
Kini Asher tak luput dari incaran mafia yang dibayar oleh pria misterius itu. Asher tidak menyadari kalau dirinya dalam bahaya, pikirnya ancaman sudah selesai karena orang yang disuruh untuk membunuh Isaiah sudah menjadi tawanannya.
Untuk Dany, Asher tidak terlalu khawatir karena sudah ada dalam pengawasan Lucas bersama anak buahnya. Biasanya kemana’pun Asher pergi ada beberapa anak buah ikut bersamanya, tapi kini dia hanya di temani satu orang saja.
Kini Asher sedang berada di dalam mobil bersama salah satu anak buahnya yang bernama Arlo, Asher ingin meninjau proyek yang sedang di kerjakan oleh salah satu anak perusahan kakeknya.
Dalam perjalanan, Asher dan Arlo sama sekali tidak tahu kalau ada dua mobil sedang mengikuti mereka. Asher terlihat fokus di layar ponsel memeriksa email yang masuk, saat tiba di jalan sepi, tiba-tiba kendaraan mereka di senggol.
Sopir langsung menghindar lalu melajukan mobilnya, sementara Asher terkejut dan mengeluarkan pistol yang dia selipkan di pinggangnya.
Sedangkan Arlo menghubungi Lucas untuk meminta pertolongan, karena dilihat tidak mungkin hanya dia dan Asher menghadapi musuh berdua.
Asher membuka jendela mobil dan melepaskan tembakan dengan asal, dia memerintahkan sopir untuk membawa mereka ke tempat yang lebih sepi lagi. Asher mengeluarkan sebuah benda dari bawah kursi lalu dia menariknya sehingga menjadi bentuk tongkat panjang.
Pria itu sudah bersiap untuk bertarung, hidup atau mati Asher akan menghadapi mereka. Kini Asher tahu kalau sekarang dia yang menjadi incaran para musuh.
“Ar, apakah kau sudah menghubungi Lucas?” tanya Asher sambil merunduk menghindar tembakan dari musuh.
“Sudah, Tuan. Mereka sedang menuju ke sini,” sahut pria itu kepada Asher sambil melepaskan beberapa kali tembakan.
“Berhenti di depan sana,” perintah Asher lalu sopir menambah kecepatan mobil meninggalkan para penjahat lalu berhenti di tempat yang Asher inginkan.
Sopir terlihat ketakutan karena baru kali ini dia mengalami hal seperti yang ada di film-film, Asher melihat sopir itu lalu memintanya untuk bersembunyi. Kini hanya Asher dan Arlo yang akan menghadapi para penjahat sekitar delapan orang.
Asher dan Arlo turun dari mobil dengan pistol di tangan berlindung di balik kendaraan mereka, tembakan demi tembakan terdengar.
Mereka berdua membalas tembakan para penjahat dengan tetap berlindung di balik mobil. Asher memancing mereka dengan berlari ke sebuah bangunan kosong sambil terus melepaskan tembakan, ingin mengalihkan para penjahat untuk melindungi sopirnya.
Melihat Asher masuk ke dalam bangunan, beberapa penjahat ikut berlari menyusul mantan Casey. Sementara Arlo melepaskan tembakan untuk melindungi tuannya, peluru mengenai salah satu penjahat.
__ADS_1
Arlo berdiri dan berlari ke arah lain agar para penjahat tidak terfokus pada tuannya, Asher memang selalu di temani oleh Arlos salah satu anak buah Lucas karena kemampuan bela diri dan menembaknya sudah teruji.
Sementara di dalam bangunan, Asher mencari tempat untuk berlindung. Dia ingin mengulur waktu sampai Lucas dan anak buah lain datang. Asher tidak mungkin melawan sendiri mereka yang menggunakan senjata apalagi badan para penjahat terbilang tinggi dengan otot-otot kekar.
Asher memutar ujung tombak yang ternyata di dalamnya adalah pedang, selain dia akan menggunakan pistol Asher juga berjaga-jaga kalau pelurunya habis maka dia akan menggunakan senjata tajam untuk melawan mereka.
Asher melihat salah satu penjahat dengan berjalan merunduk mencarinya, Asher mengambil jalan lain. Dia ingin memukul pria itu dari belakang.
Sementara di rumah sakit Casey merasa heran kenapa dua anak buah Asher berjaga di dalam sementara ada empat anak buah lagi di luar. Jantungnya berdebar, wajahnya terlihat cemas takut sesuatu terjadi kepada dia dan Isaiah.
“Ada apa?” tanya Casey kepada salah satu anak buah yang sudah berdiri di dalam ruangan.
“Lucas memerintahkan kami untuk berjaga di dalam, Anda tidak perlu cemas. Tolong tutup tirainya.” Dengan cepat Casey pergi ke jendela dan menutup tirai lalu kembali bertanya kepada pengawal itu.
“Apakah terjadi sesuatu?” tanya Casey dengan cemas seraya meremas tangannya.
“Ada orang ingin membunuh Asher dan kemungkinan juga akan membunuh tuan Isaiah. Sekarang tuan Asher sedang terlibat baku tembak dengan orang suruhan.” Casey membelalakan mata dia langsung terlihat tidak tenang mendengar Asher dalam bahaya.
Pintu terbuka, lalu masuk Jhon dan beberapa anak buah serta perawat dan dokter. Casey semakin cemas melihatnya.
“Segera pindahkan Isaiah,” perintah Jhon kepada perawat dan dokter serta anak buahnya.
“Apa yang terjadi?” tanya Casey kepada Jhon dengan wajah yang mulai pucat.
“Kami memindahkah Isaiah dan Anda ke tempat yang aman, mereka mengejar Asher hanya untuk mengalihkan agar mereka bisa membunuh Isaiah.” Casey terkejut, dia merapikan barang-barang miliknya juga Isaiah lalu memberikannya kepada salah satu anak buah Asher.
Dokter dan beberapa perawat langsung mendorong branka juga alat-alat medis penunjang hidup Isaiah. Di belakang rumah sakit sudah terparkir ambulance.
Mereka langsung memasukan Isaiah dan Casey ke dalam ambulance, dengan pengawalan yang ketat mereka membawa suami istri itu ke markas Lucas.
__ADS_1
“Jangan takut, kalian pasti aman. Asher dan tuan Moralez yang meminta kami untuk memindahkan Isaiah ke markas Lucas.” Casey hanya menganggukkan kepala, dia terlihat masih merasa takut.
“Bagaimana kalau mertuaku mencari kami?” tanya Casey dengan panik.
“Kami akan datang ke kediaman mertuamu, untuk saat ini jangan menggunakan alat komunikasi.” Casey mengerti, saat ini dia dan Isaiah dalam bahaya.
Cukup menurut saja kepada mereka maka semua akan baik-baik saja, Casey menenangkan dirinya sendiri untuk menghilangkan rasa takut. Dia menggenggam tangan Isaiah lalu berdoa dalam hati.
Mereka tiba di markas Lucas, para pengawal dan dokter serta perawat langsung membawa Isaiah ke dalam ruangan yang luas yang menghadap perbukitan. Casey memperhatikan sekeliling villa yang di jadikan markas itu.
Sementara dokter dan perawat memeriksa keadaan Isaiah, merasa pasiennya baik-baik saja mereka meninggalkan Casey juga Isaiah.
Di dalam ruangan terdapat dua tempat tidur dan sofa juga meja tempat makan juga kamar mandi. Casey membuka jendela agar udara masuk lalu dia mencium kening Isaiah dan duduk di sofa.
Casey memikirkan Asher berharap tidak terjadi sesuatu kepada pria itu, Casey merasa sangat berhutang kepada sang mantan.
Sementara di rumah sakit menjadi gempar, para penjahat tiba dengan senjata otomatis berjalan mengarah ke ruangan tempat Isaiah di rawat. Mereka mendobrak pintu dan melihat ternyata tempat itu sudah kosong.
Ternyata benar apa yang di pikirkan oleh tuan Moralez, sehingga Ia meminta Lucas untuk memindahkan Isaiah dan Casey. Karena para penjahat hanya mengalihkan mereka untuk membunuh dan menculik Casey.
Melihat ruangan itu kosong salah satu pimpinan komplotan itu mengirimkan pesan kepada kepala mafia kalau Isaiah dan Casey sudah dipindahkan.
Para penjahat keluar dari ruangan dan memeriksa semua tempat yang ada di rumah sakit untuk mencari keberadaan Isaiah dan Casey, mereka tidak ingin apa yang diperintahkan oleh bos mereka gagal.
Tapi sayang semua ruangan yang mereka periksa tidak menemukan Isaiah, kembali salah satu pimpinan komplotan memberikan kabar kepada mafia itu kalau Isaiah tidak berada di ruma sakit.
Mendapatkan kabar dari anak buahnya, mafia itu langsung memberitahukan kepada pria misterius itu yang kebetulan sedang duduk di hadapannya.
“Mereka sudah tahu rencana kita.” Pria misterius terlihat sangat marah lalu membanting asbak ke lantai hingga pecah.
__ADS_1
“Anak buahmu tidak becus, mengapa Asher bisa sampai mengetahui pergerakan mereka.” Mafia itu hanya diam saja, dia tidak ingin membantah pria yang ada di hadapannya.
“Tarik semua anak buahmu jangan sampai mereka tahu kalau aku yang menginginkan kematian Isaiah dan Asher. Untuk saat ini diamkan saja, begitu mereka lengah kita bergerak.” Mafia itu mengerti lalu meminta anak buahnya untuk mundur.