
"Selamat datang nona, dan nak Aldrich." Ron membukakan pintu untuk Emma dan Aldrich, yang baru saja sampai rumah.
"Argh! Aku masih kesal!" Emma melempar jas nya ke lantai, dan Ron buru-buru memungutnya.
"Ada apa nona?" Tanya Ron sambil menatap Aldrich juga. Siapa tahu ia bisa menemukan jawaban lewat anak itu. Tapi Aldrich hanya tersenyum.
"Ada pegawai baru di tempatku, dan dia baru saja merampokku!"
"Apa rampok?! Bukankah itu gawat? Kita harus melapor polisi." Ron panik dan berjalan mendekati telpon rumah untuk memanggil polisi.
"Tidak ada apa-apa kok kek." Aldrich masih tersenyum seperti tadi, dan masuk kamar dengan santai.
"Apa yang sebenarnya terjadi nona?" Ron memberanikan diri untuk bertanya.
"Aku berniat membelikan pegawaiku makan malam. Tapi dia malah pesan banyak makanan. Katanya buat stok 3 hari ke depan. Kurang ajar!"
Ron menghela nafas lega. Kukira apa, ternyata kehebohan lainnya dari nona.
◌
Setelah keluar dari kamar mandi pribadinya, Aldrich berjalan mendekati meja kecil di samping ranjang, lalu membuka salah satu laci. Disana langsung nampak sebuah buku yang ia simpan.
Aku harus menaruhnya di tempat lain. Bagaimana kalau kak Emma membaca ini?
Karena sudah terlanjur mengambil buku itu, Aldrich berniat membacanya juga. Ia ingin tahu sejauh mana catatannya tentang menguak misteri ayah dan ibunya.
Aku harus menambahnya.
Aldrich mulai menulis dibuku itu lagi. Ia menuliskan fakta-fakta baru yang ia ketahui. Dimulai dari foto ayahnya yang berada di laci meja kerja Matt, sampai ibunya yang berasal dari panti asuhan yang sama dengan Emma. Setelah selesai menulis, Aldrich mengambil sebuah kertas lain yang tersimpan di dalam laci.
Ini adalah surat hak asuh. Kak Emma menyuruhku menyimpannya sendiri.
Aldrich tersenyum bangga.
Hahaha aku pintar sekali. Sengaja tidak mencantumkan nama ibu disini. Agar terlihat seperti kak Emma mengadopsi anak yang tidak memiliki orang tua dan identitas.
Karena... Jika seseorang mencariku, mereka tidak akan bisa mendapatkan informasi apapun.
Sepertinya cukup masuk akal mulai sekarang. Ibuku berasal dari panti asuhan, dan ayahku anak keluarga ternama. Biasanya, permasalahan yang timbul adalah restu.
Tapi jika benar karena restu, kenapa ayah dan ibuku tidak kawin lari saja?
Argh! Aku tidak bisa berpikir jernih.
Aldrich mengacak-acak rambutnya, lalu menutup buku yang baru saja selesai ia tulis.
__ADS_1
Aku masih belum bisa menyimpulkan dengan benar. Harus mencari bukti yang lebih banyak.
Aldrich tiba-tiba teringat wajah Ria. Orang yang sangat mencurigakan baginya.
Benar juga, dia terlalu aneh. Sejak pertama kali melihatku, ekspresinya selalu ketakutan. Bahkan saat acara pertunangan kak Matt, dia tidak bisa bicara apa-apa.
Lalu setelah kak Emma mengatakan namaku di depannya tempo hari, ekspresinya seperti orang yang mendapatkan sebuah ide cemerlang.
Heh... Biar kutebak, dia pasti sedang mencari tahu siapa aku yang sebenarnya.
Pertanyaannya... Kenapa? Apa dia ada hubungannya dengan sesuatu?
Tok! Tok!
Aldrich buru-buru menyembunyikan bukunya saat tahu ada seseorang mengetuk pintu kamar.
"Ayo makan malam, Al. Ron membuat sup iga untukmu. Katanya agar kamu tidak kurus lagi." Teriak Emma dari balik pintu.
"Iya kak." Aldrich buru-buru menuju pintu kamar.
Pasti aku akan menemukan kebenarannya. Dan orang-orang yang sudah membuat ayah dan ibuku menderita, harus menerima akibatnya!
◌
Salah satu meja restoran ditempati oleh dua orang yang sedang membicarakan suatu hal serius.
"Apa? Tidak ada hasilnya?" Ria bertanya sekali lagi pada seorang laki-laki yang merupakan detektif swasta sewaannya.
"Iya nyonya. Hanya ada data diri anak itu setelah diangkat anak oleh nona Emma Rosaline. Sebelumnya, dia adalah anak jalanan yang tidak memiliki identitas."
"Kalau begitu cari tahu, siapa nama ibunya. Tidak mungkin dia lahir dari batu kan?" Ria mulai kesal karena tidak bisa mendapatkan informasi yang ia inginkan.
"Saya sudah menyuruh tim saya untuk mencari. Tapi tetap tidak bisa menemukan jawabannya. Karena kebanyakan anak jalanan tidak memiliki identitas, jadi sulit untuk diusut asal usulnya. Orang tuanya pun kebanyakan melahirkan di tempat yang tidak memiliki sistem pendataan dan lainnya."
"Ck! Kalian memang tidak berguna. Percuma menjadi detektif!"
"Nyonya kami sudah berusaha. Entah orang yang anda cari itu masih ada atau tidak, dan bisa saja... Dia sangat pintar menyembunyikan diri."
"Sudahlah! Aku pergi! Kalian tidak becus." Ria buru-buru keluar dari restoran itu dengan perasaan kesal.
Yunna Alisya. Dimana kau sekarang? Apa kau sengaja ingin membuatku mati penasaran?
Anakmu adalah momok menakutkan bagi keluarga Hamilton. Jadi cepat tunjukkan batang hidungmu dan serahkan anak itu!
◌
__ADS_1
Aldrich dan Emma baru saja menyelesaikan makan malam mereka.
Hachi!
Aldrich tiba-tiba bersin. Meskipun tidak tahu karena apa, Emma seketika khawatir.
"Ron! Cepat panggil dokter pribadiku. Suruh untuk datang kurang dari 30 menit."
"Kak aku baik-baik saja." Aldrich mengusap hidungnya yang gatal.
"Kamu serius?" Emma mengusap kepala Aldrich dengan lembut. "Aku takut kamu tertular Ezra."
"Eh? Memangnya kak Ezra sakit ya? Sepertinya dia baik-baik saja."
"Otaknya sakit."
Aldrich tidak kuasa menahan tawanya. Padahal dia sendiri sama.
"Kenapa tertawa?" Tanya Emma.
"Kak Emma lucu."
"Benarkah? Lucu? Seperti anak TK ya?" Emma menarik pipinya dengan ekspresi sok imut.
"Aduh. Perempuan tua ini masih berharap ada yang memuji imut. Ingat umur 27 nya." Celetuk Ruri yang sedang mengambil minum di kulkas, lalu ia segera lari saat melihat Emma mulai membangkitkan sisi iblisnya.
"Bibi Ruri jujur sekali ya."
"Gajinya akan kupotong." Emma meremas tangannya dengan sebal.
Aldrich menatap Emma dengan ragu. Ia ingin mengatakan niatnya untuk mengunjungi rumah lamanya. Sebenarnya Aldrich tahu kalau Emma akan memperbolehkannya, tapi ia ingin melihat ekspresi perempuan itu, apakah akan sedih?
"Tanya apa?"
Aldrich terkejut karena Emma yang sekarang tidak sedang memandangnya, tiba-tiba tahu apa yang akan ia lakukan.
"Besok aku ingin ke rumahku yang lama. Hanya lihat-lihat. Boleh tidak?"
"Aduh jangan bilang begitu. Tentu saja boleh. Kapanpun kamu mau kesana. Sudah kubilang kan? Kalau kamu bebas melakukan apapun yang kamu mau."
"Terimakasih kak."
"Besok aku akan mengantarmu sekalian berangkat kerja. Ingat harus bangun pagi ya."
Oh ya ampun, aku benci kata-kata itu.
__ADS_1