
Casey masih berada di gedung perkantoran milik tuan Smith, dan mendengarkan perbincangan kedua pria itu. Casey merasa penasaran tentang hilangnya kedua cucu dari tuan Smith.
“Mereka hilang dimana, Tuan?” Sebenarnya tidak etis Casey bertanya mengingat dia hanya seorang asisten, tapi rasa penasaran mendorong dia untuk mengajukan pertanyaan.
“Mereka hilang saat akan kembali ke Madrid sehabis berlibur di Barcelona,” jawab tuan Smith dengan berusaha tersenyum kepada Casey.
“Apakah mereka di culik?” Rasa penasaran Casey membuat dia bertanya kembali kepada tuan Smith.
“Tidak.” Akhirnya tuan Smith menceritakan kronologi kedua cucunya kepada Casey dari awal anak dan menantunya meninggal sampai mengapa kedua cucunya tinggal di Madrid dan hilang.
Nampak wajah Casey terlihat serius mendengar tuan Smith bercerita, sesekali dia mengangguk-anggukan kepala, dan memperhatikan raut muka tuan Smith.
“Aku turut prihatin, Tuan,” ucap Casey dengan wajah yang sedih. “Jadi selama ini tuan tinggal sendiri?” Tuan Smith berusaha tersenyum dan menganggukan kepala.
Casey tidak ingin bertanya lagi mengingat itu adalah hal paling sedih yang di alami oleh tuan Smith, dari raut wajahnya dia sangat merindukan kedua cucunya.
“Sampai saat ini aku bertahan karena aku percaya suatu hari nanti kami akan bertemu,” ujar tuan Smith dengan penuh semangat. Dia tidak ingin bersedih agar tidak sakit.
“Pasti itu,” celetuk tuan Frank. “Oh ya, perusahan milik Nathan yang kamu serahkan padaku itu semakin bagus.” Tuan Frank sengaja mengalihkan pembincaraan karena dia tidak ingin tuan Smith menjadi sedih.
“Ah … terima kasih, Smith. Aku sangat senang mendengarnya, di tanganmu perusahan putraku lebih bertambah maju,” ucap tuan Smith. Kini wajahnya terlihat gembira.
“Walau’pun Anda sibuk tapi masih sempat mengurus perusahan putraku,” sambungnya seraya menatap tuan Frank.
“Aku sudah berjanji padamu untuk selalu mengawasi perusahaan itu. Baiklah aku harus pergi sekarang, ada yang harus aku selesaikan,” ujar tuan Frank seraya berdiri yang langsung diikuti oleh Casey.
“Terima kasih sudah berkunjung ke kantorku.” Sekali lagi tuan Smith berucap dengan menepuk pelan punggung tuan Frank.
Tuan Smith menatap Casey dan tersenyum, dia sangat senang melihat gadis itu mengingatkan akan cucunya. Tuan Smith menyalami Casey dan menepuk lembut lengan Casey.
“Sering-sering berkunjung ke sini walaupun tanpa tuan Frank.” Casey tersenyum dan menganggukan kepala.
“Baik, Tuan.” Pria itu sangat senang lalu dia mengantar tuan Frank dan Casey sampai di lobby.
Tuan Frank dan Casey langsung masuk ke mobil lalu melambaikan tangan kepada tuan Smith. Mereka langsung meninggalkan perusahan tuan Smith dan kembali ke kantor.
Di dalam mobil Casey masih memikirkan pembicaraan tuan Smith dan tuan Frank mengenai cucu dari tuan Smith, dia sangat penasaran mendengar nama Dany yang ingin melenyapkan kedua anak itu. Dengan penuh keberanian dia bertanya kepada tuan Frank.
“Maaf, Tuan. Apakah Dany anak dari tuan Smith?” Mendengar pertanyaan Casey tuan Frank langsung mengalihkan pandangannya kepada Casey yang tadinya dia sedang melihat gedung tuan Smith.
“Oh, sebenarnya ini sangat rahasia. Nanti kalau sudah di kantor aku akan menceritakan padamu,” sahut tuan Frank dengan tersenyum kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke depan.
Casey hanya menganggukan kepala, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Casey langsung mengeluarkan dari dalam tas dan melihat panggilan dari Wesley. Gadis itu tidak ingin menjawab telepon di depan tuan Frank, dia menolak panggilan itu dan mengirim pesan kepada Wesley.
Aku masih dalam perjalan ke kantor bersama tuan Frank, nanti saja kalau sudah tiba aku menghubungimu. Casey memasukan kembali ponsel ke tas dan memandang keluar jendela.
Tidak berselang lama mereka tiba di kantor, Casey ikut berjalan di belakang tuan Frank menuju ke ruangan pria itu. Casey masih penasaran cerita tentang Dany.
Tiba di ruangan tuan Frank menyuruh Casey duduk sementara dia membuka brankas dan mengeluarkan beberapa map kemudian meletakannya di meja. Tuan Frank duduk di depan Casey lalu membuka map itu.
Tuan Frank mengeluarkan semua isi yang ada di map dan menunjukan kepada Casey. sebelum dia menceritakan kepada, Casey tuan Frank ingin gadis itu mengetahui seluk beluk mengapa perusahan Nathan dia ambil alih.
Saat kembali dari perusahaan tuan Smith, pria tua itu memperhatikan Casey dan ada sesuatu yang membuat dia tertarik untuk percaya kepada Casey sehingga tuan Frank mengambil suatu keputusan untuk mengajari Casey bagaimana menjadi seorang pemimpin.
“Begini, Casey. Aku ingin kamu mempelajari semua yang ada di lembaran ini,” tutur tuan Frank seraya menunjukan lembaran-lembaran yang sudah berada di atas meja.
“Ini adalah dokument penting dan laporan-laporan perusahan dari putra tuan Smith.” Casey memperhatikan lembaran itu dengan mengerutkan dahi.
Dia tidak mengerti apa maksud dari tuan Frank menunjukan semua dokument dan laporan-laporan perusahaan anak tuan Smith sementara dia hanya seorang asisten.
“Aku ingin kamu mempelajarinya, nanti kalau sudah bisa kamu yang akan mengurus perusahan itu.” Casey membulatkan mata mendengar apa yang dikatakan oleh tuan Frank.
“Maksud tuan?” tanya Casey seraya memegang beberapa lembar yang diberikan tuan Frank.
“Begini, Casey. Mungkin kamu tidak akan percaya mengapa aku lakukan ini. Melihatmu aku yakin kamu adalah anak pintar dan jujur.” Casey mengerutkan dahi mendengar setiap ucapan dari tuan Frank.
__ADS_1
“Aku tidak bisa mengurus dua sekaligus, saat ini perusahan itu masih dipegang oleh salah satu staffku. Aku hanya bisa melihat laporan-laporan yang dia berikan,” ungkap tuan Frank.
“Kalau sudah ada yang memegang perusahan itu untuk apa aku mengurusnya?” tanya Casey dengan heran.
“Begini, Casey. Aku mendengar staffku itu bermain di belakangku, jadi aku ingin kamu mengambil alih perusahan itu. Aku percaya padamu!” tutur tuan Frank dengan tegas.
“Untuk saat ini aku akan mengajarimu bagaimana menjadi seorang pemimpin. Aku percayakan semua keputusan di tanganmu,” sambung pria itu dengan tersenyum.
“Maksud, Tuan?” Casey semakin bertambah bingung, dia ingin tuan Frank menjelaskan lebih detail lagi kepadanya.
“Casey, aku jadikan kamu bukan hanya asistenku saja. Tapi aku berikan kuasa kepadamu untuk memberhentikan karyawan baik dia kepala bagian maupun manager yang melakukan kesalahan.” Tuan Frank ingin melihat kemampuan Casey, apakah dia bisa dijadikan pimpinan atau tidak.
“Tapi ….” Casey terhenti dan menatap tuan Frank. Dia merasa pria itu terlalu berlebihan memberikan kepercayaan yang begitu besar kepadanya.
“Apakah kamu tidak ingin menjadi wanita yang sukses?” tanya tuan Frank dengan menyela gadis itu.
Casey hanya diam dan berpikir, apakah dia sanggup menjalankan kepercayaan yang diberikan tuan Frank kepadanya. Menjadi wanita yang sukses adalah impiannya tapi Casey hanya merasa takut kalau dia mengecewakan pria itu.
“Kamu harus mencobanya, aku berikan kamu kesempatan untuk belajar,” bujuk tuan Frank.
“Baiklah, Tuan. Aku akan mencobanya.” Tuan Frank nampak senang mendengarnya.
“Itu bagus.” Saking senangnya tuan Frank bertepuk tangan dan memuji Casey. Baiklah, sekarang kamu kembali ke ruanganmu dan pelajari ini semua.” Tuan Frank memberikan semua lembaran-lembaran yang ada di meja kepada Casey.
Casey memasukan kembali semua lembaran itu ke dalam map kemudian berdiri dan pamit kepada tuan Frank. Casey langsung meninggalkan ruangan tuan Frank lalu dia berpapasan dengan Adam.
“Hi, Adam. Boleh aku memintamu untuk ikut bersama ke ruanganku?” tanya Casey dengan wajah memohon kepada pria itu.
Casey ingin meminta pendapat kepada Adam tentang pembicaraanya dengan tuan Frank, karena adam pernah memberikan semangat kepadanya saat membawa laporan yang diminta oleh tuan Frank.
“Baiklah, apakah ada hal yang penting?” tanya Adam seraya berjalan di samping Casey menuju ke ruangan gadis itu.
“Tidak ada, tapi aku hanya ingin meminta pendapatmu saja.” Adam menghentikan langkahnya dan berpaling menatap Casey.
“Pendapaku?” Casey menganggukan kepala dengan pelan.
Tanpa di suruh Adam langsung duduk di sofa, dia memperhatikan Casey yang berjalan ke arah meja kerja dan meletakan map kemudian berjalan kembali ke arahnya.
“Pendapat apa yang kamu ingin dariku?” tanya Adam saat Casey duduk di hadapannya.
“Begini, Adam ….” Casey menceritakan semua apa yang menjadi perbincangan dia dengan tuan Frank, nampak Adam mengangguk-anggukan kepala.
“Aku senang mendengarnya, Casey. Menurutku, kamu terima saja semua. Ini kesempatan yang sangat bagus untukmu,” ucap Adam dengan penuh semangat.
“Aku sangat yakin kamu pasti bisa, Casey.” Kembali Adam memberikan semangat kepada Casey, karena kesempatan tidak akan datang kedua kali.
“Tapi, Adam. Aku takut mengecawakan tuan Frank,” ujar Casey dengan menundukan kepalanya.
Buat Casey ini adalah kepercayaan yang sangat besar untuknya sedangkan dia belum ada pengalaman sama sekali. Casey merasa takut kalau dia gagal.
“Casey, kamu harus percaya pada dirimu. Aku yakin kamu bisa, kalau kamu butuh bantuanku sudah pasti aku bersedia.” Adam sangat mendukung Casey, sejak awal dia sudah simpatik kepada gadis itu.
Casey mengangkat wajahnya menatap Adam, wajahnya berubah tenang karena pria itu mendukungnya bahkan bersedia membantu dirinya. Di perusahan itu Casey belum banyak mengenal para staff, Adamlah karyawan pertama dia kenal.
“Terima kasih, Adam. Kamu baik sekali,” ucap Casey dengan tersenyum.
“Sama-sama,” balas Adam. Pria itu senang akhirnya Casey mau menerima penawaran dari tuan Frank, Adam sangat yakin Casey pasti bisa.
Valencia
Zelo terbangun, dia melihat jam yang tergantung di dinding sudah menunjukan pukul 10:45am, dia duduk di tempat tidur dan memperhatikan sekeliling kamar.
“Aku harus mencari kemana lagi, ah … Casey kamu membuatku gila.” Zelo turun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi, dia membasuh wajahnya dan menatap ke cermin.
“Dia benar-benar meninggalkanku, itu semua karena kebodohanku. Mengapa aku lebih memilih Sabino dari pada menyelamatkannya.” Dia terlihat begitu marah, Zelo melayangkan tinju ke cermin sehingga kaca itu pecah.
__ADS_1
Darah mengalir dari tangannya akibat terkena pecahan cermin, Zelo tertunduk lalu menyalakan kran air dan meletakan tangannya di bawah guyuran air.
Tidak berselang lama Zelo keluar dan berjalan ke depan, dia mencari Felix tapi tidak menemukan pria itu. Zelo masuk ke mobil dan kembali kekediamannya, sepanjang jalan dia memikirkan Casey.
“Anna dan Diaz pasti tahu kemana Casey pergi tapi mereka berdua menutupinya dariku.” Zelo memukul stir mobil, wajahnya terlihat sangat marah.
Zelo tiba di kediamannya, dia langsung masuk menuju ke kamat. Zelo duduk di sofa dan mengeluarkan bubuk yang masih berada di kantong kecil lalu meletakan di meja.
Zelo menghirup bubuk itu, dia mengusap berulang kali hidungnya dan kembali menghirupnya. Zelo bersandar di sofa lalu memejamkan mata.
“Casey, kamu benar-benar meninggalkanku. Sama sekali tidak memberikan kesempatan kepadaku.” Air bening mengalir di sudut mata pria itu.
Zelo bangkit berdiri dari duduknya dan berjalan ke tempat tidur, perlahan dia berbaring dan memejamkan mata. Dia memakai bubuk itu agar pikirannya jauh dari Casey, hanya dengan cara itu Zelo melakukannya.
Houston
Casey duduk di depan jendela kaca sambil mempelajari apa yang di berikan oleh tuan Frank kepadanya, sesekali dia memijit ruang di antara alisnya dikala membaca hal yang tidak dia mengerti.
Dia menatap ke luar jendela dan memperhatikan gedung-gedung bertingkat yang menjulang tinggi, kembali dia teringat kepada Zelo. Kenangan-kenangan indah selama empat tahun kebersamaan mereka memang tidak mudah untuk di lupakan.
Gadis itu tertunduk, tiba-tiba airmata jatuh di atas kertas putih itu. Casey meletakan lembaran itu di atas meja kemudian berdiri dan pergi ke kamar. Dia menghempaskan tubuhnya di kasur lalu menangis.
“Begitu sulit aku melupakanmu, tapi aku percaya dengan seiring waktu kamu pasti akan hilang dari ingatanku.”
Casey bangun lalu mengambil ponsel di meja nakas yang ada di samping tempat tidurnya, dia mencari nomor Anna. Casey sangat rindu dengan sahabatnya itu, dia langsung menghubungi nomor Anna. Tidak berselang lama terdengar suara Anna di seberang telepon.
“Hallo, siapa ini?” tanya Anna. Dia tidak tahu kalau itu adalah nomor Casey, saat di aiport Valencia gadis itu mengganti nomor baru.
“Hi, Anna. Ini aku Casey,” sahut Casey seraya berdiri dan pergi keluar menuju balkon.
“Casey ….” Teriakan Anna memekakan telinga Casey sehingga gadis itu menjauhkan ponsel dari telinganya.
“Kamu kemana saja, aku sangat rindu padamu?” ujar Anna dengan suara yang sangat bahagia mendapatkan telepon dari Casey.
“Aku juga rindu padamu, bagaimana kabar kamu dan Diaz?” tanya Casey sambil menyilangan kakinya di kursi dan menatap langit yang mulai gelap.
“Aku baik-baik saja, kamu dimana sekarang?” Kembali Anna bertanya, karena selama ini Casey tidak mengatakan kemana dia akan pergi.
“Um … aku akan mengatakan padamu tapi janji jangan sampai Zelo tahu,” pinta Casey sembari memindahkan ponsel ke telinga satunya.
“Iya, aku janji. Percaya padaku,” sahut Anna meyakinkan Casey kalau dia bisa di percaya.
“Baiklah, aku sekarang berada di Amerika dan aku juga sudah mendapatkan pekerjaan di sini,” tutur Casey dengan wajah berbinar.
“Benarkah? Kamu semakin jauh saja, Casey.” Anna tidak percaya Casey pergi sampai sejauh itu untuk menghindar dari Zelo.
“Demi kebaikanku, aku ingin melupakan Zelo. Kalau aku tetap tinggal di Valencia dia pasti akan menemukanku,” terang Casey.
“Iya, benar juga. Oh ya, jadi kamu sudah mendapatkan pekerjaan?” tanya Anna dari ujung telepon.
“Iya, aku bekerja di salah satu di perusahan besar sebagai asisten pribadi.” Kembali Casey menjelaskan kepada Anna.
“Wow, kamu hebat. Aku tidak menyangka begitu di Amerika kamu langsung mendapatkan pekerjaan,” puji Anna lalu Casey tersenyum.
Casey juga bersyukur, saat tiba di Amerika tepatnya di kota Houston dia tidak perlu repot-repot mencari pekerjaan. Dia sangat beruntung bertemu dengan Wesley.
“Iya, Anna. Aku sangat beruntung, baiklah nanti aku telepon kamu lagi. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku,” ujar Casey seraya bangkit berdiri dan pergi ke ruang tamu.
“Baiklah kalau begitu, sering beri kabar padaku,” pinta Anna di seberang telepon.
“Tentu saja, bye.” Casey menutup telepon kemudian dia mengambil kembali lembaran yang ada di meja dan membacanya.
Selamat membaca.
Jangan lupa like dan komentar ya
__ADS_1
Terima kasih