
Setahun sudah Casey memimpin di perusahan Global Corp, dia benar-benar menjalankan kepercayaan yang diberikan oleh tuan Frank dan tuan Smith. Casey juga berhasil menghilangkan bayan-bayang Zelo, ini semua berkat Isaiah yang selalu hadir di sisinya.
Selama dia memimpin sudah ada beberapa kemajuan dari perusahaan itu, tuan Smith sangat senang ternyata gadis itu sangat pintar membangun usaha yang dipercayakan kepadanya.
Sementara Isaiah sudah sangat dekat dengan gadis itu, setiap hari mereka selalu bersama. Saat ke kantor, makan siang maupun malam bahkan pulang sehabis beraktifitas pria itu selalu bersamanya.
Seperti saat ini, Isaiah menjemput Casey untuk menemaninya makan siang, walaupun Casey setiap kali hanya memesan dessert tapi pria itu sangat senang di temani oleh gadis itu. Isaiah menuju ke ruang kerja Casey, tanpa mengetuk dia langsung masuk.
“Masih sibuk?” tanya Isaiah seraya menghampiri Casey dan mendaratkan kecupan di kedua pipi gadis itu.
“Tidak, ayo pergi sekarang.” Casey dan Isaiah langsung meninggalkan kantor dan pergi ke sebuah restoran yang terletak di dekat perkantoran.
Casey serta Isaiah hanya berjalan kaki, mereka tiba di salah satu restoran ternama. Pelayan menyambut pria dan wanita itu lalu mengantar mereka ke meja.
Isaiah dan Casey duduk saling berhadapan, karena jam makan siang, restoran itu terlihat sangat ramai. Casey membuka buku menu lalu melihat makanan apa yang tertera di sana, begitu juga dengan Isaiah.
“Aku pesan, grilled chicken sandwich dan minumnya white wine Jeio.” Isaiah menutup buku menu dan menyerahkan kembali kepada pelayan.
“Um, aku apa ya?” Casey masih melihat-lihat menu.
“Creole bread pudding,” seloroh Isaiah. Pria itu tahu kesukaan Casey. Setiap diajak makan siang Casey selalu memesan makanan ringan tersebut.
“Iya, itu saja.” Casey memberikan buku menu ke pelayan dan menatap Isaiah dengan tersenyum.
Setahun bersama, Casey merasakan kenyamanan bersama Isaiah. Walau awal-awal Isaiah seorang pendiam tapi lama-kelamaan dia mulai terbiasa dengan pria itu.
Sementara menunggu pesanan terdengar seorang wanita memanggil Isaiah, dengan cepat pria itu mencari arah suara itu. Setelah mendapatinya, senyum mengembang di kedua sudut bibirnya.
Isaiah berdiri dan menyambut wanita itu dengan memeluknya sangat erat, sepertinya mereka sudah lama tidak bertemu terlihat dari cara Isaiah memperlakukannya.
“Aku sangat rindu padamu, Ellie,” ucap Isaiah dengan melepaskan pelukannya. “Sedang apa kau di sini?” tanya Isaiah seraya menarik tangan Ellie untuk mengenalkannya kepada Casey.
“Kami sedang melakukan pemotretan di sini,” jawab Ellie sambil mengekor Isaiah dan tersenyum kepada Casey.
“Oh ya, Casey. Kenalkan ini Ellie adikku.” Casey tersenyum dan berdiri sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Ellie.
“Senang bertemu denganmu.” Ellie tersenyum dan menyambut tangan Casey, dia memperhatikan wajah dan tubuh wanita itu.
“Sama-sama, wah … kamu cantik sekali dan tubuhmu sangat indah.” Sambil memuji, Ellie menggerakkan tubuh Casey ke kiri dan ke kanan.
“Ellie, jangan seperti itu.” Isaiah merasa tidak enak kepada Casey karena ulah adiknya.
“Kenapa? Aku hanya ingin melihat tubuh indah kekasihmu,” ujar Ellie dengan tersenyum kepada Casey.
Ucapan Ellie membuat Isaiah dan Casey saling tatap, mereka berdua menjadi salah tingkah karena selama ini Casey dan Isaiah hanya berteman belum tahap ke pacaran, walau sebenarnya di diri masing-masing sudah saling menyukai.
“Kamu jangan sembarangan bicara, Ellie.” Wajah Isaiah sempat memerah mendengar adiknya menyebut Casey sebagai kekasihnya.
“Oh ya, Casey. Kamu hebat bisa menaklukan hati Isaiah yang dingin bagaikan es di kutub utara. Aku pikir dia seorang gay karena tidak pernah terlihat bersama wanita.” Ellie terus bicara tanpa melihat wajah Isaiah yang semakin merah karena ulahnya.
“Benarkah?” Sambil melirik Isaiah yang salah tingkah, Casey kembali duduk dan tersenyum.
Dia baru tahu ternyata pria yang ada di hadapannya tidak pernah bersama wanita, kalau menjadi sepasang kekasih berarti Casey adalah wanita pertama dalam hidup Isaiah.
“Iya benar, Casey. Makanya aku katakan, kamu sangat beruntung mendapatkan seorang perjaka.” Dengan refleks Isaiah langsung menoyor kepala sang adik.
Bisa-bisanya Ellie mempermalukan Isaiah di depan Casey, mau taruh di mana wajahnya. Sungguh kali ini pria itu benar-benar salah tingkah karena ulah sang adik.
“Beruntung sekali aku ya.” Casey ikut bercanda dia ingin melihat reaksi dari pria yang sudah dia kagumi..
“Tentu saja, Casey. Kamu tidak akan rugi menjadi kekasih Isaiah karena sebenarnya di balik sikapnya yang dingin dia adalah pria penyayang.” Ellie mempromosikan sang kakak kepada Casey sementara Isaiah hanya diam.
__ADS_1
Rasanya Ia ingin menyumpal mulut sang adik yang tidak berhenti bicara itu. Sementara Casey terlihat sangat senang Ellie membuka rahasia Isaiah, dia malah terus memancing agar gadis itu terus memberikan informasi tentang kakaknya.
“Sudah cukup, pesanan kita sudah datang.” Isaiah selamat dari sang adik karena makanan mereka sudah berada di atas meja otomatis harus menghentikan ocehan Ellie.
“Oh ya, Casey. Nanti kamu bantu aku ya untuk pemotretan gaun pengantin rancanganku. Kau dan Isaiah berpasangan karena kalian berdua sangat cocok.” Sambil berucap Ellie mengangkat kedua jempolnya kepada Casey dan Isaiah.
“Tentu saja, kapan pengambilan gambar?” tanya Casey seraya memegang sendok dan mencicipi makanannya sambil mata tetap menatap Ellie.
“Bagaimana kalau sabtu besok? Apakah kamu sibuk?” Casey menggelengkan kepala dan menelan makanan yang ada di mulutnya.
“Sabtu bisa.” Ellie terlihat sangat senang, dia mencubit dengan pelan kedua pipi Casey lalu berdiri dan berpamitan kepada wanita itu dan kakaknya.
“Ok, aku harus kembali. Selamat menikmati makanan kalian.” Isaiah hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat sang adik meninggalkan dia dan Casey.
“Jangan di perhatikan, adikku memang seperti itu,” ujar Isaiah setelah menelan white wine yang dia minum.
“Aku suka adikmu, dia sangat lucu. Oh ya, jadi kamu tidak pernah pacaran?” Casey mencoba bertanya, dia ingin lihat apakah Isaiah akan terbuka padanya.
“Um, iya,” jawab Isaiah di sertai anggukan kepala.
“Benarkan? Umurmu sudah 29 tahun tapi sama sekali tidak pernah pacaran?” Casey tidak percaya karena umur Isaiah sudah terbilang sangat dewasa.
“Aku tidak berbohong, aku terlalu memikirkan kuliah dan kerja sampai tidak terpikir untuk pacaran, bahkan mendekati wanita ‘pun sama sekali tak terlintas di pikiranku,” ungkap Isaiah dengan menatap mata Casey.
“Kamu wanita pertama yang aku dekati,” tutur Isaiah sambil memegang tangan Casey.
“Wow, beruntung sekali aku.” Untuk menghilangkan rasa gugup karena tangannya di genggam oleh Isaiah, Casey bercanda dan memalingkan wajah dari tatapan teduh pria itu.
”Aku juga akan sangat beruntung kalau kamu menjadi kekasihku.” Kali ini Isaiah berani mengungkapkan perasaannya kepada Casey, ini karena sang adik sudah membuka kartunya terlebih dahulu kepada wanita itu.
Casey langsung menjadi gugup mendengar ungkapan dari Isaiah, dia tidak tahu harus menjawab apa kepada pria itu.
“Casey … um … kamu mau menjadi kekasihku?” tanya Isaiah dengan menggenggam tangan gadis itu dan mengelusnya dengan lembut.
“Tentu saja, kita bisa bicara di apartemenku atau tempatmu.” Casey tersenyum dan menganggukkan kepala.
Casey dan Isaiah tidak berlama-lama di restoran, setelah membayar semua pesanan, mereka berdua kembali ke kantor. Isaiah tidak ikut masuk karena dia harus kembali ke perusahan tuan Frank.
“Nanti pulang, aku akan menjemputmu.” Casey menganggukan kepala pertanda setuju lalu Isaiah mencium kedua pipi gadis itu.
Isaiah langsung kembali ke kantor tuan Frank sedangkan Casey masuk menuju ke ruang kerjanya. Casey duduk di kursi kerja dan berpikir apakah dia harus menceritakan semua yang terjadi padanya.
Casey terkejut saat pintu terbuka dan melihat Adam sedang berjalan menghampirinya, pria itu memang sudah terbiasa masuk ke ruangan Casey tanpa mengetuk.
“Casey, apakah kau sudah melihat ini?” tanya Adam seraya meletakan laptop di atas meja.
“Apa ini?” tanya Casey dengan memajukan badannya dan melihat ke layar laptop.
“Ini adalah desain yang di buat oleh almarhum Nathan, sepertinya ini mega proyek yang dia rencanakan tapi sudah meninggal terlebih dahulu.” Casey menggerakan kursor untuk lebih memperjelas lagi.
“Iya, tapi dimana rencana proyek ini. Coba kamu periksa lagi, Adam.” Casey memperhatikan denah sebuah apartemen, hotel, pusat perlenjaan serta kompleks reals estate.
Sementara Adam dia memeriksa semua file yang ada di laptop, akhirnya dia menemukan apa yang dicari. Kembali Adam menggeser perangkat itu di hadapan Casey.
“Sepertinya proyek ini tidak di negara ini tapi Venezuela,” ujar Adam sambir menarik kursi dan duduk di samping Casey.
Casey kembali memperhatikan lahan yang sudah tersedia di Venezuela ada sekitar tuju puluh hektar.
“Ini proyek yang sangat besar juga lokasinya strategis dekat pantai,” ujar Casey sambil memperjelas gambar lahan yang ada di layar laptop.
“Oh ya, apakah lahan ini sudah menjadi milik perusahan?” tanya Casey seraya menatap Adam yang terlihat serius melihat laptop.
__ADS_1
“Iya, tentu saja. Apakah kamu ingin melanjutkan proyek ini?” Pertanyaan Adam membuat Casey terdiam sejenak dan berpikir.
“Sepertinya iya, aku ingin mewujudkan apa yang menjadi keinginan mendiang Nathan.” Sambil mengetuk pulpen di atas meja Casey memikirkan Nathan.
“Aku akan bertemu dengan tuan Smith dan tuan Frank, mereka harus tahu proyek ini. Ayo, Adam. Ikut denganku.” Casey dan Adam langsung meninggalkan kantor dan menuju ke perusahan tuan Smith.
Casey dan Adam tiba di kantor tuan Smith, karena sudah mengenal Casey sekretaris tidak mencegah gadis itu untuk bertemu dengan atasannya. Casey mengetuk pintu, terdengar dari dalam menyuruhnya masuk.
Casey membuka pintu dan masuk, dia melihat tuan Smith sedang mengerjakan sesuatu di atas meja, Casey berjalan menghampiri tuan Smith sambil mengucap salam kepada pria tua itu.
“Selamat siang tuan, Smith.” Mendengar suara Casey tuan Smith mengangkat kepalanya dan tersenyum kepada gadis itu.
“Siang, ayo duduk.” Tuan Smith berdiri dan ikut bersama Casey duduk di sofa.
“Terima kasih, Tuan,” ucap Casey sembari duduk. “Oh ya, ada yang ingin aku sampaikan kepada tuan,” tutur Casey seraya melirik kepada Adam dan memberikan isyarat kepada pria itu.
“Apa itu?” tanya tuan Smith dengan penasaran sambil melihat Adam sedang menghidupkan laptop.
“Ini, Tuan.” Adam menggeserkan laptop di hadapan tuan Smith lalu Casey menjelaskan apa yang menjadi keinginan mendiang Nathan.
Tuan Smith memperhatikan laptop sambil mendengarkan penjelasan Casey, dia menganggukan kepala tanda mengerti.
“Kamu ingin melanjutkannya?” tanya tuan Smith seraya menyandarkan badannya di sandaran sofa lalu Casey menganggukan kepala dengan pelan.
“Kalau Anda mengijinkannya, Tuan.” Pria itu berpikir sejenak, tiba-tiba dia berdiri dan pergi ke meja kerjanya.
Tuan Smith menagmbil ponsel lalu menghubungi tuan Frank, dia ingin membahas project itu bersama tuan Frank karena bagaimana ‘pun pria itu memiliki saham tertinggi di perusahan Nathan.
“Kita bahas setelah Frank berada di sini,” ujar tuan Smith seraya duduk kembali di sofa setelah selesai menghubungi tuan Frank.
Sambil menunggu sahabatnya tuan Smith berbincang-bincang dengan Casey juga Adam tentang project milik mendiang Nathan putranya. Tuan Smith ingin tahu sampai dimana kemampuan Casey untuk menjalankan rencana Nathan.
Tidak berselang lama tuan Frank tiba dia langsung menuju ke ruang kerja tuan Smith, tanpa mengetuk dia langsung masuk dan menyapa mereka serta duduk di dekat tuan Smith.
“Jadi apa yang akan kalian bicarakan?” tanya tuan Frank tanpa berbasa-basi lagi.
Casey langsung mengarahkan laptop ke tuan Frank dan menjelaskan kepada pria itu sebuah project dari mendiang Nathan. Nampak tuan Frank takjub dengan apa yang dia lihat.
“Kamu lanjutkan saja, Casey. Pembiayaan nanti dari perusahanku, kamu akan berhubungan langsung dengan Isaiah karena dia bagian Financial.” Casey sangat senang mendapatkan kepercayaan yang begitu besar dari tuan Frank.
“Terima kasih, akan aku laksanakan secepatnya.” Tuan Smith terpukau dengan Casey, dia tidak percaya diumur yang terbilang sangat mudah Casey bisa mendapatkan kepercayaan dari sahabatnya.
“Langsung buat summary project dan serahkan kepada Isaiah, nanti dia akan hitung berapa besar dana yang harus dikeluarkan,” pungkas tuan Frank seraya menepuk pelan punggung Casey.
“Baik, tapi aku harus berkunjung ke Venezuela untuk melihat lahan itu langsung sekaligus anak perusahan yang ada di sana,” ujar Casey sambil menatap tuan Smith dan tuan Frank secara bergantian.
“Iya, ajak juga Isaiah supaya dia bisa melihat apakah ini bisa di lanjutkan atau tidak,” saran tuan Frank diikuti anggukan kepala tuan Smith.
Tuan Frank sengaja meminta Casey untuk mengajak Isaiah karena dia melihat cucu dari sepupunya menyukai gadis itu. Tuan Frank ingin membuat Isaiah dan Casey lebih dekat lagi.
“Nanti aku akan mengajaknya.” Tuan Frank terlihat sangat senang, rencananya mendekatkan Casey dan Isaiah berhasil, tapi tanpa sepengetahuan pria itu sang cucu justru sudah mengungkapkan perasaannya kepada Casey.
Casey dan Adam tidak berlama-lama di ruangan tuan Smith, mereka berpamitan kepada kedua pria itu dan kembali ke kantor. Sepanjang jalan Casey dan Adam berbicang mengenai project itu.
“Adam, nanti kamu bantu aku untuk buat summary projectnya ya,” pinta Casey saat mereka tiba di kantor.
“Tentu saja,” sahut Adam dengan senang hati.
Baru saja akan masuk, Casey melihat Isaiah sudah menunggu di dekat pintu. Dia tersenyum dan mengajak pria itu untuk ikut bersamanya ke dalam.
Selamat membaca
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar ya
Terima kasih