
Seorang gadis sedang berdiri dan termenung di depan jendela kamar hotel sambil mata memandang keluar. Hari ini dia akan meninggalkan kota Valencia, juga kekasih dan keluarganya. Walaupun berat Casey sudah mengambil keputusannya
Dia ingin meninggalkan semua kekecewaan yang dialaminya di kota ini, dengan wajah tertunduk Casey menarik koper dan keluar dari kamar menuju lobby. Dia memanggil taxi dan meminta sopir itu mengantarnya ke aiport.
Di dalam taxi, Casey mengirim pesan kepada Diaz dan Anna kalau hari ini dia sudah meninggalkan Valencia, Casey berterima kasih kepada kedua sahabatnya karena selalu mendampingi dirinya.
Casey tiba di aiport, dia mengambil koper di bagasi dan membayar taxi. Casey pergi check in lalu menuju ke Imigrasi untuk mendapatkan stamp di pasportnya. Tidak lama mengantri Casey pergi ke ruang tunggu.
Casey mengeluarkan ponsel lalu membuka album fotonya, di sana banyak foto dia dan Zelo. Casey menghampus semua gambar dia dan Zelo lalu memasukan kembali gawai itu ke saku celana.
Wajahnya kembali terlihat memelas, Casey masih tak percaya dengan apa yang telah menimpanya. Bahkan yang melakukannya adalah orang yang sangat dia kagumi dan sayangi.
Tapi sekarang dia sudah mengambil suatu keputusan yang menurutnya sangat tepat, dengan menjauhi dari mereka akan membuat hidupnya tenang. Berusaha melupakan semua apa yang terjadi dan menjalani hidup itu adalah yang terbaik.
Tidak berselang lama dia masuk ke pesawat, Casey duduk di dekat jendela. Matanya memandang keluar sambil memperhatikan ramainya kendaraan pengangkut barang bolak-balik di sekitar pesawat.
‘Mudah-mudahan aku bisa menjalani hidupku di Amerika,’ gumam Casey seraya menarik napas yang dalam saat pesawat sudah mulai berjalan dengan cepat.
Di dalam pesawat Casey memperhatikan rumah-rumah penduduk, pantai, perkebunan yang semakin lama semakin mengecil. Casey menutup jendela dan memejamkan mata.
Sementara Zelo mencari informasi tentang keberadaan Casey, dia membuka media sosial. Zelo ingin tahu keluarga dari gadis itu, pria itu berpikir Casey pasti kembali ke negaranya.
Zelo mencari pertemanan Casey tapi dia tidak menemukan salah satu keluarga gadis itu di media sosial. Zelo menjadi putus asah, entah kemana dia harus mencari Casey.
Dia terus menyalahkan dirinya dengan apa yang menimpa Casey, bahkan saat Sabino meminta bertemu pria itu menolaknya. Pikirnya karena bertemu dengan Sabino dia tidak bisa menyelamatkan sang kekasih.
Zelo duduk di dekat kolam renang dan berpikir kemana Casey pergi, sungguh pikirannya menjadi buntu. Wajahnya tampak begitu muram, Zelo tidak menyangka Casey benar-benar meninggalkannya.
Kenapa aku harus mengikuti permintaan Sabino, seandainya malam itu aku tidak bertemu dengannya aku bisa menyelamatkan Casey. Aku berhasil melindungi dia dari Jaime tapi tidak dari ayahnya.
Zelo sangat geram, seandainya ayah Casey berada di hadapannya sudah dia bunuh. Sekarang Zelo tidak tahu harus bagaimana. Rasanya ingin gila memikirkan Casey yang entah berada di mana.
Pria itu tertunduk, airmata jatuh menetes di pipi. Wanita yang sangat dia cintai pergi meninggalkannya, seandainya dia tahu tempat tinggal Casey hari itu juga dia akan menemui kedua orang tuanya.
Zelo kembali masuk menuju ke ruang tempat dia latihan, dia melepaskan segala amarah dengan memukul dan menendang samsak tinju berulang kali.
Kamu di mana Casey? Zelo memeluk samsak tinju dan menangis. Aku memang bodoh, tidak bisa menjagamu. Zelo terduduk di lantai, rasanya ingin gila kehilangan gadis itu.
Kembali dia berdiri dan melampiaskan semuanya di samsak tinju, wajahnya terlihat merah. Berulang kali dia melepaskan pukulan dan tendangan sambil berteriak.
****
Akhirnya Casey tiba di Goerge Bush Intercontinental Airport setelah menempuh penerbangan selama 11 jam lebih, dari dalam pesawat Casey sudah bisa melihat kota Houston.
__ADS_1
Akhirnya aku bisa menginjakan kaki di negara ini, semoga saja apa yang aku impikan bisa terwujud di kota ini. Casey mengulas senyum dan memperbaiki duduknya serta kembali memasang sabuk pengaman.
Pesawat landing, Casey bersiap-siap untuk mengambil koper juga tas punggungnya di kabin. Dia memperhatikan satu persatu orang- orang yang mengambil barang mereka.
Setelah mengantri Casey berdiri dan mengambil tas punggungnya, saat ingin mengambil koper seorang pria membantu menurunkannya. Casey tersenyum menatap pria itu.
“Terima kasih,” ucap Casey seraya mengambil koper dari tangan pria itu.
“Sama-sama,” balas pria itu seraya tersenyum dan mempersilahkan Casey berjalan di depannya.
Casey menarik koper dan berjalan di koridor menuju ke pintu keluar, dia melihat jam di pergelangan tangan sudah menunjukan pukul 15:30pm. ‘Aku harus menyewa apartemen, tapi untuk sementara aku menginap saja dulu di hotel,’ gumam Casey dalam hati seraya membuka ponsel.
Sementara pria yang menolongnya berjalan di belakang Casey dan memperhatikan gadis itu. Dia mengagumi kencatikan dan tubuh Casey.
“Apakah Anda berasal dari kota ini?” tanya pria itu seraya melangkahkan kaki dengan cepat agar sejajar dengan Casey.
“Um, tidak. Aku berasal dari Valencia,” jawab Casey seraya melirik pria itu yang sudah berada di sampingnya.
“Oh ….” gumam pria itu. “Oh ya, kamu akan tinggal di mana?” Kembali pria itu bertanya seraya melirik Casey.
“Aku masih mencari apartemen untuk di sewa tapi sementara aku akan tinggal di hotel.” Pria itu menganggukan kepala mendengar penjelasan Casey yang singkat tapi jelas.
“Oh ya, aku Wesley,” ujar pria itu lalu Casey berhenti dan tersenyum.
Perasaannya masih tertutup dan rasa trauma masih meliputi dirinya, untuk saat ini Casey hanya memikirkan bagaimana kehidupan selanjutnya di kota ini.
“Nama yang bagus,” ucap pria itu seraya menyambut tangan Casey. Dia sangat mengagumi kecantikan gadis itu.
Mereka berdua kembali berjalan dan berbincang-bincang, Casey begitu senang mendapat teman baru di Houston. Casey dan Wesley saling bertukar nomor.
“Oh ya, bagaimana kalau kita minum kopi di Cafe itu?” ajak Wesley seraya menunjuk tempat yang tidak jauh dari mereka.
Melihat gelagat pria yang ada di hadapannya sangat baik dan sopan, Casey tidak menolak ajakan Wesley. Apalagi tempat yang di tunjuk Wesley masih berada di lingkungan airport.
“Baiklah.” Casey menerima tawaran pria itu, mereka masuk dan memesan kopi.
Casey dan Wesley membawa kopi dan pergi duduk, kembali mereka berdua berbincang-bincang. Casey memperhatikan wajah pria itu lalu dia mengalihkan pandangan ke luar.
Wajah Wesley terlihat mirip dengan Zelo, kembali Casey teringat pria itu. Dia tahu Zelo pasti akan mencarinya, makanya Casey tidak ingin tinggal di Spanyol.
“Casey, apakah kamu bekerja disini?” tanya Wesley seraya mengaduk kopi.
“Tidak, ini pertama kali aku datang ke sini,” jawab Casey. Wajahnya terlihat berubah.
__ADS_1
Seandainya tidak mengalami kejadian itu tidak mungkin Casey akan menginjakan kaki di kota ini. Dia pasti akan bahagia berada di samping Zelo, Casey menarik napas panjang dan meminum moccacino yang ada di depannya.
“Oh … jadi ini pertama kalinya kamu datang ke sini?” Kembali pria itu bertanya lalu Casey menganggukan kepala.
“Iya, aku ingin mencari perkerjaan di sini,” ungkap Casey serya mengalihkan pandangannya keluar.
“Kalau kamu ingin, silahkan kamu datang saja ke perusahan Kc. Miller Corporetion Group,” saran Wesley seraya memberikan kartu nama kepada Casey.
“Pemiliknya sepupu kakek ku. Aku dengar mereka lagi membutuhkan karyawan untuk di bagian accounting,” tutur Wesley seraya mengambil kopi dan meminumnya.
“Benarkah?” tanya Casey dengan mengangkat kedua alisnya, seraya tak percaya baru saja tiba di Houston sudah mendapatkan info pekerjaan.
“Kebetulan aku sarjana ekonomi akutansi,” sambung Casey dengan wajah terlihat senang.
“Bagus kalau begitu, besok kamu datang ke sana nanti aku akan menelepon sepupu kakek,” sahut pria itu dengan tersenyum kepada Casey.
Casey mengambil kartu itu dan melihat nama juga nomor telepon yang tertera di sana, dia tersenyum kemudian memasukan lembar kecil itu ke dalam tas.
Casey dan Wesley tidak berlama-lama di cafe, karena hari sudah semakin sore mereka berpisah di airport. Casey langsung menuju ke hotel yang sudah dia booking.
Casey tiba lalu Check in, petugas mengantar Casey ke kamar dan meletakan koper milik gadis itu di lantai. Casey memberikan tip kepada petugas kemudian menutup pintu. Dia menghempaskan tubuh di kasur dan memandang keluar jendela.
Aku harus bisa melupakannya, semoga saja besok aku bisa di terima di perusahan itu. Dengan bekerja aku pasti bisa menghilangkan bayang-bayang Zelo juga papa.
Sementara di rumah orang tua Casey nampak pria itu duduk termenung, dia memikirkan putrinya. Papa Casey sudah mencoba menelepon nomor gadis itu tapi tidak aktif.
Walau’pun dia sudah memasukan uang ke rekening Casey tapi pria itu masih khawatir, apalagi istrinya ingin bertemu dengan putrinya. Papa Casey menjadi bingung, dia tidak tahu harus mencari Casey dimana.
Terlihat penyesalan di wajahnya, seandainya dia tidak menuruti hawa napsunya Casey pasti akan terus bersama dengan mereka. Apalagi istrinya begitu menyayangi gadis itu.
“Casey tidak memberitahumu kapan dia akan datang?” Suara sang istri membuat pria itu terbangun dari lamunannya.
“Oh, Casey hanya mengatakan dia akan menyelesaikan adminstrasi nanti setelah itu dia akan pulang,” jawab tuan Paulo dengan berbohong kepada istrinya.
“Baiklah, aku sangat rindu padanya,” ucap sang istri seraya meninggalkan tuan Paulo.
Pria itu tertunduk, entah sampai kapan dia akan membohongi istrinya. Papa Casey menarik napas panjang kemudian berjalan ke teras, dia mengambil rokok dan menyalakannya.
Selamat membaca
Jangan lupa like dan komentar
Terima kasih
__ADS_1