayah dan ibunya kalau Wesley akan melamarnya. Begitu juga dengan Wesley.
Kini mereka berdua sudah berada di dalam pesawat, tangan saling menggenggam sambil mata menatap keluar jendela saat pesawat take off.
Pasangan kekasih itu tiba di Houston keesokan harinya. Berdua menuju ke pintu kedatangan dan memanggil taxi. Wesley mengajak Jossie ke apartemen sebelum gadis itu melanjutkan penerbangannya ke Venezuela.
Begitu tiba Jossie langsung menghempaskan tubuhnya di ranjang, belasan jam berada di pesawat membuat dia lelah dan tertidur.
Wesley membiarkan Jossie tertidur karena dia tahu wanitanya butuh istirahat karena malamnya sang kekasih akan melanjutkan ke Venezuela. Dia juga berbaring di samping Jossie dan memeluknya.
Malamnya Wesley mengantar Jossie ke airport, mereka berdua saling berpelukan kemudian gadis itu masuk untuk check in, sementara Wesley langsung kembali ke kediaman orang tuanya.
Saat tiba dia tersenyum melihat Enzo yang sedang di pegang Isaiah karena meminta untuk turun dan ingin berjalan.
"Wah, keponakanku semakin besar ya." Wesley membungkukan badannya dan menggendong Enzo tapi putra Isaiah menangis minta turun kembali.
Wesley tertawa kemudian mengecup pipi Enzo dan menurunkan balita itu.
__ADS_1