
Emma dan Ron sama-sama menyembulkan kepalanya dari balik tembok, untuk mengintip Aldrich yang sedang membaca buku sendirian.
Tadi setelah Emma berkata ingin menjadikan Aldrich anak angkat, bocah kecil itu tiba-tiba berkata ingin membaca buku di taman saja, dan pergi meninggalkan Emma dan Ron.
"Ron, apakah permintaanku salah?"
"Tentu saja nona! Kalian baru bertemu dua kali, dan anda langsung memintanya menjadi anak angkat? Mungkin Aldrich akan berpikir anda sangat aneh."
"Oh tidak! Apa dia juga akan berpikir aku seorang pedofil? Tapi aku tidak bermaksud buruk. Uwaaaa bagaimana ini?" Emma merengek sambil berguling-guling diatas lantai.
"Mungkin tidak. Anak kecil seperti dia, tidak akan tahu apa itu pedofil."
"Benar juga! Kau pintar Ron!" Emma berdiri dan menepuk bahu Ron.
"Tapi mungkin dia akan berpikir anda sebagai tante mesum." Ron terkekeh sambil menatap wajah Emma yang berubah ekspresi.
"Sama saja!!!"
"Ini ide yang sangat buruk, nona." Wayne muncul dan berjalan mendekati Emma dan Ron.
"Hayoloh... Berarti kau mengupil ya."
"Nona, menguping bukannya mengupil." Ron membenarkan.
"Oh iya, maaf terlalu sering ngomong bahasa Inggris."
Apa hubungannya? Wayne menggaruk kepala.
"Kau menguping ya! Aku tadi mengatakannya saat bersama Aldrich dan Ron." Emma melipat tangannya dengan ekspresi kesal.
"Tidak sengaja dengar. Tadi saya baru sampai dari mengambil dokumen dan mendengar anda saat membicarakan hal itu."
"Hmmm masuk akal juga." Emma mengusap dagunya, dan kembali bicara pada Wayne. "Lalu apa maksudnya mengadopsi Aldrich adalah ide yang buruk? Itu adalah ide paling cermelang yang hanya keluar sepuluh tahun sekali dari kepalaku loh!"
Wayne membuang nafas dengan kasar, lalu mulai mengatakan opininya. "Kalau nona mengadopsinya, otomatis kelak dialah pewaris Rose Group. Anak itu tidak berpendidikan, dan terlihat kurang pintar. Tidak mungkin dia menjadi pewaris. Dan tanggapan orang-orang akan buruk pada anda."
"Tapi aku hanya mau Aldrich yang menjadi anakku."
"Saya punya ide yang lebih bagus." Ron mengangkat tangannya dengan antusias. "Bagaimana kalau anda menikah sekarang? Lalu punya anak. Masalah selesai. Mungkin ada ingin menjadikan Aldrich anak karena iri dengan teman-teman anda yang sudah berkeluarga. Sementara anda masih sendirian diusia ini."
"Haruskah aku menganggapnya usulan? Tapi itu terdengar seperti sindiran."
"Saya sependapat dengan tuan Ron. Lebih baik anda menikah sekarang." Wayne mengangguk.
__ADS_1
"Hei! Kalian pikir menikah dan punya anak itu mudah? Memangnya aku kucing yang bisa kawin seenaknya?"
"Anda sendiri yang bilang punya anak itu susah. Tapi kenapa ingin menjadikan bocah itu sebagai anak angkat?" Tanya Wayne.
"Beda! Nih ya, kalau aku langsung punya anak, aku bebas mendandaninya dengan pakaian lucu setiap hari. Tidak perlu mengurusi suami yang banyak omong."
"Lalu kenapa anda tidak membeli boneka saja? Anda juga bisa mendandaninya dengan pakaian lucu." Usul Ron.
"Ah sudahlah! Laki-laki seperti kalian tidak mengerti maksudku!" Emma berjalan pergi dengan kesal.
◌
Di tempat lain.
Seorang laki-laki duduk dibalik meja kerjanya. Pandangan matanya terus mengarah ke luar jendela. Berharap semua masalahnya bisa terbawa oleh awan dan menghilang tanpa jejak.
Krieeet...
Pintu ruangannya terbuka, dan memasukkan seorang perempuan cantik yang mengenakan pakaian seksi. Bentuk tubuhnya tergurat dengan jelas melalui baju yang ia kenakan. Sepatu tingginya terdengar nyaring saat melangkah mendekati meja.
"Matt sayangku, kenapa kau tidak membalas pesanku?" Perempuan tadi dengan manjanya duduk dipangkuan laki-laki yang tidak menawarinya duduk itu.
"Aku tidak tahu bagaimana harus menjawab pesanmu Sylvia. Karena terlalu lama memikirkannya, jadi lupa untuk membalas."
"Bagiku itu sulit."
"Aku hanya bertanya, kapan kau akan dijadikan pewaris resmi keluarga Hamilton. Apa susahnya menjawab itu?"
"Bukankah aku sudah bilang? Sebelum anak itu dipastikan keberadaannya, aku tidak akan dijadikan penerus. Entah dia masih hidup atau sudah mati, semuanya harus jelas." Matt mengusap kepala Sylvia untuk meredakan emosi yang sepertinya sudah mulai dirasakan kekasihnya.
"Kalau dia masih hidup bagaimana?"
"Tentu saja dia yang dijadikan pewaris keluarga Hamilton selanjutnya."
"Ya ampun Matt! Bukankah kisaran umurnya 10 sampai 11 tahun? Dia masih anak-anak. Bagaimana bisa dijadikan penerus?"
Matt tersenyum dengan lembut kearah Sylvia. "Aku yang akan membantunya sampai dia siap untuk menjadi penerus keluarga."
Sylvia memutar bola matanya dengan kesal. Sial! Berarti itu tidak pasti dong. Ck! Percuma saja aku menggoda Matt bertahun-tahun. Kalau bukan dia yang mewarisi Hamilton group, aku tidak bisa menguras hartanya.
"Sabar ya Sylvia sayang. Aku akan berusaha lebih keras mencari keberadaan anak itu. Agar semuanya jelas, dan kita bisa menikah secepatnya."
Sylvia berusaha tersenyum dan mengangguk. Benar, aku juga tidak boleh putus asa. Jika anak itu sudah ditemukan, itu lebih mudah untukku menghabisinya, agar Matt bisa menjadi pewaris dan aku bisa hidup kaya dengan kekasih gelapku.
__ADS_1
"Semoga dia cepat ditemukan ya sayang." Sylvia menguatkan pelukannya pada Matt, dan terseyum dengan sinis dibaliknya.
◌
Hachiii
Aldrich mengusap hidungnya yang tiba-tiba gatal dan terus bersin. Sepertinya karena ia tidak terbiasa dengan ruangan ber-AC jadi sedikit flu. Untung saja ia sudah merasa tidak enak badan lebih awal, dan memutuskan membaca buku di area terbuka. Dengan begini Emma dan kakek Ron tidak akan tertular.
Menyebalkan! Ternyata buku ini sobek.
Aldrich menutup buku yang membahas tentang CEO. Padahal ia sudah bersemangat membacanya, tapi ternyata buku itu sobek dan membuat beberapa kata hilang.
Aneh. Kata kak Emma, CEO Hamilton Group namanya Matt Hamilton. Tapi kenapa di buku ini berbeda? Meskipun sobek, tapi huruf awalnya adalah 'J' bukan 'M'.
"Oi bocah!"
Pikiran Aldrich langsung buyar. Ia mendapati Wayne berdiri didepannya dengan wajah kesal.
"Halo paman Wayne. Ada apa-"
"Paman? Jangan seenaknya memanggilku dengan sebutan sok akrab seperti itu. Panggil aku tuan Wayne."
Aldrich tersenyum dan mengangguk. "Tuan Wayne. Kenapa disini?"
"Kenapa? Seharusnya aku yang tanya begitu. Kenapa kau disini hah? Dasar gelandangan!"
Aldrich menutup bukunya dan berdiri dengan santai. "Tidak perlu berkata kasar seperti itu. Bukankah membuang tenaga tuan Wayne yang sangat berharga? Lebih baik katakan saja langsung, ada apa?"
"Mulut yang bagus." Wayne mengangguk kemudian menunjuk kearah pintu gerbang. "Pergi dari sini sekarang."
Rupanya ingin mengusirku.
"Baiklah. Aku akan berpamitan dulu dengan kak Emma dan kakek Ron."
"Eh jangan! Memangnya kau punya kedudukan apa menemui CEO Rose Group?"
Wayne melihat sekitar dengan hati-hati. Nona sedang berada di gudang untuk mencari satu set alat main baseball ditemani Ron. Katanya ingin bermain bersama anak menjijikkan ini. Jadi sebelum itu terjadi, lebih baik aku mengusirnya dulu.
Aldrich tentu saja paham dengan gerak-gerik aneh Wayne. Dan otaknya langsung bisa mengalisa kalau sekertaris pribadi Emma ini ingin mengusirnya diam-diam.
Apa aku harus pura-pura bodoh dan pergi seolah takut dengan gertakannya? Tapi... Aku juga tidak memiliki tujuan lain disini. Meksipun masih belum ada titik terang siapa ayahku, setidaknya aku tahu kalau dia berasal dari keluarga Hamilton. Hanya saja... Keluarga itu menyimpan sebuah rahasia yang harus aku ketahui sendiri. Jadi terus-terusan berada di rumah ini tidak akan memberiku jalan keluar.
"A-aku tahu paman." Aldrich pura-pura ketakutan pada Wayne dan mundur beberapa langkah. "Maaf kalau mengganggu. Sampaikan salamku pada kakak. Hiks!" Aldrich berlari menuju gerbang dan keluar.
__ADS_1