Amor Prohibido (Cinta Terlarang)

Amor Prohibido (Cinta Terlarang)
Paris


__ADS_3

Italy


Asher beserta anak buahnya dan Ludovic tiba di tempat Salvator, mereka turun dari mobil dan langsung berpencar di kediaman pria itu.


Ludovic memerintahkan anak buahnya untuk mengepung kediaman Salvator lalu mengajak Asher untuk ikut bersamanya.


Di depan kediaman Salavator para anak buah itu menodongkan senjata kepada Asher dan Ludovic sementara Alden sudah bersiap-siap dengan senjata snipernya bersama anak buah Ludovic.


"Suruh bos kalian keluar atau kami akan hancurkan tempat ini," perinta Ludovic kepada anak buah Salvator sambil mengangkat tangan dengan di kepal mengisyaratkan kepada orang-orangnya untuk menahan serangan.


"Tidak perlu." Terdengan suara dari dalam lalu pintu terbuka, Salvator menatap tajam kepada Asher dan Ludovic.


"Ada keperluan apa datang kesini dengan pasukanmu?" tanya Salvator sambil mata mengawasi anak buah Ludovic.


"Ingin menjemputmu," sahut Asher dengan menatap tajam kepada Salvator kemudian pria itu tertawa mengejek kepada Asher.


"Siapa dirimu sehingga berani ingin membawaku." Sambil berucap Salvator menahan anak buahnya yang sedang menodong senjata kepada Asher.


"Orang yang ingin menyelesaikan hidupmu, ternyata hanya berani menyuruh anak buahmu membunuhku tapi takut berhadapan langsung denganku." Salvator terkekeh, dia tahu Asher adalah salah satu target yang di minta oleh pria itu untuk di lenyapkan.


"Percuka saja, aku sudah tidak bekerja lagi padanya. Dia sudah menyewa orang lain untuk menghabisi kamu dan suami wanita itu." Asher mengernyitkan dahi, dia tidak percaya dengan omongan pria itu.


"Jangan berkilah, tidak mungkin dia mencari orang lain sedangkan aku dengar kalian adalah yang paling hebat disini." Salvator tergelak tawa mendengar ucapan Asher.


"Terika kasih atas pujiannya, tapi sayang sekali aku tidak bekerja lagi kepada pria itu," sahut Salvator dengan menatap Asher dan Ludovic secara bergantian. "Anda pasti tahu klan mana saja yang sangat hebat." Kali ini Salvator berucap kepada Ludovic.


"Aku tidak ingin ada korban di antara kita, aku bersumpah tidak lagi bekerja kepada pria itu." Asher dan Ludovic saling tatap lalu pria itu menganggukan kepala sebagai tanda kalau apa yang dikatakan oleh Salvator benar.


Asher mengeluarkan ponsel dari saku celana dan membuka galeri album foto dan menunjukan kepada Salvator.


"Apakah dia yang membayarmu?" Salvator melihat foto seorang pria kemudian dia tersenyum dan menganggukan kepala.


"Kamu sudah mengetahuinya, jadi tidak ada lagi yang harus dibicarakan." Asher memasukan kembali ponsel ke saku celananya dan menatap kembali Salvator.


"Baiklah kalau begitu, jika kamu berbohong maka tidak segan-segan aku akan menghancurkanmu." Salvator hanya tersenyum mendengar ancaman Asher.


Ludovic berjalan menghampiri Salvator kemudian berbisik kepada pria itu.


"Dia putra Moralez, kamu sudah tahu bukan seperti apa pria itu dan kamu berani sekali ingin membunuhnya." Salvator terkejut, selama ini dia tidak menyelidiki siapa Asher. Pria yang menyewanya juga tidak memberikan informasi tentang putra tuan Moralez.


"Benarkah?" Ludovic menganggukan kepala menjawan pertanyaan Salvator.


"Dia tidak main-main dengan ancamannya." Selesai berucap dia mengisyaratkan semua anak buahnya untuk meninggalkan kediaman Salvator.


Kini Asher dan Ludovic kembali ke kediaman pria itu, begitu tiba Ludovic langsung mengajak Asher ke ruang kerjanya.


"Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanya Ludovic saat mereka berada di ruang kerja lalu membuka botol wine dan menuangnya di gelas dan memberikannya kepada Asher.


"Aku akan mengunjungi pria itu dan memberinya pelajaran." Ludovic mengangkat kedua alisnya menatap Asher, dia sangat mengagumi keberanian putra dari Moralez.


"Baiklah, aku akan menghubungi rekanku disana supaya mereka menyiapkan senjata untukmu serta kedua orangmu juga." Asher menganggukan kepala, dia sangat bersyukur pria itu membantunya.


"Terima kasih sudah membantuku." Ludovic terkekeh dan menepuk punggung Asher.


"Ini hanya balas budi saja karena ayahmu sudah banyak membantuku," ujar Ludovic kemudian mengambil ponsel dan menghubungi rekannya di depan Asher.


Sementara Asher, dia memperhatikan perkembangan perusahan tuan Smith lewat ipad.


Houston

__ADS_1


Di kediaman tuan Smith, akhirnya Casey berpamitan kepada pria itu. Awalnya tuan Smith meminta Casey untuk menginap tapi wanita itu tidak bisa dan berjanji lain kali dia dan Isaiah akan tinggal sehari di mansion itu.


Tuan Smith tidak memaksa, dia mengantar cucunya beserta Isaiah sampai di depan kemudian mengecup pipi Enzo.


"Baiklah, Granpa. Kami pergi dulu." Casey mencium kedua pipi tuan Smith dan masuk ke mobil, begitu juga dengan Isaiah kemudian mereka berdua melambaikan tangan kepada pria tua itu.


Pasangan suami istri itu kembali ke Mansion milik orang tua Isaiah. Begitu tiba, Casey langsung menuju ke kamar Enzo dan meletakan putranya yang sudah tertidur pulas di box. Dia mengecup kening Enzo lalu menutup pintu dan pergi ke kamar dia dan Isaiah.


Casey mengambil ponsel dan menghubungi Asher, dia heran mengapa sudah malam pria itu belum juga kembali ke kediaman tuan Smith. Tapi panggilan wanita itu tidak ada jawaban dari Asher.


Dia mengerutkan dahi kemudian duduk di sofa dan mencoba kembali menghububgi Asher, tapi tetap sama tidak ada jawaban dari pria itu.


"Ada apa?" tanya Isaiah saat melihat raut wajah Casey yang terlihat aneh kemudian duduk di sampaing sang istri.


"Aku menghubungi Asher tapi tidak ada jawaban darinya," jawab Casey dengan meletakan ponsel di atas meja.


"Mungkin dia lagi sibuk," sahut Isaiah dengan menciun leher Casey dan melepaskan satu persatu kancing kemejanya.


Casey memiringkan kepalanya memberikan akses kepada Isaiah agar lebih leluasa mencium lehernya sambil tangan membelai rambut tebal pria itu.


Isaiah mengangkat tubuh Casey ala pengantin dan meletakan di tempat tidur kemudian melepaskan pakaiannya satu persatu.


Begitu juga dengan Casey dia melemparkan pakaiannya di lantai kemudian mencium bibir Isaiah dan menggigitnya dengan lembut.


Kini mereka saling berciuman sambil masing-masing tangan menjelajah daerah sensitif.


Terdengar lenguhan dari bibir mereka berdua, tidak tahan lagi Isaiah langsung masuk ke permainan inti. Yaitu olahraga yang mendatangkan kenikmatan.


Casey sangat menikmati permainan suaminya, agar sama-sama mencapai puncak kepuasan wanita itu tidak tinggal diam.


Dia berusaha mengimbangi permainan sang suami, mengikuti gerakan-gerakan yang membangkitkan gairah. Aroma maskulin dsri tubuh Isaiah membuat Casey tak henti mengecup dada pria itu.


Tubuh mulai mandi dengan peluh keringat, ingin bermain lembut tapi tidak bisa tapi sang istri sangat menikmati dengan kasarnya hentakan Isaiah, malah dia meminta agar lebih cepat lagi.


Isaiah diam sejenak membiarkan sang istri menikmati euforia puncak kenikmatan yang barus saja dia raih.


Kembali Isaiah bekerja di atas tubuh Casey, dia juga ingin merasakan kenikmatan yang sudah berada di ujung. Isaiah bermain dengan cepat sambil tangan melingkar di punggung sang istri.


Napasnya semakin memburu, bunyi benturan perpaduan kulit begitu jelas terdengar sehingga membuat Isaiah semakin cepat menggerakan pinggulnya.


Sementara Casey mulai merasakan kenikmatan lagi, dia meremas rambut Isaiah dan merintih di telinga pria itu.


Desahaan-desahaan menggema di kamar itu, panas tubuh semakin menggelora tidak menyurutkan Isaiah untuk berhenti. Justru dia semakin memacu gerakannya sehingga terdengar bunyi perpaduan cairan mereka.


Ini membuat Isaiah semakin menggila seolah-olah bunyi cairan itu adalah senandung yang membangkitan gairah.


Casey merasa gila di buatnya, kukunya menancap di punggung sang suami. Dia tidak tahan lagi dan berteriak ingin mengalami pelepasan.


"Babe, aku tidak tahan lagi," rintih Caset dengan menarik rambut Isaiah.


"Iya, aku juga." Berulangkali Isaiah menghentakan pinggulnya melepaskan sisa-sisa kenikmatan yang baru saja dia raih.


Begitu juga dengan Casey, dia melingkarkan kedua kakinya di pinggang Isaiah saat mengalami pelepasan. Perlahan pelukan mereka merenggang.


Nampak keringat mentes dari dahi Isaiah, dia mengecup lembut bibir Casey kemudian berbaring di samping wanita itu.


Casey merapatkan tubuhnya kepada Isaiah dan meletakan kepala di dada bidang sang suami. Detak jantung serta napas mereka belum teratur.


Badan mereka berdua lengket dengan keringat, Isaiah membelai rambut sang istri kemudian mengecup ubun kepala wanita itu.

__ADS_1


"Ayo ke kamar mandi." Isaiah turun dari tempat tidur kemudian mengulurkan tangannya kepada Casey.


Nampak wanita itu masih malas turun dari tempat tidur, mengalami beberapa kali pelepasan membuat kaki Casey terasa lemah untuk berjalan.


Isaiah tertawa melihat tingkah sang istri, dia menggendong wanitanya dengan gaya pengantin dan membawanya ke kamar mandi.


Pasangan suami istri itu saling membantu membersihkan tubuh mereka, sesekali Isaiah menggoda istrinya.


"Rintihanmu membuat milikku keras kembali." Casey tertawa dan mencubit perut suaminya.


"Kalau besok tidak ke kantor, bisa melakukannya lagi. Tapi sayang banyak pekerjaan, jadi besok saja." Isaiah terkekeh kemudian mengambil handuk dan menutupi tubuh sang istri.


"Tidak apa-apa, Sweety. Kapan saja kita bisa melakukannya lagi." Mereka berdua keluar dari kamar mandi dan pergi ke walk in closet.


Casey mengambil lingeri dan memakainya, sementara Isaiah mengambil boxer ketat dan mengenakannya kemudian kembali ke kamar dan berbaring.


Seperti biasa Isaiah selalu memeluk sang istri saat tidur.


****


Italy


Asher dan Jhon serta Alden sedang bersiap-siap untuk berangkat ke negara yang bertetangga dengan Italy. Penerbangan sekitar 2 jam lebih.


Kini mereka bertiga sudah berada di dalam pesawat, sementara Ludovic menghubungi rekannya di negar tersebut untuk menjemput Asher dan meminta untuk menyiapkan senjata buat mereka.


2 jam 30 menit akhirnya mereka tiba di Charles de Gaulle International Airport. Di pintu kedatangan sudah menunggu seorang pria yang ingin menjemput Asher.


Pria itu tersenyum saat melihat Asher, dia mengenali putra Moralez lewat foto yang di kirimkan oleh Ludovic kepada pimpinannya.


"Selamat datang, Tuan. Aku ditugaskan untuk menjemput Anda." Asher tersenyum dan bersalaman dengan pria itu lalu masuk ke mobil.


Pria itu langsung mengantar Asher dan kedua anak buahnya ke kediaman bosnya. Sepanjang perjalanan mata Asher memperhatikan bangunan-bangunan indah yang mereka lewati.


Satu jam kemudian mereka tiba di tempat rekan Ludovic, Asher turun dari mobil dan memperhatikan bangunan clasik itu. Dia sangat mengaguminya.


Asher langsung di sambut oleh rekan Ludovic. "Selamat datang." Asher langsung menoleh ke suara itu dan tersenyun


"Tuan Alderic," sapa Asher sambil berjabat tangan dengan pria itu.


"Jangan panggil aku tuan, cukup dengan Alderic saja." Asher terkekeh kemudian pria itu mengajak Asher pergi ke ruang kerjanya, sementara Alden dan Jhon menunggu di ruang tamu.


"Ternyata Moralez memiliki putra yang pemberani," ujar Alderic kemudian menyuruh Asher duduk.


"Kalau menyangkut keluargaku, aku pasti tidak akan tinggal diam," sahut Asher sambil duduk dan memperhatikan Alderic menuang minuman di dalam gelas.


"Benar sekali, jangan pernah biarkan orang mengusik keluarga kita." Alderic memberikan gelas yang berisikan minuman kepada Asher kemudian duduk di hadapan pria itu.


"Apa rencanamu?" tanya Alderic.


"Yang pasti, aku akan menemui pria itu dan memberi pelajaran kepadanya. Kalau dia masih mengganggu keluargaku terpaksa aku harus melenyapkannya." Alderic melengkungkan bibirnya mendengar penuturan Asher kemudian dia berdiri dan meminta anak buahnya untuk menyiapkan senjata buat Asher.


"Kalian hanya bertiga?" Asher menganggukan kepala, sengaja dia hanya membawa Jhon dan Alden karena pikirnya untuk menghadapi pria itu tidak sulit.


"Kalau kau ingin menambah orang aku bisa memberikan anak buahku kepadamu." Alderic menawarkan bantuan, menjaga kalau pria yang akan Asher hadapi bukanlah orang biasa.


"Terima kasih, Alderic. Tambah dua orang saja, pria yang akan aku hadapi tidak berbahaya." Alderic mengerti kemudian membuka pintu dan menyuruh anak buahnya untuk masuk.


Seorang pria masuk dan meletakan berbagai jenis senjata api di meja. Asher langsung berdiri dan memilih mana yang akan dia gunakan.

__ADS_1


Sebenarnya Asher memiliki senjata sendiri, berhubung tidak bisa membawanya terpaksa dia meminta bantuan kepada Ludovic dan Alderic.


Asher juga meminta Alden dan Jhon memilih senjata yang akan mereka gunakan, rencana besok pagi mereka akan mengunjungi pria itu.


__ADS_2