Amor Prohibido (Cinta Terlarang)

Amor Prohibido (Cinta Terlarang)
Aku yakin dia bisa memimpin


__ADS_3

Dua bulan sudah Casey berada di kota Houston dan bekerja di perusahan tuan Frank. Karena pintar Casey dengan cepat belajar apa yang selalu diajarkan tuan Frank kepadanya.


Merasa sudah cukup untuk dijadikan pemimpin tuan Frank bertemu dengan tuan Smith untuk membicarakan perusahaan milik Nathan. Tuan Frank akan meminta ijin kepada tuan Smith untuk mengganti pimpinan dari perusahaan putranya itu.


“Apakah kamu yakin ingin mengganti direkturnya?” tanya tuan Smith dengan wajah serius saat mereka berdua baru saja duduk di sofa.


“Tentu saja, aku yakin Casey bisa memimpin perusahan itu.” Tuan Frank berusaha meyakinkan tuan Smith karena dia sudah melihat potensi dari gadis.


“Baiklah, besok kita adakan meeting untuk penggantian pimpinan.” Tuan Frank sangat senang akhirnya tuan Smith mau mengikuti sarannya.


“Aku yakin, di tangan Casey perusahaan itu akan lebih maju.” Sekali lagi tuan Frank meyakinkan rekannya itu.


“Semoga saja,” ucap tuan Smith dengan tersenyum dan menganggukan kepala dengan pelan.


Sementara di kantor terlihat Casey sedang memeriksa laporan keuangan dari devisi property, dia melakukannya dengan sangat teliti. Casey selalu berusaha bekerja dengan baik, dia tidak ingin mengecewakan tuan Frank.


Semenjak menjadi asisten serta kepercayaan tuan Frank banyak yang mengenal Casey, walaupun ada yang iri dan mendukung gadis itu tapi Casey tetap menunjukan profesionalnya dia bekerja. Dia tidak perduli cibiran orang tentangnya.


Kalau hanya ingin dia bisa mengeluarkan orang-orang yang mencibirnya dengan buruk tapi Casey tidak melakukannya, dia menjadikan itu sebagai motivasi untuk menjadi lebih baik lagi.


Tiba-tiba pintu terbuka, Casey melihat Wesley sudah berdiri di depan pintu dengan tersenyum kepadanya. Casey berdiri dan menyambut pria itu.


“Ayo duduk, bagaimana kabarmu?” tanya Casey seraya duduk di sofa di ikuti Wesley.


“Baik-baik saja,” jawab Wesley dengan tersenyum dan menatap Casey. “Oh ya, besok aku harus ke Jerman.” Casey membulatkan matanya mendengar pria itu akan ke Jerman.


“Untuk apa?” tanya Casey dengan mengerutkan dahinya.


“Aku di minta kakeku untuk mengurus perusahan yang ada di sana,” jawab Wesley. Nampak wajahnya tidak suka keberangkatanya ke Jerman.


“Maksudmu tuan Frank?” Wesley menganggukan kepala?” Mengapa harus kamu?” Kembali Casey bertanya.


“Karena hanya aku yang di percaya, nanti posisiku akan di gantikan oleh adik ku,” sahut Wesley.


“Oh …” gumam Casey dengan membentuk bibirnya bulat sempurna. “Sayang sekali aku harus kehilangan satu-satunya temanku yang paling baik,” canda Casey lalu Wesley tertawa.


“Jangan khawatir, adikku bisa di ajak berteman dan kalau kamu bertemu dengannya pasti langsung jatuh cinta.” Wesley ikut bercanda dan menggoda Casey.


“Oh ya? Benarkah?” ledek Casey dengan memicingkan matanya. “Apakah dia lebih tampan darimu?” tanya Casey lagi dengan bercanda.


“Iya, dia sangat tampan sehingga banyak wanita tergila-gila padanya,” sahut Wesley menjelaskan kepada Casey tentang adiknya.


“Tapi sayang, dia begitu dingin kepada wanita sehingga mereka mengira adiku itu penyuka sesama jenis.” Wesley menarik napas begitu dalam kemudian tersenyum.


“Apakah dia pernah patah hati?” tanya Casey dengan penuh penasaran.


“Aku rasa tidak, dari kecil dia  sudah seperti itu. Oh ya, Casey. Kalau kamu buat dia jatuh cinta padamu, aku acungkan jempol.” Casey mengerutkan dahi menatap Wesley.


“Ah, aku tidak akan pernah berusaha untuk membuat pria jatuh cinta padaku. Inilah aku apa adanya,” ujar Casey dengan mengangkat kedua bahunya.


Melupakan Zelo saja sudah begitu sulit apalagi membuat pria untuk jatuh cinta padanya, saat ini Casey lebih memilih sendiri dan bekerja dari pada memikirkan pacar.


Casey dan Wesley begitu asik berbincang dan bercanda, mereka berdua terlihat sangat akrab. Wesley tak berhenti memuji kemampuan Casey dalam menjaga kepercayaan yang di berikan tuan Frank kepadanya.


Mereka berdua terhenti berbicang tatkala ponsel Casey berbunyi, gadis itu berdiri dan mengambil gawai itu. Dia melihat panggilan dari tuan Frank, tanpa berpikir lama Casey langsung menjawab telepon tersebut.


“Casey, tolong datang ke kantor tuan Smith sekarang!” perintah tuan Frank dari ujung telepon.


“Baik, Tuan.” Telepon langsung di tutup tuan Frank, Casey langsung memasukan ponsel ke dalam tas dan mengikuti perintah tuan Frank.


“Wesley, aku harus pergi ke kantor tuan Smith,” ujar Casey seraya menenteng tasnya.


“Aku akan mengantarmu.” Casey dan Wesley meninggalkan ruang kerja menuju ke parkiran.


Wesley langsung mengantar Casey ke perusahan tuan Smith, sepanjang perjalanan Casey menceritakan kepada pria itu tentang rencana tuan Frank untuk menjadikan dia pemimpin di perusahan tuan Smith.


Wesley sangat senang, dia justru mendukung Casey untuk mengambil kesempatan itu. Wesley ingin Casey menjadi wanita sukses di Houston, pria itu memberikan semangat kepada Casey.

__ADS_1


“Terima kasih, Wesley. Tanpa kamu mungkin sampai saat ini aku belum bekerja,” ucap Casey seraya membuka sabuk pengaman saat mereka tiba di depan kantor tuan Smith.


“Sama-sama, kamu berhak untuk sukses,” balas Wesley dengan menggenggam tangan Casey. Genggaman sebagai sahabat.


“Baiklah, aku harus segera turun. Tuan Frank sudah menungguku di dalam,” ujar Casey dengan melepaskan genggaman dari tangan Wesley.


Casey turun dan melambaikan tangan kepada Wesley sebelum dia masuk. Begitu Wesley pergi, Casey langsung menuju ke ruang tempat tuan Frank dan Smith menunggu. Dia mengetuk pintu lalu terdengar suara dari dalam menyuruhnya masuk.


Saat dia membuka pintu, Casey melihat tuan Frank dan tuan Smith sedang berbincang dengan beberapa orang di sana. Casey memberi salam kepada mereka lalu tuan Frank berdiri menyambut Casey.


“Oh ya, ini Casey. Dia yang akan memimpin perusahan Global group,” ujar tuan Frank memperkenalkan Casey kepada beberapa kepala bagian di perusahan itu.


Tuan Smith begitu melihat Casey langsung berdiri dan menyambut gadis itu, dia terlihat sangat senang. Setiap kali bertemu dengan Casey tuan Smith bahagia seolah-olah Casey adalah cucunya.


“Aku sangat senang kalau perusahan anakku di pimpin olehmu,” ucap tuan Smith dengan menarik kursi dan mempersilahkan Casey duduk.


“Terima kasih, Tuan,” ucap Casey seraya duduk dan memperhatikan satu persatu beberapa kepala bagian dan manager.


“Berhubung Casey sudah hadir, aku ingin mengatakan kepada kalian kalau tuan Smith dan aku sudah sepakat untuk memberikan tampuk pimpinan perusahan Global kepada Casey.” Yang hadir di situ langsung saling tatap.


Ada yang tidak senang karena mereka pikir Casey masih terlalu mudah untuk di percayakan mengelola perusahan besar. Mereka saling pandang dan ingin protes tapi melihat tatapan tuan Smith dan Frank membuat nyali mereka menciut.


“Ada yang tidak setuju?” tanya tuan Smith seraya menatap satu persatu orang yang hadir tapi tidak ada satupun yang berani menjawab.


“Apapun keputusan Casey itu sama saja keputusan aku dan tuan Frank, jangan pernah ada yang membantahnya!” tukas tuan Smith dengan tegas karena dia melihat wajah-wajah ketidak sukaan mereka kepada Casey.


Casey hanya diam memperhatikan tuan Smith dan tuan Frank, sebenarnya dia berpikir kedua pria itu terlalu cepat menunjuknya sebagai pimpinan di perusahaan Global. Tapi Casey tidak bisa menolaknya.


“Baiklah, kalau tidak ada yang keberatan silahkan kembali ke tempat kalian masing-masing,” perintah tuan Smith.


Mereka langsung berdiri dan meninggalkan ruang meeting, di luar para kepala bagian dan manager membicarakan Casey.  Mereka meragukan kemampuan gadis itu itu.


Sementara di ruang meeting, tuan Frank dan tuan Smith juga Casey masih berbicang-bincang. Casey meminta kepada tuan Smith untuk menunda kepemimpinannya di perusahan Global.


“Tidak, Casey. Mulai hari ini kamu sudah harus memimpin di Global.” Dengan tegas tuan Frank berbicara kepada Casey, dia tidak ingin menunda-nunda lagi.


Tuan Frank sudah mendapat kabar tentang orang yang dipercayakan memimpin perusahan Global sudah mengkhianatinya dengan bersekongkol dengan anak tiri tuan Smith. Itu sebabnya tuan Frank langsung menggantinya dengan Casey.


Mereka bertiga langsung pergi menuju ke perusahan Global, Casey semobil dengan tuan Frank. Ada sesuatu yang ingin Casey sampaikan kepada tuan Frank tapi dia sedikit ragu tapi akhrinya Casey memberanikan diri.


“Tuan, bolehka aku minta sesuatu?”  pinta Casey dengan wajah memohon.


“Kataka saja,” ujar tuan Frank dengan menatap Casey dan tersenyum.


“Um … bolehkan Adam menjadi asistenku?” tanya Casey dengan wajah penuh keraguan.


“Tentu saja, kalau kamu merasa cocok dengan Adam aku akan memintanya untuk menjadi asistenmu.” Casey terlihat sangat senang.


Dia sengaja meminta Adam karena hanya pria itulah yang dekat dengannya di perusahaan tuan Frank, bahkan Adam selalu memberi semangat kepadanya.


Akhirnya mereka tiba di perusahan Global, dengan cepat sopir turun dan membukakan pintu untuk tuan Frank sementara Casey turun dari pintu lain.


Terlihat juga mobil yang di tumpangi tuan Smith tiba di perusahan Global, tuan Frank dan Casey menunggu tuan Smith di pintu masuk. Begitu tuan Smith turun mereka langsung masuk bersama-sama.


Di dalam perjalanan tuan Smith sudah menelepon kepala personalia untuk mengumpulkan semua karyawan di lobby. Tuan Smith dan Frank ingin mengenalkan Casey kepada seluruh karyawan Global.


Melihat semua sudah terkumpul tuan Smith meminta Casey untuk berdiri di antara dia dan tuan Frank. Tuan Smith tersenyum kepada Casey lalu dia memperkenalkan gadis itu kepada seluruh pegawai perusahan Global.


“Gadis yang berdiri di antara aku dan tuan Frank adalah pimpinan kalian yang baru, hormati dia seperti kalian menghormati aku dan tuan Frank,” tutur tuan Smith dengan tegas kepada seluruh pegawai yang terkumpul.


“Apa’pun keputusan yang diambil oleh nona Casey kalian harus mengikutinya.” Kembali tuan Smith mengingatkan para staff, sementara tuan Frank dia hanya tersenyum dan merasa bangga atas penunjukan Casey.


“Kalau ada yang tidak senang silahkan mengundurkan diri,” sambung tuan Frank dengan begitu tegas. Tatapan dingin dia layangkan kepada seluruh staff  Global.


Ini menandakan siapa yang berani macam-macam dengan Casey akan berhadapan dengannya. Semua staff saling pandang dan diam, mereka sudah mendengar desas-desus pergantian pimpinan tapi mereka tidak tahu kalau yang akan menggantikannya adalah seorang gadis muda.


“Baik itu saja dan silahkan kembali bekerja.” Begitu mendapat perintah mereka semua langsung membubarkan diri.

__ADS_1


Tuan Smith langsung mengajak Casey untuk menunjukan ruangan yang akan di gunakan gadis itu. Mereka naik ke lantai 16, tuan Smith langsung membawa Casey ke ruang kerja di ikuti oleh tuan Frank.


“Ini ruang kerjamu,” ujar tuan Smith seraya membuka pintu dan menyuruh Casey masuk.


Sebuah ruang kerja yang begitu besar dengan latar belakang kota Houston seluruh dinding dari kaca sehingga Casey bisa melihat semua yang ada di luar ruangannya.


“Mulai hari ini kau bekerja di sini. Untuk Adam dia sedang menuju ke sini,” tutur tuan Frank seraya duduk di sofa.


“Siapa Adam?” tanya tuan Smith seraya ikut duduk dan menatap tuan Frank.


“Adam karyawanku dan Casey menginginkan dia untuk menjadi asistennya,” jawab tuan Frank dengan tersenyum melihat Casey yang masih berdiri bagaikan patung.


Casey masih belum percaya kalau dia sekarang yang memimpin perusahan Global, apalagi melihat ruangan yang begitu besar dan di sana masih terpampang foto Nathan Alice dan kedua anaknya.


Casey berjalan perlahan dan memperhatikan figura yang ada di lemari kaca, dia memperhatikan kedua anak yang ada di foto itu kemudian memalingkan pandangannya kepada tuan Smith.


“Apakah ini cucu Anda?” tanya Casey seraya mengusap figura itu.


“Iya, itu Asher dan Zelda kedua cucuku yang tampan dan cantik,” sahut tuan Smith seraya berdiri dan menghampiri Casey.


“Aku percaya suatu hari nanti aku akan bertemu dengan mereka berdua,” kata tuan Smith dengan mengambil figura yang tidak terlalu besar  itu dan membelainya.


“Pasti, Tuan. Cepat atau lambat Anda akan bertemu mereka,” hibur Casey saat melihat wajah tuan Smith berubah sedih.


“Iya,benar. Kamu pasti akan bertemu mereka. Makanya jaga kesehatanmu,” sambung tuan Frank dengan mengingatkan tuan Smith.


Tuan Smith terkekeh lalu dia meletakan kembali figura itu dan duduk di depan tuan Frank, sedangkan Casey dia berdiri di depan jendela kaca dan melayangkan pandangan keluar. Casey tahu tidak mudah memimpin perusahan besar tapi dia akan berusaha sebaik mungkin untuk memajukan perusahan itu.


“Casey nanti malam kamu harus datang ke rumahku,” ujar tuan Frank.


“Oh iya, hari ini ulang tahunmu,” sela tuan Smith seraya berdiri dan memeluk tuan Frank. “Selamat bertambah lebih tua.” Ucapan tuan Smith membuat tuan Frank terkekeh lalu mereka berdua saling berpelukan.


Casey langsung mengalihkan pandangannya kepada tuan Frank, dia tidak tahu kalau hari ini adalah ulang tahun pria itu. Casey berjalan menghampiri tuan Frank dan mengulurkan tangan untuk bersalaman.


“Selamat ulang tahun, Tuan. Semoga panjang umur dan sukses selalu,” ucap Casey seraya tersenyum. “Semoga mendapatkan istri kembali,” canda Casey lalu tuan Frank dan tuan Smith tertawa.


“Tidak, Casey. Aku tidak ingin menikah lagi, sendiri lebih enak,” ujar tuan Frank dengan bercanda. “Jangan lupa nanti malam datang, aku akan meminta sopirku untuk menjemputmu.” Casey tersenyum dan menganggukan  kepala.


Valencia


Zelo semakin terjerumus dengan obat-obatan terlarang, badannya semakin kurus dan tidak terurus. Dia mengalami depresi dan melampiaskan ke barang tersebut.


Perusahan sudah dia tinggalkan, setiap hari dia mengkonsumsi barang itu. Tidak ketinggalan tiap malam dia berada di club dan selalu pulang pagi.


Zelo semakin kecanduan, dia merasa gila kalau tidak menggunakan barang tersebut, sehari tidak memakainya tubuh Zelo serasa sakit. Kepergian Casey sungguh merubah kehidupan  pria itu menjadi rusak.


Ketidak pedulian Zelo terhadap perusahan akhirnya membuat tuan Alvin turun tangan, dia tidak mengerti kenapa putranya tidak bisa mengurus perusahan yang dia percayakan itu.


Saat datang ke Valencia, tuan Alvin terkejut mendapati perusahannya tidak terurus bahkan keuangan kacau balau, pria itu sangat murka dan mencari putranya itu.


Dia tidak percaya Zelo tidak sanggup mengurus perusahannya, padahal perusahan di Brazil sangat berhasil di tangan sang putra sehingga tuan Alvin memindahkan dia ke Valencia.


“Dimana Zelo?” tanya tuan Alvin kepada asisten putranya.


“Aku tidak tahu dimana dia berada, sudah lebih dari dua bulan tuan Zelo tidak pernah datang ke perusahan,” lapor sang asisten dengan wajah tertunduk.


“Kenapa kalian tidak mencarinya?” Kembali tuan Alvin bertanya dengan nada meninggi.


“Tuan, kami sudah mencari informasi tentang tuan Zelo tapi sampai saat ini entah dimana putra Anda berada.” Tuan Alvin terlihat sangat emosi, dia berdiri dan menggebrak meja.


“Cari dia, aku tidak mau tahu. Hari ini juga bawah dia di hadapanku,” perintah tuan Alvin dengan marah kemudian meninggalkan kantor.


Tuan Alvin kembali ke kediamannya dan meminta para pengawal untuk mencari keberadaan Zelo. Pria itu tidak tahu kalau Zelo membeli rumah sewaktu dia masih bersama Casey.


Pria itu tidak habis pikir kenapa Zelo tidak bisa mengurus perusahan itu, padahal dia sangat mengandalkan sang putra untuk memajukan usaha mereka yang ada di Valencia.


Selamat membaca

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar ya


Terima kasih


__ADS_2