
Seorang perempuan sedang duduk di tempat rawatnya. Disampingnya, terdapat ranjang kecil berisi bayi mungil yang sedang tertidur pulas. Perempuan itu menatapnya dengan cemas, sambil menggigit jarinya, ia beralih melihat kearah pintu dan jendela secara bergantian.
"Tidak lama lagi." Gumamnya dengan suara bergetar. Lalu buru-buru ia mengambil selimut tambahan di dalam lemari.
Sial! Mereka pasti tetap bisa menemukanku meskipun aku melahirkan di rumah sakit kecil.
Tok! Tok!
Datang!
Perempuan tadi membalut bayinya dengan selimut setebal mungkin, lalu menggendongnya dengan cepat.
Brak!
Pintu itu akhirnya jebol karena tendangan kuat dari luar. Tak lama banyak orang berwajah sangar masuk. Mereka celingukan melihat ruangan yang kini kosong itu.
"Dia kabur lewat jendela! Kejar!"
◌
Aldrich terbangun dari tidurnya. Kepalanya terasa pusing karena mimpi aneh itu. Ia mencoba duduk dan mulai memproses ingatannya. Terakhir kali, ia ingat sedang berada di rumah Popol. Lalu bertemu sesuatu yang mirip ibunya, tidak lama Emma muncul. Ia dibawa pulang dan ketiduran di mobil.
Benar juga. Saat itu sudah terlalu malam. Karena habis menangis, jadi terasa lebih mengantuk.
"Aaa!!!"
Aldrich terkejut mendengar teriakan seorang laki-laki yang menggema di seluruh rumah. Ia buru-buru berlari keluar kamar.
Baru saja membuka pintu, Aldrich sudah disambut Ezra yang lewat sambil menarik koper.
"Aldrich! Lama tidak bertemu. Aku merindukanmu." Ezra langsung memeluk Aldrich penuh haru.
"Kak Ezra kenapa bisa disini?"
"Oh sekarang aku akan tinggal disini. Karena aku diusir dari tempat kost hahaha." Ezra tertawa sambil mengusap tengkuknya.
"Ah begitu ya. Lalu dimana kak Emma?"
"Kakak mungkin sedang menyiksa sandera. Kamu bisa dengar teriakannya kan? Kakak sangat sadis. Aku tidak tega melihatnya, jadi lebih baik aku pergi menata barang dulu di kamar."
"Sandera?" Aldrich bingung. Sejak kapan ada sandera?
"Kata kakak, salah satu preman yang datang ke sini dengan tidak sopan itu. Ada yang tertangkap, dan sekarang sedang dipaksa untuk pengaku kalau yang menyuruhnya adalah keluarga Hamilton."
__ADS_1
Aldrich mengangguk. "Aku ingin lihat."
"Hahaha sebaiknya jangan. Ya sudah, aku lanjut menata barang dulu ya." Ezra kembali melanjutkan perjalanannya sambil membawa koper.
Aldrich berjalan menuju dapur, dan ia terkejut mendapati seseorang yang sudah duduk disana. Dia adalah Matt. Ia baru ingat kalau Matt semalam juga menjemputnya bersama Emma.
Kenapa kak Matt bisa ada disini?
Matt terlihat melamun sambil menatap meja makan. Tapi saat suara teriakan laki-laki yang katanya sandera itu terdengar, Matt langsung menutup mulutnya dan berlari menuju kamar mandi untuk muntah. Lalu ia kembali ke tempat semula dan melamun lagi.
Dia kenapa sih?
"Kak Matt." Aldrich akhirnya menghampiri setelah sebelumnya hanya melihat.
"Oh kamu sudah bangun-"
"Aaa!!!" Teriakan itu kembali terdengar.
"Ugh!" Matt langsung menutup mulutnya dan berlari menuju kamar mandi untuk muntah.
Saat melihat Matt kembali, akhirnya Aldrich bertanya. "Memangnya ada apa itu?"
Matt dengan wajah pucat nya menjawab. "Emma... Sedang menyiksa sandera laki-laki."
"Dimana? Aku ingin lihat."
"Gu-gudang taman belakang. Sebaiknya kamu jangan lihat. Tidak baik untuk anak-anak."
Mendengar itu Aldrich malah semakin penasaran. Ia yakin kalau Emma bukanlah orang yang sadis. Jadi tidak mungkin dia menyiksanya seperti di film mafia kan?
Mengindahkan larangan Matt, Aldrich langsung pergi menuju gudang. Setelah sampai, ia segera masuk dan kembali menutup pintunya. Di gudang yang besar itu, terdapat dua ruangan. Saat Aldrich berpindah ke ruangan lain, ia terkejut dengan apa yang ada di depannya.
Emma dengan ekspresi menakutkan berdiri disamping laki-laki bertubuh kekar yang sudah banjir air mata. Emma tersenyum dengan sebelah tangan yang memegang... Kecoak.
"Katakan! Untuk apa keluarga Hamilton menyuruhmu kemari?!" Tanya Emma dengan nada tinggi.
"Aku tidak tahu!"
Mendengar jawaban itu, Emma langsung memasukkan kecoak di tangannya ke dalam baju laki-laki tadi.
"Aaa!!! Tolong hentikan!"
Kukira hal sadis seperti apa. Ternyata kak Emma hanya bermain-main dengannya.
__ADS_1
"Hahaha tidak perlu buru-buru, stok kecoakku masih banyak." Emma kembali mengambil seekor kecoak dari dalam wadah didekatnya, lalu bersiap menanyakan hal yang sama. Tapi ia berhenti saat melihat Aldrich yang menatapnya dari jauh.
"Al? Kenapa kamu disini? Sudah bangun? Sebaiknya sarapan dulu." Emma melemparkan kecoak di tangannya ke kepala laki-laki tadi, dan membuat orang itu kembali histeris.
"Nanti saja. Aku tidak takut kecoak, jadi biarkan aku disini dulu untuk mendengarkan pengakuannya." Ucap Aldrich sambil berjalan mendekati Emma.
"Baiklah kemari. Dia mungkin bisa lebih stress lagi kalau targetnya malah yang menyiksanya hahaha."
Aldrich menatap laki-laki yang menahan geli itu. Mungkin sudah banyak kecoak yang dimasukkan kedalam bajunya. Emma memang tidak memiliki rasa kasihan sedikitpun. Pantas saja Matt sampai pucat begitu.
"Paman, aku akan mengeluarkan semua kecoak itu dari tubuhmu. Tapi katakan yang sebenarnya pada kami." Aldrich berjongkok di samping laki-laki yang sedang terikat itu.
"Tidak akan!"
"Dia keras kepala Al. Lebih baik kita tambah saja kecoaknya." Usul Emma.
Aldrich terdiam dan menggaruk kepalanya pelan. "Bagaimana kalau aku bisa menyelamatkan keluarga paman? Tapi bekerjasamalah dengan kami."
Laki-laki itu terkejut, dan menatap Aldrich tidak percaya. "Bagaimana kau tahu?"
"Melihat paman yang merasa sangat jijik sekarang, tapi tetap bertahan pasti ada sebabnya. Karena keluarga Hamilton itu bukan siapa-siapa bagi paman, seharusnya dari tadi paman mengatakan semuanya kan? Uangpun pasti tidak akan didapat kalau sudah di sandera seperti ini, jadi tanpa pikir panjang seharusnya paman bicara kan? Tapi buktinya tidak. Paman masih bertahan. Pasti itu demi orang lain yang paman sayangi lebih dari diri paman sendiri."
Eh? Memang iya? Emma bingung.
Tiba-tiba laki-laki bertubuh sangar itu menangis dengan keras. "Kau benar. Satu-satunya keluargaku, nenekku memiliki penyakit yang serius, dan harus dirawat di rumah sakit. Keluarga Hamilton mengancam akan memberhentikan pengobatannya kalau aku sampai membocorkan rencana mereka. Mereka bilang, seandainya aku tertangkap, maka aku harus bunuh diri untuk menjaga rahasia. Tidak masalah jika aku mati, asal jangan nenekku. Tapi obat yang sudah kusiapkan untuk bunuh diri malah diambil orang tua penjaga rumah itu!"
Diambil kakek ya. Aldrich berdiri dan menatap Emma.
"Kita harus membantunya."
"Bagaimana caranya?" Tanya Emma.
"Suruh kak Matt memindahkan neneknya paman ke rumah sakit lain dengan mengatas namakan keluarga Hamilton. Dengan begitu, keberadaan neneknya bisa disembunyikan dan aman." Aldrich melipat tangannya dan kembali menatap laki-laki tadi. "Bagaimana? Paman sudah mau bekerjasama?"
"Memangnya kalian bisa melawan keluarga Hamilton? Meskipun aku bekerjasama, kalian tetap akan kalah! Dan keberadaan nenekku pasti akan ketahuan. Tidak ada yang bisa melawan keluarga Hamilton!"
Aldrich tersenyum. "Menjatuhkan mereka itu sangat mudah. Buktinya sebesar apapun gajah, dia akan kalah dengan semut kecil."
Emma menatap Aldrich. Semenjak dia terbuka padaku soal kepintarannya, Al semakin terlihat berbeda dari apa yang kupikirkan. Bahkan aku merasa kalah dengannya. Tapi... Itu bagus juga, aku jadi memiliki motivasi untuk belajar. Yaitu harus menjadi lebih hebat dari Al.
Emma menghampiri Aldrich dan memeluknya. "Baiklah ayo kita sarapan, dan tinggalkan si bodoh ini."
"Hei! Aku ikut kalian! Tolong lepaskan kecoaknya dulu. Hei!!! Apa kalian mendengarku?!"
__ADS_1