
Hari sudah menjelang siang. Matt sedang melamun di kantornya. Ia masih terbayang-bayang suasana pagi tadi. Dimana perasaan hangat keluarga kembali ia rasakan setelah sekian lama menghilang. Sekarang perasaan serakahnya muncul, ia ingin merasakan kehangatan itu lagi.
Sepertinya aku akan membuat rencana liburan sebelumnya menjadi nyata. Enaknya liburan dimana yang cocok untuk keluarga kecil?
Tunggu... Keluarga kecil? Apa yang kupikirkan?! Tidak tidak, aku sudah salah paham.
Matt menggelengkan kepalanya untuk merontokkan semua pikiran anehnya.
"Tuan!!!"
Matt tersentak kaget. Ia menoleh kearah Ryker yang memandangnya dengan tatapan sebal.
"Kenapa kau membentakku?"
"Saya sudah memanggil anda lebih dari sepuluh kali. Lihat! Mulut saya sampai berbusa, tapi anda hanya diam dengan tatapan kosong. Saya baru saja ingin menyembur anda dengan air, tapi anda tiba-tiba menggelengkan kepala dengan aneh."
Matt menghela nafas. "Baiklah. Ada apa?"
"Bukti dan yang lainnya sudah diserahkan pada polisi. Persidangan nona Sylvia akan dipercepat. Dan soal King Korn, kemarin dia menemui nona Sylvia di penjara."
"Kemarin ya." Matt mengangguk. "Aku mengerti. Kau bisa pergi sekarang."
Ryker mematuhi perkataan tuannya. Ia pergi meninggalkan ruang kerja Matt.
"Perkataan Aldrich mungkin benar. Korn itu bisa saja balas dendam." Matt memutar-mutar kursi kerjanya sambil berpikir.
Hoaaammmm
"Ngantuk juga, tadi malam aku begadang untuk menandatangani dokumen."
Matt menaruh kepalanya yang terasa berat diatas meja. Tangannya ia gunakan sebagai bantal dadakan, dan ternyata itu terasa sangat nyaman. Membuatnya mulai larut dalam kantuk.
◌
Dalam tidurnya, Matt memimpikan kejadian yang telah berlalu. Saat hari-harinya terasa menjengkelkan, tapi membuatnya sangat rindu.
Saat itu, Matt masih duduk di bangku kelas 6 SD.
"Aku pulang."
Drap! Drap! Drap!
Mendengar suara langkah kaki yang mendekatinya dengan cepat, membuat Matt memutar bola matanya malas.
"Matt!!! Akhirnya kau pulang. Bagaimana sekolahmu hari ini?" Tanya seorang laki-laki yang terlihat beberapa tahun lebih tua. Kedua matanya menatap Matt antusias, menunggu jawaban adiknya itu.
"Membosankan seperti biasa." Jawab Matt datar sambil melangkah menuju kamar.
"Ada apa dengan wajahmu? Kenapa ada plester di pipimu?"
"Saat pelajaran olahraga aku terjatuh." Lagi-lagi Matt menjawab dengan nada malas.
"Apakah kau baik-baik saja? Kudengar kalau ada yang sakit di sekolah, akan dibawa ke ruangan yang disebut UKS. Apa itu benar?"
"Ya."
__ADS_1
"Haaah... Aku ingin sekali bisa sekolah di tempat biasa sepertimu. Kenapa ayah dan yang lainnya melarangku? Aku kan ingin merasakan punya teman juga. Belajar di rumah tidak seru."
Brak!
Matt membanting tas sekolahnya di lantai, lalu menatap laki-laki sebelumnya dengan penuh amarah. "Berhentilah bicara omong kosong! Kak Jeff itu adalah anak kesayangan. Tidak sepertiku yang selalu dianggap pembawa sial. Jangan mengeluh dan turuti saja keinginan mereka."
Laki-laki yang disebut Jeff itu malah tersenyum menanggapi amarah adiknya. "Jika itu disebut anak kesayangan. Aku lebih memilih menjadi seseorang yang mereka benci. Terus berada di rumah membuatku seperti hewan peliharaan dalam kandang."
Setelah bicara seperti itu, Jeff berbalik untuk meninggalkan Matt. "Istirahatlah. Kau pasti lelah setelah pulang sekolah." Ucap Jeff sebelum benar-benar pergi menjauh.
"Tunggu kak Jeff!"
Lama kelamaan pemandangan disekeliling Matt berubah menjadi hitam. Ia melihat siluet sang kakak yang berjalan menjauhinya. Meskipun ia sudah bersusah payah mengejarnya, sosok itu terus berjalan dan mulai menghilang. Ditemani semua suara-suara memuakkan yang paling diingat oleh Matt.
"Keluarga Hamilton selalu memiliki satu anak, kenapa bisa ada anak lagi? Matt pembawa sial."
"Kita harus menjaga Jeff dengan ketat. Agar kesialan tidak menimpanya. Kecerdasannya pasti bisa menguntungkan keluarga Hamilton kelak."
"Matt, Jeff sudah meninggal. Gantikanlah posisinya."
Sebenarnya, yang kalian pikirkan hanyalah status kan? Tidak ada yang memikirkan kakakku.
◌
"Tuan!!!"
Matt terbangun dari tidurnya karena terkejut. Ia segera melihat pelaku yang berteriak kearahnya.
"Kenapa Ryker?"
Menangis?
Matt meraba kedua pipinya. Ia terkejut saat merasakan air mata yang mengenai jemarinya.
Sepertinya aku merindukan kakak.
"Kau bisa membangunkanku dengan cara biasa, kenapa harus berteriak?" Matt segera menghapus air matanya.
"Jadi, apakah anda bermimpi nona Emma menikah dengan laki-laki lain? Atau bermimpi anak anda, Aldrich diculik?"
"Berhenti bicara atau kupotong gajimu."
"Anda sudah bicara begitu pada saya tiga kali bulan ini. Sekarang saya ragu kalau masih bisa mendapatkan gaji."
Matt hampir tertawa mendengar perkataan sekretaris berwajah datarnya itu. Tapi ia bersusah payah menahannya. Sepertinya Ryker bermaksud menghibur dirinya.
"Oh iya tuan." Ryker mengambil ponsel lalu menyodorkan itu kearah Matt. "Teman anda mengirim pesan untuk mengajak bertemu. Katanya mereka sudah menelpon ponsel anda tapi tidak diangkat. Mungkin saat anda tidur tadi."
"Teman? Siapa?"
"Hanya tuan Juan dan tuan Asher yang berani menelpon saya untuk mencari anda."
"Ah mereka ya." Matt teringat dua temannya yang memiliki tingkat kebodohan hampir setara dengan Emma. Mereka adalah anak orang kaya yang masing-masing sudah mengambil alih bisnis orang tua mereka. Tapi karena sepak terjangnya dalam dunia bisnis tidak sebagus orang tua mereka, jadi terkadang mengajak bertemu untuk meratapi nasib bersama.
"Siapkan mobil." Matt berdiri dan berjalan keluar kantor.
__ADS_1
"Tunggu! Anda menyuruh saya menyiapkan mobil tapi tidak menunggu saya dulu."
◌
Di salah satu club malam milik Juan.
"Huaaaa dan lagi-lagi ayahku menyalahkanku karena kerugian perusahaan." Asher berteriak sambil menangis, lalu meneguk minuman di dalam gelas dengan frustasi.
"Dia mabuk." Juan melihat Asher dengan iba.
"Apanya yang mabuk? Asher minum es teh." Matt menunjuk gelas Asher yang masih tergantung tali pencelup teh.
"Oh sial! Aku kira dia mabuk karena dari tadi terus bicara hal aneh."
Brak!
Asher tiba-tiba memukul meja dengan keras.
"Apanya yang bicara aneh, hah?! Daritadi aku bicara normal. Dan kalian lihat ini! Aku bahkan hanya bisa membeli es teh! Tidak bisa beli minuman huaaaa."
"Jadi, kau membuat perusahaan ayahmu hampir bangkrut karena tertipu saham bodong?" Tanya Matt yang sebelumnya sudah diceritakan duduk perkaranya oleh Asher.
"Bukan hampir bangkrut, tapi sudah bangkrut. Katanya besok rumah dan yang lainnya akan diambil untuk melunasi hutang."
Juan hampir saja tersedak minumannya saat mendengar perkataan Asher. "Kau bahkan berhutang? Pantas saja ayahmu memarahimu. Kalau aku yang jadi ayahmu, pasti tidak kuakui anak lagi."
"Matt bantulah aku. Jangan buat perusahaanku bangkrut. Kumohon tuan muda Hamilton, pinjami aku uang." Asher memegang kedua tangan Matt sambil memohon.
"Jangan Matt! Dia sendiri yang bodoh dan kena tipu." Juan membuang muka dengan angkuh, seolah dialah yang dimintai tolong.
"Matt Hamilton. Kumohon..."
Matt menghela nafas dan melepaskan tangannya dari pegangan Asher. "Juan benar. Ini adalah perbuatanmu sendiri, jadi kau juga harus menerima konsekuensinya. Sebagai temanmu, aku ingin kau belajar dari sini. Nanti saat kau benar-benar tidak punya apapun dan tidur di teras toko, baru aku akan membantumu. Kuberikan satu rumah seharusnya tidak masalah kan?"
Juan bertepuk tangan dengan gembira. "Hahaha... Ucapan yang bagus. Kalau begitu aku juga. Saat Matt memberimu rumah, aku akan memberikanmu motor."
"Perbedaannya jauh sekali." Asher terduduk dengan lesu.
"Hei aku ini cuma memiliki bisnis restoran dan club malam. Bukan anak kaya raya sekelas keluarga Hamilton. Darah mereka biru!" Ucap Juan sambil melirik Matt.
Asher mengangguk lemah. "Aku tahu. Kalian adalah teman-temanku yang baik. Pasti ingin membuat mentalku jauh lebih kuat kan? Baiklah, aku akan berusaha keras setelah ini."
"Siapa yang bilang ingin membuat mentalmu lebih kuat? Kita ini ingin melihatmu tersiksa hahahaha." Juan tertawa dengan brutal sendirian, sedangkan Matt yang tidak satu frekuensi dengan candaannya hanya menatapnya bingung.
"Dasar gila." Matt menggelengkan kepalanya dan mulai meneguk minuman yang ia pesan.
Asher tiba-tiba teringat sesuatu, lalu menatap Matt penasaran. "Oh iya, Matt. Kata Ryker, kau sedang dimabuk asmara dengan perempuan anak satu. Benarkah?"
Buuuhhh!!!
Matt yang terkejut menyemburkan seluruh air di mulutnya kearah Juan. "Bukan! Ja-jangan salah paham ya!"
"Kenapa aku yang disembur? Seharusnya kau menyemburkannya ke arah Asher yang ada didepanmu. Aku kan duduk di sampingmu." Juan mengelap wajahnya dengan tisu.
"Itu karena wajahmu menyebalkan."
__ADS_1
"Ganteng gini juga!"