
Setelah mendapatkan perintah dari seseorang untuk melenyapkan Isaiah, pria itu mengajak beberapa anak buahnya untuk pergi ke rumah sakit. Dia meminta salah satu dari mereka untuk mengawasi ruangan tempat Isaiah di rawat.
Sementara di dalam ruangan Casey begitu setia menunggu Isaiah di temani oleh Wesley dan nyonya Hynes. Walau’pun ketidak sukaan ibu Wesley kepada Casey karena akrab kembali dengan Asher tapi dia tetap menjaga agar sang menantu tidak stress karena sedang mengandung calon cucunya.
“Apakah kau sudah makan?” tanya nyonya Hynes seraya berdiri di dekat Casey yang sedari tadi duduk di dekat branka memperhatikan Isaiah.
“Belum, tapi tadi aku makan biskuit.” Sambil berucap Casey memegang tangan Isaiah dan mengelusnya.
“Jangan hanya makan biskuit saja, ingat kamu sedang mengandung.” Casey menatap nyonya Hynes lalu tersenyum dan menganggukan kepala.
“Iya, sebentar lagi aku makan.” Nyonya Hynes mengelus lembut rambut Casey lalu pergi duduk kembali.
Sementara Wesley dia tetap fokus di layar laptop, walau’pun selalu berada di rumah sakit, Wesley tetap bekerja. Pria itu tidak bisa meninggalkan Casey sendiri berada di ruangan, ada rasa khawatir terjadi sesuatu kepada sang adik ipar dan Isaiah.
Wesley juga tidak suka Asher bebas masuk keluar di dalam ruang perawatan, sungguh dia tidak suka pria itu. Kecurigaannya tetap kepada Asher, pikir Wesley kalau bukan dia siapa lagi. Makanya dia tidak ingin memberikan kesempatan Asher untuk lebih dekat lagi dengan Casey.
Sementara Asher sedang mengadakan pertemuan dengan asisten dan anak buahnya di suatu tempat, dia ingin segera menemukan orang yang sengaja menabrak Isaiah. Pikir Asher kalau Ia berhasil sudah pasti keluarga Isaiah tidak akan marah lagi padanya.
“Bagaimana dengan hasil kerja kalian?” tanya Asher kepada salah satu anak buahnya.
“Selama ini kami mengawasi Dany tapi sepertinya bukan dia pelakunya,” jawab pria itu seraya menunjukkan sesuatu di tabnya. “Aku juga sudah memeriksa transaksinya tapi nihil.”
Asher menarik napas dan menghembuskannya dengan kasar, ternyata tidak mudah mencari dalang kecelakaan Isaiah. Ia berdiri lalu mondar-mandir di depan anak buahnya.
“Coba kalian selidiki mantan direktur yang di pecat Casey, mungkin dia pelakunya. Pokoknya awasi mereka semua.” Kembali Asher memberikan perintah kepada anak buahnya juga asisten yang selalu setia bersamanya.
“Baik, kami akan mencari informasi siapa saja yang di pecat oleh Casey.” Asher menganggukkan kepala dan menepuk punggung salah satu anak buahnya.
“Bagus, kalau kalian berhasil aku akan berikan apartemen dan mobil.” Mereka tersenyum dan terlihat sangat bersemangat.
__ADS_1
“Baik, Tuan.” Mereka menjawab serempak lalu undur diri dan meninggalkan Asher serta asistennya.
Saat di luar para anak buah Asher berbincang-bincang, mendengar akan mendapatkan hadiah mereka terlihat sangat bersemangat. Kini mereka mencari informasi siapa saja yang telah di pecat oleh Casey.
Sementara orang suruhan dari pria misterius nampak sedang mengawasi ruangan rawat Isaiah, mereka memperhatikan siapa saja yang masuk ke dalam dan setiap jam berapa Isaiah sendiri di dalam.
Parah suruhan itu saling memberikan informasi kepada pria misterius itu, mereka juga mencari cara agar bisa masuk ke dalam ruangan itu. Salah satu dari mereka juga memperhatikan jam dokter dan perawat yang masuk ke dalam ruangan.
Di parkiran Asher keluar dari mobil dan masuk ke rumah sakit, Ia langsung menuju ke ruangan tempat Isaiah di rawat. Langkahnya terhenti saat melihat seorang pria sedang berdiri di dekat pintu, Gerakannya sangat mencurigakan.
Asher segera menghampiri pria itu tapi saat sudah dekat sang pria langsung pergi, Asher semakin curiga. Ia masuk dan menemui Casey, dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada sang mantan dan Isaiah.
Saat dia masuk Asher melihat disana ada Wesley dan ibunya, Ia tersenyum dan menyapa mereka berdua. Walau’pun Wesley dan ibunya terlihat dingin kepada Asher tapi pria itu tidak tersinggung.
“Maaf, kalau mengganggu. Aku ingin bicara dengan Casey juga Wesley.” Kedua nama yang di sebut oleh Asher menatapnya dengan mengkerutkan dahi.
“Ada apa, Asher?” tanya Casey seraya menyuruh pria itu duduk.
“Baiklah, Ayo.” Wesley berdiri dan mengajak Casey juga Asher untuk keluar.
Casey menitipkan Isaiah kepada nyonya Hynes lalu mereka bertiga meninggalkan ruang perawatan. Asher mengajak Casey dan Wesley pergi ke cafe.
Tiba di cafe mereka bertiga mencari tempat duduk di pojok, Asher tidak ingin ada yang mendengar pembicaraan mereka. Sebenarnya Ia ingin bicara di ruangan tapi berhubung ada nyonya Hynes pria itu mengurungkan niatnya, Asher tidak ingin ibu Isaiah menjadi khawatir.
Asher dan Casey juga Wesley memesan espresso sebelum mereka duduk, beruntung cafe tidak begitu ramai jadi Asher merasa aman untuk berbincang dengan sang mantan dan Wesley.
“Apa yang ingin kamu bicarakan,” tanya Wesley seraya menarik kursi dan meletakkan kopi di atas meja kemudian duduk.
“Begini, aku ingin menempatkan beberapa anak buahku di rumah sakit demi keamanan Isaiah dan Casey.” Semenjak melihat orang yang mencurigakan itu, Asher berpikir untuk melindungi Casey dan Isaiah.
__ADS_1
“Apakah harus?” tanya Wesley dengan memicingkan mata menatap Asher.
“Ya, itu sangat perlu. Tadi sebelum aku masuk ada seorang pria sedang mengamati ruangan tempat Isaiah di rawat.” Casey membelalakan mata mendengar apa yang di tuturkan oleh Asher.
“Benarkah? Siapa dia?” tanya Casey dengan wajah cemas.
“Aku juga tidak tahu, tapi saranku agar kalian hati-hati. Jangan sembarangan perawat masuk ke dalam ruangan,” saran Asher dengan meyakinkan Casey dan Wesley.
“Lebih baik tetapkan siapa perawat yang bisa masuk ke dalam ruangan begitu juga dengan dokter.” Kembali Asher memberikan saran kepada Casey dan Wesley.
Nampak Wesely diam sejenak mendengar saran yang diberikan oleh Asher, Wesley menatap mantan Casey dan berpikir. ‘Sepertinya bukan Asher yang menabrak Isaiah’ gumam Wesley dalam hati.
“Bagaimana, Wesley? Ini demi kebaikan Casey dan Isaiah.” Wesley dan Casey saling tatap dan berpikir apakah mereka akan menerima saran dari Asher.
“Wesley, aku pikir saran Asher bagus. Kita harus menentukan perawat yang masuk ke dalam ruangan begitu juga dengan dokternya. Aku takut apa yang dikhawatirkan Asher terjadi.” Wesley masih diam memikirkan saran dari Asher.
“Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu kepada Isaiah dan kalian menuduh aku pelakunya, saat ini aku sedang menyelidiki siapa yang telah menabrak Isaiah. Aku mohon kerja sama kalian, jangan sampai apa yang aku lakukan menjadi sia-sia.” Asher terus meyakinkan Wesley untuk menerima anak buahnya menjaga Isaiah dan Casey.
“Baiklah, aku akan meminta orang tuaku untuk memilih perawat dan dokter yang bisa masuk ke dalam ruangan.” Asher terlihat sangat senang, dia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menghubungi anak buahnya.
Kasus penabrakan Isaiah tidak ada kejelasan, polisi sudah berusaha mencari sang pelaku tapi sampai saat ini belum ada kabar sehingga membuat Asher dan tuan Moralez turun tangan untuk mencari dalangnya.
“Terima kasih, atas saran dan bantuanmu, Asher,” ucap Wesley dengan tersenyum lalu menyeruput espresso yang masih hangat.
Asher menganggukkan kepala lalu menatap Casey dengan wajah teduh, Ia sangat senang saat mendengar sang mantan sedang mengandung. Asher memperhatikan perut Casey yang masih rata lalu tersenyum.
“Bagaimana kandunganmu?” tanya Asher seraya mengambil espresso lalu meminumnya.
“Sejauh ini baik-baik saja dan bersyukur aku tidak mual-mual, mungkin karena baru sebelas minggu,” jawab Casey dengan menunduk dan memegang perutnya yang masih rata itu.
__ADS_1
“Jaga dengan baik, usahakan jangan stress.” Casey tersenyum mendengar nasehat Asher lalu dia menganggukkan kepala.
Selesai dari cafe mereka bertiga kembali ke rumah sakit, Asher tidak ikut bersama Casey dan Wesley ke ruangan tapi dia langsung ke parkiran mobil dan kembali ke rumah.