
Saran Asher akhirnya diikuti oleh orang tua Isaiah, demi keamanan putra dan menantu mereka tuan Hynes telah menentukan siapa saja dokter juga perawat yang bisa masuk keluar di ruang perawatan.
Dia tidak ingin apa yang dikhawatirkan oleh Asher terjadi, bahkan tuan Hynes menerima beberapa anak buah dari Asher untuk menjaga Casey dan Isaiah.
Dua anak buah Asher berjaga di depan pintu, mereka hanya mengijinkan masuk keluarga atau teman Isaiah dan Casey. Sesuai perintah Asher, mereka begitu ketat menjaga ruangan Isaiah.
Sementara Asher, begitu mendapatkan kepercayaan dari keluarga Isaiah, pria itu begitu bebas datang ke rumah sakit. Dia dan Wesley selalu bergantian menemani Casey menjaga Isaiah.
Seperti malam ini karena tidak tahu harus melakukan apa di rumah, Asher datang ke rumah sakit menemui Casey. Beruntung hanya wanita itu di dalam ruangan, dengan tersenyum Asher masuk dan menghampiri Casey.
“Sendiri?” Casey menoleh ke arah pintu yang menghubungkan ruangan penjaga dan perawatan Ia tersenyum melihat Asher berjalan menghampirinya.
“Iya, Wesley baru saja pulang,” jawab Casey sambil mengisyaratkan Asher untuk duduk di dekatnya.
“Jadi malam ini kamu hanya sendiri saja menjaga Isaiah?” Casey menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Asher lalu mengambil buah apel dan mengupasnya.
“Aku temani kamu.” Asher menarik kursi dan duduk di dekat branka. “Tenang saja, aku tidak akan mengambil istrimu, dia sudah menjadi adikku sekarang.” Casey tersenyum mendengar Asher berkata begitu kepada Isaiah.
“Jangan khawatir, Isaiah tidak akan marah. Sebaliknya dia sangat senang kalau kau menganggapku adikmu.” Sambil berucap Casey membelai rambut Isaiah. “Bukan’kah begitu, Babe?” Casey mengecup dahi sang suami lalu dia menatap Asher.
“Bagaimana proyek yang di kerjakan ayahmu?”
“Berjalan dengan baik,” jawab Asher seraya tersenyum dan mengacak rambut Casey.
Asher melihat jam yang ada di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul sepulu malam, dia bangkit berdiri dan pergi berbaring di sofa. Malam ini dia ingin menginap di rumah sakit menemani Casey.
“Lebih baik kamu tidur, biar aku yang akan menjaga Isaiah. Ingat kamu lagi hamil,” saran Asher kepada Casey. Dia tidak ingin sang mantan kelelahan.
“Sebentar lagi, aku masih ingin bersamanya.” Casey mengalihkan pandangannya kepada Isaiah lalu berbincang dengan sang suami walau’pun pria itu masih belum sadar.
Casey tahu walau’pun Isaiah dalam keadaan koma sang suami bisa mendengarkan suaranya, maka dari itu Casey tidak henti-hentinya berbicara kepada Isaiah.
__ADS_1
Merasa cukup, akhirnya Casey bangkit berdiri lalu pergi ke ruangan yang terhubung dengan ruang perawatan. Casey berbaring, sambil memejamkan mata Ia mengelus perutnya yang masih rata itu.
Sementara di suatu tempat, mendapatkan kabar kalau ruang perawatan Isaiah di jaga ketat, pria itu menjadi marah. Dia melemparkan gelas ke dinding lalu berteriak di telepon.
“Cari tahu siapa saja dokter dan perawat yang menangani Isaiah lalu lanjutkan rencana yang sudah di atur,” perintah pria itu lalu menutup teleponnya.
“Shiit … mengapa penjagaannya diperketat? Apakah mereka mulai tahu kalau Isaiah dalam bahaya. Dasar anak buah ceroboh,” umpat pria itu lalu keluar dari ruang kerja. Ia mengambil kunci mobil dan meninggalkan kantor.
Di tempat lain Dany terlihat sangat senang Isaiah mendapatkan kecelakaan, kini Ia berencana untuk menyingkirkan Casey. Dia menyewa pembunuh bayaran untuk menuntaskan dendamnya kepada wanita itu, Dany meminta pria itu untuk datang menemuinya di club.
“Kalau kau tidak masuk campur dalam urusanku tidak akan terjadi seperti ini, karena kamu memutus semua kerja sama perusahanku inilah akibatnya,” gumam Dany dalam kegeramannya.
Pria itu tidak tahu kalau Casey ada dalam perlindungan Asher dan tuan Moralez, kalau terjadi sesuatu kepada Casey maka Dany akan berhadapan dengan Asher.
Kini Dany sudah berada di club, Ia ingin bertemu dengan pembunuh bayaran. Dany melihat pria itu sedang duduk di bartender, dia menghampiri pembunuh bayaran itu dan menyapanya.
“Sudah lama menunggu, Alden?” Pria itu menoleh ke arah suara itu lalu tersenyum.
Dany memesan ruang VIP, Ia tidak ingin ada yang tahu pembicaraannya dengan si pembunuh bayaran itu. Begitu berada di ruangan Dany duduk dan memesan minuman.
Kini Dany menjelaskan kepada sang pembunuh bayaran tentang Casey dan dimana keberadaan wanita itu. Ia ingin Alden segera melaksanakan apa yang dia inginkan, soal bayaran sudah pasti Dany menyanggupinya.
“Baiklah, Anda tidak usah khawatir. Secepatnya aku akan melakukannya, Anda tunggu kabar saja dariku.” Alden tidak berlama-lama di ruangan VIP selesai menghabiskan minumnya dia meninggalkan Dany.
Sementara Dany, begitu perginya Alden dia tersenyum puas. Kali ini pikirnya semua apa yang direncanakan akan berhasil, Ia membayar minuman itu dan meninggalkan club.
Ternyata pertemuan Dany dan Alden diketahui oleh anak buah Jhon orang kepercayaan Asher, yang sudah mengikuti pria itu ke club. Ia langsung melaporkan apa yang dilihatnya kepada Jhon.
Mendapatkan kabar dari anak buahnya, Jhon langsung menelepon Asher dan memberitahukan kepada pria itu. Sementara Asher sedang bersama Lucas, dia langsung membahasnya dengan orang kepercayaannya itu.
“Benarkah? Apakah kau kenal siapa pria yang bersamanya, Lucas?” tanya Asher dengan suara yang pelan, dia tidak ingin Casey terbangun.
__ADS_1
“Iya, Tuan. Aku mengenal dia, namanya Alden. Dia adalah sniper terhebat yang selalu di sewa untuk membunuh.” Wajah Asher berubah menjadi gelap mendengar informasi dari orang kepercayaannya.
“Bangsat, awasi Alden. Jangan sampai dia berhasil melakukan rencana Dany, bila perlu bunuh pria itu,” perintah Asher dengan marah. Kali ini dia harus ekstra ketat menjaga Casey karena bukan hanya satu orang saja yang ingin mencelakakan sang mantan.
“Baik, Tuan. Aku akan terus mengawasinya, Anda jangan khawatir.” Anak buah Asher yang satu ini adalah orang yang terlatih dan bisa dikatakan tidak dapat dikalahkan oleh siapa’pun.
Tuan Moralez sengaja memberikan Lucas kepada Asher untuk melindungi sang putra apabila dalam bahaya, kini Asher meminta Lucas untuk membantu melindungi Casey. Sedangkan Jhon membantu untuk mengawasi Dany.
Anak buah Lucas yang di tempatkan di rumah sakit mau’pun yang mengawal Asher adalah orang-orang terbaik dan sangat loyal. Maka dari itu gaji yang diberikan tuan Moralez kepada Lucas tidak sedikit.
Kini beberapa anak buah yang di tugaskan Lucas mengawasi Alden sedang berada di depan rumah pria itu, mereka menunggu apa yang akan di lakukan oleh Alden malam ini.
Di rumah sakit, Asher berada di depan pintu dan berbincang-bincang dengan kedua anak buahnya yang sedang menunggu rekan mereka untuk bergantian berjaga.
“Ada hal yang mencurigakan?” tanya Asher kepada kedua pengawal itu.
“Sejauh ini aman-aman saja,” jawab salah satu dari mereka lalu Asher menganggukkan kepala dan kembali masuk.
Asher melihat Casey sedang berbaring dengan tangan mengelus perutnya, Ia tersenyum lalu menghampiri sang mantan dan duduk di sisi tempat tidur.
“Sudah larut malam, kenapa belum tidur.” Casey menoleh kepada Asher lalu tersenyum.
“Aku memikirkan Isaiah, entah kapan dia bisa sadar. Hampir sebulan dia koma.” Asher meraih tangan Casey dan membelainya.
“Kamu harus sabar dan kuat, jangan terlalu banyak berpikir. Ingat kamu lagi mengandung, sekarang tidur.” Asher melepaskan genggamannya dan menarik selimut menutupi tubuh Casey.
“Terima kasih, sudah mau menemaniku.” Kembali Asher tersenyum lalu mengecup kening Casey dengan lembut.
“Sekarang tidur.” Casey menganggukkan kepala lalu memejamkan mata.
Asher menemani Casey sampai wanita itu tertidur lalu dia pergi ke ruang perawatan yang masih bersebelahan dengan tempat Casey beristirahat, Asher merebahkan tubuhnya di sofa dan mencoba untuk tidur.
__ADS_1