
Akhirnya Casey mulai masuk kantor lagi, sedangkan putranya dititipkan kepada pengasuh. Dia tidak khawatir karena di Mansion di tempatkan pengawal yang profesional. Untuk sementara Casey menggantikan posisi Isaiah di perusahan tuan Frank.
Kini dia berada di ruang kerja suaminya, Casey tersenyum melihat fotonya bersama Isaiah terpajang di meja. Pintu terbuka, Casey melihat tuan Frank yang masuk. Ia berdiri dan menyambut pria tua itu dengan memeluk dan mencium kedua pipinya.
“Bagaimana kabar Isaiah?” tanya tuan Frank seraya duduk di sofa dan meletakkan tongkatnya di samping kursi.
“Dia baik-baik saja, dan mulai melakukan terapy. Semoga saja Isaiah cepat berjalan,” tutur Casey dengan tersenyum dan duduk berhadapan dengan tuan Frank.
“Ah, senang mendengarnya. Mudah-mudahan kamu bisa melakukan apa yang biasanya Isaiah kerjakan.” Tuan Frank sudah melihat bagaimana cara Casey.
Dia sangat percaya kepada kemampuan Casey, wanita ini mengingatkannya kepada Alice teman putrinya yang sudah meninggal. Cara kerja mereka sangat memuaskan.
“Aku pasti berusaha memberikan yang terbaik untuk perusahan ini.” Ucapan Casey mendapatkan anggukan kepala dari tuan Frank, karena sikap baik Casey membuat dia menganggap wanita itu adalah cucunya.
“Terima kasih.” Setelah berucap tuan Frank berdiri dan mengambil tongkat lalu meninggalkan ruangan Casey dengan menepuk pelan punggung wanita itu tanda memberikan semangat kepada istri Isaiah.
Perginya tuan Frank, Casey kembali duduk di kursi kerja dan memeriksa laporan yang diberikan asisten kepadanya. Membuka setiap lembaran yang berisikan angka, satu-persatu dia membacanya.
Tidak berselang lama terdengar pintu di ketuk, lalu terlihat Asher dengan wajah tersenyum menatap Casey. Wanita itu langsung bangkit berdiri dan menyambut kedatangan sang mantan dengan memeluk dan mencium kedua pipi pria itu.
“Sibuk?” tanya Asher dengan mengelus lembut pipi Casey.
“Tidak, aku hanya memeriksa pekerjaan yang di tinggalkan Isaiah selama koma.” Casey menjawab tanpa melepaskan kedua tangannya dari pinggan Asher. Dengan posisi seperti itu, mereka berdua terlihat seperti pasangan kekasih tapi sayang hanya tinggal mantan saja.
Walau’pun masih ada rasa tapi saat ini Asher terus berusaha menganggap Casey adalah adiknya, tapi kalau orang melihatnya dan tahu bagaimana hubungan mereka berdua di masa lalu mungkin tidak akan percaya. Bahkan akan curiga kalau mereka kembali menjalin kasih lagi.
Termasuk adik Isaiah, yaitu Ellie. Melihat kedekatan Asher dan Casey membuat dia selalu curiga kalau sang ipar dan Asher masih tetap memiliki hubungan. Apalagi saat ini sang kakak dalam keadaan lumpuh, menambah pikirian negatif terhadap Casey.
__ADS_1
“Oh, aku ingin mengajakmu makan siang. Bagaimana?” Casey mengerutkan dahi untuk berpikir, biasanya dia makan siang bersama Isaiah.
“Baiklah, tapi aku ingin mengajak Isaiah makan siang bersama kita.” Asher tersenyum dan menganggukkan kepala.
“Ok, tidak masalah.” Apap’pun keinginan Casey sudah pasti di turuti oleh Asher.
Kini Asher dan Casey meninggalkan kantor menuju ke Mansion milik orang tua Isaiah, tidak menunggu lama akhirnya mereka berdua tiba. Nampak di depan kediaman tuan Hynes, Isaiah sudah menunggu. Sebelum menjemput sang suami Casey sudah mengabari Isaiah.
Mobil Asher berhenti, Casey langsung turun dan mengecup bibir sang suami. Dia juga menggendong sebentar Enzo dan mencium kedua pipi putranya. Sementara Asher membantu Isaiah masuk ke mobil.
Casey memberikan putranya kepada pengasuh kemudian masuk kembali ke mobil dan duduk di samping Isaiah, dia tersenyum dan menggenggam tangan sang suami.
****
Asher begitu bebas masuk ke luar di Mansion keluarga Hynes, seperti saat ini dia sedang bersama Casey di halaman belakang sambil bermain dengan Enzo yang sudah berumur 6 bulan.
Sambil bermain dengan Enzo mata Casey selalu memperhatikan Isaiah yang sedang melakukan terapi. Saat ini Isaiah sudah mulai bisa berjalan walau’pun masih tertatih-tatih.
“Ayo, Babe. Kamu bisa.” Casey memberikan semangat sambil mengulurkan dua tangannya agar sang suami berjalan ke arahnya.
“Demi kau dan Enzo.” Isaiah melepaskan pegangan di kedua besi dan berjalan dengan tertati-tatih menuju ke arah Casey tapi dia terjatuh, beruntung perawat langsung memegangnya.
“Jangan dipaksakan, perlahan-lahan saja.” Casey membantu Isaiah untuk berdiri tegak dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang suami.
“Aku tidak sabar lagi ingin segera berjalan dan bermain bersama Enzo, di saat Enzo belajar berjalan aku ingin mendampinginya.” Isaiah mengungkapkan keinginannya dengan wajah yang senduh menatap Casey.
“Iya, tapi jangan di paksakan. Perlahan-lahan saja,” saran Casey dengan membelai wajah sang suami. Dia maklum Isaiah tidak ingin ketinggalan dengan perkembangan putra mereka.
__ADS_1
“Baiklah, aku istirahat sebentar.” Perawat mendudukkan Isaiah di kursi roda lalu Casey mendorong pergi bergabung dengan Asher dan Enzo.
Asher melihat Isaiah lalu tersenyum, dia meletakkan Enzo di paha suami Casey kemudian duduk kembali dan memperhatikan Isaiah bermain dengan Enzo.
“Baiklah aku harus kembali.” Asher berdiri lalu memegang pipi Enzo dan mengelusnya.
“Aku akan mengantarmu sampai di depan.” Asher manganggukkan kepala kemudian menepuk lengan Isaiah.
Casey dan Asher meninggalkan Isaiah bersama Enzo juga pengasuh dan berjalan ke depan, mereka berdua bertemu dengan Ellie lalu Asher menyapa gadis itu.
Ellie hanya tersenyum tipis kepada Asher lalu pergi ke halaman belakang menemui Isaiah, dia melihat sang kakak sedang bermain dengan Enzo. Ellie langsung menghampiri Isaiah dan mengajak pria itu berbincang-bincang dengannya.
“Apakah kau tidak curiga Casey dan Asher?” tanya Ellie dengan memegang tangan Enzo. Ellie tidak suka melihat Casey dekat dengan mantanya.
“Curiga? Untuk apa?” Isaiah sangat mempercayai Casey, dia tahu sang istri tidak mungkin mengkhianatinya.
“Iya, mereka berdua dulu saling mencintai tidak mungkin Casey melupakan begitu saja pria itu.” Ellie berusaha mengingatkan sang kakak tentang hubungan Casey dan Asher dulunya seperti apa.
Sudah pasti Isaiah tahu, karena sebelumnya Casey sudah menceritakan bagaimana hubungan sang istri dan mantannya tapi buat Isaiah itu hanya masa lalu saja.
“Itu masa lalu mereka, aku percaya kepada Casey. Dia bukan wanita pengkhianat.” Isaiah menjawab dengan begitu yakin karena dia tahu siapa Casey dan Asher.
“Ah, kau terlalu percaya kepada mereka berdua.” Tidak berhasil mempengaruhi Isaiah akirnya Ellie meninggalkan sang kakak dan ponakannya.
Sementara di depan Asher dan Casey masih berbincang Ellie melihat mereka dengan memicingkan matanya, dia tidak suka melihat Asher begitu mesrah kepada kakak iparnya. Apalagi tangan Asher sedang membelai pipi Casey membuat darah Ellie mendidih.
“Pria itu semakin melunjak, mentang-mentang diberikan kebebasan oleh Isaiah dan keluargaku seenaknya dia memperlakukan Casey seakan-akan kekasihnya.” Dengan kesal Ellie naik ke lantai dua dan masuk ke kamar.
__ADS_1
Sementara Asher dan Casey masih terlibat perbincangan di depan, tidak lama kemudian Asher mencium kedua pipi sang mantan dan masuk ke mobil.
Perginya Asher, Casey langsung kembali ke dalam menuju halaman belakang.