Amor Prohibido (Cinta Terlarang)

Amor Prohibido (Cinta Terlarang)
Mulai pencarian


__ADS_3

Walaupun semalam dia tidak tidur, paginya Isaiah langsung berangkat ke kantor. Kekasih Casey ini ingin mencari informasi kemana perginya sang pujaan hati.


Tidak mungkin Casey akan meninggalkannya, pria itu yakin kalau sang kekasih sangat mencintainya, Ia tidak meragukan wanita itu. Isaiah yakin pasti sudah terjadi sesuatu kepada tunangannya itu.


Isaiah masih mondar-mandir di lobby menunggu Edgar, lalu Ia melihat pria itu sedang berlari menghampirinya. Isaiah langsung memberi isyarat agar ikut dengannya ke ruangan, kekasih Casey tidak ingin ada yang tahu menghilangnya wanita yang dia cintai.


“Apakah kau sudah mendapatkan informasi?” tanya Isaiah saat dia dan Edgar sudah berada di ruangan.


“Belum, Tuan. Sebaiknya kita menemui tuan Moralez dan bertanya kepada beliau,” saran Edgar karena dia juga tidak tahu kemana atasannya pergi.


“Baiklah.” Isaiah mengikuti saran Edgar walaupun semalam dia sudah mendapatkan informasi dari tuan Moralez.


Dia dan Edgar meninggalkan ruangan lalu menuju ke parkiran, Isaiah meminta sang asisten untuk menyetir karena pikirannya tidak fokus, juga tidak tidur dari semalam memikirkan Casey.


Tiba di kantor tuan Moralez, Isaiah dan Edgar langsung menuju ke pemilik perusahaan itu. Mereka bertemu dengan Hugo, pria itu langsung mengantar Isaiah menemui atasanya.


Melihat sang asisten dan Isaiah masuk, tuan Moralez langsung berdiri meyambut kekasih Casey. Memperhatikan wajah pria itu yang terlihat sangat cemas, tuan Moralez langsung berpikir ada sesuatu terjadi.


“Sudah ada kabar dari Casey?” tanya tuan Morales mengingat semalam Isaiah meneleponnya menanyakan sang kekasih.


“Belum, Tuan. Ponselnya aktif tapi tidak ada jawaban setiap kali aku menghubunginya.” Isaiah menyampaikan dengan suara yang terdengar sangat khawatir.


“Apakah mobil yang digunakan Casey memakai GPS?” Kembali tuan Moralez bertanya, kalau memiliki alat tersebut mereka bisa dengan mudah menemukan wanita itu.


“Mobil yang di gunakan Casey baru di beli dan memiliki GPS tapi terhubung dengan perangkat milik Casey dan sekarang alat itu ada bersamanya,” tutur Edgar menjelaskan kepada tuan Moralez dan Isaiah.


“Apakah ponsel Casey tidak terhubung dengan perangkat milikmu?” Kali ini Hugo asisten tuan Moralez yang bertanya.


“Ah, mengapa aku sampai lupa?” Isaiah menepuk dahinya dengan pelan, karena terlalu cemas dia sampai tidak memikirkan hal itu.


“Aku harus kembali ke kantor, biasanya Casey menghubungkan ponselnya ke macbook miliknya,” ujar Isaiah seraya berdiri dan ingin meninggalkan ruangan tuan Moralez.

__ADS_1


“Kita berangkat sama-sama.” Tuan Moralez tidak ingin ketinggalan, dia juga khawatir terjadi sesuatu kepada Casey.


Akhirnya mereka berangkat bersama, Isaiah bersama Edgar sedangkan tuan Moralez bersama Hugo, sepanjang jalan pikiran Isaiah tidak tenang. Yang ada di kepalanya mungkin Casey mengalami kecelakaan.


Begitu tiba, Isaiah langsung berlari masuk ke dalam gedung sehingga para karyawan yang berada di lobby melihatnya dengan heran. Isaiah memencet tombol lift lalu mondar-mondir dengan kedua tangan di saku celana.


Sementara tuan Moralez dia hanya berjalan tapi dengan langkah cepat diikuti Hugo dan Edgar, lift terbuka mereka bertiga segera masuk dan menyusul Isaiah.


Sedangkan Isaiah, setelah tiba di lantai sebelas dia langsung menuju ke ruang kerja Casey dan membuka macbook milik sang kekasih. Dia mencari apakah ponsel Casey terhubung dengan perangkat yang ada di depannya.


Wajah Isaiah langsung berubah senang, ternyata Casey menghubungkan ponsel itu ke macbook. Isaiah langsung mencari letak posisi benda pipi itu. Dia menepuk meja saat lokasi perangkat itu ditemukan bersamaan tuan Moralez masuk ke ruangan.


“Bagiamana? Kau menemukannya?” tanya tuan Moralez saat melihat wajah Isaiah berubah senang.


“Iya, ini lokasinya.” Isaiah menggeserkan MacBook kepada tuan Moralez dan menunjukkan lokasi ponsel itu berada.


“Ini menuju ke proyek, sebaiknya kita langsung menuju kesana.” Tuan Moralez tahu lokasi itu, tanpa hitungan mereka langsung meninggalkan gedung kantor.


Mata Isaiah tak lepas dari Macbook yang dia bawah untuk tetap mengetahui posisi ponsel milik Casey sambil sesekali mata melirik sekeliling jalanan yang mereka lalui.


“Semakin dekat, Ed,” beri tahu Isaiah sambil sedikit memajukan badan untuk melihat ke depan.


Edgar memperlambat laju mobil dan memperhatikan sekeliling, mencari adakah kendaraan yang digunakan Casey berada di sekitar situ.


Isaiah kembali memperhatikan titik merah yang redap redup di layar laptop semakin dekat dengan posisi mobil mereka, kembali dia mengangkat wajah dan memperhatikan keluar jendela.


“Ed, titiknya ada di sebelah kanan. Coba kau arahkan mobil ke jalan kecil itu.” Edgar melihat jalan yang di tunjuk oleh Isaiah lalu membelokkan mobil.


Semakin lama titik itu semakin dekat, di belakang kendaraan tuan Moralez mengikuti mereka. Edgar menghentikan mobil saat melihat sebuah rumah yang tidak besar, dia dan Isaiah saling bertatap.


“Titiknya berada di rumah itu,” tunjuk Isaiah sambil meletakkan MacBook di kursi belakang.

__ADS_1


Mobil tuan Moralez juga berhenti tepat di belakang kendaraan yang di tumpangi Isaiah dn Edgar. Mereka turun dan memperhatikan rumah itu. Tuan Moralez berjalan menghampiri Isaiah.


“Mengapa berhenti di sini?” tanya tuan Moralez sambil mata memperhatikan sekitar mereka.


“Karena ponsel Casey berada di rumah itu,” jawab Isaiah sambil melangkahkan kaki menuju ke rumah itu.


Tuan Moralez juga Edgar dan Hugo mengikuti Isaiah menuju ke rumah itu, tiba-tiba seorang pria keluar dengan senjata di tangannya dan menodongkan kepada mereka.


Sontak Isaiah berhenti di ikuti oleh tuan Moralez, Hugo dan Edgar, mereka berempat langsung mengangkat kedua tangan di depan pria itu agar tidak di tembak.


“Apa yang kalian cari disini?” tanya pria itu seraya menatap mereka satu-persatu.


“Maaf jika sudah mengganggu Anda, tapi aku sedang mencari kekasihku dan ponselnya menunjukkan lokasi rumah ini,” jawab Isiah dengan berhati-hati tidak ingin kena tembak.


“Oh, kekasihmu pemilik ponsel itu.” Melihat gelagat Isaiah dan tuan Moralez baik pria itu menurunkan senjatanya dan menyuruh mereka masuk.


“Aku menemukan ponsel kekasihmu di pinggir jalan,” beri tahu pria itu seraya membuka laci meja dan mengambil ponsel milik Casey dan menyerahkan kepada Isaiah.


“Kau menemukan di pinggir jalan?” Pria itu menganggukan kepala menjawab pertanyaan Isaiah.


“Saat aku akan kembali tiba-tiba aku melihat beberapa mobil saling baku tembak lalu aku bersembunyi dan sempat melihat seseorang melempar ponsel ini ke jalan,” ungkap pria itu dengan menunjukkan benda yang ada di tangan Isaiah.


Isaiah menjadi khawatir, kini dia tahu Casey di culik, tapi siapa yang menculik kekasihnya itu? Isaiah berdiri lalu mondar-mandir pikirannya kini menjadi buntu.


“Isaiah, tenangkan dirimu. Sebaiknya kita melaporkan hal ini ke polisi,” anjur tuan Moralez dengan menepuk pelan punggung Isaiah.


“Siapa yang telah menculik Casey, dia tidak memiliki musuh di sini.” Tiba-tiba Isaiah terdiam, pikirannya langsung tertuju kepada mantan direktur.


Isaiah ingat betul saat Casey memecatnya, mantan direktur itu sangat marah dan mengancam kekasihnya, kini Isaiah mencurigai pria itu.


“Iya, lebih baik kita laporkan kepada polisi saja supaya Casey cepat di temukan.” Isaiah setuju dengan usulan tuan Moralez.

__ADS_1


Mereka meninggalkan rumah itu dan kembali ke kota menuju ke kantor polisi, tidak lupa juga tuan Moralez menghubungi semua anak buahnya untuk mencari informasi siapa yang telah menculik Casey.


__ADS_2