Amor Prohibido (Cinta Terlarang)

Amor Prohibido (Cinta Terlarang)
Lebiih bagus seperti itu


__ADS_3

Setelah kembali ke rumah pria itu memanggil beberapa anak buahnya berkumpul di kantor, dia tidak ingin ada yang menguping pembicaraan mereka.


“Aku ingin kalian mencari Nathan dan istrinya, cari di mana jurang yang menuju ke kota itu,” perintah tuan Smith kepada anak buahnya. Dia berharap anak dan menantunya di temukan dalam keadaan hidup walau’pun itu tidak memungkinkan karena sudah masuk hari ke lima.


“Baik, Tuan. Kami akan mencari mereka berdua,” ujar salah satu dari anak buahnya.


“Oh ya, jangan sampai Dany tahu dan awasi dia.” Mereka menganggukan kepala kemudian  meninggalkan ruang meeting.” Pria itu kembali ke ruang kerja dan duduk, dia memanggil sang asisten.


“Tuan memanggilku?” Tuan Smith tersenyum dan menganggukan kepala.


“Duduk.” Wanita itu menarik kursi dan duduk di depan tuan Smith. “Aku ingin kamu menghubungi pengacaraku, minta dia datang ke sini ada yang ingin aku sampaikan kepada kalian berdua.” Sang asisten berdiri kemudian dia pergi menghubungi pengacara tuan Smith.


Ayah Nathan sudah berencana untuk mewariskan semua harta kekayaan kepada kedua cucunya di bawah pengawasan sang pengacara. Pria itu sudah berpikir Dany pasti akan membunuhnya juga.


“Kalau tidak ada kabar dari anak buahku tentang Nathan dan Alice, untuk keselamatan kedua cucuku aku harus menyingkirkan mereka dari negara ini.” Pria itu ingin menyelamatkan kedua anak Nathan, dia sudah mendengar sendiri Dany akan membunuh cucunya.


Lalu pintu diketuk, pria itu menyuruh masuk. Dia berdiri dan tersenyum saat melihat pengacara juga asisten di depan pintu.


“Silahkan masuk,” ujar pria itu seraya berdiri dan duduk di sofa bersama pengacara. Saat asisten akan pergi ayah Nathan menahannya. “Kamu juga harus di sini.” Sang asisten duduk kemudian dia memperhatikan tuan Smith bicara.


“Aku meminta kalian ke sini karena ada yang ingin aku sampaikan.” Tuan Smith berdiri dan berjalan ke arah pintu, dia melihat sana-sana sini. Tuan Smith tidak ingin ada yang mendengar pembicaraan mereka.


Merasa aman dia mengunci pintu dan melanjutkan pembicaraan, sedangkan pengacara dan asisten merasa heran melihat sikap pria itu.


“Begini, Nathan dan istrinya mengalami kecelakaan. Aku mendengarnya dari Dany.”  Asisten dan pengacara terkejut, mereka saling tatap mata.


“Kecelakaan dimana?” tanya pengacara. Bagaimana keadaan mereka?” Tuan Smith memberi isyarat kepada sang pengacara untuk tenang.


“Aku tidak tahu mereka kecelakaan dimana, tapi itu sudah di rencanakan oleh Dany. Dia ingin membunuh Nathan bersama istrinya untuk mengambil alih perusahaan ini dan kekayaanku.” Kembali asisten dan pengacara itu terkejut, mereka tidak percaya Dany bisa berbuat hal itu.

__ADS_1


“Kenapa Anda tidak melaporkan kepada polisi?” tanya pengacara itu dengan heran tapi ayah Nathan menggelengkan kepala.


“Kalau aku melaporkannya nanti menimbulkan fitnah karena tidak ada bukti, aku hanya mendengar percakapan dia dan istrinya di telepon,” jelas tuan Smith kepada pengacara dengan berdiri dan mengambil beberapa lembar yang sudah dia tanda tangani dan memberikan kepada  pengacara itu.


“Apakah Anda tidak merekam pembicaraan mereka?” Tuan Smith menggelengkan kepala kemudian dia duduk kembali.


“Aku tidak sempat merekam pembicaraan mereka. Ah … seandainya ada rekaman aku sudah jebloskan dia ke penjara.” Wajah pria itu terlihat sangat kesal, kalau bisa dia ingin sekali membunuh Dany. Tapi tuan Smith mengingat kedua cucunya.


“Sayang sekali, Tuan. Aku heran, kenapa sifat Nathan berbeda jauh sekali dengan Dany padahal mereka kakak beradik.” Pengacara itu menggeleng-gelengkan kepala mengetahui kelakuan Dany yang begitu rakus.


“Dia bukan adik Nathan.” Pengacara itu terkejut dan membelalakan mata. “Dany bukan anakku.” Asisten juga terkejut mendengar apa yang di katakan oleh tuan Smith.


“Maksud, Tuan,” tanya sang pengacara lalu ayah Nathan menjelaskan semua kepada pria itu dan asisten. mereka mengangguk-anggukan kepala mendengar cerita tuan Smith.


“Tolong simpan semua dokumen ini di bank, jangan sampai Dany tahu karena dia juga merencanakan untuk membunuh aku dan kedua cucuku.” Pengacara dan asisten menggelengkan kepala mendengar segala rencana dari anak tiri tuan Smith.


“Aku akan mengirim kedua anak itu ke luar Negeri. Aku tidak ingin mereka tinggal di sini, kalau sudah aman Asher dan Zelda bisa kembali,” ujar pria itu dengan setengah berbisik. Dia tidak ingin ada yang tahu rencananya.


“Lebih bagus seperti itu,” ujar sang pengacara sedangkan asisten hanya bisa mendengarnya, dia tidak bisa berkata apa-apa.


“Aku juga berencana perusahan ini aku akan serahkan kepadamu.” Sang asisten mengangkat kening mendengar bosnya berkata begitu.


“Kenapa aku, Tuan?” tanya wanita itu dengan heran.


“Karena hanya kamu yang bisa aku percaya, tunggu sampai dapat kabar dari anak buahku. Mereka sedang mencari posisi di mana mobil mereka jatuh.” Sang asisten hanya menganggukan kepala dia tidak bisa membantah kepada pria itu.


“Aku ingin kamu alihkan semua harta kekayaanku kepada kedua cucuku.” Pengacara itu menganggukan kepala. “Sekali lagi jangan sampai Dany tahu, aku tidak ingin memberikan apapun kepadanya.” Wajah pria itu terlihat sangat marah karena Dany sudah membunuh anak satu-satunya.


“Baik, Tuan. Aku akan membuat surat ahli waris atas nama kedua cucu Anda.” Tuan Smith tersenyum dan menepuk pelan punggung pengacara itu.

__ADS_1


“Aku percaya kepadamu, simpan semuanya di bank.” Kembali pengacara itu menganggukan kepala, dia ingin melakukan yang terbaik untuk tuan Smith.


Pengacara itu berdiri di ikuti ayah Nathan kemudian dia meninggalkan ruangan begitu juga dengan  asisten. Tidak lama kemudian tuan Smith meninggalkan kantor dan kembali ke rumah, dia tidak ingin membiarkan kedua cucunya sendiri walaupun ada pelayan dan pengasuh serta beberapa anak buahnya.


Tiba di rumah dia langsung mencari kedua cucunya, tuan Smith tersenyum melihat Asher dan Zelda sedang tidur berpelukan. Dia membelai kedua rambut anak itu dan mengecup kening mereka.


Ayah Nathan memanggil pelayan rumah dan mengajak ke ruang kerja, dia menyuruh pelayan itu duduk kemudian pria itu mengunci pintu.


“Ada yang ingin aku bicarakan kepadamu.” Pria itu menarik kursi dan duduk kemudian dia melanjutkan pembicaraannya.


“Kalau mereka menemukan anak dan menantuku dalam keadaan meninggal, aku ingin kamu membawa kedua cucuku ke Negaramu.” Wanita itu mengkerutkan dahi mendengar permintaan pria itu.


“Tapi, Tuan. Anda sendiri tahu aku tidak memiliki apa-apa di Negaraku.” Pria itu kembali menyampaikan rencananya kepada sang pelayan.


“Kamu tidak usah khawatir, untuk tempat tinggal dan kehidupan sehari-hari kalian di sana aku yang akan membiayainya. Tidak mungkin aku membiarkan cucuku hidup dalam kesusahan.” Wanita itu menganggukan kepala, dia tidak bisa menolak permintaan tuannya.


Lagipula dia sangat menyayangi kedua anak itu, pelayan itu sangat senang kepada Asher dan Zelda karena mereka anak yang baik.


“Apakah tuan belum mendapatkan kabar dari Nathan dan Alice.” Pria itu menggelengkan kepala wajahnya terlihat sangat sedih.


“Belum, oh ya jangan sampai Dany tahu kalau kamu membawa kedua cucuku ke Spanyol.” Kembali pelayan itu menganggukan  kepala.


“Tuan jangan khawatir aku akan menjaga mereka berdua.” Pria itu tersenyum, dia sangat percaya kepada pelayan itu karena sudah lama wanita itu bekerja di rumahnya.


“Terima kasih, Celeste. Kamu sangat baik dan kedua cucuku sangat akrab denganmu.” Celeste tersenyum mendengar pujian majikannya.


“Sama-sama, Tuan. Kedua cucu Anda sangat baik.” Pria itu menganggukan kepala kemudian berdiri.


“Baiklah, sekali lagi jangan sampai ada yang tahu.” Celeste ikut berdiri dan berpamitan kepada tuannya kemudian dia meninggalkan pria itu dan kembali ke dapur.

__ADS_1


__ADS_2