Amor Prohibido (Cinta Terlarang)

Amor Prohibido (Cinta Terlarang)
Kalian saling kenal?


__ADS_3

Karena begitu sulit mencari perhatian gadis itu akhirnya Zelo menyerah, dia memilih fokus kuliah dan mengurus perusahan milik orang tuanya. Di kantor pria itu sedang kedatangan tamu, mereka berbicang-bincang di ruang meeting.


“Terima kasih atas kunjungan Anda di perusahan ini,” ucap Zelo seraya melirik wanita yang datang bersama pria itu.


“Sama-sama, oh ya perkenalkan aku Alfredo dan ini putriku Zaneta.” Zelo tersenyum kepada gadis itu.


“Senang bertemu dengan Anda,” ujar Zelo seraya mengulurkan tangan untuk bersalaman.


“Terima kasih,” ucap Zaneta seraya tersenyum dan menatap Zelo. ‘Dia sangat tampan,’ gumamnya dalam hati.


“Oh ya, ada yang bisa aku bantu?” tanya Zelo kepada tuan Alfredo seraya duduk dan melirik gadis itu.


“Um … aku hanya ingin melihat putra Alvin. Ternyata apa yang mereka katakan itu benar, kamu sangat tampan dan pintar.” Zelo tertawa mendengar pujian pria itu.


“Itu terlalu berlebihan, aku hanya belajar dari ayahku,” ujar Zelo lalu kembali  tersenyum.


Tuan Alfredo menganggukan kepala dan memperhatikan pria itu, dia berencana ingin menjodohkan Zelo dan putrinya. ‘Dia cocok dengan Zaneta, aku akan bicara dengan Alvin.’ gumam  pria itu.


“Aku tidak bisa berlama-lama, sebentar lagi aku harus ke kampus.” Tuan Alfredo langsung berdiri di ikuti putrinya.


“Oh … tidak apa-apa, kami juga harus kembali ke kantor.” Zelo ikut berdiri dan kembali bersalaman dengan tuan Alfredo juga Zaneta lalu mereka meninggalkan ruang meeting.


Zelo kembali ke ruang kerja sedangkan tuan Afredo dan Zaneta pergi ke parkiran, gadis itu terpikat dengan ketampanan putra tuan Alvin.


“Dad, aku menyukainya,” ujar Zaneta seraya membuka pintu mobil lalu tuan Alfredo tertawa.


“Aku akan menjodohkan kalian berdua, dia sangat tampan dan pintar.” Zaneta sangat senang mendengarnya, mereka meninggalkan perusahan itu dan kembali ke kantor.


Sementara Zelo terlihat buru-buru keluar dari kantor, dia melihat jam di tangan lalu berlari masuk ke mobil. ‘Shit … aku sudah terlambat,’ umpatnya lalu meninggalkan parkiran menuju ke kampus.


Tiba di kampus dia langsung berlari masuk sementara dari arah lain juga seorang gadis sedang berlari sambil melihat jam yang ada di tangannya lalu mereka saling bertabrakan.


“Dimana matamu,” ujar gadis itu dengan marah.


“Matamu yang dimana.” Zelo tidak memperhatikan kalau yang dia tabrak adalah Casey, pria itu sibuk mengambil ponselnya yang ada di lantai.


Begitu juga dengan wanita itu, dia mengambil buku yang jatuh kemudian kembali berlari masuk ke ruangan. Saat Zelo melihat kalau yang bertabrakan dengannya adalah Casey dia langsung mengumpat.


“Shit … kenapa bertabrakan dengan dia lagi.” Pria itu buru-buru masuk ke ruangan, dia menarik napas lega karena sang pengajar belum datang.

__ADS_1


“Zelo kenapa denganmu?” tanya salah satu mahasiswa yang duduk dekat dengannya.


“Aku pikir sudah terlambat, Hernan.” Pria itu tertawa lalu dosen masuk.


Sedangkan Casey, begitu dia masuk sang dosen sudah berada di dalam. Gadis itu memberi salam kepada pengajar kemudian pergi duduk.


“Sudah dari tadi?” tanya Casey dengan berbisik kepada Diaz.


“Baru saja.” Casey merasa lega kemudian dia membuka buku dan memperhatikan sang dosen.


“Casey, sebentar jangan langsung pulang ya,” pinta Anna dengan suara berbisik lalu gadis itu tersenyum dan menganggukan kepala.


Selesai jam kuliah, Casey dan Anna juga Diaz berjalan ke parkiran lalu  bertemu dengan senior. Diaz langsung menarik tangan Casey untuk menghindar dari mereka.


“Mereka itu kasar, yang bertubuh tinggi besar itu namanya Jaime. Dia tidak segan-segan menyakiti orang sekalipun itu wanita.” Casey mengkerutkan dahi dan menatap pria yang di tunjuk Diaz.


“Kalau yang satunya lagi dia bernama Orland, mereka berdua sama. Kamu harus berhati-hati, Orland dan Jaime tidak bisa melihat gadis cantik.” Casey tersenyum dan menatap kedua pria yang di katakan Diaz, dia tidak merasa takut kepada mereka berdua.


Casey mengajak Anna dan Diaz untuk pergi ke mobil, salah satu pria yang bersama Jaime dan Orland menggoda Casey tapi gadis itu tidak menggubrisnya.


Sementara Zelo memperhatikan mereka dari dalam mobil dan melihat salah satu pria mulai mengganggu Casey. Dia keluar dan mengawasinya, Zelo tidak ingin terjadi sesuatu kepada gadis itu.


Tidak terima dengan tamparan Casey Orland  terlihat sangat marah, dia menarik gadis itu dengan kasar dan ingin memukulnya tapi dengan cepat Zelo menahan tangannya. Salah satu dari mereka ingin memukul Zelo tapi dia cepat menghindar dan melayangkan tendangan ke perut yang menyerangnya.


Jaime melihat temannya terjatuh kemudian dia melayangkan pukulan ke wajah Zelo tapi lagi-lagi pria itu dengan gesit menghindar dan melayangkan tendangan ke wajah Jaime.


Pria itu terjatuh sementara Casey berusaha melepaskan tangan Orland darinya, dia melayangkan pukulan ke wajah pria itu. Orland terlihat sangat marah lalu  menampar gadis itu.


Zelo melihat Orland lalu dia menghajar pria itu sehingga terbaring di tanah, Zelo tidak berhenti. Dia menendang perut Orland lalu Jaime menarik Zelo dan melayangkan pukulan di wajahnya.


Zelo terjatuh tapi dengan cepat dia berdiri dan membalas memukul Jaime sehingga pria itu terjatuh. Zelo tidak berhenti, dia terlihat sangat marah dan berulangkali memukul Jaime dan Orland sehingga kedua pria itu tidak bisa berdiri lagi.


Beberapa pria yang bersama Jaime dan Orland langsung lari meninggalkan mereka, Zelo menghampiri Casey dan memberikan sapu tangan kepada gadis itu.


“Bersihkan darah di ujung bibirmu.” Casey menatap Zelo dan mengambil sapu tangan dari tangan pria itu.


“Kamu harus berhati-hati dengan mereka, kakak Jamie dan Orland gengster di kota ini.” Zelo hanya tersenyum mendengar informasi dari Diaz.


“Aku tidak takut,” ujar Zelo lalu dia meninggalkan Casey dan temannya kemudian  masuk ke mobil.

__ADS_1


Casey hanya menatap kepergian Zelo, ingin mengucapkan terima kasih tapi pria itu cepat berlalu dari hadapannya. Dia menyeka darah di ujung bibirnya kemudian masuk ke mobil di ikuti Diaz dan Anna.


Mereka langsung meninggalkan kampus dan pergi ke apartemen milik orang tua Casey. Saat tiba, gadis itu melihat Zelo turun dari mobil. Dia mengkerutkan dahi menatap pria itu. ‘Apakah dia tinggal di sini juga?’ Tanya Casey dalam hati.


Dia mengajak Anna dan Diaz turun sambil matanya tak lepas dari Zelo, dia melihat pria itu masuk ke dalam gedung kemudian  berhenti dan menatap kedua temannya.


“Kamu lihat pria yang menolongku tadi?” tanya Casey dengan menunjuk Zelo yang sudah berada di dalam gedung apartemen.


“Namanya Zelo,” ujar Anna seraya tersenyum lalu Casey menatap temannya itu.


“Kamu mengenalnya?” Anna tertawa dan menganggukan kepala.


“Casey, kamu tidak memperhatikannya di kampus? Dia selalu duduk di cafe.” Casey mengangkat kedua keningnya dan kembali menatap Anna.


“Benarkah? Aku tidak pernah memperhatikannya.” Anna tertawa kemudian dia menggandeng tangan Casey sambil berjalan masuk ke apartemen. Dia tidak ingin mengatakan kepada gadis itu kalau Zelo sering memperhatikannya di cafe.


Kembali Casey melihat Zelo sedang membuka pintu, dia melepaskan tangan Anna dan pergi menghampiri pria itu. Casey ingin berterima kasih kepada Zelo karena sudah menolongnya.


“Ternyata kamu tinggal di sini juga,” ujar Casey seraya menghampiri pria itu.


Zelo menoleh ke arah suara itu, dia melihat Casey dan berusaha tersenyum. Jantungnya berdetak saat gadis itu berdiri di depannya dengan wajah tersenyum.


“Casey.” Gadis itu mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Zelo.


“Oh … Zelo.” Pria itu nampak gugup menyambut tangan Casey.


“Terima kasih, sudah menolongku.” Zelo tersenyum dan memperhatikan wajah gadis itu.


“Sama-sama, ternyata kita tinggal di gedung yang sama,” ujar Zelo dengan melambaikan tangan kepada Anna. Casey menoleh dan  menatap Anna.


“Kalian saling kenal?” tanya Casey dengan mengkerutkan dahi.


“Iya, aku mengenalnya di cafe.” Casey kembali tersenyum dan menganggukan kepala.


“Bagaimana kalau kita minum teh atau kopi di apartemenku.” Zelo nampak senang sekali mendapat penawaran dari gadis yang selama ini dia kejar.


“Kalau tidak mengganggumu.” Casey menggelengkan kepala kemudian dia dan Zelo masuk ke apartemennya.


Casey langsung menuju ke dapur dan membuatkan kopi juga teh untuk Zelo dan kedua temannya.

__ADS_1


__ADS_2