Amor Prohibido (Cinta Terlarang)

Amor Prohibido (Cinta Terlarang)
Sadar


__ADS_3

Sementara di ruangan lain, disaat Casey sedang berjuang melahirkan anaknya. Badan Isaiah tergunjang, dadanya naik turun dengan cepat setiap mendengar teriakan dari sang istri.


Dokter dan perawat yang mengawasi Isaiah langsung berdiri dan siaga dengan peralatan, menjaga kalau terjadi sesuatu kepada Isaiah. Teriakan-teriakan Casey yang sedang berjuang melahirkan membuat Isaiah seperti gelisah.


Saat terdengar tangisan bayi tiba-tiba mata Isaiah terbuka, napasnya semakin cepat seperti orang yang baru saja dikejar-kejar oleh penjahat. Melihat itu dokter bersiap-siap dengan obat penenang.


Tapi Isaiah kembali memejamkan mata dan napasnya berangsur-angsur tenang, awalnya dokter ingin menyuntikkan obat penenang tapi melihat Isaiah tidur  kembali dia mengurungkan niatnya.


“Apakah dia sudah sadar?” tanya perawat kepada dokter yang sedang memeriksa Isaiah.


“Iya, tapi dia tidur lagi. Aku rasa sebentar dia akan bangun kembali.” Dokter mengukur suhu tubuh Isaiah lalu tersenyum. “Akhirnya sadar juga setelah sekian lama koma.” Dokter melihat suhu badan Isaiah normal lalu duduk kembali.


Dokter dan perawat masih berada di dalam ruangan tempat Isaiah di rawat, baru saja dokter akan berdiri terdengar lenguhan dari bibir Isaiah. Dokter itu langsung menghampiri Isaiah dan memperhatikan pria itu.


“Eugh ….” Isaiah membuka mata dan melihat dokter juga perawat berdiri di samping branka. “Aku dimana?” tanya Isaiah kepada dokter.


“Kamu sedang berada di villa.” Isaiah mengerutkan dahi mendengar jawaban dokter, dia memperhatikan sekeliling dan mencari istrinya.


“Dimana istriku?” Kembali Isaiah bertanya karena melihat Casey tidak berada di ruangan.


“Istri Anda sedang berada di ruangan sebelah, dia baru saja selesai melahirkan,” jawab dokter dengan tersenyum.


“Melahirkan?” Dokter menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Isaiah.


“Selamat, akhirnya Anda menjadi seorang ayah.” Isaiah masih terheran-heran dengan jawaban dokter.


“Berapa lama aku tidur?” tanya Isaiah kembali karena pikirnya dia hanya tidur sebentar.


“Anda bukan hanya tidur tapi koma hampir tujuh bulan lamanya.” Isaiah membelalakan mata mendengar dia koma selama itu.


“Benarkah?” Isaiah mulai mengingat-ingat saat dia mengalami kecelakaan dan tidak sadarkan diri. Isaiah berusaha menggerakkan kakinya tapi tidak bisa. “Ada apa dengan kakiku?”


Dokter langsung membuka selimut yang menutupi setengah badan Isaiah dan memeriksa kaki pria itu. Dia menggores telapak kaki Isaiah dengan pulpen tapi tidak ada pergerakan.


“Sepertinya efek dari kecelakaan itu membuat kakimu lumpuh, tapi nanti aku akan meminta orang tuamu untuk mengirim dokter spesial ortopedi juga dokter saraf untuk memeriksamu lebih teliti lagi,” jelas dokter itu, dia tidak ingin mengambil kesimpulan takut mengecewakan Isaiah.

__ADS_1


Isaiah hanya menganggukkan kepala lalu memejamkan mata, dia tidak masalah dengan kelumpuhannya. Tapi dia bersyukur masih bisa selamat dalam kecelakaan itu, saat ditabrak Isaiah merasakan tubuhnya melayang dan jatuh.


“Baiklah aku harus menyampaikan kabar gembira ini kepada keluargamu juga istrimu.” Saat dokter ingin meninggalkan ruangan, Isaiah menahan pria itu.


“Jangan, biarkan mereka yang melihat sendiri kalau aku sudah bangun.” Dokter tersenyum dan menarik kursi lalu duduk di dekat branka.


“Aku ingin memberikan kejutan kepada mereka,” ucap Isaiah sambil menutup kembali kakinya dengan selimut.


“Apakah Anda ingin makan atau minum?” tanya dokter tapi Isaiah menggelengkan kepala.


“Nanti saja,” ujar Isaiah lalu kembali memejamkan mata.


Sementara di ruangan sebelah karena terlalu senang dengan seorang bayi mungil yang tampan, mereka tidak tahu keadaan Isaiah, nampak tuan Hynes dan nyonya Hynes serta Asher juga nyonya Paulo sedang berada di ruangan tempat Casey dan bayinya.


Tak henti-henti tuan Hynes dan nyonya mencium pipi cucu mereka yang tertidur di samping Casey, begitu juga dengan nyonya Paulo sedangkan Asher dia hanya memperhatikan bayi itu dengan tersenyum.


****


Kini di villa sangat ramai, mereka secara bergantian menggendong bayi mungil itu. Sementara Casey dengan bantuan Asher dia pergi ke kamar tempat Isaiah di rawat.


Asher menarik kursi lalu menyuruh Casey duduk sementara dia berdiri di samping wanita itu sambil mata menatap Isaiah yang mereka pikir belum sadar.


“Kamu tidak ingin melihat putramu? Kalau kamu tidak juga bangun, aku akan membawa jauh Casey dan putramu.” Asher sengaja memprovokasi Isaiah agar dia terbangun dari komanya.


“Coba saja kalau berani.” Ternyata Isaiah termakan dengan provokasi Asher.


Casey dan Asher terkejut melihat Isaiah sudah sadar. Karena begitu senang, Casey langsung memeluk Isaiah dan menangis. Bukan tangisan sedih tapi bahagia, dimana sehari putranya lahir dan kini sang suami kembali bangun dari koma.


“Kamu sudah sadar?” Casey mengecup bibir Isaiah berulang kali karena terlalu senang.


“Maafkan aku yang tidak berguna ini, semestinya aku mendampingimu di saat-saat kamu sedang hamil.” Wajah Isaiah nampak sedih, dia mengusap airmata Casey dan memeluknya.


“Aku sangat beruntung kamu bangun disaat Casey sudah selesai melahirkan,” goda Asher kepada Isaiah dengan memainkan kedua alisnya naik turun.


“Huh … kau pasti mengambil untung disaat aku koma,” gerutu Isaiah dengan bercanda kepada Asher yang mendapatkan tawa dari pria itu.

__ADS_1


“Tentu saja.” Kembali Asher menggoda Isaiah dengan melipatkan kedua tangannya di depan dada.


Casey hanya tersenyum melihat Isaiah dan Asher, dia tahu sang suami hanya bercanda kepada Asher. Casey juga tahu Isaiah tidak cemburu kepada mantan kekasihnya itu.


“Oh ya, kamu ingin beri nama apa kepada putra kita?” Casey langsung menyela Isaiah yang ingin membalas Asher.


“Kamu belum memberinya nama?” Casey menggelengkan kepala, dia ingin Isaiah yang memberikan nama kepada putra mereka.


“Aku menunggumu,” jawab Casey dengan membelai punggung tangan Isaiah.


“Menungguku? Kalau aku tidak sadar juga bagaimana?” canda Isaiah dengan mencubit pelan pipi sang istri.


“Kalau kau tidak bangun juga, aku yang akan memberikan nama kepada putra kalian,” sela Asher dengan bercanda tapi mendapat tatapan sinis dari Isaiah.


“Begitu aku bangun, langsung ku ganti nama putraku.” Asher dan Casey tertawa melihat wajah kesal Isaiah.


“Vicenzo namanya,” sambung Isaiah memberi nama putranya.


“Nama yang bagus, kalian bisa memanggilnya Enzo,” sela Asher dengan bercanda tapi di mata Casey dan Isaiah panggilan Enzo cukup bagus.


“Iya, aku setuju,” ujar Isaiah dengan tersenyum kepada Asher.


“Akhirnya aku punya andil juga dalam pemberian nama.” Kembali Asher bercanda lalu nyonya Hynes masuk dengan membawa sang cucu.


Ia terkejut melihat Isaiah sedang berbincang dengan Casey dan Asher, dia memberikan cucunya kepada Casey lalu memeluk Isaiah dan mengecup berulang kali kening putranya.


“Akhirnya kau bangun juga, Nak.” Airmata menetes di pipi nyonya Hynes, dia sangat bahagia melihat putranya sudah sadar.


Nyonya Hynes berlari keluar mencari tuan Hynes, dia ingin memberitahukan kabar bahagia kepada sang suami. Melihat tuan Hynes sedang berbincang dengan Lucas, dia berteriak memanggilnya.


“Sayang, Isaiah sudah bangun dari komanya.” Tuan Hynes langsung menoleh kepada istrinya dengan tatapan tidak percaya.


Begitu juga dengan Lucas, dia terkejut sekaligus senang mendengar kalau Isaiah sudah sadar. Lucas langsung menghubungi tuan Moralez sementara tuan Hynes langsung berlari ke ruangan Isaiah di ikuti sang istri.


Begitu masuk, tuan Hynes melihat Isaiah sudah duduk di sisi tempat tidur dengan kaki menggantung dan sedang di suapi oleh Casey, dia berlari dan memeluk sang putra dengan erat.

__ADS_1


“Akhirnya kau bangun juga, Nak.” Isaiah membalas memeluk tuan Hynes dengan tersenyum.


Tuan Hynes melepaskan pelukkannya dan memegang kedua pipi Isaiah,  masih tak percaya melihat sang putra sudah bangun dari komanya.


__ADS_2