
Tak terasa kandungan Casey saat ini sudah masuk sembilan bulan dan Isaiah belum juga sadar. Dia terlalu nyenyak dalam tidurnya, mungkin suami Casey ingin memberikan kesempatan kepada Asher untuk lebih dekat lagi dengan istrinya.
Persiapan untuk Casey melahirkan sudah di atur jauh-jauh hari, ruangan yang akan digunakan juga hanya bersebelahan dengan tempat Isaiah di rawat. Bahkan dokter kandungan sudah stand by untuk membantu Casey lahiran.
Nampak wanita itu berjalan di sekliling villa untuk menghilangkan rasa sakit ditemani oleh Asher. Dengan sabar pria itu mendampingi sang mantan yang sudah dia anggap adiknya sendiri.
Menikmati udara pagi hari di villa memang sangat bagus, apalagi untuk ibu hamil. Sekeliling villa banyak pohon juga tanaman yang dirawat sangat baik. Inilah kegiatan Casey setiap hari untuk kelancaran dia melahirkan.
“Auh … dia menendang lagi,” ujar Casey seraya berhenti berjalan dan memegang perutnya.
“Benarkah?” Asher meletakkan telapak tangannya di atas perut Casey dan benar saja, dia merasakan tendangan bayi.
“Sabar, Sayang. Kalau kau sudah lahir, kita berdua setiap hari akan bermain bola.” Sambil berucap Asher mengelus lembut perut Casey.
“Anakku sangat aktif, dari kandungan lima bulan dia sudah menendang,” tutur Casey di ikuti tawa. Dia mengelus perutnya yang sangat buncit itu lalu melanjutkan jalannya.
Sambil memejamkan mata dia menghirup udara yang sangat segar, Casey tersenyum dan mengelus-elus perutnya. Tidak sabar lagi ingin melihat anaknya lahir, Ia menarik napas yang dalam kemudian melayangkan pandangannya ke danau buatan.
“Aku ingin pergi ke sana,” pinta Casey dengan menunjuk ke arah danau.
“Jangan jauh-jauh, bagaimana kalau kamu melahirkan disana,” ujar Asher dengan bercanda lalu dia menggenggam tangan Casey dan mengajaknya kembali ke villa.
Casey langsung masuk kamar mandi membersihkan diri, sementara di ruangan sudah tersedia sarapan mereka. Sedangkan Asher, dia menyiapkan susu hamil untuk Casey. Walau’pun ada orang tua Isaiah dan nyonya Paulo, Asher tetap mengurus Casey dengan telaten.
Saat Asher sudah selesai membuat susu, Casey keluar dari kamar dengan rambut yang masih basah tapi sudah mengenakan pakaian hamil. Asher tersenyum melihat Casey lalu menuntun wanita hamil itu untuk duduk.
“Ayo minum susumu.” Asher memberikan gelas yang sudah berisikan susu kepada Casey lalu duduk di hadapan wanita itu sambil memperhatikan perut buncit Casey.
“Auh ….” Tiba-tiba Casey merintih kesakitan dan memegang perutnya. Dia merasakan sakit yang teramat sangat dengan memejamkan mata.
Asher dengan sigap langsung duduk di samping Casey dan mengusap punggung wanita itu untuk meredakan rasa sakit.
“Sungguh nikmat rasa sakit dikala hamil.” Kalau Casey sudah mengeluh seperti itu berarti rasa sakitnya sangat luar biasa.
“Apa yang harus aku lakukan agar bisa mengurangi rasa sakit itu?” tanya Asher tanpa menghentikan tangannya mengusap belakang Casey.
“Tidak ada,” jawab Casey seraya berdiri dan mondar-mandir di dalam ruangan tempat Isaiah di rawat. Dia menatap sang suami yang masih lelap dengan komanya.
__ADS_1
‘Seandainya kamu bisa mendapamingiku saat ini, rasa sakitku akan berkurang,’ batin Casey.
Disaat-saat seperti ini Casey sangat ingin di dampingi oleh orang yang dia cintai tapi apa daya sang suami masih koma. Tapi beruntung ada mantan yang selalu setia menemaninya.
Asher melihat keadaan Casey merasa khawatir, dia keluar dan pergi memanggil dokter. Pikirnya mungkin Casey sudah akan melahirkan, dia pergi ke kamar dokter dan mengetuk pintu.
Di villa Asher menyiapkan kamar untuk dokter mau’pun perawat, mereka di perlakukan istimewa oleh Asher dan keluarga Isaiah. Pintu terbuka, dokter langsung menghampiri Asher.
“Ada apa, Asher?” tanya dokter dengan menatap wajah Asher yang terlihat cemas.
“Dok, sepertinya Casey akan melahirkan.” Dokter mengerutkan dahi lalu memanggil asistennya untuk ikut ke ruangan bersalin yang di siapkan Asher.
Mereka langsung menuju ke kamar tempat Isaiah di rawat, disana Casey sedang mondar-mandir dengan mengelus perutnya yang buncit. Dokter langsung menghampiri Casey.
“Apakah ketubannya sudah pecah?” tanya dokter dengan mengelus lembut belakang Casey.
“Belum, Dok. Tapi sakit ini sungguh luar biasa.” Nampak napas Casey tidak teratur menahan rasa sakit di pinggang dan belakangnya.
“Oh, berarti belum saatnya bersalin.” Dokter tersenyum kepada Asher. “Memang mendekati bersalin dia akan merasakan sakit yang luar biasa,” ucap dokter kepada Asher untuk menenangkan pria itu.
Asher merasa kasihan melihat Casey yang sudah beberapa hari mengalami kesakitan, dia mengambil air putih dan memberikan kepada wanita itu.
Dia lebih suka berjalan untuk menurunkan rasa sakit, Casey mangambil air putih itu dari tangan Asher dan meminumnya. Dia duduk sebentar lalu kembali berdiri, sementara Asher menyiapkan sarapan untuk Casey.
Asher sudah seperti suami Casey, menemani dan mengurus wanita itu selama menjalani kehamilannya. Kedua orang tua Isaiah tidak marah tapi sangat berterima kasih kepada Asher yang selalu memperhatikan menantu dan putranya.
Nyonya Hynes dan Nyonya Paulo memperhatikan Asher yang terus menyuapkan sarapan ke mulut Casey, mereka berdua tersenyum dan menggeleng-gelengkan. Pikirnya kalau Isaiah sadar dan melihat Asher dan sang menantu pasti putranya akan cemburu.
Sambil mengikuti Casey yang mondar-mandir, Asher menyuap makanan ke mulut Casey. Dengan cara ini Asher memberikan perhatian kepada wanita itu tapi hanya sebagai adik, agar dia bisa lebih dekat lagi dengan wanita berperut buncit itu.
****
Sudah tengah malam Casey tidak bisa tidur, rasa sakit di pinggang dan belakang membuat dia selalu terjaga. Sementara Asher sudah tertidur di sofa, Casey tidak ingin membangunkan pria itu.
Tiba-tiba dia merasakan cairan mengalir di pahanya, Casey mengalami pecah ketuban. Ia berteriak kesakitan sambil memegang perutnya, sambil menahan sakit dia membangunkan Asher.
“Asher, bangun.” Casey menepuk pipi Asher berulangkali tapi pria itu masih tidur dengan lelap. Tidak tahan lagi, Casey menekan tombol darurat di dekat pintu.
__ADS_1
Semua penghuni villa terbangun mendengar alarm, mereka langsung bangun dan berlari ke kamar tempat Isaiah di rawat. Nyonya Hynes serat nyonya Paulo juga dokter kandungan dan dokter yang merawat Isaiah bersamaan tiba di depan ruangan.
Mereka langsung masuk dan melihat Casey sedang duduk di tempat tidur dengan posisi seperti orang yang sudah siap untuk melahirkan. Nyonya Hynes dan dokter kandungan langsung membawa Casey ke ruangan tempat bersalin yang hanya bersebelahan dengan tempat Isaiah.
Dokter kandungan memanggil sang asisten untuk mendampinginya serta satu orang perawat, dokter membaringkan Casey dan memeriksa jalan lahir wanita itu. Ternyata sudah pembukaan akhir, dokter meminta Casey untuk tenang.
Sementara Asher terbangun karena mendengar keributan, dia melihat Casey tidak ada di dalam kamar, dia bangkit berdiri dan keluar mencari Casey lalu dia berpapasan dengan seorang perawat.
“Dimana Casey?” tanya Asher dengan wajah khawatir.
“Oh, nyonya di dalam ruangan itu. Sebentar lagi dia akan melahirkan.” Asher langsung masuk dan melihat nyonya Hynes sedang menangani Casey.
Asher langsung berdiri di samping tempat tidur lalu dia memegang tangan Casey, dia ingin mendampingi sang mantan melahirkan. Nyonya Hynes tidak melarang Asher berada di dalam, dia mendukung pria itu untuk menemani sang menantu.
Dokter dan perawat menyediakan alat bersalin, selesai dokter duduk di bawah dan memperhatikan jalan lahir milik Casey lalu memberikan arahan kepada wanita itu.
Casey mulai mengejan, dia menarik kaos Asher untuk mendapatkan kekuatan. Kembali dokter memberikan arahan lalu Casey mengejan sambil tangannya meremas lengan Asher dengan kuat.
Ini pertama kali Asher melihat secara langsung orang melahirkan, dia tidak tahan mendengar teriakan dan kesakitan dari Casey tapi Asher berusaha bertahan dan memberikan semangat kepada sang mantan walau sebenarnya dia juga sangat khawatir.
Beberapa kali Casey mengejan akhirnya terdengar tangisan bayi, Asher dan Casey saling bertatap mata. Nampak sebening kristal mengalir di sudut mata Casey.
Asher menyeka airmata itu dengan tersenyum dan bangga akan perjuangan sang mantan, dia berdiri dan melihat bayi yang masih berlumuran darah berada di tangan seorang perawat.
“Ternyata bayinya laki-laki,” ujar Asher dengan wajah gembira.
“Dipeluk ya bayinya, biar dia langsung kenal ibunya.” Casey tersenyum bahagia menyambut sang putra ke dalam pelukkannya.
“Dia sangat tampan,” ucap Asher dengan membelai pipi bayi itu.
Perawat kembali mengambil bayi itu dan membawanya untuk dimandikan, sementara dokter membersihkan jalan lahir Casey dengan hati-hati.
Sementara di luar ruangan nampak tuan Hynes dan istri sedang menunggu kelahiran cucu mereka, begitu perawat keluar mata tuan Hynes langsung tertuju kepada bayi itu.
“Cucu kita lahir dengan selamat,” seru tuan Hynes dengan wajah gembira sambil berjalan mengikuti perawat.
Begitu juga dengan nyonya Hynes dan mama Casey, mereka mengikuti perawat dan masuk ke dalam ruangan, ingin melihat proses memandikan cucu mereka. Karena nyonya Hynes juga seorang dokter anak perawat mengijinkannya untuk ikut.
__ADS_1
Dengan menggunakan pakaian medis nyonya Hynes memperhatikan cucu laki-lakinya, sesekali dia membelai pipi yang masih berwarna merah itu. Bayi itu menggeliat saat di mandikan, membuat nyonya Hynes tertawa dan gemas.