Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Acara Menginap


__ADS_3

"Apa makanannya enak? Jika ingin nambah bilang saja." Tawar Emma.


"Kakak sudah bertanya tiga kali." Aldrich tersenyum.


Setelah Ron menyiapkan makanan, Emma dan Aldrich makan bersama, dan nona muda itu begitu memanjakan malaikat kecilnya.


"Haha aku hanya ingin kamu senang Al." Ucap Emma sambil mengusap kepala Aldrich.


"Terimakasih kak, aku sudah cukup senang berada disini."


"Benarkah? Kalau memang menyenangkan, kenapa tidak menginap saja? Tadi aku tidak bisa menemanimu, tapi besok bisa. Bagaimana?"


Aldrich menggaruk kepalanya dengan canggung. "Tapi aku tidak ingin merepotkan kakak."


Jika memang boleh menginap, aku bisa mencari informasi tentang CEO lagi. Apakah di tv ada? Kamar orang kaya pasti memiliki tv.


"Tidak mungkin merepotkan. Lihatlah rumah ini, sangat sepi. Kamarnya banyak yang kosong. Jadi kalau kamu menginap, aku akan saaangaaat senang."


Mungkin memang harus menginap. Lagipula, di rumah sudah tidak ada yang menungguku pulang seperti sebelumnya.


"Baiklah kak."


Persetujuan Aldrich langsung membuat Emma senang bukan main. Ia segera berdiri dan berjalan menuju beberapa pelayanan yang berada di dapur.


"Tolong bereskan kamar yang berada di samping kamarku. Oh satu lagi, beli piyama untuk Aldrich."


"Kak tidak usah. Aku tidak tidur dengan piyama." Aldrich mendekati Emma dan mencegahnya untuk kembali membeli sesuatu. Ia sudah cukup tercengang dengan barang belanjaan Emma tadi.


"Cobalah tidur dengan piyama, rasanya nyaman sekali loh."


"Tapi..."


"Tidak ada tapi-tapian. Aku akan menyiapkannya jadi harus dipakai."


Aldrich akhirnya mengangguk dengan terpaksa. "Baik kak."

__ADS_1



Setelah memasak, Ron kembali ke perpustakaan untuk membereskan buku yang ia dan Aldrich baca.


Emma adalah orang yang menyukai kerapian dan kebersihan, semua barang harus berada di tempat semula, meskipun dia bukanlah seorang perfeksionis. Tapi dia cukup cerewet.


Ron mulai mengambil satu per satu buku diatas meja. Ketika ia mengambil buku tentang paus yang sebelumnya dibaca Aldrich, tidak disangka ada buku lain dibaliknya.


"Kenapa buku ini bisa ada disini?" Ron membolak-balikan buku ditangannya dengan bingung. Ia tahu benar seharusnya buku itu berada di rak bagian bisnis.


Tiba-tiba Ron teringat Aldrich yang sebelumnya berada di rak buku bagian bisnis. Dan memang buku itu ia temukan bersama dengan buku paus yang diambil Aldrich sebelumnya.


Apa Aldrich yang mengambilnya? Tapi kenapa? Bahkan cover bukunya sangat membosankan, jadi tidak mungkin menarik perhatian anak sepertinya. Apa salah bawa ya?


Ron yang tidak ingin ambil pusing memilih mengembalikan buku itu di rak seharusnya.


"Tuan Ron." Salah satu asisten datang menghampiri Ron.


"Ada apa?"


"Nona Emma ingin menonton film dengan proyeksi di halaman belakang. Lalu nona menyuruh anda untuk mengurusnya."


"Katanya, ingin memberi anak bernama Aldrich itu kenangan indah saat menginap."


"Menginap? Pantas saja senang sekali." Ron tersenyum. "Baiklah, aku akan mengurusnya."





Hari mulai malam. Aldrich yang sudah memakai piyama langsung ditarik paksa Emma menuju halaman belakang rumahnya yang luas.


"Ayo ayo film akan segera dimulai."

__ADS_1


Di halaman belakang itu sudah terpasang proyektor yang bersiap menyorot tembok rumah yang berada di lantai dua. Tembok tanpa jendela itu berperan menjadi layar untuk menonton film. Lalu gambar raksasa mulai terlihat.


Emma dan Aldrich duduk diatas tikar ditemani beberapa cemilan seperti popcorn dan soda. Kelebihan duduk diatas tikar adalah bisa tiduran sambil menonton film. Jelas lebih enak dari memakai kursi. Ide Ron benar-benar hebat.


"Kalian juga kemari. Ayo nonton bersama." Emma melambai kearah para pelayannya yang hanya berdiri dikejauhan.


Meski awalnya para pelayan terlihat ragu. Tapi akhirnya mereka ikut untuk menonton film bersama, dan duduk di satu tikar dengan nona-nya.


Kakak ini sangat baik. Dia ramah kepada siapa saja. Tidak sombong seperti kebanyakan orang kaya lain.


Aldrich diam-diam melirik Emma dan tersenyum. Ia sangat bersyukur bisa bertemu dengan orang sebaik Emma. Rasanya sedikit tidak pantas baginya menikmati kebahagiaan ini, karena ia kemari hanya ingin mencari informasi tentang CEO yang berpengaruh, bukannya menemani Emma bermain. Tapi nona kaya itu berpikiran berbeda.


"Huaaaa!!! Suaminya mati!" Emma terbawa suasana film dan menangis.


"Hiks! Nona, dia blm mati." Ucap salah satu pelayan yang juga ikut terbawa suasana.


"Sebentar lagi mati itu. Darah yang keluar banyak sekali. Umumnya kalau tertabrak mobil dan mengenai benturan besar di kepala, maka-"


"Nona, jangan bicara sesuatu yang rumit sekarang. Otakku sedang dipenuhi air mata. Susah untuk mencernanya nanti." Salah satu pelayan yang sesenggukan mengomentari Emma.


Aldrich hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku para orang dewasa di depannya. Sangat mudah terbawa suasana film yang tidak nyata, dan menangis sampai banjir air mata. Untuk apa?


Setelah lama menonton akhirnya film berakhir. Ternyata si suami dalam film itu tidak mati. Berhasil hidup dengan... Dukungan sang istri.


"Filmnya jelek! Tidak realistis! Kusumpahi banyak yang bajak film ini. Biar tidak laku!" Umpat Emma.


"Bukankah filmnya bagus?" Tanya Aldrich dengan wajah polosnya.


"Tidak, Al. Lihat saja itu, luka parah tapi sembuh cuma karena dukungan? Yang benar saja. Harusnya operasi. Dan mengeluarkan darah sebanyak itu, pastinya perlu donor darah. Ini malah langsung sembuh."


"Namanya juga cerita non. Pasti ada sesuatu yang diluar nalar." Sahut salah satu pelayan Emma.


"Tidak bisa begitu. Cerita itu harus faktual dan terperinci. Lalu-"


"Baiklah. Mari ganti menonton kartun saja. Aku ingin nonton Spongebob." Ucap Aldrich sambil melihat kearah Ron. Dengan sigap Ron mulai mengganti video.

__ADS_1


"Bukankah itu aneh? Ada kepiting tapi anaknya paus. Lalu ada laut di dalam laut. Sangat tidak realistis."


Orang-orang yang mendengar Emma. "....."


__ADS_2