Amor Prohibido (Cinta Terlarang)

Amor Prohibido (Cinta Terlarang)
Rencana gagal


__ADS_3

Casey


Casey terbangun, lalu dia merasakan mual. Dengan perlahan Ia turun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi, Casey melihat Asher masih tertidur di sofa.


Casey masuk ke kamar mandi lalu dia jongkok di depan closet lalu mengeluarkan yang ada diisi perutnya tapi yang keluar hanya cairan, Ia memegang perutnya dan terus muntah.


Merasa cukup Casey berdiri dan mencuci mulut serta membasuh wajahnya, Ia menatap cermin sambil mengambil tissue dan mengusap wajahnya.


Saat keluar dari kamar mandi, Casey terhenti melihat Asher sudah berdiri di depannya dengan tatapan penuh kecemasan.


“Apakah kau baik-baik saja?” tanya Asher dengan menempelkan telapak tangannya di dahi Casey.


“Iya, aku hanya merasa mual saja. Mungkin ini bawaan hami saja.” Asher mengerti karena saat ini memang Casey dalam keadaan hamil dan itu sudah biasa terjadi saat trimester pertama.


“Istirahat saja, aku akan kembali kalau keluarga Isaiah sudah datang.” Casey menganggukkan kepala kemudian dia berbaring di sofa.


“Aku pergi sebentar untuk membelikan sarapan untukmu.” Sebelum meniggalkan Casey, Asher mencium kening wanita itu.


Casey tersenyum lalu dia memejamkan mata, Sedangkan Asher dia langsung pergi membelikan sarapan untuk sang mantan. Tidak berselang lama nyonya Hynes masuk, dia melihat Casey sedang terbaring di sofa dengan wajah yang pucat.


“Kamu sakit?” tanya nyonya Hynes seraya duduk di pinggiran sofa.


Casey membuka mata mendengar suara nyonya Hynes lalu berusaha bangun dan duduk tapi sang mertua menahan wanita itu dan meminta untuk tetap berbaring.


“Aku hanya muntah saja.” Nyonya Hynes mengerti lalu dia tersenyum.


“Apaka kau sudah minum susu?” Casey menggelengkan kepala sambil memejamkan mata.


Nyonya Hynes berdiri lalu membuatkan susu untuk sang menantu, dia memperlakukan Casey seperti putri kandungnya. Apalagi saat ini Casey sedang mengandung, perhatiannya langsung terfokus kepada wanita itu.


Sudah berulang kali Nyonya Hynes meminta Casey untuk beristirahat di rumah tapi Casey selalu menolak. Ia ingin selalu berada di samping Isaiah, Casey takut di saat sang suami membuka mata dia tidak ada di sisinya.


“Ayo minum susumu.” Suara lembut nyonya Hynes membuat Casey membuka mata dan duduk. Dia mengambil susu dari tangan nyonya Hynes dan meminumnya.


“Bagaimana kandunganmu?” tanya Nyonya Hynes seraya duduk di samping Casey dan membelai rambut wanita itu.


“Sejauh ini baik-baik saja.” Nyonya Hynes tersenyum mendengar jawab Casey.


“Selesai minum susu, istirahat kembali. Aku akan disini.” Casey hanya menganggukkan kepala dan kembali meminum susunya.


Asher masuk dengan membawa sarapan yang dia belikan untuk Casey, Asher tersenyum melihat nyonya Hynes dan meletakkan sarapan di atas meja.


“Selamat pagi, Nyonya,” sapa Asher sambil mengeluarkan sarapan dari paper bag.


“Oh … selamat pagi, Asher. Terima kasih sudah menemani Casey.” Nyonya Hynes kini bersikap ramah kepada Asher yang sebelumnya dia tidak menyukai pria itu karena terlalu dekat dengan sang menantu.


“Tidak masalah, aku senang melakukannya.” Nyonya Hynes tersenyum dan menepuk pelan punggung Asher lalu berdiri di samping branka. Dengan lembut Ia mencium kening sang putra.


“Kau terlihat nyaman sekali disana sehingga tidak ingin membuka matamu,” ucap nyonya Hynes dengan membelai lembut pipi Isaiah.


“Apakah kau tidak ingin mendampingi istrimu yang sedang mengandung anakmu?” tak terasa airmata nyonya Hynes menetes di pipi.

__ADS_1


Mendengar ucapan nyonya Hynes kepada putranya, Casey ikut meneteskan airmata. Ia menunduk dan mengelus perutnya yang sudah mulai kentara.


Kali ini dia harus kuat demi anak yang sedang di kandungnya ‘Sayang kita akan hadapi bersama, kamu harus selalu sehat dan kuat di dalam sana. Kamu adalah kekuatan mommy saat ini’ Casey bergumam dengan terus mengelus perutnya.


Asher melihat itu merasa sedih, Ia berjanji akan terus mendampingi Casey. Tidak tahan pria itu keluar dan pergi merokok di taman lalu ponselnya berbunyi, Asher melihat panggilan dari Lucas.


“Ada kabar apa, Lucas?” tanya Asher sambil berjalan mondar mandir di taman.


“Anak buah Jhon sedang mengawasi Alden, saranku bagaimana kalau aku menemui pria itu dan bernegosiasi dengannya.” Asher mengerutkan dahi pikirnya untuk apa bernegosiasi dengan seorang pembunuh bayaran.


“Menurutmu haruska seperti itu? Apakah dia mau?” Kembali Asher bertanya dengan mengernyitkan dahinya.


“Kita coba saja, aku ingin menawarkan dia untuk bekerja sama dengan kita. Bagaimana menurutmu?” Sejenak Asher memikirkan penawaran Lucas tanpa sengaja dia melihat seorang pria yang mencurigakan.


“Baiklah, kamu atur saja.” Tanpa banyak bicara Asher menutup telepon lalu mengikuti seorang pria yang dia curigai.


Asher mengambil jarak dan memperhatikan gerak-gerik pria itu, Asher terhenti saat orang yang dia ikuti masuk ke sebuah ruangan. Ia mencoba mengintip, tapi sayang kaca tidak tembus pandang.


Ia memutuskan kembali ke ruangan menemui Casey, Asher ingin pulang dan mandi. Hari ini dia ingin pergi ke kantor, sebelum pergi dia berpesan kepada kedua anak buahnya untuk berhati-hati.


Kini Asher sudah berada di rumah, segera bergegas mandi. Tidak berselang lama Ia keluar dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggang dan pergi ke walk in closet, Asher mengambil parfum beraroma maskulin dan menyemprotkan ke badannya.


Menarik laci penyimpan ****** *****, mengambil dan memakainya. Tubuh atletis dengan bentuk perut berkotak berdiri di depan cermin full badan dia mengenakan kemeja dan celana.


Menyelipkan dengan rapi di balik celana bahan slim lalu mengambil dasi dan mengalungkan di leher, begitu sudah rapi dia duduk dan memaki sepatu. Kembali dia berdiri di depan cermin lalu meraih jas kemudian meninggalkan rumah.


Asher tiba di kantor langsung menuju ke ruang kerja, disana sudah menunggu tuan Smith. Sudah beberapa hari pria tua itu tidak bertemu dengan sang cucu.


“Bagaimana kesehatanmu?” tanya Asher dengan menatap tuan Smith.


“Aku baik-baik saja,” jawab tuan Smith dengan terkekeh. “Bagaimana keadaan Isaiah?” Kini tuan Smith yang bertanya seraya melepaskan tongkat di samping sofa.


“Masih koma,” sahut Asher. “Oh ya, Dany menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh Casey.” Tuan Smith terkejut mendengar informasi dari sang cucu.


“Benarkah? Kenapa dia ingin membunuh Casey?” Asher mengedikkan bahu lalu berdiri dan duduk di depan tuan Smith.


“Mungkin dendam karena memutus mata pencahariannya.” Wajah tuan Smith langsung berubah marah.


“Dasar manusia serakah dan tidak tahu diri, aku sudah salah membesarkan anak itu.” Tuan Smith menggelengkan kepala tidak menyangka Dany tidak berubah.


“Granpa, tenang saja. Aku tidak akan membiarkan dia membunuh Casey, anak buahku juga daddy sedang mengawasi orang yang di bayarnya itu.” Tuan Smith menarik napas dan melepaskan dengan kasar.


“Mengapa ada manusia seperti itu di dunia ini?” keluh tuan Smith seraya menyandarkan tubuh tuanya ke sandaran sofa dan memijit kepalanya.


“Kalau tidak ada manusia seperti itu maka percuma Tuan menyediakan neraka.” Tuan Smit tertawa mendengar lelucon sang cucu.


“Tapi Tuhan juga mempersiapkan sorga untuk mereka yang mau bertobat, tapi manusia itu sama sekali tidak mau berubah. Ibu dan anak sama saja,” gerutu tuan Smith dengan menggeleng-gelengkan kepala.


Sementara di rumah sakit seorang dokter yang di percayakan oleh tuan Hynes untuk menangani putra mereka sedang mendapatkan ancaman di ruangannya.


“Jalankan rencana yang kuberikan padamu, kalau tidak anak dan istrimu akan kami bunuh.” Pria itu memutar video dimana istri dan anak dokter itu sudah berada di tangan mereka.

__ADS_1


“Tolong jangan sentuh mereka, aku akan melakukan apa’pun yang kalian inginkan.” Dokter itu tidak bisa menolak lagi permintaan mereka setelah melihat anak istrinya disandera.


“Bagus, berikan racun ini lewat infus. Sedikit saja agar mereka tidak curiga kalau pasienmu itu diracun.” Dokter hanya menganggukkan kepala dan menerima botol kecil yang berisikan racun.


“Siang nanti jadwal aku memeriksa pasienku.” Salah satu pria tersenyum smirk dan menepuk punggung dokter itu.


“Kerjakan dengan baik dan jangan coba-coba berkhianat, ingat ada alat penyadap di pakaianmu.” Selesai memberikan ancaman mereka meninggalkan ruangan dokter itu.


Perginya mereka dokter mengambil selembar kerta dan menuliskan pesan, wajah pria itu terlihat sangat cemas. Ia terus berpikir apakah dia harus menjalankan semua perintah penjahat itu atau tidak. Dokter itu mondar-mandir di ruangannya sambil melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.


Siangnya dokter itu pergi ke ruangan tempat Isaiah di rawat, dia melihat dua penjaga mondar-mandir di depan pintu. Jantungnya berdetak dengan cepat, ada perasaan ragu dalam dirinya sehingga menimbulkan kecurigaan oleh salah satu penjaga yang melihatnya.


Penjaga itu melihat gerak gerik dokter itu, apalagi wajah sang dokter terlihat khawatir. Tanpa ragu dia mengambil ponsel dan menelepon Asher, dia tidak ingin kecolongan entah itu benar atau salah harus diatasi dari awal.


Di kantor Asher mendapatkan informasi dari anak buahnya, dia langsung bergegas pergi ke rumah sakit. Asher mengambil ponsel lalu menelepon Casey, Ia ingin tahu siapa saja yang berada di dalam ruangan itu.


“Apakah ibu mertuamu masih di rumah sakit?” tanya Asher dengan tetap fokus menyetir.


“Iya, ada apa?” tanya Casey dengan mengerutkan dahi sambil mata menatap ibu mertuanya.


“Suruh salah satu anak buahku untuk masuk ke dalam ruangan dan jangan biarkan dokter menyuntik apa’pun kepada Isaiah sebelum aku tiba disana.” Asher melajukan mobilnya, dia ingin segera sampai di rumah sakit.


“Baik, kamu hati-hati menyetir,” pesan Casey lalu menutup telepon, saat itu juga dokter masuk.


“Selamat siang, Nyonya,” sapa dokter kepada Casey serta nyonya Hynes.


“Ah, dokter Bernard. Ingin memeriksa putraku?” Dokter tersenyum dan menganggukkan kepala.


“Iya, sepertinya cairan infusnya sudah hampir habis. Lebih baik di ganti saja.” Casey menjadi khawatir dia berharap Asher segera tiba.


“Cairan infusnya masih bisa sampai besok,” ujar Casey seraya bediri di samping brankar, dia tidak ingin dokter itu melakukan sesuatu di infus Isaiah.


“Oh, Anda benar.” Dokter itu terlihat gugup, dia mulai terlihat gelisah. Dokter Bernard berharap Asher berada di ruangan ini.


Dokter itu terlihat gelisah lalu pintu terbuka, dia melihat Asher berjalan menghampirinya. Wajah dokter itu langsung berubah senang, dia memberikan isyarat kepada Asher sambil bicara dia mengeluarkan selembar kertas dari saku celananya.


Dokter mengajak bicara terus kepada nyonya Hynes tentang keadaan Isaiah agar penjahat tidak curiga kepadanya kalau sudah berkhianat. Dokter Bernard tidak ingin mengkhianati profesinya sebagai dokter.


Asher membaca dengan teliti isi pesan yang berada di kertas itu.


‘Tadi pagi beberapa pria menemuiku, mereka memerintahku untuk memberikan racun kepada Isaiah lewat infus. Kalau tidak menjalankan perintah mereka, istri dan anakku akan di bunuh. Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada mereka, tolong selamat keluargaku. Jangan membahas ini karena ada alat penyadap di tubuhku.


Asher mengerti, Ia membalik kertas itu lalu menulis pesan untuk dokter.


‘Berikan alamat dimana mereka di sekap, aku dan anak buahku akan menyelamatkan mereka.’ Asher memberikan kertas itu kepada dokter.


“Oh ya, nanti malam juga aku akan memberikan suntikan seperti ini supaya di saat tuan Isaiah sadar tulangnya tidak menjadi lemah.” Dokter sengaja mengatakan itu agar penjahat mendengar dan tahu kalau misi mereka benar-benar dikerjakan oleh dokter Bernard.


“Terima kasih, Dok.” Casey juga menjalankan sandiwara untuk membantu dokter.


Sebelum keluar dari ruangan, dokter Bernard memberikan alamat rumah tempat istri dan anaknya di sekap kepada Asher.

__ADS_1


__ADS_2