
"Sekarang lanjutkan."
Ria melirik anak yang duduk di sampingnya. "Sebenarnya, seberapa banyak yang ingin kamu ketahui?"
"Sampai ibuku pergi, dan kalian kehilangan jejaknya. Jelaskan juga kenapa ayahku bisa mati. Kalau menurutku, kalian tidak akan membunuhnya dengan sengaja. Karena ayahku sudah disiapkan dari awal untuk menjadi pewaris. Jadi kalian tidak akan mengambil konsekuensi sebesar itu. Mendidik kak Matt pun tidak akan bisa membuatnya sehebat ayahku. Ini hanya pendapatku saja, mungkin kalian tidak sengaja membunuhnya."
Ria tiba-tiba terkejut. Ba-bagaimana dia tahu? Bahkan tuan Charles tidak mengetahuinya. Ini adalah rahasiaku dengan nyonya Yelena. Kematian Jeff memang sebuah kesalahan dari rencana yang seharusnya tidak terjadi.
"Cepat lanjutkan."
Ria mencoba menenangkan dirinya sendiri, dan kembali bercerita. "Saat itu Jeff langsung jatuh hati dengan Yunna dan mengatakan pada keluarga Hamilton kalau ingin menikahinya, ketika dia sudah lulus. Tapi keluarga Hamilton tidak menyetujuinya. Selain karena beda kasta, pasangan untuk Jeff sudah dipersiapkan oleh nyonya. Akibatnya, perang dingin kembali terjadi. Bahkan sampai Jeff mengancam ingin bunuh diri kalau tidak direstui."
Ria memijat pelipisnya untuk mengingat lebih jelas. "Sampai akhirnya, nyonya pura-pura merestuinya karena Yunna ternyata sudah hamil anak Jeff. Dan ada beberapa bukti juga. Kita tidak bisa berbuat banyak saat itu."
Aldrich mengangguk. "Berarti kalian pura-pura merestui mereka?"
"Ya. Setelah itu, Jeff bekerja di luar negeri untuk mengurus suatu proyek milik keluarga Hamilton. Dan disaat itulah nyonya Yelena ingin aku menghabisi Yunna. Katanya, orang biasa yang tidak memiliki kekuatan itu, tidak akan berpengaruh apapun jika hilang dari dunia ini. Jujur saja saat itu aku juga berpikir hal yang sama. Yunna adalah aib yang hanya akan memperburuk citra keluarga Hamilton kelak."
Aldrich memicingkan matanya menatap Ria. Wanita itu tahu kalau mungkin saja hartanya akan diambil lagi karena mengatai ibunya.
"Ah itu adalah pikiranku dulu. Sumpah."
"Sekarang pun, kau masih membenci ibuku kan?"
Ria terdiam, dan memilih untuk melihat kearah lain. Menghindari tatapan Aldrich kearahnya yang penuh selidik. Saat ini apa yang dikatakan anak itu benar. Ia masih membenci Yunna, karena sudah membuat keluarga Hamilton menjadi seperti ini. Kalau saja hari itu Jeff tidak meninggal, pasti semuanya akan menjadi lebih baik. Tapi hanya 'seandainya' yang bisa ia pikirkan sekarang.
"Sudahlah, lanjutkan saja." Aldrich tidak bisa terus membuang-buang waktu disini. Ia harus segera mengetahui faktanya, lalu pergi. Para penjaga yang disekap oleh teman-temannya tadi pasti tidak bisa bertahan lama.
"Aku mengikuti instruksi nyonya Yelena untuk memberikan racun pada Yunna. Racun itu tidak bisa membuatnya mati seketika, tapi bisa melemahkannya dulu, baru seiring berjalannya waktu akan meninggal secara perlahan. Saat itu... Saat itu..."
Ria mencengkram kepalanya dengan kuat. Itu adalah ingatan yang tidak bisa ia lupakan seumur hidupnya. Dan terus menghantuinya seperti mimpi buruk.
◌
Flashback.
__ADS_1
11 tahun yang lalu.
Ria menatap rumah megah di depannya. Ia meremas sebungkus obat di tangannya dengan tekad yang kuat. Hari ini ia mendapatkan perintah yang belum pernah dilakukannya. Sebenarnya ia merasa sedikit takut, tapi jauh di lubuk hatinya, ia juga merasa kalau hanya inilah satu-satunya jalan terbaik.
Tok! Tok!
Ria mengetuk pintu rumah yang sedari tadi hanya ia pandangi itu. Tak lama seseorang membukakannya pintu. Ekspresi orang itu terlihat senang saat melihat Ria datang.
"Bagaimana keadaanmu? Suka tinggal disini?" Tanya Ria pada Yunna yang tadi membukakannya pintu.
"Sebenarnya masih belum terbiasa, karena rumahnya terlalu luas jadi cukup lelah untuk membersihkannya." Jawab Yunna sambil menundukkan kepala.
"Astaga jangan terlalu banyak mengerjakan tugas rumah. Bukankah ada pembantu? Suruh saja mereka yang bersih-bersih. Tubuhmu harus dijaga dengan baik." Ria pura-pura tersenyum setelah mengatakan kalimat penuh perhatiannya.
"Terimakasih tante. Tapi saat mendengar tante mau datang, aku jadi ingin bersih-bersih rumah. Kata Jeff, tante yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri, karena sering menjaganya saat kecil. Jadi aku ingin menyambut tante juga."
Ria hanya menarik sudut bibirnya. Perempuan ini cukup pintar memuji dan mencuri perhatian. Pantas saja Jeff langsung tertarik dengannya.
"Ngomong-ngomong, nyonya Yelena membawakanmu obat yang bagus untuk orang hamil." Ria memperlihatkan obat yang sedari tadi ia genggam.
Pffttt! Tidak mungkin dijual di apotek lah. Yap, aku sudah menduga dia akan bicara begini.
"Ah ini obat turun temurun di keluarga, tidak dijual bebas. Kau tahu, ini adalah rahasia kenapa keluarga Hamilton anaknya pintar semua."
"Jadi begitu, Jeff tidak pernah mengatakannya padaku." Yunna terlihat senang dan antusias. "Aldrich akan jadi anak yang pintar juga."
"Aldrich?"
"Hehe itu namanya, kalau laki-laki sih." Ucap Yunna sambil mengusap perutnya.
Jelek sekali namanya. Ah sudahlah! Aku tidak ingin mendengarkan ocehannya lagi.
Ria melihat jam tangannya dan tersenyum. Bagus, orang yang kusuruh pasti sudah selesai dengan tugasnya, untuk melakukan sesuatu pada mobil milik Yunna. Jadi, jika obat ini tidak mempan, dia tetap akan meninggal dengan cara kecelakaan. Jeff pasti tidak akan curiga juga.
"Sudah, ayo diminum." Ria mengambil air di dalam gelas lalu menuangkan obat bubuk itu ke dalam.
__ADS_1
Yunna melihat gelas itu dengan tatapan curiga. Tapi buru-buru ia menggelengkan kepalanya untuk membuang semua prasangka buruk.
Aku tidak boleh curiga! Tapi... Bubuk obat yang dimasukkan ke dalam air dan warna airnya tidak berubah, biasanya adalah obat berbahaya. Tante Ria baik, pasti tidak akan melakukan sesuatu yang buruk padaku. Aku harus percaya.
Meskipun sempat ragu, Yunna mengambil gelas itu, dan meminumnya. Tapi baru tegukan pertama, Yunna langsung sadar.
Pyar!
Gelas itu jatuh dan pecah. Membuat Ria terkejut setengah mati.
"Kalian ingin mencoba menipuku?!" Teriak Yunna yang membuat Ria lebih terkejut lagi.
"Apa maksudmu?"
Yunna seketika berlari keluar dari rumah. Ia tahu kalau tidak akan aman jika terus berada disana.
"Tangkap dia! Cepat! Cepat!" Perintah Ria kepada orang-orang yang menjaga pintu. Dan adegan saling kejar pun terjadi. Ria hanya melihat mereka yang berlari meninggalkan area rumah.
Kenapa perempuan itu bisa tahu?! Aku harus mengabari nyonya.
Ria masuk rumah dengan frustasi sambil menelpon Yelena. "Halo nyonya, rencana gagal. Yunna berhasil kabur, tapi dia sempat meminum racun yang saya berikan-"
"Apa katamu?!"
Ria menoleh kearah suara yang tiba-tiba terdengar itu. Ternyata pemiliknya adalah Jeff yang baru masuk rumah dengan kopernya.
"Jeff?"
"Baru saja aku ingin bertanya kenapa para penjaga kita berlari meninggalkan rumah. Kukira kau orang yang baik." Tatapan tajam Jeff langsung menyabotase isi kepala Ria. Untuk sesaat, wanita itu terdiam dengan tatapan mata yang terpaku pada Jeff.
Jeff meraih kunci mobil diatas meja, dan buru-buru keluar dari rumah.
Ria akhirnya tersadar saat melihat punggung Jeff pergi. Ia juga baru tahu kalau kunci yang diambil Jeff adalah kunci dari mobil yang sebelumnya ia persiapkan untuk Yunna, dengan bagian mesinnya yang sudah dirusak.
"Tidak! Jangan pergi!!!"
__ADS_1
Flashback selesai.