Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Keahlian Ezra


__ADS_3

Keesokan harinya.


"Deshaaaaa! Mati kau!" Ezra menggerakkan mobil-mobilan di tangannya sambil berteriak.


"Kak, bukankah kita sedang bermain monopoli?" Aldrich dengan malas mengangkat dadu yang ingin ia lempar. Sedari tadi Ezra terus berteriak dengan heboh diluar konteks permonopolian.


"Haha maaf, habisnya aku baru beli showroom mobil nih." Ezra menaruh bangunan kecil di salah satu negara.


"Memangnya bisa?" Aldrich menggaruk kepalanya.


"Bisa. Kan terserah yang punya tanah. Habis ini aku mau bikin tempat Gym di Italia. Orang yang suka makanan cepat saji kayak pizza biasanya gendut. Jadi pasti suka ngegym."


Duakk!!!


Sebuah spidol besar mendarat di kepala Ezra dengan mulus. Pelakunya berdiri dari kursi kerja yang sudah menahannya setengah hari itu.


"Jangan mengajari anakku hal menyimpang!"


Ezra segera menggeleng. "Kakak Emma salah paham. Kita hanya bermain monopoli, iya kan Aldrich?"


"Iya." Aldrich mengangguk dengan terpaksa. Sebenarnya ia juga tidak yakin apakah itu bisa disebut monopoli? Karena sebenarnya Ezra yang memonopoli peraturannya.


"Lagipula kenapa kau mengajak Al bermain di ruang kerjaku? Kau pasti memaksanya iya kan? Lihat! Aku jadi tidak fokus bekerja."


Aldrich buru-buru mengangkat tangannya. "Sebenarnya aku yang mengajak kak Ezra main disini. Cafetaria sedang dicat ulang, dan karena kak Ezra tidak tahan panas jika di lobby, makanya aku menyarankan untuk main disini. Tapi aku sudah memilih permainan yang tenang kok. Masalahnya..." Aldrich melirik Ezra yang terus ribut meskipun itu hanya permainan monopoli biasa.


"Benar, itu bukan salahmu Al. Tapi salah orang ini!" Emma menunjuk Ezra yang memasang tampang memelas agar tidak dimarahi.


"Ya ampun kakak Emma cantik. Apa kakak tidak tahu? Anak kecil yang seumuran kalau bermain pasti ribut seperti ini."

__ADS_1


"Siapa yang seumuran?" Emma memiringkan kepalanya bingung.


"Aku dan Aldrich. Bukankah umur Aldrich 10 tahun? Nah, umurku 20 tahun. Seumuran kan?"


Emma terdiam karena tidak tahu bagaimana menanggapi ucapan dari orang yang tidak waras ini. Ia sebagai orang terwaras di dunia, harus memberikan pelajaran untuk Ezra.


Belum mendapatkan tanggapan, Ezra kembali berseru. "Benar juga! Aku seharusnya juga seumuran dengan kakak Emma kan? Umurku 20 tahun, kakak Emma 27 tahun. Oke! Selanjutnya aku akan memanggilmu Emma saja."


Ya ampun, sekarang aku ragu kalau kak Ezra itu sebenarnya orang yang pintar. Aldrich menepuk dahinya.


"Panggil aku nona Emma, dasar bodoh!" Emma memukul bahu Ezra menggunakan dokumen di tangannya.


Drrtt!!!


Ponsel Emma bergetar. Pemiliknya hanya melihat layarnya saja dari jauh. Ia langsung terperanjat kaget dan buru-buru mengambil dokumen lain diatas meja.


"Gawat aku lupa ada rapat. Sial! Aku butuh sekretaris!" Setelah heboh sendiri, Emma berlari tergesa-gesa keluar ruangan.


Meskipun sangat membutuhkan sekretaris, Emma sampai sekarang belum menerima satupun orang yang mendaftarkan diri sebagai sekretarisnya. Aldrich pernah mendengar Emma berbicara di telepon dengan Nina. Katanya, Nina hanya boleh menerima sekretaris laki-laki yang terlihat tampan. Sungguh sulit jika menyangkut masalah fisik. Apalagi pandangan Emma terhadap laki-laki sangat berbeda. Kadang saat Nina mengatakan tampan, Emma malah berkata jelek. Jadi sampai sekarang, belum ada kandidat kuat untuk mengambil posisi sekretaris seorang Emma Rosaline.


"Ayo, main lagi tidak? Sebentar lagi uangku cukup nih." Ezra kembali mengajak Aldrich bermain.


"Tunggu sebentar." Aldrich berjalan mendekati meja kerja Emma dan melihat barang-barang diatas sana. Sesuai perkiraannya, buku agenda yang seharusnya penting itu tidak dibawa oleh Emma. Keteledoran ini membuat Aldrich khawatir. Emma benar-benar membutuhkan sekretaris atau Rose Group akan gulung tikar.


"Ada apa?" Ezra mengikuti Aldrich dan berdiri disamping anak sepuluh tahun itu.


"Bagaimana menurut kak Ezra tentang itu?" Aldrich menunjuk buku agenda Emma.


Ezra yang tidak paham maksud Aldrich, berinisiatif membaca buku yang dimaksud. "Astaga apa-apaan itu? Jadwal kerja yang mengerikan. Selain karena dia sangat sibuk, penulisannya pun berantakan. Waktunya tidak ditulis berurutan dan asal-asalan, bagaimana caranya tahu sudah waktunya kegiatan itu tiba?"

__ADS_1


"Kak Emma biasanya memakai alarm." Jawab Aldrich yang sudah melihat adegan Emma terkejut dengan alarm ponselnya berulang kali.


"Ah begitu ya. Jadi yang tadi kakak Emma buru-buru setelah melihat ponsel itu juga karena alarm? Ish ish ish kakak Emma suka sekali mempersulit hidup ya." Ezra menggelengkan kepalanya dengan ekspresi iba.


Aldrich mengambil buku agenda itu dan menyerahkannya pada Ezra. "Coba kakak buat jadwal yang bagus."


"Hohoho kau menantangku ya? Bisa sih. Tapi kak Emma akan memarahiku karena mencoret-coret buku agendanya sembarangan."


"Tenang saja. Lowongan pekerjaan masih banyak." Aldrich menepuk bahu Ezra.


"Kau mendoakanku dipecat?"



Setelah selesai rapat, Emma berjalan terseok-seok kembali ke ruang kerjanya. Apakah hari-harinya akan terus melelahkan seperti ini? Kenapa orang tampan bak malaikat yang ia inginkan menjadi sekretaris tidak kunjung sampai?


Aku harus melihat Al, untuk mengisi kembali energi.


Emma membuka pintu ruangannya dan masuk. "Al, aku ikut main dong. Loh? Al?" Ruangan itu ternyata sudah kosong. Permainan monopoli yang sebelumnya berantakan, sudah tertata rapi diatas meja.


Yahhh sudah pergi. Kalau begitu naruh dokumen dulu, trus nyari obat healing kecil itu.


Emma mengarah ke mejanya dan menaruh semua yang ia bawa. Tapi pandangannya teralihkan pada buku agendanya yang terbuka dengan tulisan rapi di dalam sana.


Apa ini?


Emma mengambil bukunya, dan melihat apa yang berbeda. Ternyata semua jadwalnya sudah tersusun rapi sampai dua hari kedepan, ditambah dengan catatan waktu kosong yang bisa digunakannya untuk beristirahat. Melihat itu, Emma jadi teringat Wayne. Gaya pembagian waktunya mirip.


Siapa yang menulis ini?

__ADS_1


Emma langsung membuka lembaran terakhir. Dan di akhir tulisannya, ada sebuah kata-kata yang membuat Emma menyesal sudah membacanya.


Dari teman seumuranmu, Ezra.


__ADS_2