Amor Prohibido (Cinta Terlarang)

Amor Prohibido (Cinta Terlarang)
Dari mana Anda tahu?


__ADS_3

Sampai saat ini tuan Smith belum sadar, Asher tidak pernah meninggalkan pria itu. Dia selalu menunggunya di depan ruang PICU karena belum diisinkan untuk masuk.


Sementara Isaiah tidak pernah melarang Casey, dia sangat mengerti dengan istrinya itu. Bahkan Isaiah selalu menemani wanitanya di rumah sakit.


Sementara di kediaman Dany mengetahui sang suami meninggal karena di tembak, wanita itu langsung mencurigai Asher pelakunya. Dia begitu marah dan ingin membalas perbuatan mantan Casey.


Dia menangis memeluk jasad suaminya, sementara putri Dany berdiri di pojok melihat ayahnya sudah terbujur kaku. Berpikir siapa yang telah membunuh ayahnya.


Akhirnya Dany di kuburkan, sang istri tak henti-hentinya menangisi kepergian suaminya. Wanita itu juga kesal karena Asher dan tuan Smith tidak menghadiri pemakaman Dany, dia tidak tahu kalau pria tua itu sedang terbaring di rumah sakit.


"Lihat, granpa kamu saja tidak datang melihat anaknya di makamkan. Sungguh tidak berperasaan," ujar istri Dany kepada putrinya.


"Mom, bagaimana bisa grandpa datang kalau dia sedang terbaring di rumah sakit." Istri Dany terkejut kemudian menatap putrinya.


"Benarkah? Apa yang terjadi dengannya?" tanya wanita itu.


"Grandpa terkena serangan jantung." Wanita itu menarik sudut bibirnya sehingga terbentuk senyum smirk.


'Lihat saja, aku akan membuatmu selamanya tidur.' Wanita itu berkata dalam hati kemudian dia mengajak putrinya kembali.


Sementara di rumah sakit, Asher dan Casey masih menunggu. Nampak lelah di kedua orang itu, mereka selalu menghadang dokter yang keluar dari ruang PICU untuk menanyakan kondisi tuan Smith.


"Bagaimana dengan keadaannya, Dok?" tanya Asher setelah salah satu dokter keluar dari ruang PICU.


"Detak jantungnya sudah normal, tinggal menunggu dia sadar." Asher dan Casey menarik napas lega mendengarnya.


"Terima kasih, Dok." Pria itu tersenyum dan menganggukan kepala kemudian meninggalkan Casey dan Asher.


Kembali Mereka berdua duduk dan berbincang-bincang, lalu datang tuan Frank. Casey dan Asher langsung berdiri menyambut pria itu.


"Bagaimana keadaanya?" tanya tuan Frank.


"Granpa belum siuman tapi detak jantungnya sudah normal," jawab Asher kemudian menyuruh tuan Frank duduk.


"Oh, begitu," gumam tuan Frank. "Kenapa dia bisa terkena serangan jantung?" Kembali pria tua itu bertanya tapi Asher hanya menggelengkan kepala.


"Aku juga mendapatkan kabar saat granpa sudah di rumah sakit, entah apa yang menyebabkan dia terkena serangan jantung." Tuan Frank menganggukan kepala kemudian tersenyum kepada Casey.


"Bagaimana kabar putramu? Pasti sudah bertambah lucu ya." Dia yang bertanya yang jawab dia pula.


"Iya, dia semakin lucu." Tuan Frank terkekeh, dia rindu ingin bertemu dengan putra Casey dan Isaiah.


Ponsel Asher berbunyi, dia berpamitan kepada tuan Frank dan Casey untuk menerima telepon.


Casey dan tuan Frank kembali berbincang-bincang. "Oh ya, apakah yang menembakmu sudah ditemukan?" Casey menggelengkan kepala, dia juga tidak tahu siapa yang sudah menembaknya.


"Belum, polisi masih mencarinya." Tuan Frank menarik napas panjang, dia yakin kasusnya akan seperti Isaiah yang sampai saat ini polisi tidak menemukan pelakunya.


"Semoga saja tertangkap." Hanya itu kalimat yang keluar dari mulut tuan Frank, Casey tersenyum dan menganggukan kepala.


"Um, Casey. Bisa aku tinggalkan sebentar? Aku ada keperluan yang sangat mendesak," sela Asher di tengah-tengah perbincangan Casey dan tuan Frank.


"Iya, aku akan menunggu tuan Smith." Asher memeluk Casey kemudian berpamitan kepada tuan Frank dan mantannya.


"Aku titip sebentar grandpa padamu, kalau terjadi sesuatu langsung hubungi aku." Casey menganggukan kepala kemudian Asher meninggalkan rumah sakit.


Tuan Frank juga tidak berlama-lama di rumah sakit, dia berpamitan kepada Casey lalu kembali ke kantor.


Sementara Casey, dia duduk sendiri di depan ruang PICU sambil membaca berita di ponsel.


"Kamu hanya sendiri? Dimana Asher?" Casey mengangkat kepalanya lalu menoleh ke arah suara itu, dia tersenyum kepada suaminya.


"Dia ada keperluan mendadak. Ayo duduk sini." Isaiah mengecup kening Casey kemudian duduk di samping wanitanya.


"Bagaimana perkembangan tuan Smith," tanya Isaiah seraya melingkarkan tangan satunya di punggung sang istri.


"Sudah lewat dari masa kritisnya, tinggal tunggu siuman saja," jawab Casey dengan menyandarkan kepalanya di dada Isaiah.


"Apakah Enzo rewel?" tanya Casey dengan mendongakan kepalanya menatap Isaiah.

__ADS_1


"Tidak, dia sibuk bermain dengan mommy dan daddy." Casey tersenyum dan kembali meletakan kepalanya di dada bidang berotot itu.


Setelah hari menjelang malam, akhirnya Asher kembali. Dia langsung menemui Casey, pria itu tersenyum melihat sang mantan bersama suaminya.


"Maaf, aku pergi terlalu lama," ucap Asher saat berdiri di hadapan Casey dan Isaiah.


"Tidak apa-apa, sebentar lagi aku dan Isaiah akan kembali."


"Oh ya, ada yang ingin aku katakan kepada kalian berdua mengenai penembakan itu." Casey dan Isaiah langsung menatap Asher.


"Kamu sudah mendapatkan pelakunya?" tanya Casey dengan penasaran.


"Iya, aku mendapatkan informasi dari Lucas dan Jhon. Ternyata yang menembakmu adalah suruhan Dany." Casey dan Isaiah membulatkan mata terkejut mendengar apa yang dikatakan Asher.


"Benarkah?" Asher menganggukan kepala menjawab pertanyaan Isaiah.


"Lebih terkejut lagi, ternyata orang yang sama juga telah menembak Dany. Menurut informasi, Dany tidak membayar orang itu sehingga dia marah dan membunuhnya." Asher berbohong, dia tidak ingin Casey tahu kalau dialah yang telah menyuruh Osvaldilo untuk membunuh Dany.


"Dia menerima akibat dari ulahnya sendiri," ujar Casey dengan marah. " Baiklah, aku dan Isaiah harus pulang. Besok aku akan datang."


"Terima kasih, sudah menunggu grandpa." Casey tersenyum dan menganggukan kepala kemudian memeluk dan mengecup pipi Asher lalu mengajak Isaiah pulang.


Perginya Casey, Asher duduk dan menutup wajah dengan kedua tangannya. 'Sekarang mommy dan daddy sudah tenang, orang yang telah membunuh kalian sudah mati,' gumam Asher kemudian bersandar di sandaran kursi dan memejamkan mata.


'Aku ingin mencari Zelda, tapi entah dimana. Rupanya juga aku tidak tahu.' Asher mengusap wajahnya dengan kasar lalu seorang perawat datang menghampirinya.


"Maaf, aku hanya ingin memberitahukan kalau tuan Smith sudah sadar." Asher langsung berdiri mendengar kabar yang baik itu.


"Benarkah? Boleh aku melihatnya?" tanya Asher dengan wajah berbinar.


"Setelah dokter memeriksanya, Anda boleh masuk." Selesai berucap perawat itu meninggalkan Asher.


Asher begitu senang akhirnya tuan Smith sadar, dia mondar-mandir di depan ruang PICU. Tidak sabar ingin melihat grandpanya.


Saat dokter keluar, Asher langsung menghadangnya dan bertanya. "Bagaimana keadaan granpa?" Dokter tersenyum dan menjelaskan kepada Asher.


"Kondisinya sudah stabil, dan sebentar lagi akan di pindahkan ke ruang perawatan." Asher sangat senang mendengarnya.


****


Akhirnya tuan Smith di pindahkan ke Vip, Asher tidak pernah meninggalkan pria tua itu. Dia selalu menemaninya, Asher juga belum mengatakan tentang kematian Dany. Dia tidak ingin kesehatan tuan Smith terganggu.


"Bagaimana dengan perusahaan?" tanya tuan Smith ketika Asher duduk di dekat brankar.


"Semua berjalan dengan lancar, jangan khawatir. Grandpa harus cepat sembuh," ujar Asher seraya menyuap makanan ke dalam mulut pria tua itu.


"Apakah Casey akan datang?" Kembali tuan Smith bertanya setelah menelan makanannya.


"Iya, dia sedang menuju kesini bersama Isaiah." Nampak wajah tuan Smith begitu ceria, dia ingin sekali memeluk wanita itu.


"Apakah dia akan datang bersama putranya." Asher menggelengkan kepala kemudian meletakan piring di meja.


"Tidak, putranya masih kecil. Kalau mereka membawanya kesini nanti terkena vitus atau bakteri." Tuan Smith menganggukan kepala, dia hanya terlalu rindu ingin memeluk putra Casey.


Terdengar ruangan di ketuk, Asher berdiri kemudian pergi membuka pintu, dia tersenyum melihat Casey dan Isaiah.


"Ayo masuk, grandpa tidak sabar ingin melihatmu." Casey terkekeh kemudian masuk mengikuti Asher dari belakang.


"Bagaimana kabar Anda, Tuan Smith?" tanya Casey dengan mencium kedua pipi ptia tua itu.


"Semakin membaik setelah kamu datang." Casey tertawa kemudian menarik kursi dan duduk di dekat brankar.


Begitu juga dengan Isaiah, dia menyapa tuan Smith kemudian duduk di samping sanh istri.


Begitu Casey datang, Asher minta ijin untuk pergi ke kantor. Ada yang ingin dia selesaikan. Asher memeluk tuan Smith dan berpamitan kepada mereka.


Perginya Asher tuan Smith langsung memegang tangan Casey, dia menatap wanita itu penuh haru.


"Cucuku Zelda." Casey mengernyitkan dahi menatap tuan Smith. "Mengapa tidak mengatakan yang sebenarnya padaku kalau Zelda?" Air sebening kristal mengalir dari sudut mata tuan Smith.

__ADS_1


Sementara Casey dan Isaiah terkejut mendengar perkataan tuan Smith, apalagi Isaiah dia berpikir darimana pria itu tahu kalau istrinya adalah Zelda.


"Darimana Anda tahu kalau Casey adalah Zelda?" tanya Isaiah sambil melirik kepada istrinya yang hanya diam.


"Aku menemukan kalung yang di tempelkan di belakang bingkai foto di kantor Asher," jawab tuan Smith dengan menatap Casey.


"Grandpa menemukannya?" tuan Smith menganggukan kepala dan membelai pipi Casey, ada rasa haru dalam dirinya.


"Apakah itu yang membuat grandpa terkena serangan jantung?" Kembali Casey bertanya sambil menggenggam tangan tuan Smith.


"Iya, aku sangat terkejut saat membuka buah kalung itu. Ternyata di dalamnya ada foto Zelda masa kecil dan kamu saat dewasa. Aku tidak menyangka kalau kamu adalah cucuku." tuan Smith menangis lalu Casey memeluknya.


"Maafkan aku," ucap Casey dengan suara pelan lalu menangis haru memeluk pria tua itu.


"Mengapa tidak mengatakan padaku kalau kamu cucuku?" tanya tuan Smith dengan membelai rambut Casey.


"Sebenarnya, saat aku pertama kali datang ke kantormu bersama tuan Frank, aku sangat terkejut melihat grandpa. Aku ingin sekali memelukmu," Casey mengusap airmatanya kemudian bercerita kembali.


"Tapi saat itu aku menahan diri, apalagi saat grandpa bercerita mengenai mommy dan daddy serta bagaimana Dany masih mencari aku dan Asher. Disitu aku mengurungkan niatku untuk memberitahukanmu tentang aku. Itu kulakukan demi kebaikan kita." Tuan Smith menganggukan kepala tanda mengerti.


"Pada saat aku mengundurkan diri, sengaja aku meletakan kalung yang grandpa berikan padaku saat di pesawat. Aku tempelkan di belakang bingkai dan meletakan di dalam sudut lemari. Pikirku suatu saat nanti salah satu dari kalian akan menemukannya." Casey memeluk tuan Smith dan menangis.


"Aku mengerti sekarang mengapa kamu memintaku untuk menjadi pendampingmu?" Tuan Smith menatap Isaiah dan bertanya.


"Apakah kamu juga sudah lama tahu kalau Casey adalah cucuku?" Isaiah tersenyum dan menganggukan kepala menjawab pertanyaan tuan Smith.


"Saat aku mengutarakan perasaanku kepada Casey, dia menceritakan semuanya kepadaku. Hubungan Anda dengannya." Tuan Smith terkekeh dan menggeleng-gelengkan kepala.


"Tapi aku bahagia bisa melihat cucuku lagi. Sekarang aku merasa sehat dan ingin menggendong putra kalian." Casey dan Isaiah tertawa sambil berpegangan tangan.


Sementara di balik pintu, Asher terkejut mendengar pembicaraan tuan Smith dan Casey. Dia tidak percaya ternyata wanita yang sangat dicintainya adalah adiknya sendiri.


Dia bersandar di dinding lalu perlahan tubunya merosot kemudian terduduk di lantai, Asher masih tidak percaya. Bagaimana bisa dia sendiri yang mengambil perawan adiknya.


Asher menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis. Mengapa baru sekarang dia tahu kalau Casey adalah Zelda. Pria itu berdiri lalu meninggalkan rumah sakit.


Dia belum ingin bertemu dengan Casey setelah mengetahui wanita itu adalah adiknya. Asher memilih meninggalkan Amerika kembali ke Venezuela.


"Pantas saja Isaiah tidak pernah cemburu melihat Casey dekat denganku, ternyata dia sudah mengetahuinya." Asher meminta sang sopir untuk mengantarnya ke airport. Dia berencana membeli tiket disana.


Begitu tiba di airport Asher langsung menuju ke travel agent untuk membeli tiket. Dia tidak masalah walau harus menunggu beberapa jam. Asher sengaja ke Venezuela karena belum siap bertemu dengan Casey atau Zelda.


Pria itu duduk termenung di airport, mengingat masa-masa indah bersama Casey yang ternyata adalah adiknya sendiri. Asher mengusap kasar wajahnya dan mengumpat pada dirinya sendiri.


Saat di rumah sakit, Asher sebenarnya akan ke kantor. Tapi dia melupakan ipadnya di meja, saat dia akan membuka pintu, Asher mendengar percakapan tuan Smith dan Casey.


Dia menutup sedikit pintu agar bisa mendengarkan apa yang mereka perbincangkan. Asher terkejut mendengarnya. Ingin tidak percaya tapi kenyataan seperti itu.


Setelah menunggu beberapa jam akhirnya pesawat yang akan di tumpangi siap. Asher mengayunkan kaki masuk ke perut burung besi, dia duduk di dekat jendela sambil mata menatap keluar.


Saat pesawat take off, Asher memejamkan mata. Kembali dia teringat saat pertama kali bercinta dengan Casey, pria itu mengepalkan tangannya dengan kuat sehingga telapaknya menjadi putih.


Asher merasa marah pada dirinya sendiri, mengapa tidak mengenali adiknya. Kembali menatap keluar jendela, walaupun cuaca begitu cerah langit begitu biru tapi tidak menarik di mata Asher.


Beberapa jam kemudian, Asher tiba di Venezuela. Dia langsung menuju ke kediaman orang tua angkatnya. Asher ingin menyendiri dan merenung, kalau sudah siap dia akan bertemu dengan adiknya.


Begitu tiba di rumah, Asher mengirim pesan kepada Casey. 'Aku titip grandpa padamu, ada sesuatu yang aku harus selesaikan di Venezuela. Begitu semuanya selesai aku akan kembali.'


Asher masuk ke kamar dan menghempaskan tubuhnya di ranjang. Nyonya Alvin dan tuan Moralez tidak tahu dengan kedatangan Asher.


Sementara di kamar, masih terngiang pembicaraan Casey dan tuan Smith di telinga Asher, dia bangun kemudian mondar-mandir di kamarnya.


Pria itu tidak tahu apa yang harus dia lakukan. "Mengapa aku tidak mengenali adikku sendiri, aku memang bodoh." Asher mengumpat pada dirinya sendiri.


"Kenapa juga Isaiah tidak mengatakan padaku kalau Casey adikku? Apa maksudnya." Asher terus berpikir di kamar. Dia merasa malu bertemu dengan Casey.


Apalagi dia teringat akan perkataannya kepada Isaiah untuk membuat pria itu mundur tidak menikahi Casey. Asher sunggu malu mengingatnya.


Kembali dia mengusap wajahnya dengan kasar, kini Asher tidak tahu lagi bagaimana sikapnya bila bertemu dengan Casey. Walau wanita itu tidak tahu kalau Asher sudah mendengar percakapan mereka. Tetap saja Asher merasa kikuk.

__ADS_1


"Apakah aku pura-pura saja tidak tahu kalau Casey adalah adikku, atau tunggu sampai dia dan grandpa sendiri yang menyampaikan padaku?" Sambil berdiri dia kembali mondar-mandir di kamar, berpikir bagaimana sikapknya nanti kalau bertemu dengan Casey.


__ADS_2